
Sebuah mobil hitam berhenti di depan ruko yang Rania tempati saat ini. Itu adalah mobil Bagas, ia mengantarkan istrinya seperti biasanya.
"Oh iya, aku lupa menanyakan padamu. Apa kau suka di ruko barumu ini?" tanya Bagas setelah mengehentikan laju mobilnya.
"Tentu saja. Ini lebih besar dari ruko lama yang aku tempati. Terima kasih banyak, suamiku!" ucap Rania mengecup pipi sebelah kiri suaminya kemudian.
"Sama-sama, sayang!" balas Bagas tersenyum senang, sepagi ini ia sudah mendapat kecupan dari sang istri. Rasanya ia tidak ingin mencuci wajahnya ini selama tujuh hari tujuh malam. Alay kali, ya! Kayak orang yang pertama kali dapat ciuman saja. Dasar!
"Kau harus selalu ingat pesanku! Kau tidak boleh kecapean!" pesan Bagas, ia tidak mau kalau Rania sampai kenapa-kenapa. Terutama pada kandungannya.
"Iya, kau tenang saja! Aku pasti akan selalu mengingatnya. Aku duluan, ya!" pamit Rania melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil.
"Iya."
Rania nampak melambaikan tangan dari luar, dan mengucapkan hati-hati sebelum akhirnya Bagas pergi dari sana.
***
Di tempat kediaman sekretaris Frans.
Sekretaris Frans masih terbaring di atas tempat tidurnya. Wajahnya terlihat pucat, dan tubuhnya nampak lemas. Padahal ia harus segera pergi untuk mengabdikan diri pada tuannya.
Ia merasa sangat haus, kemudian dengan usaha yang susah payah sekretaris Frans meraih segelas air putih di atas nakas yang tersedia seperti biasanya.
Karena tubuhnya yang terasa sangat lemas, sekretaris Frans susah sekali untuk meraih gelas itu. Akhirnya tangannya menyenggol dengan tidak sengaja, dan akhirnya gelas itu terjatuh ke lantai. Pecah.
Sekretaris Frans merasa dirinya sudah tidak berguna, untuk meraih minum untuk kepentingan dirinya sendiri saja sudah tidak sanggup. Ini pertama kalinya ia sakit selama ia bekerja dengan Bagas. Ia sudah mengabdikan diri sebagai sekretaris selama sekian tahun. Mungkin sekretaris Frans kelelahan, sehingga hari ini ia jatuh sakit.
"Aku harus minta bantuan pada siapa? Pelayan di rumahku sedang mengambil cuti untuk tiga hari ke depan," keluhnya.
Sekretaris Frans memang tinggal sendiri di rumah sendiri. Hanya ada satu pelayan saja dan satu security saja di rumahnya. Dan mereka kini sedang ambil cuti. Jangan tanya kenapa bisa mengambil cuti secara bersamaan! Karena pelayan dan security sekretaris Frans sepasang suami istri. Mereka cinta lokasi semenjak bekerja di rumahnya. Hebat!
"Tidak mungkin juga aku meminta bantuan pada tuan. Tuan pasti sedang sibuk memenuhi permintaan nona karena ngidamnya itu," ucap sekretaris Frans putus asa.
"Aku coba hubungi tuan saja, deh. Aku takut tuan akan marah jika aku tidak memberitahunya," ujar sekretaris Frans.
Ia berusaha untuk mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas. Kali ini ia tidak boleh gagal, setelah ia gagal untuk mengambil minum. Dan untungnya berhasil, ponsel itu sudah ada di genggaman sekretaris Frans. Ia membuka kunci layar, dan mencari nama tuannya dari kontaknya.
__ADS_1
"Halo, tuan," bicara sekretaris Frans ketika telponnya tersambung.
Bagas yang baru saja sampai di gedung Briliant Group menerima panggilan dari sekretarisnya.
"Ada apa, Frans?" tanya Bagas, tumben sekretarisnya ini meneleponnya. Padahal kalau ada sesuatu yang akan di bacarakan bisa nanti di ruangan pribadinya.
"Apa? Kau sakit, Frans? Ah, yang serius saja?" Bagas tidak percaya, karena selama ini ia tidak pernah melihat ataupun mendengar sekreatrisnya ini sakit.
"Ok, Frans! Sekarang kau istirahat saja sana! Nanti aku akan kesana menjengukmu," ujar Bagas pada sekretarisnya.
Setelah sambungan terputus, Bagas segera masuk ke dalam gedung Briliant Group. Beberapa karyawannya membungkukkan tubuhnya sekilas ketika berjalan melewatinya. Memberi sambutan hangat kepada seorang tuan yang telah menggajinya setiap bulan.
***
Tok tok tok
Seorang gadis dengan stelan pakaian orang kantoran mengetuk pintu rumah seseorang. Sudah berulang kali ia mengetuk pintu rumah tersebut, dan beberapa kali mengucapkan salam, namun tidak mendapat balasan juga. Akhirnya ia memilih untuk berdiri membelakangi pintu, sambil menunggu tuan rumah membukakan pintu.
"Masuk!" ucap seseorang dari balik pintu membuakakannya lebar-lebar.
Si tuan rumah yang tidak lain adalah sekretaris Frans langsung kelabakan ketika melihat sosok tamu yang datang ke rumahnya itu adalah gadis pujaan hatinya. Nadira. Karena saat itu ia hanya menggunakan kaos putih trasparan dan kolor hitam selutut. Sial!
Dia pikir yang datang ke rumahnya itu tuannya. Karena tadi dia bilang akan menjenguknya, dan ia tidak perlu repot-repot untuk mengganti pakaian. Namun yang datang malah seorang bidadari cantik. Awas saja kalau dia sudah sembuh, akan dia kerjain balik tuannya itu.
Sekretaris Frans segera lari menuju kamarnya, entah dari mana ia mendapat kekuatan untuk berlari secepat itu. Padahal tadi untuk berjalan membukakan pintu dari kamarnya menuju ruang tamu saja membutuhkan waktu lima menit karena tubuhnya yang terasa lemas ini. Ah, pastinya dari kekuatan cinta.
Beberapa menit kemudian, sekretaris Frans kembali lagi sudah memakai pakaian sehari-hari namun sopan tidak seperti tadi.
"Maaf!" ucapnya.
Nadira segera membalikan badan, kini ia tidak melihat penampakan yang membuat matanya menanggung dosa lagi. Tanpa Nadira sadari, ia menaikkan sebelah sudut bibirnya. Tersenyum tipis, ketika melihat sekretaris Frans rasanya lebih tampan jika menggunakan pakaian biasa. Bukan dengan stelan jas hitam yang membalut tubuhnya setiap hari.
Sial! Kenapa kau terlihat tampan seperti ini, sekretaris Frans. Aku tidak dapat lagi membohongi diriku kalau aku--
"Maaf! aku kira tuan Bagas yang datang. Jadi aku tidak sempat mengganti pakainku," ucap sekretaris Frans membuyarkan lamunan Nadira yang sedang terpesona dengan dirinya.
"I-iya. Seharusnya saya yang minta maaf pada anda, karena saya datang kesini tidak menghubungi anda terlebih dahulu!" balas Nadira meminta maaf balik.
__ADS_1
"Kok tahu rumahku?" sekretaris Frans menatap Nadira bingung, padahal ia tidak pernah memberikan alamat rumahnya pada siapapun kecuali tuannya.
"Saya datang kesini atas perintah Bagas yang tidak dapat saya bantah seperti yang selalu anda katakan. Lagipula kalau bukan Bagas, saya mungkin tidak akan ada di sini," jelas Nadira.
"Kenapa? Kamu terpaksa?"
"Bukan. Karena saya tidak tahu kalau anda sakit, dan tidak tahu alamat rumah anda. Ngomong-ngomong sakit, bagaimana kondisi anda sekarang?" tanya Nadira, itu membuat sekretaris Frans lupa kalau dirinya sedang sakit. Sampai lupa juga tidak menyuruh tamu spesialnya ini untuk masuk.
"A-aku? Iya, kepalaku terasa sanagt pusing, dan tubuhku terasa lemas sekali. Eh silahkan masuk! Aku melupakan tamu spesialku untuk masuk," sekretaris Frans terlihat salah tingkah.
Nadira mengerutkan keningnya. "Tamu spesial?"
"Ma-maksudku, kamu kan orang pertama yang datang untuk menjengukku. Ayo masuk!" sekretaris Frans menarik lengan Nadira untuk membawanya masuk.
"Saya bisa jalan sendiri," ucap Nadira.
Sekretaris Frans melirik ke tangannya yang memegangi lengan Nadira, dan ia segera melepaskannya. "Maaf, kebawa!" ujarnya merasa konyol.
Nadira berjalan mengikutinya di belakang sambil tersenyum melihat tingkah seorang sekretaris yang satu ini. Sedang sakit juga masih menyempatkan diri untuk modus. Dasar sekretaris Frans!
"Silahkan duduk! Aku buatkan minum, ya! Mau minum apa?" tawar sekretaris Frans.
Hah? Nadira ternganga.
"Tidak usah! Anda kan sedang sakit?! Tidak usah repot-repot! Lagipula, tujuan saya datang kesini untuk menjenguk anda! Anda duduk saja di sini!" tolak dan pinta Nadira.
Sekretaris Frans aja-aja, deh. Bukannya kelihatan sakit, malah kelihatan segar bugar sehat wal'afiat. Kalau Nadira sampai mencurigainya sakit bohongan gimana? Kalau Nadira curiga semua ini hanya akal-akalan dirinya dengan Bagas untuk mendekatkannya, gimana? Tapi untunglah Nadira orangnya baik, gak mungkin mikir sejauh itu. Apalagi mencurigai sama dengan so'udzon. Gak baik.
"Iya," angguk sekretaris Frans, yang di katakan Nadira benar juga. Dirinya kan sedang sakit, ngapain bertingkah seolah-olah ia sehat?.
Begitu sekretaris Frans mau duduk, tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat pusing. Penglihatannya mulai buram, ia memijat pelipisnya karena sudah tidak kuat. Akhirnya ia ambruk terjatuh. Untungnya ada Nadira yang siap membantunya, dengan langkah yang cekatan Nadira menangkap tubuh pria itu. Karena terasa berat, akhirnya ia juga ikut terjatuh ke atas sofa ruang tamu, sehingga saat ini tubuh sekretaris Frans menjatuhi tubuh sang bidadari cantik, Nadira.
Nadira membulatkan matanya, ketika menyadari bibir sekretaris Frans tidak sengaja terjatuh dan mendarat di bibir miliknya. Tangannya ia kalungkan di leher pria itu. Sekretaris Frans, ia menatap kedua manik mata gadis itu dengan perasaan yang tidak karuan. Belum apa-apa dia sudah menang banyak. Ia sudah mencicipi bibir manis milik Nadira. Demi kian, ini adalah momen yang paling menguntungkan untuk diri seorang sekretaris Frans. Hari ini Tuhan memberinya sakit, namun Tuhan memberikan obatnya saat itu juga.
Dad dig dug ser, itulah yang di rasakan sekretaris Frans dan Nadira saat itu. Mereka saling menatap satu sama lain. Tidak percaya dengan kejadian yang membaut dirinya tenggelam dalan lautan kenikmatan yang tidak di rencanakan.
Astagfirullahal'adzim. Allahuakbar. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang aku dustakan. Tolong aku! Tolong! Tolong jangan buat si Jon milikku ini sampai ikut bangun untuk merasakan nikmat ini. Karena akan sangat merepotkan jika gadis ini dapat merasakan sesuatu yang mengganjal tepat di area kepemilikannya. Aduh, enak. Aduh, jadi begini rasanya. Ah, aku tidak dapat mengatakan apapaun. Rasanya sakitku ini seketika sembuh. Teriak sekretaris Frans di dalam hatinya begitu girang.
__ADS_1