Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Permintaan bu Sari


__ADS_3

Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Bagas dan Rania berpamitan pada bu Sari, setelah tadi ia berbincang-bincang sebentar di ruang tamu sehabis makan. Sementara sekretaris Frans di temani oleh Nadira mengobrol di luar.


"Bu, Rania pulang dulu, ya! Lain kali Rania dan Bagas kesini lagi" pamitnya, padahal masih ingin berlama-lama lagi rasanya.


"Kenapa tidak menginap saja? Ini kan sudah malam, nak?" bu Sari begitu mengharapkan putrinya menginap saja.


"Hem..lain kali saja ya, bu! Soalnya gak enak juga sama Frans, dia mungkin harus segera pulang" tolaknya sambil mengusap bahu ibundanya, padahal di dalam hatinya ia ingin sekali menginap seperti permintaan ibunya.


"Ya sudah, tidak apa-apa" walaupun bu Sari berharap putrinya akan menginap, tapi ia juga sadar kalau sekarang ia bukan lagi putri bungsunya yang masih single.


Sekretaris Frans dan Nadira masuk ke dalam setelah mereka mengobrol di luar, mungkin itu salah satu misi dari pendekatannya. Semoga sukses.


"Tuan, nona, kita akan pulang sekarang?" sekretaris Frans berdiri di samping Bagas.


"Pamit dulu sama calon ibu mertua, Frans!" Frans mengangguk kemudian menghampiri bu Sari.


"Saya pamit dulu, bu!" mencium punggung tangan bu Sari kemudian.


"Iya, nak Frans" balas bu Sari sambil tersenyum.


"Kalau begitu, kita pulang dulu ya, bu!" Rania siap berdiri dari duduknya, namun bu Sari mencegahnya.


"Em, tunggu dulu sebentar, nak! Sebenarnya ada yang mau bicarakan sama nak Bagas, sekaligus Rania juga" mendengar itu Rania bingung, ibunya akan membicarakan apa.


Kemudian Rania menoleh pada suaminya, ia mengangguk sekilas memberi kode setuju mendengarkan dulu apa yang akan di bicarakan ibunya.


"Ibu mau bicara apa, bu?" Rania mengusap bahu bu Sari ketika wajahnya berubah menjadi murung. Ada kesedihan di balik wajah murung ya.


Bagas mengedikan dagunya, memberi kode pada sekretaris Frans agar menunggu di mobil terlebih dahulu. Sepertinya bu Sari akan bicara penting padanya. Sekretaris Frans mengangguk paham dan pergi setelah berpamitan.


"Bu, saya permisi duluan!" pamitnya dengan sopan.


"Iya, nak Frans" balas bu Sari.

__ADS_1


"Saya duluan!" pamitnya pada Nadira dengan lirih dan terdengar lembut, Nadira membalasnya dengan tersenyum.


Setelah sekretaris Frans pergi untuk menunggu di mobil saja sesuai perintah tuannya, Nadira juga pamit ke kamarnya karena ia harus segera tidur. Sepertinya ibunya juga akan bicara hal serius dengan adik sekaligus adik iparnya. Makanya Nadira memilih untuk tidur dan tidak ingin menguping pembicaraan mereka.


"Bu, ibu mau bicara apa?" Rania mengulang pertanyaannya setelah tidak ada siapa-siapa lagi selain ibu dan suaminya.


"Jadi begini, nak!" bu Sari mulai bicara walaupun masih ada keraguan di wajahnya.


"Ibu sebenarnya mau bicara dengan nak Bagas, tapi ibu tidak tahu harus mulai bicara dari mana?" bu Sari masih tampak ragu.


"Katakan saja, bu! Tidak usah sungkan!" pinta Bagas siap mendengarkan.


"Begini nak Bagas, bisakah nak Bagas menaikan jabatan Radit, abang Rania? Atau nak Bagas bisa memberi pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaannya sekarang? Maksud ibu, bukannya sekarang pekerjaan abang Rania tidak baik. Tapi, hem...bagaimana, ya? Sebenarnya ibu tidak enak mengatakan ini pada nak Bagas!" jelas bu Sari


"Maksud ibu, ibu mau aku naikan jabatan kakak ipar?"


"Mungkin seperti itu, nak Bagas. Ibu tahu perusahaan nak Bagas tidak sembarang, tapi ibu sudah tidak tahu lagi agar Radit.." bu Sari menggantungkan kalimatnya, ia benar-benar malu meminta menantunya untuk hal itu.


Aku tahu betul siapa ibu. Pasti bang Radit sudah memperlakukan ibu dengan buruk yang berlebihan, sehingga ibu bisa bicara seperti ini sekarang. Gumam Rania.


"Jadi begini, bu. Aku memang tidak bisa menaikkan jabatan seseorang dalam Briliant Group. Apalagi, maaf kakak ipar yang hanya seorang OB. Tidak sembarang orang untuk naik jabatan, bukannya meremehkan kakak ipar, tapi itu juga akan menimbulkan kecemburuan sosial" Bagas menjelaskan.


"Iya, nak Bagas, ibu tahu. Tapi.." Belum selesai bu Sari bicara tapi Bagas memotong kalimat bu Sari.


"Begini saja, bu. Aku paham maksud ibu, aku akan mengurus semuanya dan mengambil jalan lain saja. Ibu tenang saja, aku akan mengatur semuanya!" Bagas memberi solusi lain, dan berharap ibu mertuanya tidak usah ikut memikirkannya.


"Terima kasih banyak, nak Bagas!" mengucapkan dengan penuh terima kasih.


"Sama-sama, bu. Ini sudah terlalu malam, lebih baik ibu beristirahat saja! Tidak usah memikirkan hal itu, aku takut ibu akan jatuh sakit! Aku tidak mau itu sampai terjadi" ujar Bagas dengan penuh perhatian.


"Iya, nak Bagas. Sekali lagi ibu berterima kasih banyak pada nak Bagas" bu Sari menelungkupkan kedua talapak tangannya.


"Kalau begitu kita pamit ya, bu. Kasihan Frans sudah menunggu. Sampaikan salam untuk ayah juga, kami pamit pulang" Bagas bersiap untuk bangun dari duduknya. Di susul oleh Rania dan juga bu Sari.

__ADS_1


"Rania pulang dulu ya, bu" Rania mencium punggung tangan ibunya, begitupun dengan Bagas.


"Iya, nak. Hati-hati!"


Kemudian bu Sari mengantar mereka sampai depan rumah. Bagas dan Rania segera masuk ke dalam mobil setelah sopir membukakan pintu untuknya. Bu Sari sempat membalas lambaian tangan Rania sebelum mobil itu benar-benar pergi dari halaman rumahnya.


Kasihan sekali untuk sopir, dari sore hingga larut malam ia menunggu di mobil. Tapi itu sudah menjadi bagian dari tugasnya. Itu perintah yang tidak dapat di bantah.


Semoga nak Bagas mau membantu! Karena itu satu-satunya cara agar bisa mengendalikan emosi Radit yang semakin hari kian membara. Di tambah lagi dengan rasa iri terhadap Nadira, adiknya sendiri. Walaupun ia sering menyakiti hati, tapi dia tetaplah anakku, darah dagingku. Aku tidak bisa membencinya walau bagaimanapun itu. Batin bu Sari masih berdiri di sana.


Bu Sari melihat ke langit malam yang gelap, namun kegelapan itu berubah menjadi teramg karena adanya cahaya rembulan yang indah. Ia berdo'a agar putra putrinya selalu di beri kebahagiaan. Setelah itu ia kembali masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Tidak lupa di kunci agar maling tidak dapat masuk. Ya meskipun pintu di kunci yang namanya maling tetap saja nekad bisa masuk. Eh, kenapa jadi ngomongin naling, ya?


Di perjalanan, Rania menatap wajah suaminya yang sedang duduk dengan menyandarkan punggung di sandaran kursi dan kedua mata di pejamkan. Ia terlihat sangat lelah, nampak dari napas panjang yang ia hembuskan.


Kasihan sekali dia! Bang Radit keterlaluan, dia membebankan semua keinginannya agar terkabul pada semua orang, termasuk ibu. Apakah suamiku akan membantunya sungguhan? Mudah-mudahan.


Rania menyandarkan kepalanya di bahu Bagas, ia mendongakkan kepalanya namun Bagas sama sekali tidak membuka matanya.


Sepertinya dia tidur. Aku jadi terharu tadi, ketika kau begitu perhatian pada ibu. Semoga saja seterusnya akan begitu.


Rania tersenyum, kemudian ia bersusah payah mendongakkan kepalanya untuk sampai di pipi suaminya hanya untuk mendaratkan sebuah ciuman.


.


.


.


.


.


VOTE sebanyak-banyaknya ya pembacaku yang manis...

__ADS_1


__ADS_2