Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Perfect Honeymoon (Part 2)


__ADS_3

"Ba-Bagas" Rania mendorong sedikit dada suaminya menjauh, dengan wajah yang memerah malu Rania menatap paras suaminya.


Suara Rania itu malah bagaikan godaan , menambah sepercik kehausan akan pemenuhan oleh sentuhan.


Ekspresi Bagas sendiri tampak berkabut di penuhi oleh hasrat, yang menghantamnya tanpa belas kasihan, menyiksanya tanpa ampun dan membawanya ke dalam ketidak sabaran untuk melepaskan kendali dirinya.


"Kenapa?" tanyanya pada Rania, suaranya tampak gemetar menahan keinginan yang menggelora.


Sementara jiwanya terlepas dalam semangat yang merajalela. Tangannya masih merabai permukaan kulit sang istri dengan sentuhan selembut sutra, serentak dengan bergeloranya darah muda dalam tubuhnya.


"Aku takut, banyak orang bilang kalau begitu akan sakit" rintih Rania perlahan dengan semburat merah merekah di wajahnya.


Bagas hampir tidak mendengar ucapan Rania, sebab otak dan pikirannya sudah tak mampu bersinkron di penuhi oleh hasrat yang menggebu.


Bagas kembali menundukkan kepalanya, kali ini ia tak menahan tubuhnya untuk lebih menindih Rania, sampai mungkin Rania tengah keberatan, sebab tubuh Bagas lebih besar darinya.


"Kau tenang saja, aku akan melakukannya dengan pelan!" bisikan Bagas di telinga Rania dengan nada sensual yang nyata.


Tak menunggu Rania menanggapinya, Bagas langsung saja menarik blouse yang di kenakan oleh Rania hingga melorot menampakkan bahu putih mulus dan menggoda.


Belahan dada Rania juga terlihat begitu jelas yang menambah detak jantung Bagas semakin menggila, karena tidak sabar untuk segera mencicipinya.


"Percayalah, ini tidak akan sakit! Justru bisa jadi kau ingin menambah ronde kedua nanti" bisiknya lagi untuk meyakinkan.


Bagas kembali melum*t bibir tipis istrinya dengan lebih intim. Menjelajah keseluruhan tubuhnya, dengan sentuhan ringan tapi pasti, selembut sutra, dan tak bisa menahan lebih lama lagi.


Dengan sabar Bagas mengajari Rania seperti apa yang ia pelajari dari kakek legendaris, membimbing istrinya dengan perlahan, memperlakukannya dengan penuh kelembutan. Menuntun Rania yang gemetaran tak terkendali memasuki kenikmatan surga dunia yang tidak pernah terbayangkan oleh Rania sebelumnya.

__ADS_1


Dunia baru yang akan mengubah Rania menjadi sosok wanita lebih dewasa setelahnya. Bagas memiliki kontrol yang kuat, mampu dengan telaten mengajari Rania, dan menunggu hingga Rania merasa telah terbuai oleh kemesraannya yang telah siap menerima serangannya.


Terbayangkan, bagaimana peluh mengurai di setiap helai rambutnya. Membasahi permukaan pelipisnya dan mengguliri setiap inci permukaan kulitnya. Dengan tetesan yang seolah ingin menciptakan sebulir kekuatan untuk menanggung beban hasrat yang hendak menyelubungi tubuh sang dara.


Ciuman demi ciuman, serta gigitan dan hisapan tanda kepemilikan, beriringan dengan desahan dan erangan yang lolos begitu saja tak mau di tahankan.


"Kau jangan terkejut jika melihat si Jon miliku, ukuran akan kalah dengan durasi yang jauh lebih penting dari permainan. Besar atau kecil, panjang atau pendek, lurus ataupun bengkok itu tidak penting. Ada yang lebih penting lagi, kau harus tetap menikmatinya!" bisik Bagas dengan napas yang terengah-engah.


Dengan sekuat tenaga, Bagas menahan dirinya untuk tidak menyakiti Rania, ia melakukannya dengan sangat pelan. Menggunakan si Jon sebagai pusakanya untuk menyerang Rania dengan laju pelan sebagai tanda pembukaan. Sebelum kemudian sedikit demi sedikit, Bagas menambah kecepatan lajunya menerobos hingga nyaris menjadi tikaman tanpa belas kasihan.


Tentu saja itu akan sakit, dan itu hal yang wajar. Perempuan manapun akan merasakan sakit saat mendapat serangan perdana. Rania ingin berteriak rasanya, namun yang keluar dari mulutnya malah desahan-desan manja yang membuat Bagas semakin lincah untuk menjalankan aksinya. Bagas terus meminimalisir rasa sakit yang mungkin akan mendera istrinya. Sebab ia tahu ini adalah pengalaman pertama istrinya, walaupun ini juga pertama bagi dirinya. Tapi ia sudah banyak belajar dari sang kakek legendaris yang ia anggap sebagai gurunya.


Lama kemudian, Bagas melepaskan diri dari tubuh mungil sang istri setelah ia sampai pada titik puncaknya. Terasa sangat lega dan lemas untuk Bagas, sedangkan Rania lebih lemas lagi. Cairan putih bercampur darah mengalir begitu saja dari milik Rania, tidak dapat ia cegah. Napas mereka sama-sama terengah-engah setelah terlepaskan dari kenikmatan yang menghanyutkan satu sama lain.


Bagas mengangkat tubuhnya dari atas tubuh istrinya itu, matanya masih berkabut setelah mendapatkan pemenuhan. Begitu juga dengan jantungnya yang masih berpacu dengan ritme lebih cepat di atas normal.


Sedangkan Rania, wajahnya pucat merasakan sakit di pangkal pahanya dan juga di pinggulnya. Setelah tadi ia tak bisa mempertahankan diri untuk tak membuka kedua kakinya demi menerima serangan si Jon pusaka milik suaminya itu.


Rania mengambil sehelai tisu untuk menghapus noda merah dari darah pada sprei putih, namun sekuat tenaga ia menghapusnya, tidak akan hilang walau di cuci sekalipun. Bagas juga mengambil sehelai tisu untuk menusap cairan yang masih mengalir di milik Rania yang sudah ia terobos bagai jalan tol.


Dengan tersipu, Rania menarik selimut di ujung ranjang untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelaipun menempel di sana.


Bagas membantu menutupi kain selimut itu pada dirinya. Sebelum kemudian, Rania berbaring memunggungi Bagas dengan bersembunyi di balik selimut karena malu.


Bagas ikut berbaring di sisi kosong di sebelah Rania lalu dengan kedua lengannya ia memuk Rania dari belakang. Bagas menyembunyikan wajahnya di balik kelembutan rambut Rania dan juga harum.


"Terimakasih sayang, aku sangat puas dan menikmatinya" bisik Bagas dengan lirih nyaris tak terdengar oleh Rania.

__ADS_1


"Itu sudah kewajibanku untuk melayanimu" ucap Rania dengan bibir yang masih gemetar.


"Aku tadi mengeluarkannya di dalam, supaya kita bisa memberi hadiah pada ibu hasil dari bulan madu kita yang sangat sempurna ini"


"Perfect honeymoon"


"Aku mencintaimu sampai titik m*ni penghambisan" ucap Bagas bangkit mencium Rania kemudian.


Rania merasakan kehangatan dalam tubuhnya ketika Bagas kembali mendekapnya setelah menciumnya.


Sedangkan Bagas menggigit bibirnya sendiri, seolah sedang berusaha menahan dirinya agar tidak menyerang lagi dan lagi.


.


.


.


.


.


.


Jadi gimana nih? Sudah hot belum? Puaskah kali ini bacanya? Aduh, saya gemetar sendiri, deg-degan sendiri, gak karuan pokonya nih nulisnya. Maaf ya kemarin di stop, gak kuat aja merinding, nyari referensi juga biar bisa lebih hot. Gak berani baca ulang, bodoamat lah kalau ada typo. Beneran, merinding sendiri.


Kalau suka tinggalkan like, komen, vote menggunkan poin atau koin. Tambahkan ke favorit itu wajib, ya!

__ADS_1


Yang belum lihat visualnya ayo segera lihat di channel youtube saya Windy Rahmawati. Atau bisa cari dengan menggunakan kata Visual Bagas (TUAN TAJIR), Visual Rania (TUAN TAJIR).


Besok insha Allah visual Bagas & Rania berdua dengan penuh keromantisan yang mampu buat kalian baper sebaper bapernya akan segera di update. Subscribe ya, biar dapat notifikasinya.


__ADS_2