Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Menjelaskan pada Diva (Part 1)


__ADS_3

Sampai di rumah, Diva membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sederhana yang menjadi tempat ternyaman untuknya sepanjang tidur. Ia menatap langit-langit kosong, tatapannya kosong.


Mengingat kejadian tadi, ia merasa sangat sedih sekali. Gadis mana yang tidak akan terluka di saat ia mengharapkan sebuah cinta, namun yang di dapatkan adalah sebuah cacian dan makian oleh seseorang yang di anggap akan menjadi orang yang spesial juga kelak.


Air matanya kembali menderai, ia tidak tahu apa yang membuat ibu Reyhan bersikap seperti itu padanya. Sama sekali tidak tahu. Namun Diva terus mencerna ucapan dari wanita yang bernama Iren itu.


"Jawab pertanyaan saya! Kenapa kamu ada di sini? Untuk apa datang lagi ke sini? Apa hukumanmu itu sudah berakhir sehingga kamu bisa berkeliaran dengan seenak hati? Siapa terget selanjutnya yang akan kamu bunuh itu? KATAKAN! KAMU MAU MEMBUNUH SAYA JUGA?"


Kata-kata yang keluar dari mulut ibu Reyhan terus terngiang di telinga Diva. Kata-kata itu terus masuk dan mencoba menerobos ke dalam pikirannya. Kata-kata itu memaksa masuk untuk menusuk relung hatinya. Kata-kata itu, sungguh membuat Diva semakin terluka. Kata-kata itu juga membuatnya semakin bingung. Mengapa ibu Reyhan bisa mencapnya sebagai pembunuh? Padahal ia baru saja bertemu dengannya, itupun tidak di rencanakan.


Tunggu sebentar! Pembunuh? Wanita itu menuduhnya sebagai seorang pembunuh ketika melihat wajahnya. Apakah ini ada kaitannya dengan tuduhan yang di terima oleh Devi, kakaknya. Karena selama ini kakaknya menerima hukuman dan di penjarakan karena telah melakukan sesuatu yang membuatnya harus di hukum seperti itu. Ya, sepertinya itu ada kaitannya, dia harus menanyakan soal itu, agar ia tahu kebenarannya.


Kakaknya yang berada di penjara selama lima tahun ini, yang sama sekali tidak melakukan hal semacam pembunuhan itu, yang harus menerima hukuman tanpa melakukan sedikitpun kesalahan itu rupanya ada kaitannya dengan keluarga Reyhan.


Jika benar demikian, maka Diva tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Diva mencoba memejamkan kedua matanya, untuk menghapus ingatannya tadi. Namun, semakin ia mencoba mengusir ucapan ibu Reyhan, justru semakin terdengar jelas di telinganya.


***


Keesokan harinya, Reyhan terlihat begitu gelisah serta cemas. Dia mencari sosok Diva di ruko, namun sampai siang seperti ini Diva tetap saja belum datang.


Rasa bersalah Reyhan semakin besar, setelah ia bersama keluarganya harus memenjarakan Devi, merampas hak kebebasan untuk hidup layaknya remaja yang lain, kini Mama-nya juga memperlakukan hal yang sama pada Diva seperti dulu ia melampiaskan kebenciannya dengan Devi. Orang yang ia sangka sebagai pembunuh itu kenyataannya adalah seorang korban.


Namun Reyhan sedikit lega, karena semalam ia sudah menceritakan kebenaran itu pada Mama-nya. Walaupun Mama Reyhan tidak percaya begitu saja sebelum ada bukti yang kuat. Setidaknya ia sudah memberi tahu kebenarannya seperti apa.


Sekarang waktunya ia menjelaskan pada Diva tentang sikap Mamanya semalam. Diva harus segera tahu kebenarannya. Tidak perduli apa yang akan Diva lakukan padanya, yang terpenting ia harus memberi penjelasan yang sebenarnya.


Sudah berulang kali Reyhan menelpon Diva, namun tetap saja Diva tidak menjawab telponnya. Seorang pegawai lain yang sedari tadi melihat Reyhan yang nampak aneh, memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"Pak Reyhan baik-baik saja, kan?" tanya pegawai di ruko, sebut saja Nina.


"Saya baik-baik saja," ujar Reyhan.


"Tapi saya perhatikan, pak Reyhan terlihat panik dari tadi. Makanya saya tanya apa pak Reyhan baik-baik saja? Atau terjadi sesuatu dengan bu Rania sehingga membuat pak Reyhan panik?" tanya Nina, lagi.


"Hah? Rania? Dia baik-baik saja. Oh ya, saya lupa menyampaikan ucapan terima kasih darinya. Beri tahu yang lain juga, ya!"


"Baik, pak. Kalau begitu saya permisi, masih banyak barang yang harus saya kemas!" pamit Nina kemudian berlalu.


Rania? Ya, sepertinya Reyhan harus menghubungi Rania. Sepertinya Rania bisa membantunya.


"Tapi kalau aku mengganggu waktunya, gimana? Tidak ada pilihan lain juga," ujar Reyhan bertanya pada dirinya sendiri.


Karena semua jalan ia pikir buntu, akhirnya Reyhan menghubungi Rania untuk meminta bantuan padanya. Semoga saja Rania mau membantunya.


***


Rania nampak baru selesai berbicara di telpon dari seseorang, kini ia baru saja mematikan sambungannya.


"Kasihan sekali dia," ujar Rania sambil meletakkan ponselnya di atas nakas.


Baru saja Rania akan melangkahkan kaki dari kamarnya, untuk menyusul Bagas yang sudah menunggunya di taman belakang rumah. Namun ponselnya kembali berdering, dering telpon masuk. Dan di sana tertera nama Rey, itu telpon dari Reyhan.


"Ada apa Reyhan menelponku? Apa ada masalah ruko, ya?" gumam Rania.


Rania segera mengangkat telpon dari Reyhan dengan mengusap ikon berwarna hijau di layar ponselnya.


"Halo, Rey. Ada apa?"

__ADS_1


"Halo, Rania. Maaf kalau aku mengganggu waktumu! Aku mau minta tolong sama kamu, bisa?" ujar Reyhan dari seberang sana dan terdengar sedikit cemas.


"Iya, tentu saja, Rey. Mau minta tolong apa, apa berhubungan soal ruko?" tanya Rania menebak-nebak.


"Hari ini Diva tidak datang ke ruko, kamu bisa hubungi dia, gak?! Soalnya aku telpon dia gak di angkat-angkat juga. Takutnya dia kenapa-kenapa," jelas Reyhan.


"Oh, Diva. Cieee, pantas saja nada bicara kamu terdengar sedikit cemas, rupanya kamu mencemaskan Diva. Ikatan batin kalian sekarang mulai sinkron, ya. Sehingga kamu bisa rasain kalau Diva hari ini lagi sakit," jawab Rania sedikit senang, ternyata Reyhan begitu memperdulikan temannya.


"Apa? Sakit?" Reyhan di buat lebih cemas lagi ketika mendengar Diva sampai sakit.


"Iya. Memangnya Diva gak ngabarin kamu, Rey? Katanya dia demam, barusan dia telpon aku katanya gak bisa masuk ke ruko. Aku kira dia sudah ngasih kabar kamu duluan."


"Tidak, dia tidak memberi tahu aku kalau dia sakit. Kalau begitu terima kasih ya, Rania! Aku tutup dulu telponnya."


"Iya, Rey. Sama-sama!" balas Rania sebelum sambungan terputus.


Rania menatap layar ponselnya, lalu ia tersenyum. Akhirnya Reyhan mau membuka hati sejauh itu untuk Diva. Syukurlah, semoga mereka bahagia. Aku sudah tidak sabar untuk menyaksikan kebahagiaan mereka ini. Mudah-mudahan.


Rania kembali meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian ia segera berjalan untuk menyusul suaminya yang saat ini tengah menunggunya di taman belakang. Kalau tidak buru-buru nyusul, bisa-bisa Bagas akan berubah menjadi emak-emak sewaktu-waktu. Dia pasti akan ngomel tanpa berhenti. Dan juga akan berubah menjadi intel untuk menitrogasi. Apa saja yang di lakukan Rania sehingga membuat dirinya harus lama menunggu? Dan akan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya. Sugguh merepotkan.


.


.


.


Coretan Author:


Follow ig: wind.rahma

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, komen, ya!


__ADS_2