Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Ngidam (Part 1)


__ADS_3

Keesokan harinya.


Rania membangunkan suaminya subuh, entah kenapa ia ingin sekali pergi mengunjungi rumah ibunya. Rasanya ia ingin di peluk oleh sang ibu, mungkin itu bawaan orok. Karena semenjak ia pulang dari rumah sakit dan di nyatakan positif hamil, ia belum sempat mengunjungi rumah ibunya.


Bagas yang masih dalam keadaan mengantuk terpaksa bangun dan memenuhi permintaan istrinya. Bahkan Rania sampai tidak mengizinkan Bagas untuk mengganti pakaian ataupun mencuci mukanya terlebih dahulu, ia ingin cepat pergi ke rumah sang ibu. Dan sekarang Bagas masih menggunakan piyama tidurnya, begitupun dengan Rania.


Sampai di rumah bu Sari, itu masih pukul lima pagi. Rania mengetuk pintu dengan pelan, cukup orang rumah saja yang mampu mendengarnya, tanpa harus suara ketukan pintu itu sampai membangunkan tetangganya yang mungkin masih tertidur pulas.


Bu Sari yang baru saja selesai melaksanakn sholat subuh, segera berjalan ke ruang tamu seusai melepaskan mukenanya. Ia sempat berpikir, siapa orang yang bertamu sepagi ini, sesubuh ini lebih tepatnya.


Begitu pintu di buka, tiba-tiba bu Sari terkejut ketika Rania langsung menghambur memeluknya begitu saja. Tubuh bu Sari nyaris terjatuh apabila ia tidak segera menahannya.


"Ibu, Rania rindu pelukan pintu," ucapnya dengan manja seperti anak kecil saja.


"Rania sayang, ibu juga merindukanmu," balasnya.


Bu Sari menengok ke kanan, ke kiri, dan belakang Rania. Tidak ada siapapun selain dirinya.


"Rania, kamu datang sendirian? Kemana suamimu, nak?" bu Sari terlihat cemas karena keadaan putrinya yang sedang hamil.


Rania menoleh ke belakang dan benar, tidak ada orang di sana. Lalu kemana perginya Bagas? Rania berjalan keluar beberapa langkah, dan menoleh ke kanan. Ia mendapati Bagas duduk di kursi teras sedang melanjutkan tidurnya. Ia menggelengkan kepalanya.


"Dasar *****! Nempel molor!" maki Rania, entah kenapa suaminya jadi terlihat menyebalkan. Mungkin ini hormon bawaan bayi yang bisa mengubah apa yang ia suka menjadi tidak suka.


Rania berjalan mendekati, ia segera menarik rambut Bagas untuk bangun.


"Hei, *****. Bangunlah!" Rania menarik rambut Bagas sekuat tenaga, berusaha membangunkannya.


Bagas sontak reflek berteriak, ia meringis kesakitan setelah berusaha membuka dan mengerjapkan matanya berulang kali.


"Lepaskan, sayang! Ini sakit sekali.." rengek Bagas berusaha melepaskan tangan Rania dari rambutnya, badannya membungkuk akibat menahan jambakan itu.

__ADS_1


"Maafkan aku! Barusan aku khilaf" ujar Rania tanpa berdosa setelah akhirnya ia melepaskan rambut Bagas.


"Kenapa kau galak sekali?" tanya Bagas sambil mengelus kepalanya.


"Bukan aku, tapi calon anak kita," alibi Rania sambil mengusap perutnya.


Iya, iya. Orang hamil mah bebas, apa-apa salahin si jabang bayi terus. Ya kan ibu-ibu?


"Rania," panggil bu Sari lirih, berusaha untuk menghentikan putri dan menantunya yang sedang berdebat dengan alasan tidak ada alasan.


Rania dan Bagas langsung menoleh, mereka tidak sadar kalau mereka sedang berada di rumah bu Sari. Rania seketika tersipu malu, ia berdebat dengan suaminya dan bertingkah konyol, tanpa ia sadari juga ibunya mungkin menyaksikannya sejak tadi.


Bagas segera menghampiri ibu mertua dan mencium punggung tangannya.


"Maafkan kami, bu!" ucap Bagas merasa malu.


"Kami? Kau yang salah," Rania tidak mau dirinya ikut di salahkan, itu memang sepenuhnya salah Bagas yang memancing dirinya emosi dan terjadi perdebatan.


"Ada apa sepagi ini datang ke rumah ibu, nak?" tanya bu Sari khawatir, takutnya terjadi sesuatu.


"Rania cuma mau peluk ibu, dan tadi ibu juga sudah peluk Rania," jawab Rania sambil tersenyum, akhirnya yang ia inginkan sudah terpenuhi.


"Itu aja, nak?" tanya bu Sari sambil memandang wajah putrinya.


"Iya, bu. Ini pasti karena calon cucu ibu, mungkin dia rindu sama ibu," Rania menarik tangan ibunya dan menempelkan di perutnya.


"Jadi calon cucu oma rindu?" tanya bu Sari ke arah perut putrinya, seakan ia sedang mengobrol dengan calon cucunya itu.


"Iya, oma" Rania menjawabnya dengan nada bicara yang di buat seperti anak kecil.


Bu Sari, Rania, dan Bagas tertawa bahagia di sana. Bagas bahagia karena ia mampu memberi kebahagiaan untuk yang lainnya juga. Di tengah tawa kebahagiaan mereka, muncul Radit membawa segelas kopi hitam di tangannya.

__ADS_1


"Eh ada Bagas," ucapnya dan ikut duduk di samping Bagas, "maaf, ya, kalau kedengarannya tidak sopan! Di kantor mungkin kamu tuan saya, tapi di luar pekerjaan kamu itu adik ipar saya" sambungnya, kemudian ia menyeruput kopi yang masih di tangannya.


"Iya" jawab Bagas singkat, sebenarnya Bagas merasa kesal juga. Tapi apa yang baru saja Radit bicarakan memang benar. Sama halnya saat dia bicara pada Nadira, di rumah dia memang kakak iparnya. Tapi di kantor, ia harus memanggilnya dengan sebutan tuan.


"Mau?" Radit menawarkan kopi yang ada di tangannya, kopi bekas ia seruput barusan.


"Tidak!" Bagas menggeleng, ia juga bergidik melihat kakak iparnya yang tidak sipan ini. Ia pantas di sebut kurang ajar.


"Kalau mau buat sendiri aja, ya! Atau suruh aja Rania buat buatin," ucapnya kemudian menyeruput kembali kopinya.


Bu Sari dan Rania tidak tahu harus bicara apa lagi pada Radit untuk membuang sifat buruknya itu, sikapnya barusan pada Bagas tentunya menyinggung perasaan. Tetapi Rania dan bu Sari lebih memilih diam, tidak mau menggubris apa yang Radit katakan, karena itu hanya akan mengundang emosi Radit yang bisa saja membuat mereka lebih malu pada Bagas.


Rania tiba-tiba mendengus, seperti mencium aroma sesuatu. Ia tidak tahu aroma itu berasal dari mana. Tentunya tercium dekat sekali, mungkin itu berasal dari dapurnya.


"Hoekss..hoekss.." seketika Rania mual mencium aroma tersebut. Sebelah tangannya memegang perutnya, dan sebelahnya lagi ia gunakan untuk membungkam mulutnya.


Bagas langsung panik, terlihat wajahnya yang berubah seketika menjadi khawatir. Bu Sari juga, namun ia tidak terlalu karena awal hormon kehamilan memang begitu. Itu hal yang biasa bagi bu Sari yang sudah pernah mengalaminya tiga kali.


"Kau kenapa?" tanya Bagas duduk lebih mendekat, ia merengkuh bahu istrinya.


"Hoeks..hoekss.. Aku mual, aku ijin ke kamar mandi sebentar" pamitnya bergegas bangun dari duduknya.


Bagas benar-benar panik, ia takut terjadi sesuatu dengan istrinya, calon buah hatinya. Bu Sari segera menenagkan Bagas, ia mengelus pundak menantunya lembut.


"Tidak apa-apa, nak Bagas. Seorang wanita yang sedang mengandung memang begitu, jangan panik seperti itu! Rania baik-baik saja, kok" ucapnya, membuat Bagas merasa sedikit lega.


Rania berlari menuju kamar mandi, ia takut kalau ia sampah muntah sebelum sampai di sana.


Nadira, ia sedang berada di dapur sedang membuat gorengan di buat heran karena ia melihat ada sosok Rania lewat sepagi ini di rumah.


"Rania? Kenapa dia sudah ada di sini sepagi ini? Apa Rania menginap, ya? Ah, rasanya tidak mungkin. Apa aku salah lihat, ya? Ini kan masih pagi sekali, apa jangan-jangan dia..." Nadira bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ia juga bergidik ketika ia berpikir kalau yang ia lihat bukanlah Rania. Ia akan menanyakannya nanti.

__ADS_1


__ADS_2