
Tiga hari kemudian.
Rania sudah bisa di bawa pulang, karena kondisinya sudah bisa di bilang stabil. Dan saat ini mereka sudah sampai di rumah, senyuman kebahagiaan terpancar di wajah mereka.
Bagas dan Rania kini berdiri di ruang tamu, saling menatap dan memberi kebahagiaan satu sama lain. Bagas memegangi pinggang ramping yang kini kian melebar karena usia kandungan Rania semakin hari semakin bertambah. Rania menatap suaminya dengan memegangi kedua lengan di dekat dada bidang milik suaminya tersebut.
"Alhamdulillaah, akhirnya kita bisa kembali ke rumah dan berkumpul kembali bersama calon buah hati kita," ujar Bagas mengungkapkan kebahagiaannya.
"Iya, aku senang sekali," balas Rania, yang tak kalah bahagianya.
"Lain kali, kau jangan pernah pergi sendirian lagi, ya! Aku takut kejadian seperti ini terulang kembali."
"Iya, aku janji. Aku tidak akan pernah bepergian sendiri, aku juga takut hal seperti kemarin terulang lagi," ujar Rania, seketika wajahnya berubah ketika mengingat kejadian kemarin. Kejadian yang begitu menyeramkan.
Bagas memegang erat kedua buah tangan gadis di hadapannya. "Kau tidak usah takut, aku pastikan itu tidak akan lagi terulang. Selama ada aku, kau pasti akan baik-baik saja."
"Iya, maafkan aku! Kejadian kemarin nyaris membuat kita kehilangan calon anak kita. Itu semua salahku, kalau saja aku tidak menolakmu untuk menjemputku. Pasti kejadiannya tidak akan seperti ini," Rania terisak, ia sangat menyesali kecerobohannya kemarin, meskipun itu bukan sepenuhnya kesalahannya.
"Shttt.. Kau jangan bicara seperti itu, itu semua terjadi sama sekali bukan salahmu, sayang. Lebih baik kau lupakan kejadian itu, itu hanya akan mengganggu pikiranmu saja. Ya?!"
Rania mengangguk. "Iya."
Bagas mengecup kening sang istri dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang, kemudian ia juga mendekap erat tubuh Rania untuk menenangkannya. Semburat kebahagiaan kembali bersinar di wajah mereka. Semoga kebahagiaan terus berpihak pada kalian.
"Nanti sore kita pergi ke kantor polisi, setelah itu kita jenguk bang Radit," ajak Bagas lalu di setujui oleh Rania.
***
"Selamat sore, sodara Arsilla dan Hera, bisa keluar sebentar. Ada dua orang yang datang untuk menemui kalian," tutur pak Polisi.
Arsilla dan Hera langsung bangkit dari duduknya, mereka mengira kalau yang datang adalah Bagas dan Rania. Karena cuma mereka yang belum menjenguknya selama di sana.
Pak Polisi pun membukakan sel, dan mengantarnya ke ruang tunggu para pembesuk. Di sana memang benar sudah ada Bagas dan Rania menunggu mereka. Arsilla dan Hera begitu girangnya, mereka pasti akan segera di bebaskan. Pikirnya.
"Bagas, Rania," panggil Arsilla dengan semangat empat lima. Kemudian mereka duduk di hadapannya.
"Kalian datang pasti akan membebaskan tante dan Silla, benar begitu kan?" seru Hera tidak sabar menunggu jawaban Bagas.
__ADS_1
Bagas tersenyum, senyuman yang tidak dapat mereka artikan. "Kenapa, Bagas? Kamu pasti akan membebaskan kakak, kan?" Arsilla mengulang pertanyaan Hera barusan.
Bagas menggeleng, dengan senyum masih terpasang di wajahnya. "Kedatangan aku kesini, hanya untuk memastikan apakah kondisi kakak dan tante Hera baik-baik saja? Ternyata kakak dan tante sepertinya baik-baik saja, baguslah," ujar Bagas membangkitkan emosi Arsilla dan juga Hera.
"Apa maksud kamu, Bagas? Memangnya kamu tidak kasihan melihat kakak dan tante menderita di balik sel jeruji besi?"
"Atau jangan-jangan justru kalian senang kami ada di sini?" Hera menimpali.
Bagas menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. "Setiap apa yang kita lakukan itu, pasti ada balasannya. Dan ini balasan untuk kakak dan tante atas apa yang kalian lakukan," jawab Bagas dengan begitu tenangnya.
"Jangan menjadi adik yang kurang ajar ya kamu Bagas!" mata Arsilla memerah, ingin rasanya ia marah pada adiknya karena tidak akan membebaskannya dari penjara.
"Yang kurang ajar ini aku atau kakak dan tante? Bukannya kakak dan tante yang kurang ajar atas apa yang di lakukan pada Rania, istri aku sekaligus adik ipar kakak sendiri," Bagas menoleh pada Rania yang sedari tadi diam.
"Sekarang kakak dan tante harus menanggung semua akibatnya. Kakak dan tante harus belajar tanggung jawab!" tambah pria itu.
Arsilla sudah tidak dapat lagi menahan amarahnya, ia berdiri dan memukul meja dengan begitu kerasnya. "Kamu benar-benar keterlaluan, Bagas! Kamu lebih memilih istri kamu di banding kakak kamu sendiri? Kamu sudah tidak waras!"
Bagas menepis tangan Arsilla yang menunjuk-nunjuk Rania. Kemudian Bagas menatap balik sang kakak dengan bibir menyeringai, "Kakak lupa, bukankah kakak yang hampir tidak waras?"
Rania kembali merasa kesakitan, namun saat pertikaian terjadi, polisi segera kembali membawa Arsilla dan juga Hera kembali ke dalam sel tahanan yang akan mengurung mereka selama sekian tahun.
"Kau tidak apa-apa, sayang?" Bagas kembali mencemaskan Rania yang menjadi sasaran kemarahan kakaknya.
"Aku baik-baik saja," Rania menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan sesuatu yang sebenarnya sakit. Tapi ia tidak mau menunjukkan pada Bagas, karena takut Bagas mencemaskannya secara berlebihan.
"Kalau begitu sekarang kita pergi ke rumah sakit tempat bang Radit di rawat, ya?"
Rania mengangguk, ia masih menahan rasa sakit barusan. Kemudian Bagas merengkuh bahu Rania, untuk membawanya kembali ke dalam mobil.
***
Di rumah sakit tempat Radit di rawat.
Radit masih terbaring di atas ranjang pasien rumah sakit, di temani oleh bu Sari yang selalu setia ada di sampingnya.
"Bu, hari ini kan Rania sudha bisa pulang. Kira-kira dia kesini gak ya, buat jenguk aku?" Radit bertanya dengan penuh harap Rania akan menjenguknya.
__ADS_1
"Rania pasti datang, nak. Mungkin besok, karena dia juga kan harus istirahat," bu Sari mengalihkan rambut dan mengusap dahi putra sulungnya.
"Kalau begitu ibu bisa kan telpon suaminya buat nanyain kabar Rania gimana?"
Bu Sari mengangguk dengan seulas senyum di bibirnya. "Tentu saja ibu bisa. Sebentar ya!"
Bu Sari meraih ponsel yang ia simpan di atas nakas kecil samping ranjang pasien. Ketika ia akan menghubungi nomer menantunya, tiba-tiba kamar ruangan itu terbuka dan muncul sosok orang yang mereka nantikan kedatangannya berdiri di ambang pintu. Mereka Bagas dan Rania.
"Rania.." panggil bu Sari dengan senyuman merekah di bibirnya.
"Ibu.." Rania berjalan menghampiri bu Sari dan menghambur memeluknya setelah menyimpan parsel buah yang ia bawa di atas nakas.
"Kamu baik-baik saja, sayang?" bu Sari menghujani Rania dengan kecupan di keningnya.
"Rania..." Rania menggantungkan kalimatnya, ia merasakan sakit di bagian perutnya.
"Kamu kenapa, nak?" bu Sari meraba perut Rania yang kian membesar itu, melihat putrinya sepertinya sedang merasa kesakitan, kepanikan bu Sari kembali menjadi.
"Sayang, kau kenapa?" Bagas tak kalah cemasnya. Begitupun dengan Radit yang kini tengah melihat adiknya kesakitan seperti itu.
"Aku..." Rania mengiggit bibirnya kuat-kuat.
"Perutku mulas, aku ingin ke toilet sebentar, sepertinya aku belum buang air besar selama di rumah sakit," ujar Rania membuat bu Sari, Bagas, dan Radit membuang napas panjang merasa lega. Mereka pikir sesuatu buruk terjadi lagi pada kandungan Rania.
Haduh, Rania, Rania, bikin orang panik saja.
.
.
.
Coretan Author:
Maaf ya, hari kemarin tidak update! Saya tidak enak badan, dan tidak memungkinkan untuk menulis naskah. Kalau badan saya sudah kembali fit, pasti akan rutin update seperti biasanya.
Follow ig: @wind.rahma
__ADS_1