
Setelah sambungan terputus, bu Sari menyerahkan ponsel yang ia pinjam dari tetangganya yang mempunyai warung kecil. Kebetulan ia sedang membeli obat untuk putra sulungnya.
"Terima kasih banyak sudah meminjamkan ponsel untuk saya!" ucap bu Sari sambil menyerahkan ponsel itu.
Pemilik ponsel itu segera menerimanya sambil menatap bu Sari dengan sinis. "Iya, sama-sama. Katanya ibu punya menantu kaya raya, tajir melintir, kok mau nelpon anak saja harus pinjam, sih? Memang menantunya pelit, ya?" kata ibu itu dengan ketus.
Bu Sari hanya menundukkan wajahnya, ia sebenarnya tidak ingin terlalu menanggapi omongan tetangga itu. Bagas memang sempat memberinya ponsel, namun ponsel itu di bawa oleh Burhan, suaminya.
"Menantu saya baik sekali, bu! Kalau begitu saya permisi!" pamit bu Sari tak ingin berlama-lama.
"Pulsanya jangan lupa di ganti, ya!" teriak ibu yang meminjamkan ponsel karena bu Sari sudah berlalu dari sana.
Bu Sari melangkahkan kaki dengan terburu-buru, tidak perduli dengan tetangganya barusan yang terus saja memakinya. Karena ia juga harus segera memberikan obat dalam kantong plastik hitam yang ia genggam itu untuk Radir dengan segera.
"Ini nak, obatnya!" bu Sari memberikan segelas air putih dan obat yang baru saja ia beli.
Radit menerima obat dari tangan ibunya dengan kasar, ia segera menelan satu butir obat itu lalu membaringkan tubuhnya kembali.
"Ada yang sakit, nak? Biar ibu pijat, sepertinya kamu kecapean," bu Sari meraih betis milik putrnya itu, perlahan ia memijitnya.
"Iya, bu. Aku itu cape tiap hari kerja jadi OB," keluhnya yang seharusnya itu patut ia syukuri. Masih banyak kok di luaran sana yang ingin bekerja, namun apalah daya mereka masih saja berstatus pengangguran.
"Iya, nak. Ibu paham! Pasti kamu cape," ujar bu Sari masih memijat betis putranya.
"Kalau ibu paham, kenapa, sih, ibu gak maksa menantu ibu buat naikkin jabatan aku di perusahaannya?"
"Ibu sudah bilang, nak. Kamu sabar dulu aja, ya! Kalau Bagas tidak bisa menaikkan jabatan kamu, siapa tahu dia bisa menaikkan gaji kamu. Ibu percaya, kalau nak Bagas tidak akan tinggal diam dengan permintaan ibu untuk kebaikan kamu itu, nak," bu Sari berusaha untuk membuat putranya ini bahagia, terlihat dari wajahnya yang memancarkan senyum namun di baliknya ada kesedihan yang mendalam.
Kini Radit tidak menggubris seperti biasanya, ia memilih untuk diam. Siapa tahu apa yang di katakan ibunya itu benar. Lagipula kondisinya yang lemas dan terbaring di atas tempat tidur ini tidak memungkinkan untuk dirinya terus menerus emosi.
"Assalamu'alaikum," terdengar seseorang mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"Rania, tuh!" sahut Radit, memberitahu sang ibu agar segera membukakan pintu.
__ADS_1
"Iya, nak. Ibu keluar sebentar, ya!" ujar bu Sari segera menghentikan aktivitasnya dan keluar dari kamar Radit.
Bu Sari berjalan menuju pintu depan, begitu ia buka pintu ternyata benar, yang datang adalah putri bungsunya. Namun ia datang sendiri, kemana suaminya?
"Rania, syukurlah kamu datang, nak. Maaf, ya, ibu selalu saja merepotkan kamu!" ucap bu Sari, ia segera mempersilahkan Rania untuk masuk dan duduk di kursi ruang tamu.
"Rania sama sekali tidak pernah merasa di repotkan, bu. Maaf, ya, Rania tidak sempat membawakan sesuatu untuk ibu dan bang Radit!"
"Kamu datang saja ibu sudah bahagia, sayang! Eh, ngomong-ngomong nak Bagas kemana? Kenapa gak ikut?" bu Sari mencari keberadaan menantunya.
"Rania gak sempat kasih tahu dia, bu."
"Ya sudah, tidak perlu kamu suruh ke sini juga. Takutnya nak Bagas lagi sibuk dengan pekerjaannya. Lagipula, abang kamu sakit biasa, kok. Mungkin karena kecapean."
"Iya, bu. Rania boleh lihat bang Radit ke kamarnya sebentar?" izin Rania pada ibunya.
"Tentu saja, sayang. Ayo, ibu antar!" bu Sari dan Rania bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamar Radit.
Perlahan Rania membuka pintu kamar abangnya, ia melihat abangnya sedang tertidur pulas. Dengan cepat, ia kembali menutup pintunya.
"Bang Radit tidur, bu. Rania gak mau ganggu istirahatnya!"
"Oh, barusan abangmu habis minum obat yang ibu beli di warung tetangga. Mungkin ada efek kantuknya," jelas bu Sari.
"Iya, bu."
Bu Sari menatap wajah cantik putri bungsunya. Ia merasa malu sekali karena selalu saja merepotkan putrinya. Kemudian bu Sari mengecup kening Rania dengan penuh cinta dan kasih sayang, setelah sekian lama ia tidak lagi mengecup kening milik putri bungsunya itu.
***
Hari semakin cepat berganti, matahari dengan setianya menemani bumi. Dan memancarkan cahaya teriknya itu dengan penuh semangat. Sehingga membuat manusia merasa sangat gerah, untunglah manusia juga hebat. Menciptakan pendingin ruangan untuk menstabilkan suhu tubuhnya dari panasnya terik matahari.
Di gedung Briliant Group, Bagas yang sedang ada di ruangan pribadinya, menanti sekretaris yang mulai kembali bekerja setelah tiga hari terbaring sakit. Setelah menantinya selama lima belas menit lamanya, akhirnya sekretaris Frans masuk ke dalam ruangan pribadi untuk menemuinya.
__ADS_1
"Ada apa tuan memanggil saya? Rindu, ya?" canda sekretaris membuat Bagas bergidik jijik setelah apa yang sekretarisnya ini lakukan sewaktu ia menjenguknya. Ia hampir di katakan tidak normal lagi oleh istrinya sendiri.
"Duduk, Frans!" Bagas menepuk sofa di sampingnya, sekretaris Frans pun segera duduk di sana.
"Ada apa, tuan? Apakah ada tugas berat lagi untuk saya kerjakan?"
Bagas berdeham. "Jadi begini, Frans. Hari ini adalah hari di mana kehamilan istriku memasuki usia satu bulan. Aku ingin memberikan dia surprise, tidak perlu mewah karena istriku lebih suka yang sederhana. Aku minta tolong sama kau, belikan sesuatu yang akan aku berikan untuk istriku!"
"Baik, tuan. Tapi sesuatu apa yang kira-kira aku beli?" tanya sekretaris Frans kurang paham.
"Nanti aku kirim lewat pesan apa saja yang harus kau beli!"
"Baik, tuan!" sekretaris Frans mengangguk paham.
"Ya sudah, kau pergi sana! Selesaikan tugas yang belum kau selesaikan!" titahnya.
"Baik, tuan. Saya permisi!" pamitnya, dan segera beranjak pergi dari sana.
Bagas merogoh ponselnya di balik saku jas biru navy yang ia kenakan, dan mencari kontak nomer seseorang yang begitu spesial untuknya.
"Halo, sayang! Hari ini aku akan mengajakmu jalan-jalan. Aku jemput kamu sekarang di ruko, ya! Sampai jumpa, sayang! Muach," Bagas mencium layar ponselnya sendiri, lalu mematikan sambungan yang mungkin Rania belum sempat menjawab ajakannya.
Dengan aura wajah bahagia yang terpancar di wajah Bagas, ia segera keluar dari ruangan pribadinya untuk menjemput sang istri, calon ibu dari anak-anaknya kelak.
.
.
.
Coretan Author:
Follow ig: wind.rahma
__ADS_1
VOTE yang banyak, ya!