
"Aku pulang dulu ya, bu, kak!" pamit Rania pada bu Sari dan Nadira, kini mereka tengah berdiri di ambang pintu.
"Nak Bagas jemput, kan?" tanya bu Sari ketika tidak ada mobil yang terparkir di rumahnya.
"Tadi aku sudah telpon dia, tapi nomernya tidak aktif. Tapi tadi juga aku sudah minta untuk tidak perlu di jemput, karena aku tahu pasti suami aku cape. Lagi pula aku bisa pulang sendiri, kok," jelas Rania.
"Naik apa? Sudah malam, tidak ada angkutan umum, Rania!" bu Sari kembali cemas, ia sudah meminta putrinya untuk menginap saja malam ini. Tapi Rania tetap saja menolaknya.
"Rania sudah pesan taksi online, sebentar lagi pasti datang."
"Ya sudah, tapi kamu hati-hati ya, sayang!"
"Iya, bu."
Suara notifikasi masuk dari ponsel Rania, ia segera membukanya dan ternyata itu dari sopir taksi online yang mengatakan kalau dia sudah sampai di tempat di mana Rania memberi lokasi.
"Bu, taksi online-nya sudah datang. Aku pulang ya. Assalamu'alaikum.."
"Walaikumussalaam," balas bu Sari dan Nadira, dan benar di sana sudah ada mobil hitam yang parkir tidak jauh dari halaman rumahnya.
"Ayo bu, masuk!" ajak Nadira, ketika bu Sari masih berdiri di sana.
"Ibu sebenarnya khawatir melihat Rania pulang sendirian, Nad. Ibu takut sesuatu terpadi pada dirinya," bu Sari menatap nanar kepergian Rania, entah kenapa ia merasa sangat cemas, lebih cemas dari Radit yang belum pulang juga.
"Sstt..ibu tidak boleh berpikiran seperti itu! Lebih baik ibu do'akan saja semoga Rania selamat sampai rumah, ya!" Nadira merengkuh bahu ibunya.
"Iya, Nad. Kamu benar, semoga Rania selamat sampai rumah, dan Radit segera pulang, paling tidak memberi kabar."
"Iya, bu. Lebih baik kita masuk, yuk!"
Bu Sari mengangguk, kemudian Nadira membawa ibunya masuk ke dalam setelah ia menutup pintu rumahnya.
***
Di tempat kediaman keluarga D.
Dera, ibu dari Devi dan Diva ini saat ini sedang berdiri di depan pintu kamar putrinya, Diva. Setelah ia mengetahui masalah tentang perasaan yang sedang di hadapi putrinya, rasanya Dera ingin sekali mengobrol dengannya. Siapa tahu seorang ibu bisa memberikan solusi terbaik untuk semua putrinya.
__ADS_1
Akhirnya Dera mengetuk pintu kamar tersebut, namun berulang kali ia mnegetuk pintu itu dan memanggil nama Diva, tetap saja tidak ada jawaban. Dera memilih untuk langsung masuk saja, ketika pintu kamar Diva ia coba buka dan ternyata tidak di kunci.
Dera mendapati putrinya sedang berbaring di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Sepertinya putrinya ini sedang melamun. Kesedihan tergambar jelas di wajah gadis itu.
"Diva, sayang!" panggilan Dera seketika membuyarkan lamunan Diva, ia segera bangun dengan jemari yang sibuk menyeka air matanya yang mengalir sejak tadi.
"Ibu, kok ibu tidak izin ke Diva kalau ibu masuk ke kamar?"
Dera duduk di tepi ranjang, ia membelai lembut rambut putrinya dengan seulas senyum di bibirnya.
"Padahal ibu sudah minta izin masuk ke kamar ini dengan mengetuk pintu lebih dari seratus kali tadi, tapi kamu gak mau kasih ibu izin untuk masuk juga. Ya sudah, ibu masuk langsung saja!" jelas ibunya dengan lemah lembut.
Diva tersenyum, ibunya ini memang selalu bisa menenangkan hatinya. "Hehe, maaf! Aku tidak dengar, bu,"
"Kenapa bisa sampai tidak dengar, kamu pasti melamun, ya?" Dera memancing putrinya agar mau bercerita.
"T-tidak, bu. Aku tidak melamun!" kilah Diva.
"Kamu tidak pandai berbohong, sayang. Ibu juga tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbohong, kan?"
"Iya, bu. Maaf!"
Pertanyaan Dera barusan membuat Diva seketika tercekat dalam kebisuan, dari mana ibunya tahu masalah ini. Padahal sebelumnya ia tidak pernah cerita apapun tentang Reyhan pada ibunya.
"Maksud ibu?" Diva pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan ibunya.
"Ibu kan sudah bilang, kamu itu tidak pandai berbohong. Ibu sudah tahu, sekarang kamu tinggal jawab apa benar kamu itu sayang sama Reyhan?" Dera menatap putrinya sendu.
Diva mengangguk lemah, kalau ada yang tanya dirinya sayang atau tidak sama Reyhan, jawabannya memang iya. Karena memang dirinya beneran sayang pada pria yang sudah ia perjuangkan selama ini.
"Kalau kamu sayang, kenapa kamu minta kakak kamu buat gantiin posisi kamu, sayang?" Dera mengalihkan anak rambut yang menutupi wajah Diva, agar ia bisa memandang wajah putrinya ini dengan sangat leluasa.
"Bu..," Diva menatap sayup ibunya, "aku memang sayang sama Reyhan, tapi aku sadar, tidak setiap orang yang kita sayang itu adalah orang yang akan bersama kita untuk selamanya."
"Mungkin saja Reyhan adalah pria yang di kirim Tuhan untuk kak Devi. Karena papa Reyhan telah merenggut semua kebahagiaan kakak, dan menurut aku Reyhan mempunyai hak untuk tanggung jawab atas apa yang telah di lakukan oleh papa-nya itu," jelas Diva dengan bibir yang gemetar, namun ia berusaha untuk menguatkan diri.
Dera tersenyum melihat putrinya yang berbesar hati, mengorbankan perasaannya untuk kebahagiaan kakaknya. Ia menyandarkan Diva di bahunya. "Ibu tidak menyangka kalau kamu bisa setegar ini, sayang!" Dera mencium kening Diva dengan penuh cinta dan kasih sayang.
__ADS_1
"Kamu sudah tahu juga kalau kakak kamu memenuhi permintaan mamanya Reyhan, kalau mereka sekarang sedang di jodohkan?"
"Hah?" Diva mengangkat kepalanya, ia sangat terkejut, seketika hatinya bagaikan di tusuk oleh pedang. Ia belum tahu kalau soal itu, tapi ia berusaha untuk bersikap tenang seolah dia sudah benar-benar bisa merelakan Reyhan untuk kakaknya sepenuhnya.
"Beneran, bu?"
"Iya. Memangnya kamu belum tahu?" Dera pikir Diva sudah tahu.
"Belum. Kalau mamanya Reyhan meminta kak Devi untuk dekat dengan Reyhan ya bagus, bu. Berarti mereka memikiki peluang besar untuk bisa jauh lebih dekat lagi," Diva tersenyum getir, ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya. Namun apalah daya, ia hanya mampu menjerit saja dalam hatinya.
"Ibu mendukung keputusan kamu, sayang. Karena apapun keputusan kamu, itu pasti yang terbaik untuk kamu. Ya?"
"Iya, bu."
"Suatu hari nanti kamu juga pasti akan menemukan pria yang jauh lebih baik dari Reyhan. Ya kalaupun Reyhan bukan jodoh kakak kamu, dan Reyhan mencintai kamu seperti kamu mencintai dia, dia pasti akan kembali lagi sama kamu!" tutur ibu Diva.
"Iya, bu." Diva berusaha tersenyum.
"Sebenarnya ibu juga sangat setuju dengan apa yang katakan, kalau Reyhan sebaiknya dengan kakak kamu. Mungkin kamu bisa menemukan pria lain lebih gampang, sayang! Tapi beda dengan kakak kamu, dengan latar belakang yang kurang baik atas apa yang kakak kamu alami ini, akan sangat sulit untuk mendapatkan jodohnya. Karena ketika ingin ada pria yang serius sama kita, kita juga harus menceritakan semuanya tentang diri kita. Dan kemungkinan besar, hanya ada satu atau dua saja yang bisa menerima semua itu."
"Ibu juga setuju kalau Reyhan mencoba untuk menggantikan tanggung jawab papanya. Ibu, kamu, kita ini sama-sama perempuan, mungkin kalau kita ada di posisi kakak kamu, belum tentu kita setegar dan sekuat dia. Kehormatannya di renggut dengan begitu saja, setelah itu dia harus menerima hukuman yang sama sekali tidak pernah lakukan. Dan sekarang kakak kamu di bebaskan karena sudah di ketahui kebenarannya, namun orang lain akan tetap mengecap kakak kamu sebagai pembunuh karena hanya kita saja yang tahu kebenarannya." tambah wanita itu.
"Dengan status mantan narapidana, kakak kamu juga akan sangat sulit mencari pekerjaan. Semoga saja Reyhan adalah pilihan yang tepat untuk kakak kamu, ya! Ibu harap kamu bisa berlapang dada dan cepat melupakan Reyhan! Seperti yang ibu katakan tadi, kalaupun pada akhirnya Reyhan bukan jodoh kakak kamu, dan dia mencintai kamu, dia pasti akan kembali sama kamu, sayang! Kamu paham kan maksud ibu?"
Diva sudah tidak kuat lagi menahan derai tangisnya, mulai saat ini, mulai detik ini, ia harus benar-benar merelakan Reyhan untuk kakaknya sepenuhnya. Ia harus melupakan Reyhan walaupun itu berat, walaupun itu menyakitkan, tapi ini adalah jalan yang terbaik. Yang di katakan ibunya memang benar, kalaupun pada akhirnya Reyhan bukan jodoh kakaknya, dan dia mencintainya, dia pasti akan kembali.
"Iya, bu. Aku akan berusaha merelakan sepenuhnya. Aku tidak mau gara-gara aku belum merelakan sepenuhnya, itu akan membuat kak Devi akan terus merasa bersalah. Aku janji, aku pasti akan melupakan Reyhan, demi kakak, bu!" Diva berusaha tersenyum, untuk menguatkan dirinya sendiri.
Semoga Diva mendapat jodoh yang lebih baik, kalau Reyhan akhirnya jodoh Devi. Do'akan!
.
.
.
Coretan Author:
__ADS_1
Like, komen, tambahkan ke favorit, dan vote yang banyak. Rekomendasikan juga cerita ini ke pembaca lain.
Follow ig: wind.rahma