Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Diva


__ADS_3

Rania mengambil paper bag kecil di dalam satu paper bag besar yang ia bawa, setelah satu paper bag tadi di berikan pada pegawai lainnya.


"Ini untukmu, Rey!" Rania memberikan paper bag kecil itu pada Reyhan yang kini mereka tengah duduk di sofa lantai atas tempat dimana Rania beristirahat di sana.


Reyhan-pun langsung menerima pemberian tersebut dari tangan Rania.


"Apa ini?" Reyhan sedikit membuka isi paper bag tersebut.


"Bukan apa-apa, dan mungkin itu tidak begitu berharga. Tapi aku siapkan ini semua untuk kamu, untuk semuanya!" ucap Rania hampir melupakan paper bag besar berniat untuk di berikan pada Diva.


"Yang ini untukmu!" menyerahkan paper bag yang besar untuk Diva yang kebetulan juga ada di sana karena Rania sendiri yang memintanya.


"Terima kasih!" ucap Diva sambil menerima paper bag tersebut, namun wajahnya masih datar tanpa mengeluarkan ekspresi apapun.


"Aku harap kalian suka!"


"Aku hampir melupakan mengucapkan terima kasih untuk kamu, terima kasih Rania!" ucap Reyhan sambil mengangkat paper bag-nya.


"Iya Rey, santai saja!" Rania menepuk pundak Reyhan pelan.


Melihat keakraban Rania dengan Reyhan membuat Diva semakin merasa terbakar saja lama-lama berada di sana. Diva menatap Rania dan Reyhan secara bergantian, mereka sedang asik berbincang-bincang dengan canda dan di selingi tawa. Rupanya pupus sudah harapan Diva untuk bisa mendekati pria itu.


Rania, kamu jahat! Kamu tidak memberiku peluang untuk mendekatinya. Kamu malah terus asik dengannya, padahal kamu sendiri sudah memiliki suami yang lebih tampan, lebih tajir. Mungkin salahku juga belum memberitahumu kalau aku menyukai Reyhan si pria tampan ini. Ah, semakin aku terus menyebutkan namanya, semakin aku jatuh cinta padanya.


"Rania.." panggil Diva memudarkan mereka yang sedang asik tertawa.


"Eh, iya, ada apa Diva?" Rania mengakhiri tawanya dan mulai menanggapi Diva.


"Karena kamu sudah kembali, jadi mulai sekarang tugasku di sini sebagai apa?"


"Tugasmu.." Rania berpikir sejenak, "sebelumnya terima kasih karena kamu sudah mau membantu Reyhan untuk menggantikan aku selama aku tidak ada"


"Padahal aku bisa melakukannya sendiri tanpa di bantu orang lain, kecuali oleh kamu sendiri Rania" Reyhan memotong pembicaraan Rania yang sepertinya masih ingin melanjutkan kalimatnya.


Rania menatap Reyhan serius, Diva juga. Dada Diva semakin sesak rasanya, tapi ia harus sebisa mungkin menahannya di depan mereka.


"Haha, Rey kau selalu bercanda! Sudah selesai bercandanya, ini giliran aku bicara serius dengan Diva" meskipun Rania menganggapnya bercanda, namun wajah Reyhan sama sekali tidak memberi tahu kalau ia sedang bercanda.

__ADS_1


"Maaf, ya, Diva! Rey ini orangnya memang begitu, kamu harus lebih mengenalnya lebih jauh. Dia ini lumayan asik, haha lumayan, ya!" Rania tertawa sendiri, entah apa yang membuatnya tertawa seperti itu, padahal Reyhan dan Diva terlihat begitu serius.


"Katakan Rania, tugasku sekarang apa?" Diva mengulang pertanyaannya yang belum sempat di jawab.


"Begini, Diva" Rania ahkirnya mau bicara dengan serius juga, " kamu bisa gabung dengan yang lain, ikut mengemas barang orderan coustamer!"


"Apa? Aku? Gabung dengan semua pegawai itu?" protesnya seperti tidak terima.


"I-iya, memangnya kenapa? Kamu keberatan?"


"T-tidak, Rania. A-aku bertanya saja" jawabnya terbata-bata, sambil mengeluarkan ekspresi tidak suka.


"Kalau kamu tidak mau kamu bisa cari pekerjaan lain saja!" sahut Reyhan ikut bicara.


"Rey, dia temanku! Kamu tidak boleh bersikap seperti itu padanya!" seru Rania.


"Tapi dia..."


"Rey, sudah!"


"Kalau begitu aku permisi Rania, pak Reyhan!" pamit Diva kemudian beranjak dari sana setelah melihat keadaan yang tidak memungkinkan untuk ia tetap berada di sana.


"Rey, kamu kenapa?" melihat ada yang aneh ketika ia kembali, tidak seperti sebelum ia pergi kemarin.


"Aku tidak apa-apa, Rania!" Reyhan berusaha untuk tersenyum, walaupun Rania bisa melihat ada sesuatu di balik semua itu.


"Rey.. Dengarkan aku! Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menceritakannya sama aku, sama seperti halnya aku sama kamu yang berbagi cerita dalam suka maupun duka!" Rania sedikit memaksa agar Reyhan mau menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Iya, Rania. Aku pasti akan melakukannya, tapi aku sedang baik-baik saja. Kamu tidak usah khawatir!"


Sekuat apapun Rania memaksa Reyhan untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tentang keanehan dirinya, tentang keanehan sikap Diva, para pegawainya juga, namun Reyhan tetap saja memilih bungkam dan bilang tidak terjadi apa-apa.


Sebelumnya tidak seperti ini, aku akan tanyakan langsung saja pada Diva nanti. Siapa tahu dia mau menceritakan perihal apa yang sebenarnya terjadi. Gumam Rania dalam hati.


***


Sore hari, masih di ruko. Rania berdiri di depan dan baru saja mematikan sambungan telepon dari seseorang yang sepertinya dari suaminya. Terdengar dari kalimat akhir ia mengatakan, "ok, sayang!" itu sudah memastikan kalau dirinya berbicara di telepon dengan Bagas.

__ADS_1


Terlihat Reyhan muncul dari dalam dan berdiri di samping Rania.


"Rania, kamu pulang naik angkot? Kita bareng aja, kebetulan aku mau pergi ke arah yang sama!" ajak Reyhan, ia memang tidak tahu persis kediaman Rania, namun Rania pernah menyebutkan arah jalan menuju rumahnya. Rumah tuan tajir lebih tepatnya.


"Maaf, Rey! Barusan suamiku telpon, katanya dia mau jemput" tolak Rania membuat Reyhan sedikit kecewa mendengarnya.


"Ya sudah, tidak apa-apa!" Reyhan berusaha tersenyum untuk menutupi kekecewaannya.


"Itu dia sudah datang" Rania menunjuk mobil berwarna hitam yang berjalan menghampiri, tentunya ia kenal itu adalah mobil Bagas.


"Duluan, ya!" ucap Rania sambil berlalu menghampiri mobil itu dan masuk ke dalamnya.


Ingin rasanya untuk Reyhan mengucapkan hati-hati pada Rania, namun sekedar melambaikan tangannyapun ia tak mampu. Ia tidak mau mencari perkara dengan rumah tangga Rania.


Rania, kamu sungguh wanita yang hebat yang pernah aku temui. Aku mengagumimu. Dia pria hebat, mampu membuatmu jatuh cinta setelah kamu di perlakukan tidak selayaknya manusia. Dan kamu wanita yang cukup tangguh. Aku akan menjadi laki-laki yang ada di garda terdepan, jika pria itu kembali menyakitimu.


Reyhan mematung di sana, memandang mobil yang di tumpangi Rania melaju sampai hilang di telan kejauhan.


Tiba-tiba saja seseorang menepuk bahu, memudarkan lamunannya. Ketika ia menoleh, wajah Diva tersenyum yang ia lihat. Reyhan segera mengalihkan pandangannya.


"Pak Reyhan, aku dengar akan pergi ke arah jalan rumah Rania, benarkah? Kalau begitu kita bareng aja, kebetulan searah juga!" tawar Diva dengan semangatnya, ia berharap kalau hari ini akan menjadi awal pendekatannya melalui pulang bareng.


"Tidak, jadi!" ucap Reyhan datar, kemudian ia langsung pergi dari sana.


Diva mengepalkan tangan dan menghentakkan kakinya ke bumi.


"Tidak ada cara lagi, aku harus meminta bantuan Rania sendiri untuk mendekatkan aku dengan si tampan itu. Aku baru saja merasakan jatuh cinta, aku di buat mabuk olehnya!" gerutu Diva.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Vote ya, sebanyak-banyaknya! Kalau ada vote 1000, ya! Hehe.


__ADS_2