
Pagi hari, penghuni rumah yang menjadi tempat mengerikan untuk Rania sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Beberapa pelayan di rumah ini saling bergantian menempatkan menu sarapan di meja makan.
Brahma yang berdeham seperti akan membuka pembicaraan di sana.
"Beberapa hari lagi, seseorang akan datang kesini" ucap Brahma memberi tahu Bagas tentang akan kedatangan seseorang.
"Siapa?" tanya Bagas menanyakan siapa kah orang yang akan datang.
"Shienna." jawab Brahma.
"Iya Bagas, kita harus menyambut kedatangannya." sambung Arsilla.
"Memang harus di sambut dia." Bagas menyetujui Arsilla sang kakak.
"Kau harus mengurus wanita kampungan" Arsilla melayangkan sorot maja tajam penuh kebencian pada Rania, "yang ada di sebelahmu itu!"
Bagas dan Brahma melirik seseorang yang Arsilla beri sorot mata itu. Wanita yang di beri sorot mata itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Karena ia tahu, ia bukan siapa-siapa di rumah ini. Ia tidak di inginkan ada di rumah ini bahkan dirinya sendiri pun tidak mau ada di tempat ini. Ya, dia adalah Rania.
Shienna? Siapa lagi dia? Menyambut? Di sambut. Apa dia seistimewa itu. Apa dengan kehadirannya nanti akan menambah penderitaan lagi untukku, atau bahkan seseorang yang akan menyelamatkan aku? Aku jadi penasaran.
Rania hanya terdiam mendengarkan pembicaraan mereka, toh dia juga tidak tahu dengan siapa orang yang mereka saat ini di bicarakan. Ia juga tidak mau menunjukkan behel yang terpasang di giginya kepada mereka. Takutnya, Arsilla akan memakinya lagi dan sarapan tidak akan di mulai.
Setelah para pelayan selesai menghidangkan menu sarapan, mereka pun memulai sarapan pagi ini. Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu.
******
Setelah mereka selesai sarapan, Rania berjalan di belakang Bagas untuk mengantarnya sampai depan. Sekretaris Frans dan sang sopir sudah menunggu tuannya di sana.
__ADS_1
Bagas masuk ke dalam mobil setelah sang sopir membukakan pintu masuk untuknya. Dan menutup kembali pintu mobil itu dengan penuh kehati-hatian. Sekretaris Frans masuk bersamaan dengan Bagas dan duduk di depannya.
Sang sopir berjalan setengah berlari mengelilingi mobil untuk kembali mengemudikan mobil itu. Mesin mobil di nyalakan kemudian di jalankan, keluar dari gerbang utama.
Rania memandang mobil yang di tumpangi Bagas sampai hilang di telan kejauhan. Rania menghela nafas panjang, merasa lega karena 1 masalah sudah pergi. Tapi, ada masalah lagi akan ia hadapi.
Apa yang harus aku lakukan untuk hari ini?
Rania berfikir sejenak dan memetik jarinya di dekat telinganya, "Ahaaa" ia seperti mendapat ide cemerlang.
Rania langsung merogoh ponsel di saku depan celana yang ia kenakan sekarang. Ia mencari nomer seseorang, meng-klik dan mendekatkan ponsel itu di telinga.
"Hallo."
"Aku ingin bertemu denganmu, apa kamu punya waktu untuk itu?"
"See you."
Begitu yang di katakan Rania kepada seseorang yang ia telpon. Ia langsung mematikan telponnya ketika ia mengucapkan kalimat terakhir itu. Dan, kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Rania tersenyum dan menghembuskan nafas panjang.
Rania kembali ke dalam rumah untuk berganti pakaian sekaligus mengambil tas slempang yang selalu ia pakai ketika bepergian.
Pertama, Rania mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Setelah itu mengambil tas slempangnya yang ada di lemari besar kamar itu. Lemari khusus untuk pakaiannya. Setelah melihat penampilannya oke, ia berjalan mendekati cermin yang ada di lemari besar itu. Ia memperlihatkan deretan gigi yang di behel berwarna hijau itu di bayangan cerminnya. Ia merasa tidak percaya diri untuk bertemu dengan seseorang dalam keadaan gigi yang di behel ini.
Untuk kali ini tidak apa-apa. Aku akan segera melepas kembali behel ini, agar aku lebih percaya diri seperti sebelumnya.
Rania tersenyum, mengumpulkan rasa percaya dirinya untuk bertemu dengan seseorang yang ia telpon tadi.
__ADS_1
Rania keluar dari kamar dan menuruni anak tangga dengan cepat, agar seseorang yang akan ia temui tidak sampai duluan apalagi sampai lama menunggunya. Tapi langkah itu terhenti di pertengahan ketika melihat Arsilla berdiri di bawah tangga membelakanginya. Arsilla sibuk dengan ponselnya.
Rania melanjutkan langkah kakinya dengan hati-hati dan tanpa suara. Ia takut wanita itu menoleh dan nengajukan banyak pertanyaan. Yang lebih parahnya lagi, bukan pertanyaan yang akan ia lontarkan melainkan cacian dan makian. Rania malas jika harus meladeni kakak ipar yang tidak bisa di ajak damai ini. Entah sampai kapan ia begitu. Ia juga tidak mau sepagi ini harus mendapat serangan dari kakak ipar.
Dengan hati-hati Rania terus menuruni anak tangga sampai ia harus mempercepat lagi langkahnya lagi ketika sampai di bawah. Salah satu pelayan melihat yang di lakukan Rania. Pelayan itu sudah mau membuka mulutnya, tapi Rania segera mengacungkan telunjuk di bibirnya. Memberi kode kepada sang pelayan agar tidak mengatakan apapun.
Aku mohon, jangan bicara. Jangan sampai aku ketahuan.
Sepertinya pelayan itu mengertikan perasaan Rania. Pelayan itu menghampiri Arsilla dan mengalihkan perhatian dengan mengajaknya bicara. Itu membuat Rania semakin mudah melanjutkan aksinya untuk segera pergi dari rumah ini.
Akhirnya Rania berhasil keluar dari rumah dengan nafas yang masih ia kontrol. Rania beberapa kali menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Ia merasakan lega untuk kesekian kalinya.
Untung saja pelayan itu mengerti, ia membantuku untuk segera pergi dari sini. Jika tidak, aku bisa telat!
Rania memeriksa jam di ponsel yang ia taruh di tas slempangnya. Seketika matanya terbuka sempurna, tangannya menepuk jidat, dan mulutnya terbuka.
Mati! Aku sudah membiarkan dia menunggu selama setengah jam.
Dengan cepat Rania memasukkan kembali ponselnya ke tas slempang. Kemudian ia berlari keluar melewati gerbang utama rumah itu untuk segera menemui seseorang di telpon tadi.
Bersambung...
#CUAP-CUAP_AUTHOR
Holla my readers, jadi gimana? Makin penasaran gak dengan kelanjutannya? Semoga semakin suka ya😊 jangan lupa untuk ajak teman, sahabat, pacar, kerabat, dan lainnya untuk baca TUAN TAJIR ini. Sampai saat ini sih Alhamdulillah banyak yang udah suka juga. Hanya terima kasih yang bisa saya ucapkan untuk kalian semua. Semoga ke depannya bisa tambah banyak pembacanya dan Novel ini lebih banyak di kenal orang. Terutama authornya ya, hehe. Tapi, di setiap kata suka juga pasti ada aja orang yang gak suka. Ada yang sampe ngatain ini itulah. Itu saya jadikan motivasi ke depannya😊
Insha Allah mulai hari ini, saya usahakan untuk bisa up tiap hari🤗 Tapi insha Allah ya kalau tidak ada halangan waktu untuk menulis😁
__ADS_1
Like, vote, komen ya😍 Dan tambahkan ke favorit untuk mendapat notifikasi di setiap up😊