
Jam dinding menunjukkan pukul tiga sore hari. Di lihat dari pakaiannya, sepertinya Bagas akan bepergian. Ia mengambil ponsel di nakas setelah memakai jam tangan di pergelangan tangannya.
"Sayang, aku pergi dulu sebentar, ya!" Bagas berpamitan pada Rania yang sedang berusaha menidurkan Khanza.
"Kemana?" tanya Rania penasaran.
"Frans minta aku untuk menemuinya di kafe dekat sini. Katanya ada sesuatu yang mau dia bicarakan," jelasnya.
"Kenapa harus di kafe? Kenapa dia tidak datang langsung ke sini saja?" Rania mengerutkan keningnya dalam, sepertinya ada hal penting yang akan di sampaikan oleh sekretaris Frans. Tapi, apa?
"Aku juga tidak tahu. Dia memaksaku untuk menemuinya di sana. Aku pergi dulu, ya! Sebentar, kok," Bagas mengulurkan tangannya, kemudian Rania mencium punggung tangan tersebut.
"Hati-hati, ya!" ucap Rania, sebelum akhirnya Bagas pergi dari sana.
Sampai di kafe, Bagas duduk di kursi meja yang sudah ada sekretarisnya di sana. Bagas menatap wajah sekretaris Frans yang nampak tegang.
"Kau kenapa, Frans?"
"Saya baik-baik saja, tuan!" jawabnya, sedikit gugup.
"Lalu kenapa kau memaksaku untuk datang menemuimu di sini? Ada hal penting?"
"Iya, tuan. Saya mau minta solusi pada anda," jelasnya.
Bagas mencondongkan wajahnya, mengamati wajah sekretarisnya yang tak memudarkan wajah tegang sekaligus paniknya. "Solusi? Kau... Kau Menghamili kakak iparku, Frans? Benar kan, Frans? Ngaku, Frans!" tuduhan itu membuat sekretaris Frans langsung membungkam mulut tuannya.
"Jangan sembarangan kalau bicara, tuan! Kalau sampai ada orang yang mendengar tuduhanmu barusan, mereka akan menyangka kalau saya melakukan apa yang anda katakan," Sekretaris Frans melepaskan bungkamannya.
"Apa yang baru saja kamu lakukan terhadapku sebuah kesalahan besar, Frans! Kau dengan beraninya membungkam mulutku. Untung kau ini orang yang yang telah berhasil membantu aku menyelamatkan istriku waktu itu. Kalau tidak, hari ini kau aku pecat sebagai sekretaris pribadiku!" seru Bagas.
"Maafkan saya, tuan! Habisnya tuduhanmu juga yang membuat saya harus membungkam mulutmu," sekretaris Frans benar-benar meminta maaf karena sudah lancang.
"Ya sudah, katakan apa yang mau kau bicarakan?" Bagas tak ingin berlama-lama, karena dia sudah janji pada Rania kalau dia hanya akan pergi sebentar.
"Jadi, rencananya nanti malam saya mau melamar Nadira, kakak ipar anda. Saya mau minta solusi, bagaimana caranya supaya saya bisa di terima oleh calon mertua saya. Tuan kan tau sendiri, kalau ayah Nadira mungkin kurang suka terhadap saya," sekretaris Frans menjelaskan tujuan meminta tuannya untuk datang menemuinya.
"Kau benar-benar mau serius dengan kakak iparku, Frans? Kau benar-benar akan mengubah statusmu, yang semula hanya sekretarisku akan menjadi kakak iparku juga?" tanya Bagas tidak percaya, dia pikir sekretarisnya ini hanya bercanda.
"Serius, tuan. Untuk apa saya bohong? Jadi gimana, apa anda punya caranya agar aku bisa di terima dengan mudah oleh calon mertuaku?"
Bagas berpikir sejenak, tiba-tiba dia mempunyai ide briliant yang akan menjadikan sekretaris Frans di terima oleh pak Burhan dengan mudah tanpa di persulit.
"Sini, Frans! Aku akan memberi tahu," Bagas memibisikkan sesuatu di telinga sekretaris Frans, pria itu bukannya mengangguk setuju dengan usul Bagas, malah ketawa cekikikan karena geli.
__ADS_1
***
Malam harinya, di tempat kediaman pak Burhan dan bu Sari. Mereka tampak sedang berkumpul di ruang tamu, tawa dan canda menghiaasi kehangatan keluarga mereka yang tidak biasanya, apalagi Radit ikut serta bergabung dengan mereka.
Seketika pintu rumah mereka di ketuk oleh seseorang, dan memudarkan tawa di antara ke empat orang ruangan tamu tersebut.
"Biar Nad yang buka, bu!" Nadira segera bangun dari duduknya, ketika dia buka pintu yang di ketuk oleh seseorang tersebut, Nadira nampak senang karena yang datang adalah kekasihnya.
"Assalamu'alaikum.." sekretaris Frans mengucapkan salam.
"Walaikumussalaam.. Kok gak bilang kalau mas mau ke sini?" Nadira merapikan baju beserta rambutnya yang mungkin sedikit berantakan.
"Sengaja. Aku mau ketemu ayah kamu, ada?"
"Ada. Ibu dan bang Radit juga ada, mereka sedang ngobrol, ayo masuk!" Nadira mempersilahkan sekretaris Frans dengan kedua tangannya.
Waduh, ada ibu dan abangnya juga? Mental yang tadi aku sempat kumpulkan ternyata masih kurang, kalau harus menghadapi tiga orang sekaligus. Bagaimana kalau cara yang di berikan tuan itu tidak membuat pak Burhan luluh? Aku bisa gagal nikah dengan Nadira. Batin sekretaris Frans dalam hatinya. Ia menelan salivanya dengan susah.
"Ayo mas, masuk!" Nadira kembali mempersilahkan kekasihnya ini masuk, ketika sekretaris Frans masih berdiri di ambang pintu.
Sekretaris Frans pun mengangguk. Di ruang tamu, sekretaris Frans segera menyalami kedua calon mertunya beserta calon kakak iparnya.
"Ada apa malam-malam datang kemari?" tanya pak Burhan, membuat mental sekretaris Frans menciut sebelum apa-apa.
"Silahkan duduk, nak Frans!" bu Sari mempersilahkan sekretaris Frans untuk duduk.
"Iya, bu. Terima kasih!" sekretaris Frans duduk di kursi yang dekat dengan pintu. Dia menundukkan wajahnya, tidak berani menatap wajah calon mertunya yang seram ini.
"Ada perlu apa nak Frans datang kemari malam-malam? Apa ada hal penting?" bu Sari bertanya dengan lembut, setidaknya membuat hati sekretaris Frans sedikit lega.
"Jadi maksud kedatangan saya ke sini itu..." sekretaris Frans meremas kedua tangannya yang mulai mengeluarkan keringat dingin. Entah kenapa badannya terasa panas dingin, bahkan sendi lututnya pun seakan mau copot.
"Kalau bicara itu jangan setengah-tengah. Cepat katakan apa yang mau kamu bicarakan!" seru pak Burhan, kembali memudarkan mental sekretaris Frans.
"Kedatangan saya kesini itu..." lagi-lagi sekretaris Frans menggantungkan kalimatnya. Ia melihat Nadira kembali dari dapur, dengan membawa secangkir teh manis hangat yang di suguhkan untuknya.
"Silahkan di minum!" senyuman yang mengembang di wajah Nadira yang di tujukan pada sekretaris Frans barusan, membuat semangat pria yang memiliki tujuan melamar gadis itu seketika bertambah.
Sekretaris Frans segera mengumpulkan mentalnya, ia harus berani, harus gantle menghadapi calon mertua yang segalak pak Burhan untuk bisa memiliki putrinya seutuhnya.
"Kedatangan saya ke sini untuk melamar Nadira Khoirunnisa, putri dari pak Burhan dan bu Sari, sekaligus adik dari bang Radit," ujar sekretaris Frans dengan lantangnya, dengan penuh kepercayaan diri pula.
"Alhamdulillaah, akhirnya nak Frans benar-benar serius dengan Nadira?" bu Sari mengucapkan syukur, sedangkan pak Burhan malah terbahak.
__ADS_1
"Hahaha.. Memangnya kamu punya apa nak Frans? Berani melamar putri saya," pak Burhan menyeringai.
"Ayah, memangnya kenapa kalau mas Frans tidak punya apa-apa? Lagi pula Nadira juga akan menerima dia apa adanya, kok," tampik Nadira, ia begitu bahagia karena akhirnya sekretaris Frans ingin lebih serius setelah menyatakan cintanya beberapa hari yang lalu. Namun pertanyaan yang barusan ayahnya lontarkan pada kekasihnya itu menyakiti hati Nadira.
"Saya memang tidak memiliki harta sebanyak tuan Bagas, saya tidak memiliki sesuatu yang sesuai dengan kriteria menantu bapak. Saya cuma punya niat untuk memperistri putri bapak. Saya janji, kalau saya akan membahagiakan Nadira lahir bathin," ucap sekretaris Frans jujur apa adanya. Dia bisa terima apa yang akan nanti dia dengar dari mulut pak Burhan. Di terima atau tidaknya, itu urusan belakang. Yang penting, dia sudah berusaha.
Seketika keheningan terjadi di antara mereka. Lama. Sekretaris Frans berdo'a, bahkan sampai ayat kursi dia baca berulang kali.
"Nak Frans, saya..." pak Burhan menggantungkan kalimatnya, semua wajah orang-orang yang ada di ruang tamu tegang. Menunggu jawaban apa yang akan di katakan pak Burhan.
"Saya terima lamaran kamu, nak Frans!" ucap pak Burhan. Membuat semua pasang telinga tidak mempercayainya.
Sekretaris Frans sampai melakukan sujud syukur di sana, karena akhirnya lamarannya di terima.
Mengapa pak Burhan bisa dengan mudahnya menerima sekretaris Frans, bukannya satu detik yang lalu pak Burhan baru saja meledeknya?
"Apa alasan bapak bisa menerima saya dengan begitu mudahnya?" sekretaris Frans, dan semua yang ada di sana bertanya-tanya, dan pertanyaan sekretaris Frans ini benar-benar mewakili.
"Kamu sudah bisa memanggil saya dengan sebutan ayah sekarang! Jadi, sebenarnya harta itu nomer dua bagi ayah. Ayah tadi hanya mengetes keseriusan kamu, dan ternyata kamu benar-benar berani menghadap ayah. Dulu saja, saat ayah melamar ibu Nadira ini, ayah tidak memiliki apa-apa. Tapi keseriusan ayah yang membuat ayah mendapatkan ibu Nadira ini. Ayah barusan teringat pada alm. mertua ayah, yang mengetes keseriusan calon menantunya seperti itu," jelas pak Burhan, membuat bu Sari dan yang lainnya seketika terharu.
"Ternyata ayah masih ingat?" bu Sari menatap suaminya sambil berkaca-kaca.
"Iya, bu. Ayah tidak akan pernah melupakan kenangan itu sampai kapanpun. Maafin ayah ya, kalau selama ini ayah selalu menyakiti hati ibu!" pak Burhan merentangkan tangannya untuk memeluk istrinya.
Ternyata benar yang di katakan tuan Bagas. Kalau pak Burhan ini hanya membutuhkan keseriusan seorang calon menantunya. Itu yang membuat pak Burhan akan luluh. Kalau begitu, kenapa aku setakut itu menghadap pak Burhan, kalau ujungnya pak Burhan menerimaku dengan mudah? Hah, aku lega. Akhirnya Nadira akan menjadi milikku. Pikir sekretaris Frans.
Di sela-sela pak Burhan yang sedang memeluk bu Sari. Sekretaris Frans mengambil kesempatan itu untuk memeluk Nadira untuk mengungkapkan kebahagiaannya.
"Aku mencintaimu, Nadira," bisik sekretaris Frans tepat di telinga gadis itu.
"Iya, aku juga mas Frans," balas Nadira, seraya mengeratkan pelukannya.
Semburat kebahagiaan terlihat di wajah sekretaris Frans dan Nadira, di wajah pak Burhan dan bu Sari. Sedangkan Radit di jadikan obat nyamuk di sana. Radit hanya bisa memeluk dirinya, bersama bayanganya. Membayangkan kalau saat ini dia juga sedang memeluk gadis yang sudah menjadi kekasihnya, Diva.
.
.
.
Coretan Author:
Halo kalian semuaaaa... Selamat tahun baru dua ribu dua puluh satu, ya! Tetap di rumah aja, dan patuhi protokol kesehatan. Daripada main keluyuran ke luar rumah, lebih baik baca novel saja, terutama cerita ini. Semoga selalu menghibur!
__ADS_1
Follow ig: @wind.rahma