
Jam terus berputar, detik waktu terus berjalan, namun lima belas menit saja terasa sangat lama sekali bagi Reyhan dan Iren. Mereka sudah tidak sabar apa yang akan ahli cctv berikan di pesan email pada Reyhan. Reyhan dan Iren sudah gelisah, mereka terus mantengin mata ke layar laptop.
Detik-detik menuju jam dua belas malam, dan;
Suara pesan masuk dari email laptop Reyan berbunyi. Bukannya segera membukanya, Reyhan dan Iren malah saling memberi tatapan karena tidak sabar dengan isi email yang di kirim dari ahli cctv itu.
"Cepat buka, Rey!" ucap Iren tak sabar.
Reyhan mengangguk dan segera membuka pesan dari ahli cctv tersebut. Pesan itu berisi:
Selamat malam, pak Reyhan.
Saya hanya ingin memberi informasi seputar cctv yang saya janjikan malam ini. Atas izin pak Reyhan untuk saya masuk ke kamar alm. Papa anda, di sana saya tidak hanya melihat satu cctv saja, melainkan ada cctv lain yang tersembunyi di sana. Jadi, ketika saya tidak dapat membetulkan cctv yang rusak, saya bisa mengambil file cctv di jam, hari, dan tanggal seperti yang anda minta di cctv yang satunya lagi.
Reyhan dan Iren saling menatap lagi, ternyata pesan yang di kirim dari ahli cctv itu telah menemukan titik terang untuk di jadikan bukti pada polisi ketika laporan Devi di cabut. Karena penasaran, Reyhan dan Iren kembali menatap layar laptop ketika ada suara notifikasi pesan email masuk lagi. Kali ini ahli cctv mengirim sebuah video.
"Cepat putar, Rey!" ujar Iren sungguh tidak sabar.
"Iya, mah."
Begitu di klik, video itu sudah dapat di putar. Video yang mereka saksikan ini benar-benar sama persis dengan apa yang pernah Devi ceritakan kejadian yang sebenarnya. Saat Alert merenggut kehormatan Devi secara paksa karena Devi sedang tidak sadarkan diri, itu membuat Iren membungkam mulutnya tidak percaya.
Setitik kristal mulai membasahi pipi mama Reyhan, video itu mereka putar sampai habis. Namun Iren sudah menundukkan wajahnya dan mengalihkan pandangannya terlebih dahulu karena sudah tidak sanggup untuk melihat kelanjutannya. Apalagi ketika suaminya itu menyetubuhi seorang gadis yang tak berdosa untuk memuaskan birahinya. Padahal selama ini ia tidak pernah sedikitpun mengurangi rasa perhatian dan hal lain untuk Alert. Alert begitu tega mengkhianati Iren, itu tidak pernah terlintas sejak awal dari pikirannya. Mungkin ini hal yang kesekian kalinya yang tidak pernah Iren ketahui.
"Besok antar mama ke tempat gadis itu di penjarakan, Rey! Kamu jangan lupa bawa bukti ini dan tunjukkan ke polisi!" pinta Iren dengan nada bicara sedikit serak akibat tangisannya yang tak henti juga.
"Baik, ma. Mama yang kuat, ya! Mama harus ikhlas!" Reyhan berusaha menguatkan mamanya, ia sendiri juga tidak dapat menahan kesedihannya.
Reyhan menyandarkan kepala sang mama di bahunya, ia tahu mamanya pasti sangat rapuh. Terluka, itu pasti bagi Iren. Karena wanita mana yang tidak sakit hatinya, ketika ia melihat suaminya sendiri selingkuh dengan wanita lain, apalagi menyaksikan suaminya sendiri menikmati tubuh wanita lain. Yang di lakukan Alert memang bukan selingkuh, tapi itu hal yang lebih keterlaluan. Sakit rasanya.
Mati, mungkin balasan yang setimpal untuk Alertana. Karena percuma saja hidup, jika menyakiti banyak pihak.
***
Pagi harinya, Reyhan dan Iren sudah ada di ruang tunggu tempat menjenguk seorang tahanan. Polisi sedang memanggil dan memberi tahu orang yang akan mereka kunjungi itu.
__ADS_1
"Rey, mama tidak sanggup untuk ketemu gadis itu. Mama sangat berdosa padanya!" Iren menggenggam tangan putranya kuat-kuat karena rasa gelisahnya.
"Ma, mama tenang! Namanya Devi, dia sangat baik dan pasti akan memaafkan kesalahpahaman keluarga kita dengan lapang dada," ujar Reyhan menenagkan.
"Kamu yakin, Rey? Mama saja belum sempat minta maaf pada gadis yang pernah mama maki di rumah, mama benar-benar malu Rey pada gadis yang mama kira pembunuh papa!"
"Mama tenang saja, ya! Lagipula kita akan membebaskan Devi, ma."
"Iya, Rey." Iren mengangguk, menarik napas panjang-panjang untuk menguatkan diri ketika bertemu langsung dengan gadis yang bernama Devi.
Tidak lama kemudian, Devi datang. Ia sangat terkejut ketika melihat Reyhan datang berasama wanita yang ia kira itu adalah istri dari pria yang telah merenggut kehormatannya. Ia tercekat dalam kebisuan, luka lamanya kembali mengangga jika mengingat kejadian lima tahun lalu.
Untuk apa Reyhan datang membawa istri dari pria bajingan itu, apa dia mau menghina dan menuduh aku sebagai pembunuh suaminya? Pikir Devi.
Reyhan menoleh, ia melihat Devi sudah berdiri tidak jauh dari duduknya.
"Dev, sejak kapan kamu berdiri di situ?"
"Barusan," jawab Devi, singkat.
Mata Devi masih tertuju pada wanita yang duduk di samping Reyhan, ia harus waspada dan jaga-jaga jika benar wanita itu datang hanya untuk menuduhnya yang bukan-bukan.
"Rey.." Iren membisikan sesuatu di telinga putranya, setelah selesai membisikan sesuatu itu Reyhan langsung pergi dari sana.
"Saya Iren, mamanya Reyhan," mama Reyhan mengulurkan tangannya pada Devi. Devi masih tercengung menatap Iren dalam.
Iren menarik kembali uluran tangan yang tak kunjung di jabat oleh Devi. Kali ini Iren mencoba memasang seulas senyum di bibirnya.
"Kedatangan saya ke sini, sama halnya seperti kedatangan Reyhan waktu itu. Saya mau meminta maaf yang sebesara-besarnya sama kamu," ucap Reyhan sungguh bertolak belakang dengan apa yang di pikirkan Devi sebelumnya. Devi sudah soudzon berarti, karena menuduhnya yang bukan-bukan.
"Saya tahu, kamu pasti sangat terluka dengan apa yang telah alm. suami saya lakukan terhadap kamu. Saya juga lebih terluka, ketika suami saya melakukan hal sekeji itu dengan gadis lain," ungkap Iren, ia berhenti sejenak untuk menahan derai tangisnya yang kembali membanjiri pipi.
"Pada hari itu, saya dan Reyhan sangat terpukul atas kematian papa Reyhan, suami saya. Karena cuma kamu, satu-satunya gadis yang patut di curigai. Tangan kamu yang berlumuran darah itu yang membuat kami semakin yakin kalau kamu orang yang telah membunuh suami saya," Iren menarik napasnya panjang, untuk kembali mengungkapkan kesedihan yang tidak kalah sedih dengan apa yang Devi rasakan.
"Saya dan Reyhan memang salah, pikiran kami saat itu sedang kacau. Sehingga kami tidak mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Karena mana mungkin pria yang kita anggap baik selama ini, berani berbuat jahat pada keluarganya sendiri. Kita hanya berpikir kalau kamulah yang telah menjahati suaminya saya. Saya minta maaf, ternyata pikiran kami selama ini keliru," sesal Iren.
__ADS_1
Devi bener-benar tidak tahu harus mengatakan apa, dan harus menanggapi ucapan mama Reyhan dengan apa, karena semuanya telah terjadi. Dirinya sudah tersiksa di dalam jeruji besi, rasanya semua akan percuma. Hatinya bagai di cabik dan di sayat, lukanya kembali menganga. Semuanya tidak akan mengembalikan masa muda dan kehormatannya yang telah hilang.
"Sudah cukup, tante! Cukup! Bahkan aku sendiri sudah tidak mau membahas hal itu lagi, itu menyakitkan bagiku," tampik Devi, sudah seharusnya hal itu ia lupakan, namun ada saja orang yang memaksa untuk mengingatkannya lagi.
Iren bangkit dari duduknya, kemudian ia berjalan beberapa langkah menghampiri Devi. Seketika Iren bersujud dan bergelayut di kaki Devi, "saya minta maaf yang sebesar-besarnya! Saya memang tidak pantas untuk di maafkan, tapi saya mohon, maafkan saya dan Rey, ya!"
"Tante, jangan lakukan itu! Aku tidak pantas tante beri sujud, tante bangun, jangan pernah lakukan itu!" Devi mengangkat tubuh Iren untuk bangkit berdiri. Kemudian Iren memeluk tubuh gadis di hadapannya dengan penuh rasa bersalah.
Iren tak henti-hentinya meminta maaf, karena tidak ada cara lain yang lebih baik ketika mengakui kesalahan yaitu dengan cara meminta maaf secara langsung.
Tidak lama kemudian Reyhan kembali bersama polisi. Saat itu Iren sudah melepaskan pelukannya dan kembali duduk di temapt semula.
"Selamat siang! Sodari Devi, mulai hari ini anda sudah bisa bebas, laporan anda sudah di cabut dengan semua bukti-bukti yang menguatkan kalau anda tidak bersalah," kata polisi tersebut memberikan sebuah amplop putih panjang pada Devi.
Devi menerima amplop tersebut dengan tangan yang gemetar, ia pikir kalau Reyhan dan mamanya datang ke sini untuk membebaskannya. Seperti yang ia janjikan pada Diva, untuk segera membebaskannya.
"Terima kasih banyak, pak!" ucap Devi.
"Sama-sama. Saya permisi!" polisi itu kembali ke tempat semula.
Devi menatap amplop putih panjang di tangannya, itu pasti surat atas kebebasannya. Kemudian ia menatap Reyhan dan Iren bergantian, Devi tidak dapat mengatakan apapun. Hari ini adalah hari kebebasannya. Hari keadilan untuknya. Iren dan Reyhan terharu ketika melihat seulas senyum tergambar dalam wajah Devi. Akhirnya Reyhan berhasil mengembalikan senyum gadis itu.
.
.
.
Coretan Author:
Setelah masalah ini tuntas, saya akan kembali fokus pada kehidupan Bagas dan Rania. Maaf ya kalau ada keterlambatan update, mati lampu terus di tempat saya!
Ada yang penasaran dengan Visual Reyhan? Nanti saya beri tahu kalau sudah saya post.
Follow ig: wind.rahma
__ADS_1