Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Kembali


__ADS_3

Ke esokan harinya.


Malam hari, sekitar pukul tujuh. Bagas dan Rania sampai di tempat kediamannya. Di sambut hangat oleh Brahma, sekertaris Frans ada juga di sana. Para pelayan yang tentunya harus stay menyambut kedatangan tuannya.


Brahma langsung memeluk putranya begitu saja ketika pelayan sudah membukakan pintu masuk. Sambutan hangat adalah hal utama ketika seseorang datang. Brahma menepuk pundak belakang putranya, mengucapkan selamat datang kembali setelah beberapa hari pergi untuk bulan madu.


"Papah harap segera mendapat kabar baik hasil bulan madumu itu!" melepaskan pelukannya pelan.


"Papah tenang saja, putra Brahma selalu melakukan yang terbaik. Insha Allah tokcer, pah" katanya lirih, membuat Brahma tertawa mendengarnya. Hanya Brahma yang mendengarnya, membuat orang lain bertanya-tanya tentang tawa yang keluar begitu saja dari mulutnya.


Hei, kau mengatakan apa pada ayahmu? Apa kau mengatakan hal buruk tentangku? Ayolah, beritahu aku! Gumam Rania dalam hati.


"Apa kabar menantuku? Bagaimana bulan madumu selama di Bali? Apa begitu menyenangkan?" Brahma menyapa Rania dengan berjalan lebih mendekat dimana Rania berdiri saat ini.


"Baik, yah. Sangat menyenangkan! Haha, bahkan aku sampai tidak mau kembali lagi" jawab Rania seperti sudah begitu akrab dengan ayah mertua, walaupun jarang bicara.


Rania selalu memanggil sebutan ayah untuk mertuanya, walaupun Bagas sendiri memanggilnya dengan sebutan papah, tapi Rania sudah nyaman memanggil sebutan ayah.


"Kau tidak mau kembali karena kau takut...." belum sempat Bagas meneruskan kalimat tapi Rania sudah menginjak kakinya.


"Aku takut merindukan kalian, ya, aku takut merindukan kalian semua di sini" potong Rania dengan seyum masam di wajahnya.


Ia tahu kalau Bagas pasti akan mengatakan perihal dirinya yang takut ketinggian dan pingsan ketika naik pesawat. Itu tidak boleh Bagas katakan, takutnya akan merusak suasana dan Brahma jadi ikut panik. Rania melirik suaminya yang sedang meringis kesakitan dengan tajam, kemudian tersenyum dan sesekali memelototinya agar tidak membuat Braham curiga.


"Baguslah! Papah senang kalau kalian senang. Karena jika kamu merasa tidak senang berada di sana, maka papah akan menjadi orang pertama yang akan menghukum Bagas" ujarnya membuat Bagas bengong.


Brahma mengatakan hal itu karena selama ini Brahma memang tidak pernah mengetahui perlakuan buruk Bagas dulu kepada Rania. Yang ia tahu bahwa hubungan rumah tangga anaknya itu baik-baik saja seperti yang di lihatnya sekarang. Tapi sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat juga pasti akan ketahuan. Kalau sampai dulu Brahma langsung mengetahui perlakuan buruk putranya pada Rania, Brahma pasti tidak akan segan-segan untuk mengambil alih hartanya kembali.


Brahma sadar diri, ia memang tidak sempat memberi perhatian pada anaknya apalagi Bagas. Tapi Brahma tidak pernah memberi contoh buruk kepada mereka. Ya walaupun pada akhirnya mereka tumbuh dengan sifat buruk akibat kurang kasih sayang dari orang tua. Ada yang sama begitu? Banyak.


"Kalau begitu kalian istirahat saja! Biar Frans saja yang memberi perintah pada para pelayan di sini untuk membawa barang bawaannya. Papah juga akan kembali ke kamar untuk istirahat"


"Baik, pah" jawab Bagas.


"Selamat beristirahat!" ucapnya sebelum berlalu.


"Selamat beristirahat, pah!"


"Selamat beristirahat, ayah!"


"Selamat beristirahat, tuan!"


Bagas, Rania dan sekretaris Frans mengucapkannya dengan bersamaan. Brahma berlalu dari sana.


"Apa kabar tuan, nona!" kini giliran Frans yang menanyakan keadaan mereka.


"Seperti yang kau lihat, Frans. Kami baik-baik saja" Bagas kemudian mengangkat kedua tangannya, lalu memutar badannya 360 derajat. Setelah itu ia juga memutar badan istrinya, untuk meyakinkan sekretaris Frans bahwa mereka baik-baik saja.

__ADS_1


"Saya senang anda sudah kembali, tuan! Saya mengkhawatirkan anda selama di sana, karena saya tidak bisa berada di dekat anda di saat anda membutuhkan saya!"


"Sudahlah Frans! Terima kasih sudah mengirim pengawal untukku kesana!"


"Sama-sama, tuan"


Apa? Pengawal? Dimana pengawal? Memangnya ada pengawal selama kita di Bali? Ah, aku bahkan tidak pernah melihatnya sama sekali!


"Frans, perintahkan pelayan untuk membawakan barang bawaan ke kamarku! Jika kau ingin pulang, pulanglah! Aku akan beristirahat dengan istriku"


"Baik, tuan" sekretaris Frans mengangguk paham.


"Ayo!" ajak Bagas pada Rania untuk pergi dari sana, dan menaiki tangga untuk sampai ke kamar.


Sekretaris Frans memanggil beberapa pelayan dan meminta mereka untuk membawa koper dan beberapa barang lainnya ke kamar tuannya. Pelayan pun dengan sigap membawa barang bawaan itu setelah mendapat perintah.


Sampai di kamar, Bahkan langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur. Membuat Rania yang sudah membaringkan dirinya terlebih dahulu mendadak terguncang dengan keras. Mata yang semula akan di pejamkan langsung terbuka sempurna, tapi dengan cepat ia kembali memejamkan matanya.


"Sayang, kau lelah?" Bagas membalikan tubuhnya menjadi tengkurap, mengusap rambut istrinya pelan dan mengetuk-ngetukan jarinya ke ujung hidung istrinya.


Rania membuka matanya, kemudian menghela napas panjang, "Tidak! Aku masih tidak percaya saja, kalau aku tadi biasa saja ketika naik pesawat. Aku tidak merasakan takut lagi, aku tidak sepanik waktu itu"


Bagas tersenyum, berhenti mengetuk-ngetukan jarinya di ujung hidung istrinya.


"Karena aku sudah bilang, kau harus tetap rileks! Jangan panik, tidak perlu takut, semua pasti akan baik-baik saja!" mengecup kening istrinya kemudian.


Toktoktok..


Suara pintu kamar mereka di ketuk, bersamaan dengan kata permisi dari sang pelaku pengetuk pintu.


"Masuk!" teriak Bagas, dan bangun dari tempat tidurnya.


Pintu pun terbuka lebar, dan muncul tiga pelayan di baliknya dengan membawa koper dan banyak barang lainnya.


"Permisi, tuan. Saya hanya mengantarkan koper dan barang-barang tuan dan nona" membungkukan tubuhnya sekilas sebagai rasa hormat.


"Kalian taruh saja di sana!" menunjuk ke bawah lemari besar tempat pakaian khusus Rania.


"Baik, tuan"


Tiga pelayan itupun langsung membawanya masuk ke dalam setelah mendapat perintah, setelah selesai ia kembali permisi.


"Sudah selesai, tuan. Kami permisi keluar untuk menjalankan tugas masing-masing" tiga pelayan itu berjajar menghadap tuannya dengan wajah menunduk.


"Silahkan!"


Baru saja dua langkah pelayan itu melangkahkan kaki dari sana, Bagas menghentikan langkah mereka.

__ADS_1


"Tunggu!" tiga pelayan itu langsung berhenti dan membalikkan tubuhnya.


"Ada apa, tuan?" tanya salah satu dari mereka.


"Apa Frans masih ada di bawah?"


"Tadi masih ada, tuan" katanya langsung di angguki oleh Bagas.


Seketika benda di dalam saku jas hitamnya bergetar, Bagas langsung merogohnya. Di tatapnya layar ponsel, di sana tertera nama Frans mengirim pesan yang isinya:


Saya pulang, tuan.


Bagas kembali memasukkan ponselnya ke saku jas hitamnya.


"Ada lagi yang akan tuan sampaikan pada kami?" salah satu dari mereka memberanikan diri bertanya.


"Oh, iya. Saya sama sekali tidak melihat kakak dan tante Hera menyambut kepulangan kami, dimana dia?"


Ketiga pelayan itu saling menatap satu sama lain, saling bertanya dimana keberadaan Arsilla dan Hera. Bagas menatap ketiga pelayan itu secara bergantian, terlihat aneh.


"Ada apa? Kau mengetahui sesuatu?"


"Sa-saya tidak tahu, tuan"


"Saya juga, tuan"


"Apalagi saya, sama sekali tidak tahu, tuan"


Ucap pelayan itu secara bergantian.


"Apa mereka ada di kamarnya?"


"Tadi saya lihat nona Arsilla dengan nona Hera pergi keluar. Tapi saya tidak tahu kemana mereka akan pergi. Tidak biasanya, tuan" jelas salah satu dari mereka.


Bagas merasa ada yang tidak beres, kemana perginya kakak dan tantenya. Mengapa mereka tidak ada saat ia kembali, saat semua orang menyambut hangat kepulangannya dari Bali. Ini menjadi pertanyaan besar dalam pikiran Bagas, kemana perginya mereka.


.


.


.


.


.


Hallo pembaca setia Wind yang manis-manis, vote sebanyak-banyaknya, ya!

__ADS_1


__ADS_2