Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Nostalgia Sekolah


__ADS_3

Setelah dari tempat yang benar-benar membuat Rania terkesan, Bagas mengajak Rania untuk berkunjung ke rumah ibu mertuanya. Bagas jadi Rindu dengan bu Sari setelah mendatangi tempat ia melepas kerinduan terhadap ibunya.


Sebuah mobil lamborgini yang berhenti di depan halaman rumah bu Sari, tidak terlepas dari segerombolan ibu-ibu si biang gosip. Sebenarnya mereka masih tidak percaya kalau anak tetangganya menikah dengan seorang tuan tajir melintir.


Pembicaraan mereka semakin heboh ketika melihat sosok tuan tajir itu membukakan pintu untuk anak tetangganya itu. Ada yang heboh karena ketampanan si tuan tajir, yang heboh karena ketajirannya, dan ada juga yang heboh karena merasa iri, kenapa bukan dia aja yang ada di posisi anak tetangganya itu.


Rania sudah tahu kalau dia sedang di bicarakan oleh mereka, tapi ia pura-pura tuli saja dan tidak menghiraukan apa yang sedang di bicarakan mereka.


Toktoktok..


"Assalamu'alaikum" Rania mengucap salam


"Walaikumussalam" jawab salam dari dalam rumah, dan


Krekkk


Pintu di buka oleh Nadira, ia merasa terkejut juga senang dengan kedatangan adiknya sekaligus adik ipar.


"Rania, kakak seneng banget kamu datang" sambut Nadira seraya memeluk adiknya itu.


"Iya kak, Rania juga"


"Ayo masuk!"


Nadira mempersilahkan Rania dan Bagas untuk masuk, kemudian mereka duduk di kursi ruang tamu. Rania menaruh beberapa kantong plastik berisi makanan yang ia bawa di meja, yang sempat ia beli tadi di jalan.


"Sebentar ya, kakak panggil ibu di kamar!"


"Iya"


Sambil menunggu, Bagas mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Ia benar-benar memperhatikan setiap sudut ruangan itu, rumah sederhana tapi terlihat bersih. Tidak ada debu ataupun jaring laba-laba yang berserak di sana.


Tidak lama kemudian, Nadira kembali bersama bu Sari. Tentu saja bu Sari senang melihat kedatangan tamu yaitu puteri bungsu dan menantunya itu. Rania langsung bangkit berdiri dan segera memeluk ibunya.


"Ibu baik-baik saja, kan?" tanya Rania memastikan kondisi ibunya.


"Ibu baik-baik saja Rania. Rania baik-baik juga kan?" bu Sari melepaskan pelukannya pelan.


"Rania baik-baik aja, bu"


Kini giliran Bagas, ia mencium tangan bu Sari.


"Nak Bagas juga baik-baik saja, kan?"


"Baik, bu"


"Syukurlah kalau kalian semua baik-baik saja, ibu seneng lihatnya!"

__ADS_1


"Iya, bu"


"Ayo duduk lagi!"


Kemudian mereka bertiga duduk.


"Ayah kemana, bu?" tanya Rania, tumben ayahnya tidak ada, sedikit lega juga sebenarnya.


"Ayah lagi kerja!"


"Oh" Rania mengangguk.


"Ayah kerja apa bu?" tanya Bagas, membuat bu Sari dan Rania saling menatap, ia merasa prihatin ketika Bagas menanyakan pekerjaan ayah mertuanya.


Bu Sari menghela nafas panjang, lalu berdeham.


"Ayah kerja apa yang bisa di kerjakan, yang penting dapat penghasilan yang halal. Sekarang ayah lagi ke pasar, buat kuli panggul" begitu jelas bu Sari pada menantunya.


Rupanya ini kesempatan untuk Bagas membahagiakan keluarga Rania. Ia harus memikirkan hal apa yang paling pantas untuk mereka dapatkan.


Setelah ke dapur, Nadira kembali membawakan 2 gelas air putih, seperti biasanya ia menyuguhkan kepada tamu yang datang.


"Gak perlu repot-repot kak!"


"Gak apa-apa, Rania" jawab Nadira menaruh nampan berisi 2 gelas itu fi meja.


Keheningan terjadi beberapa detik, kemudian bu Sari terlihat seperti mengingat sesuatu.


"Rania"


"Iya, bu"


"Siapa bu, Diva?" Rania mencoba memastikan, karena tidak ada lagi teman yang sering datang ke rumahnya selain Diva.


"Iya, itu!"


"Ada apa?"


"Dia ngasih tahu, kalau lusa di Sekolah kan sudah memasuki acara perpisahan, Rania di minta untuk datang katanya!" bu Sari menyampaikan pesan Diva.


Rania jadi sedih ketika ingat tentang sekolahnya, coba saja kalau dia tidak terjebak takdir untuk menikah dengan pria di sampingnya itu. Dia pasti akan bersenang-senang bersama teman-temannya. Apalagi moment perpisahan corat-coret atau yang lain, tapi ya sudahlah. Mau gimana lagi, ini sudah takdirnya. Mungkin yang sekarang ia jalani adalah yang terbaik.


"Rania" panggil bu Sari karena melihat puterinya tiba-tiba menundukan wajahnya, berubah menjadi murung juga.


"Iya, bu"


"Maafin ibu, ya!"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, bu!"


Aku tahu, pasti ibu sangat merasa bersalah atas semuanya. Tapi mau gimana lagi bu, aku tidak mau kalau ibu sampai kenapa-kenapa waktu itu. Tidak ada pilihan lain, ayah dan bang Radit yang tidak begitu menyukaiku, karena ibu selalu memanjakan aku, membuat mereka iri. Sehingga jika ada apa-apa yang terjadi dengan ibu, maka aku yang harus menanggung semuanya. Dan seharusnya yang merasa bersalah di sini itu pria yang sedang ada di sampingku. Kenapa dia harus memintaku menikahinya untuk membayar semuanya? Tapi jika aku harus kembali lagi ke masa itu, tidak akan ada habisnya. Biarlah semua ini terjadi pada diriku.


Tidak ingin terlihat sedih terlalu dalam di depan sang ibunda tercinta, Rania memilih untuk mengalihkan pembicaraannya dengan cara meminta ibu dan kakaknya mencoba makanan yang ia bawakan.


"Itu enak, bu. Ibu dan kakak harus coba! Menantu ibu tuh yang membelikannya" Rania membukakan kantong plastik yang berisi kue coklat itu.


"Terima kasih ya, nak Bagas!" ucap bu Sari sembari mencoba kue itu.


"Iya, bu. Aku senang kalau ibu menyukainya. Lain kali aku belikan lagi kalau datang ke sini"


"Nak Bagas gak usah repot-repot! Kalian datang ke sini saja ibu sudah seneng alhamdulillaah"


"Iya, bu"


"Ayo dong kalian juga cobain, masa ibu sama Nadira saja yang makan!"


"Hehe, iya, bu"


Kemudian Rania dan Bagas juga mengambil potongan kue, memakannya bersama-sama di dalam ruang tamu yang sederhana. Terlihat seperti keluarga yang harmonis, rukun dan damai. Semoga saja itu seterusnya.


*****


Karena hari semakin sore, Rania dan Bagas memutuskan untuk pulang saja. Rasa kerinduannya sudah sedikit terobati, jika saja di sana tidak ada Nadira, mungkin Bagas akan terlihat manja seperti anak kecil, sama halnya ketika ia sakit dan meminta bu Sari yang menyuapinya. Bagas betul-betul membutuhkan kasih sayang seorang ibu.


Setelah berpamitan, mereka menaiki mobil dan keluar dari halaman rumah itu, mulai masuk ke area jalan raya. Di perjalanan, Rania masih mengingat perkataan ibunya tentang pesan dari Diva. Bagas yang sedari tadi fokus menyetir mobil, kini memandangi wajah istrinya yang murung.


"Kenapa? Masih rindu ibu?"


"Bukan itu"


"Lalu?"


"Tidak ada!" Rania berusaha menyembunyikan apa yang sedang pikirkan.


"Kalau begitu, gimana kalau kita ke Mall, shopping!" Bagas berusaha menghibur hati istrinya, karena setahu dia wanita akan berubah menjadi senang apabila di ajak shopping.


"Gak mau, pulang saja!" tapi ternyata bagi Rania tidak. Itu bukan salaj satu obat penghibur dirinya di kala sedih.


"Ya sudah" Bagas kembali fokus mengemudikan mobilnya. Tidak ada pembicaraan lagi di antara keduanya. Hanya suara mobil di jalanan yang kali ini terdengar.


Aku benar-benar kehilangan masa terindahku, masa sekolah. Dimana bersenang-senang bersama teman lebih menyenagkan di bandingkan sekedar shopping atau hal lain. Karena bersama teman kita berbagi suka dan duka. Kini, ketika kita sudah berumah tangga, tidak ada lagi cerita yang harus kita bagikan. Karena merekapun pasti akan sibuk dengan dunianya sendiri.


Bersambung...


#CUAP-CUAP_AUTHOR

__ADS_1


Kalau kalian suka cerita ini, jangan lupa like, vote menggunakan poin ataupun koin.


Terima kasih!


__ADS_2