
Keesokan lusanya.
Sekitar jam 5 pagi, waktu Rania bangun setiap harinya. Ia merasa sangat haus sekali, entah kenapa tenggorokannya merasa kering dan panas. Rania turun dari atas tempat tidur, sekilas ia melihat wajah suaminya yang masih terlelap. Rania menggibas-gibaskan tangannya di depan wajah Bagas. Benar. Bagas masih terlelap dalam mimpinya yang tidak tahu apa. Rania menengok ke kanan dan ke kiri seperti orang yang nyebrang jalan saja pakai acara tengok kanan kiri, sekalian saja atas bawah kena, semua kena, eh jadi ngawur.
Rania menatap pria yang sudah menjadi suaminya itu, suami kejam uang di sulap jadi baik, ternyata memang tampan juga. Ya kalau misalkan kalian tahu wajahnya, pasti kalian akan merasa paling beruntung memiliki suami setampan ini. Yang katanya tampan se-ASIA. Itu baru minimalnya, ya.
Setelah merasa puas memperhatikan wajah tampan suaminya, Rania keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga dengan malasnya. Tapi, tunggu sebentar! Seperti ada suara sesuatu yang begitu ramai di lantai bawah, ia jadi berpikir, kenapa sepagi ini sudah ada keramaian di sana. Biasanya, rumah itu di selimuti oleh kesunyian. Banyak pelayan yang menghuni rumah itu, tapi mereka tidak berani untuk mengeluarkan suara sekeras itu.
Langkah Rania menuruni anak tangga kini di percepat, ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ketika ia sudah sampai di ruang tamu, banyak pelayan yang di antaranya sedang membawa gulungan besar karpet merah, membawa bunga, lampu yang berwarna-warni, dan yang lainnya. Rania bingung, apa yang sebenarnya mereka lakukan?
Apa yang mereka lakukan sepagi ini? Bawa-bawa barang yang sepertinya akan ada sebuah pesta.
Kemudian salah seorang pelayan berjalan melewatinya, tidak lupa ia membungkukan tubuhnya sekilas kepada Rania sebagai rasa hormat kepada nona rumah. Rania memberhentikan langkahnya ketika ia akan pergi.
"Tunggu!" kata Rania membuat pelayan yang baru saja melewatinya tidak jadi pergi.
"Ada apa, nona?" tanyanya, wajahnya menunduk.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Rania di penuhi rasa penasaran.
"Ini perintah dari tuan, nona. Kami di perintahkan untuk menata semua ini dengan baik, dan akan ada pesta besar- besaran, karena lusa kita akan kedatangan tamu istimewa yang harus kita sambut dengan penuh hormat!" jelas pelayan itu, Rania jadi ingat akan seseorang yang akan datang dari luar negeri, yang pernah ayah mertuanya bicarakan pada Bagas bahwa ia harus di sambut dengan sangat meriah.
Tamu? Oh, iya. Ayah mertua memang selalu mengingatkan Bagas agar dia bersiap-siap menyambut kedatangan seseorang itu. Tapi siapa, ya? Siapa, sih?
"Kau tahu siapa seseorang yang akan datang itu?" tanyanya lagi
"Maaf, nona! Kami kurang tahu. Nona bisa tanyakan langsung saja pada, tuan!"
"Baiklah" Rania mengangguk, sebenarnya masih ada yang mengganjal, sebenarnya siapa seseorang akan datang itu, apa dia begitu special?
"Permisi, nona!" pamitnya kembali menjalankan perintah sang tuan rumah.
Siapa, ya, orang yang akan mereka sambut seistimewa ini? Apa dia begitu spesial, sampai harus mengadakan pesta seperti ini? Hem, aku jadi penasaran.
Setelah rasa penasaran Rania dengan apa yang para pelayan lakukan itu terjawab, ia bermaksud untuk pergi ke dapur mengambil air, tenggorokannya semakin kering rasanya. Tapi ketika ia membalikkan tubuhnya, seorang wanita muncul di hadapannya dengan kedua tangan di lipat di depan dada. Wanita yang selalu memberinya sorot mata penuh kebencian. Ya, dia Arsilla, siapa lagi kalau bukan dirinya? Sang kakak ipar yang galak.
__ADS_1
Haduh.. Paling malas deh kalau harus ngeladeni omongan kakak ipar yang selalu menusuk hati ini. Malas aku melihat wajahnya juga, cantik, sih. Tapi nyeremin aja karena kelakuan jahatnya. Batin Rania
"Kenapa? Kau takut melihatku ada di sini?" nada bicaranya sinis sekali.
Biasanya Rania menundukkan wajahnya jika berhadapan dengan kakak iparnya, untuk kali ini tidak.
"Saya tidak takut denganmu, kakak ipar yang cantik, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung!" tentu saja Arsilla merasa tersinggung oleh perkataan Rania barusan.
Arsilla melepaskan lipatan tangannya di dadanya. Memperhatikan Rania dari ujung kaki sampai ujung kepala, tidak lupa bibirnya melemparkan senyuman remeh.
"Ha ha.. Kau itu hanya gadis kampung, yang tidak tahu diri. Gak lebih dari itu!" maki Arsilla di selingi tawa dengan telunjuk yang ia tempelkan di dahi Rania sekilas.
"Aku pastikan, sebentar lagi riwayatmu akan tamat. Ha ha ..." ancaman yang membuat Rania sama sekali tidak takut, ancaman yang tidak lagi berpengaruh pada otak, hati, dan pikiran Rania.
Rania terlihat begitu tenang, santai, tapi pasti.
"Oh, ya, kakak ipar? Kita lihat saja nanti!" kata Rania kemudian berlalu.
Sebelum pergi dari hadapan Arsilla, Rania juga menyempatkan tangan usilnya yang terasa sangat gatal itu untuk menyentil tepat di area ****** payudara Arsilla, sehingga membuat Arsilla marah, murka dengan yang Rania lakukan terhadapnya. Itu hal yang tidak seberapa bagi Rania untuk membayar cacian dan makian Arsilla terhadapnya.
Sedangkan Rania, berjalan menuju dapur dengan wajah tersenyum puas. Setidaknya ia telah memberi peringatan kepada kakak iparnya itu, untuk tidak main-main dengannya. Sudah Rania bilang, jangan membangunkan macam yang sedang tidur. Bahaya.
*****
"Pelan-pelan, sayang!" ucap Bagas pada Rania yang sedang melakukan sesuatu. Saat itu Bagas duduk di sofa, dan Rania berjongkok di bawahnya.
"Aww.. Geli" ujar Bagas dengan wajah yang sedang menahan sesuatu.
"Ha ha.. Payah! Begitu saja sudah ngeluh geli. Diam, sebentar lagi selesai!" ucap Rania membuat Bagas diam, menurut saja.
"Selesai!" katanya sambil bangkit berdiri.
Rania baru saja selesai memakaikan kaos kaki dan sepatu suaminya, ia juga tadi menggelitiki telapak kaki Bagas sehingga memberi efek geli pada pemilik kaki.
Bagas bangkit berdiri, membuat mereka kini saling berhadapan.
__ADS_1
"Kau akan pergi bersamaku atau kau minta sopir untuk mengantarmu?"
"Aku nanti saja, kau berangkat saja!" suruh Rania sambil membenarkan dasi suaminya.
"Baiklah. Kalau begitu kita turun sekarang, ayah dan kakak ipar pasti sudah menunggu kita di meja makan!"
"Iya" Rania menurut saja.
Mereka berdua keluar dari kamar, menuruni anak tangga satu persatu, dan Rania mengingat sesuatu.
"Aku boleh tanya sesuatu?"
"Apa? Katakan!" pinta Bagas.
Di tengah-tengah langkah mereka menuruni anak tangga, mereka memberhentikan langkahnya.
"Sebenarnya siapa seseorang yang akan datang ke rumah ini? Sepertinya dia sangat spesial, sehingga membuat dia harus di sambut dengan mengadakan pesta seperti ini" pertanyaan Rania membuat Bagas tersenyum, rupanya ia lupa memberitahu istrinya tentang siapa seseorang yang akan datang itu.
"Oh, dia--"
.
.
.
.
.
.
.
Penasaran kan siapa? Makanya jangan sampe ketinggalan chapter selanjutnya. Tambahkan ke favorit agar mendapat notifikasi ketika saya update. Like, vote poin/koin.
__ADS_1