
"Aku cinta kamu, kamu mau kan jadi pendamping hidup aku?" Reyhan mengungkapkan perasaanya pada Diva di hadapan Devi.
Kalimat indah yang di katakan Reyhan barusan adalah kalimat yang Diva nantikan selama ini. Harusnya ia bahagia sekarang karena keinginannya untuk menjadi pacar Reyhan akan segera terwujud hanya dengan menjawab kata 'iya' saja. Namun kali ini lain, Diva justru di buat dilema karena ia bukan hanya memikirkan perasaannya sendiri, dia juga memikirkan perasaan kakaknya.
Papa Reyhan telah merenggut kehormatan milik kakaknya, bukankah kakaknya yang paling pantas untuk mendapatkan cinta Reyhan? Setidaknya kalau Reyhan bersama kakaknya, ada sedikit tanggung jawab dari keluarga Reyhan untuk Devi. Setidaknya itu adil kan buat Devi? Apakah Diva mau menerima cinta Reyhan, atau dia akan mengorbankan perasaannya untuk kebahagiaan kakaknya?
"Memangnya kamu beneran cinta sama aku?" tanya Diva, suaranya sedikit serak akibat menahan tangis untuk tidak terlalu banjir membasahi pipinya.
"Kamu bisa lihat dari mata aku! Apa aku ini sedang berbohong?"
Diva menatap kedua manik mata yang selalu ia puji dengan kata-kata indahnya itu secara bergantian. Sama sekali tidak ada kebohongan dari mata Reyhan, rupanya Reyhan berkata jujur.
"Kalau kamu beneran cinta sama aku, kamu bisa gak ngelakuin apa yang aku minta?" tantang Diva, tidak mau percaya begitu saja. Semuanya harus ada bukti dan perjuangan.
"Aku pasti akan melakukan apapun!" jawab Reyhan tanpa berpikir panjang.
Diva menoleh pada kakaknya sekilas. "Kalau aku minta kamu untuk membebaskan kakak aku dari sini, bisa? Karena kamu sudah tahu sendiri kebenarannya, bukan?"
"Aku akan mencoba menuruti permintaanmu tanpa kamu suruh. Karena aku sendiri sedang mengumpulkan bukti untuk aku berikan pada pihak kepolisian ketika nanti aku cabut laporannya!"
Mendengar hal itu, Diva yakin kalau Reyhan sengguh mencintainya. Ia kembali menoleh pada kakaknya yang sedang menyaksikan mereka berdua. Ada setitik kristal di pelupuk mata Devi, Diva bisa melihat itu dengan jelas sebelum akhirnya di hapus oleh kakaknya sendiri. Diva betul-betul tidak tega melihat kakaknya menderita.
Diva menatap mata Reyhan lekat, mengunci kembali kontak mata itu.
"Kalau aku minta kamu tanggung jawab atas apa yang sudah Papa kamu lakukan pada kakak-ku, apa kamu mau?" ujar Diva dengan lirih.
"Maksud kamu?" tanya Reyhan tidak mengerti, Devi juga sama, tidak paham dengan maksud adiknya barusan.
"Aku mau kamu menikahi kakakku sebagai rasa tanggung jawab dari keluarga kamu! Bukan cuma itu, kamu juga harus mencintai kakak-ku dan aku minta kamu menjaga dia!" jelas Diva membuat Reyhan ataupun Devi seketika tertegun, mengapa Diva melakukan hal itu. Bukankah itu sama saja dengan melukai perasaannya sendiri?
"Diva, maksud kamu apa? Kakak tidak butuh itu, Diva!" tolak Devi, mana mungkin ia mau merebut kebahagiaan yang seharusnya adiknya dapatkan.
"Iya, Diva. Kamu ini ngomong apa, sih? Aku ini serius, jangan bercanda di saat situasi seperti ini!" sahut Reyhan, ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Diva.
"Kak, Reyhan, aku juga serius. Kakak yang berhak mendapatkan kasih sayang dari Reyhan. Dan kamu Reyhan, yang pantas menyayangi kakak-ku! Kamu jaga baik-baik kakak aku, ya!" pesan Diva, kemudian ia meraih tangan kakaknya untuk di satukan dengan Reyhan.
"Aku harap, setelah kamu berhasil bebasin kakak dari penjara, kalian bisa bersama. Jangan pikirkan perasaan aku! Aku ikhlas, lagipula aku tidak berhak atas kebahagiaan yang seharusnya kakak aku dapatkan. Kalian mau kan, memenuhi permintaanku?" Diva berusaha untuk tidak menangis, walau sebetulnya hati kecilnya ini menjerit. Tapi ia harus bisa setegar karang, ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan kakak dan Reyhan.
"Aku tidak butuh penolakan! Kamu sendiri yang bilang Reyhan, kalau kamu mau melakukan apapun. Maka kamu harus melakukan ini, kakak juga!" Diva menatap Reyhan dan Devi bergantian. Mereka terlihat masih berat untuk memenuhi permintaannya, tapi ini adalah keputusan yang tepat untuk Diva.
Seorang polisi menghampiri, ia memberi tahu pada Reyhan dan Diva kalau jam besuknya telah habis. Mereka bisa kembali lagi keesokan harinya. Devi harus segera kembali ke dalam jeruji besi, itu yang membuat Diva semakin yakin kalau keputusan menjodohkannya dengan Reyhan adalah hal yang paling tepat.
***
Bagas baru saja selesai mengerjakan dokumen penting yang di minta oleh sekretaris Frans di ruang tamu. Kemudian ia kembali ke kamar setelah kerjaannya telah selesai. Ia membawa laptop itu dan di letakkan di atas nakas samping tempat tidur.
"Selamat malam, sayang!" Bagas membenamkan kepalanya di perut Rania, lalu mencium calon sang buah hati.
__ADS_1
"Selamat malam, calon ayah!" balas Rania.
"Aku ingin anak ini lahir dan memanggilku dengan sebutan 'Papa' dan memanggilmu dengan sebutan 'Mama', bagaimana apa kau setuju?" ujar Bagas.
"Tidak, aku tidak setuju! Aku ingin anak kita lahir kemudian memanggilku dengan sebutan 'Ibu' dan memanggilmu dengan sebutan 'Ayah'!"
"Tentunya anak ini harus memanggilku 'Papa' dan memanggilmu 'Mama', sayang!" Bagas kekeh dengan keinginannya, begitupun dengan Rania yang tak mau kalah juga.
"Tidak, kalau aku bilang tidak ya tidak! Aku ingin anak ini sama seperti aku memanggil Ayah dan Ibu, dengan sebutan begitu!" Rania ngotot ingin menang.
"Akupun sama, aku ingin anak ini memanggil Papa Mama seperti aku memanggil kedua orang tuaku!" Adu mulut pun terjadi, persaingan semakin panas.
"Ini memang anak kita, tapi aku yang mengandung, aku juga yang akan melahirkan dan menyusui. Jadi terserah aku mau mereka manggil kita ini apa!" protes Rania, tidak ada yang mau mengalah di antara mereka. Semua ingin menang.
"Tapi aku yang buat, tanpa aku yang buat, tanpa aku keluarkan di dalam, mana mungkin saat ini kau hamil? Wlee, pokoknya mereka harus memanggilku dengan sebutan 'Papa' dan kau 'Mama', aku tidak mau di bantah!"
Persaingan semakin sengit, keadaan semakin memanas, entah siapa yang akan terlebih dulu mengalah. Keduanya keras kepala dan ingin menang.
Benar juga, ya. Dia kan yang membuat! Ah, tapi aku juga sama membuatnya. Tanpa aku layani, tidak akan terjadi mantap-mantap juga. Tapi, dia memang benar juga. Kalau saja dulu di keluarkan di luar, mungkin saat ini aku belum hamil. Gumam Rania dalam hatinya.
"Ya sudah, kalau begitu anak ini memanggilmu dengan sebutan 'Papa', tapi memanggilku tetap dengan sebutan 'Ibu', bagaimana?" Rania memberi penawaran.
"Tidak, sayang! Itu tidak nyambung, apaan 'Papa' sama 'Ibu'? TIDAK NYAMBUNG!" Bagas masih saja keras kepala.
"Iya, iya. Terserah lah! Mukanya jangan galak-galak, dong!" ujar Bagas, ia menundukkan wajahnya karena takut.
"Bagus." jawab Rania merasa puas. Ibu hamil di lawan, haha.
"Kalau begitu kau tidur, harus banyak istirahat jangan banyak marah!" titah Bagas masih tidak berani menatap wajah istrinya lama.
"Ya sudah, putarkan lagu yang bagus sekarang! Aku mau tidur dan anak kita mau mendengarkannya menggunakan headset!" pinta Rania, lagi-lagi mengatasnamakan si jabang bayi. Hehe, senjata andalan.
"Tunggu sebentar! Aku ambilkan dulu headset-nya," Bagas bergegas melangkahkan kaki untuk mengambil headset di tempat ia biasa menaruhnya. Tidak lama kemudian ia kembali lagi.
Bagas memutar lagu di dalam laptopnya, kebetulan ia pernah mengunduh beberapa judul lagu yang sedang di gemari warga pecinta musik. Kemudian memasangkan headset tersebut di perut sang istri.
"Kau duduk di sini, temani aku sebelum aku tidur!" pinta Rania, Bagas menurut saja.
"Iya, sayang."
Sepuluh lagu mungkin sudah di putar, tetapi Bagas belum melihat Rania akan tidur juga. Ya iyalah, orang headset-nya saja di pasang di perutnya bukan di telinganya. Jadi mau bagaimana mau tidur kalau begitu? Haha.
Bagas mulai mengantuk, bahkan ia tidak dapat lagi menahan rasa kantuknya. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus memenuhi permintaan sang istri dengan duduk di sampingnya menunggu sampai istrinya benar-benar tidur. Beberapa detik kemudian, Bagas akhirnya tertidur dalam posisi masih duduk di samping istrinya karena tidak kuat menahan kantuknya lebih lama lagi. Alhasil Rania menggelengkan kepala.
"Malah dia yang tidur, sih. Tapi, tidak apa-apa, lah! Mungkin suamiku ini kecapean," ujar Rania.
__ADS_1
***
Di tempat kediaman Reyhan.
Reyhan mengetuk pintu kamar seseorang dengan membawa laptop di tangannya, dan munculah sosok Iren, mamanya dari balik pintu.
"Ada apa Rey, malam-malam ke kamar mama?" tanya Iren, ia mengucek kedua matanya sepertinya ia sudah tidur tadi.
"Aku boleh masuk, ma? Ada yang ingin aku bicarakan sama mama, sebentar!"
"Iya, boleh. Ayo masuk!" Iren membukakan pintunya lebar-lebar untuk putranya.
Reyhan dan Iren duduk di sofa panjang di kamar itu, lalu Reyhan membuka laptop untuk mencari sebuah file di sana.
"Ma, semenjak aku pulang dari penjara untuk mengetahui sebuah kebenaran pada Devi, aku langsung menyempatkan diri untuk pergi ke ahli cctv. Siapa tahu mereka bisa membenarkan cctv di kamar Papa yang rusak pada hari itu, dan mereka mau mengusahakan. Barusan aku mendapat email dari mereka, katanya tidak bisa," jelas Reyhan.
"Kamu datang ke kamar mama cuma mau ngasih tahu hal itu saja? Kan bisa besok pagi, Rey!" Iren sedikit kecewa, dia berpikir kalau Reyhan akan memberi bukti kebenarannya, karena bawa-baaa laptop segala.
"Tapi, ma. Pada saat ahli cctv itu aku bawa ke kamar Papa, waktu itu mama lagi gak ada di rumah. Barusan mereka bilang kalau ada sesuatu di kamar papa yang bisa menjadi bukti akurat, Rey saja tidak tahu apa itu, ma!" jelas Reyhan, lagi.
"Apa itu, Rey? Cepat tanyakan!" Iren sudah tidak sabar.
"Itu dia masalahnya, ma. Mereka akan kembali mengirim email nanti pukul dua belas malam. Lima belas menit lagi untuk sampai ke jam dua belas malam. Aku ingin menunggu email dari mereka bersama mama, maaf kalau Rey mengganggu tidur mama!"
"Iya, Rey tidak apa-apa!"
Jam terus berputar, detik waktu terus berjalan, namun lima belas menit saja terasa sangat lama sekali bagi Reyhan dan Iren. Mereka sudah tidak sabar apa yang akan ahli cctv berikan di pesan email pada Reyhan. Reyhan dan Iren sudah gelisah, mereka terus mantengin mata ke layar laptop.
Detik-detik menuju jam dua belas malam, dan;
Suara pesan masuk dari email laptop Reyan berbunyi. Bukannya segera membukanya, Reyhan dan Iren malah saling memberi tatapan karena tidak sabar dengan isi email yang di kirim dari ahli cctv itu.
.
.
.
Coretan Author:
Follow ig: wind.rahma
Like, komen, dan vote yang banyak, ya!
Rekomendasikan juga ke pembaca lain.
__ADS_1