
Di ruko Rania.
Rania tampak menyandarkan tubuhnya di kursi pojok paling belakang di ruangan itu. Jemarinya sibuk memainkan ponsel yang sama sekali tidak ada notifikasi pesan masuk yang membuat dirinya bersemangat. Memasukan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya dan menatap langit-langit ketika dirinya sudah bosan dengan ponselnya. Kemudian ia pejamkan kedua matanya untuk menenangkan pikirannya.
Suara langkah kaki terdengar mendekat, kemudian suara kursi yang di tarik dan sengaja di sejajarkan dengannya. Rania tahu siapa orang yang duduk di sampingnya itu, tentu saja Reyhan. Karena tidak ada orang di sana yang dekat dirinya selain Reyhan.
"Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu" kalimat Reyhan barusan membuat kedua mata Rania seketika terbuka.
"Reyhan.." Rania mengangkat kepala yang ia sandarkan di sandaran kursi.
"Dan aku juga tahu kamu pasti sedang ada masalah. Apa kamu tidak mau lagi bercerita padaku?"
"Tidak ada, Rey"
"Bibir kamu bisa aja bohong, tapi matamu mengatakan kalau kamu sedang ada masalah. Ayolah, ceritakan!" pinta Reyhan sedikit memaksa.
"Rey.." Kemudian Rania menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.
"Jangan sungkan, Rania. Katakan!"
"Tapi kamu janji tidak akan mengatakannya pada siapapun?!"
"Janji." Reyhan mengangkat jari kelingkingnya agar Rania mau bercerita, di tatap oleh Rania sebentar dan Rania mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Reyhan. Hanya beberapa detik kemudian mereka lepaskan.
"Rey, kemarin aku pergi ke sekolahku untuk mengahidiri acara perpisahan teman seangkatanku. Lalu, pada saat aku mau pulang, temanku, namanya Hisam. Dia memberikan aku baju yang sudah ada noda pilox juga banyak tanda tangan di sana untuk aku jadikan sebagai kenang-kenangan" Rania mulai bercerita.
"Lalu, apa masalahnya?" Reyhan semakin tertarik dengan curahan hati Rania.
"Suamiku tidak tahu itu dari Hisam, temanku tersebut. Aku bilang padanya kalau itu pemberian dari Diva, temanku juga, yang di titipkan pada Hisam untukku" Reyhan mengangguk-anggukan kepala, mulai mencerna perkataan Rania.
"Terus di saku baju itu ada sebuah surat yang dia tulis, isinya tentang perasaannya terhadapku. Tapi itu dulu, sebelum dia tahu kalau aku sudah menikah" Rania terus menceritakan perasaan yang membuat dirinya galau pada Reyhan.
"Aku mengerti! Tapi sebaiknya kamu tidak usah ambil pusing! Suami kamu tidak akan tahu kalau bukan kamu yang memberitahunya sendiri. Dan.. Temanmu itu juga kan bilang kalau dia mempunyai perasaan untukmu karena dia belum tahu kalau kamu sudah menikah. Sekarang dia tahu kan kamu sudah menikah, pasti dia tidak akan menyimpan perasaan itu lagi. Percayalah!" tutur Reyhan membuat Rania sedikit lega, tapi masih ada aja perasaan yang mengganjal di hatinya.
"Tapi Rey.. Sepandai-pandainya kita megubur bangkai, pasti akan kecium juga baunya. Aku cuma khawatir kalau suamiku tahu itu semua, dan dia akan melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan kepada kamu" Rania di landa kegelisahan.
"Rania.." Reyhan berusaha menenangkan Rania, ia memegangi kedua bahu Rania.
__ADS_1
"Kau tidak perlu khawatir, percayalah! Semua akan baik-baik saja" Reyhan dan Rania saling menatap, tidak ada maksud Reyhan untuk masuk ke dalam kehidupan Rania lebih jauh, ia hanya menganggap kedekatannya dengan Rania hanya sebatas teman saja.
"Terima kasih, Rey" Rania terlihat sedikit tenang, memang dirinya yang terlalu berlebihan karena kekhawatirannya yang terlalu tinggi. Reyhan terlebih dulu mengusap bahu Rania sebelum dia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Rania sendiri.
*****
Di gedung Briliant Group, ruangan pribadi Bagas.
"Selamat, kau di terima untuk gabung di Briliant Group!" Bagas mengulurkan tangan kepada Nadira, kakak Rania.
"Terima kasih tuan Bagas" Nadira menjabat tangan Bagas sebagai bentuk kerjasama yang akan di mulai hari ini.
"Di luar mungkin aku adik iparmu, tapi di sini aku adalah atasanmu. Jadi tidak apa-apa kan kalau aku tidak memanggilmu dengan sebutan kakak ipar?" tanya Bagas setelah melepaskan jabat tangannya.
"Tentu saja. Anda adalah atasan saya, tuan Bagas" Nadira mengangguk mengerti.
"Kalau begitu kau bisa ikut Frans untuk mengantarmu dan memulai pekerjaanmu!"
"Baik, terima kasih!"
*****
Rania membaringkan tubuhnya di sofa setelah melakukan pekerjaannya menerima dapat orderan dari coustamer, seperti biasa ia pulang lebih awal daripada Bagas. Kedua matanya terpejam sambil memijit keningnya yang terasa pusing saat tubuhnya benar-benar terbaring sempurna di sofa. Hari itu, Rania betul-betul di buat pusing dan pikirannya kacau bahkan ketika bekerjapun ia sempat tidak fokus kareba memikirkan hadiah pemberian dari Hisam kemarin.
Sebetulnya ia sudah merasa sedikit lega dengan omongan Reyhan agar ia tetap baik-baik saja, dan seolah-oleh itu pemberian dari temannya. Tapi Rania juga tidak bisa kalau dia berbohong walaupun untuk kebaikannya. Ia berpikir bagaimana kalau dia juga ada di posisi Bagas jika Bagas melakukan hal serupa.
"Aku betul-betul pusing dan bingung. Apa lebih baik baik aku buang saja atau menyembunyikannya?"
"Tapi-”
"Kalau Bagas menanyakannya bagaimana, dia kan hanya tahu kalau itu pemberian dari Diva"
Rania berpikir keras untuk menemukan solusinya. Masalah spele yang di buat ribet ini namanya.
"Oh ya aku tahu!" Rania memetik jari setelah mendapatkan ide yang paling tepat untuk menangani masalah ini.
"Hay sayang" suara seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar tanpa terdengar pintu terbuka, mungkin karena Rania yang terlalu sibuk dengan urusannya.
__ADS_1
"Kau sudah pulang?" basa-basi Rania yang seharusnya tidak ia tanyakan.
"Kemarilah!" Bagas menjentikan jarinya pada Rania.
"Aku ingin kau menyambut kedatanganku, bila perlu kau peluk suamimu ini, pasti rasa lelahnya setelah bekerja akan berkurang" ucapnya ketika Rania sudah berdiri di hadapannya.
"Kalau aku gak mau emangnya kau apa?" Rania berkacak pinggang seperti sedang menantang Bagas.
"Em, aku akan.." Bagas berpikir, "menciumu!" itu langsung Bagas lakukan, sebuah benda lembab menyentuh pipi Rania, "muach"
"Iiihhh.." Rania berusaha mengahapus bekas ciuman Bagas di pipinya, sedangkan Bagas tersenyum puas karena merasa menang.
"Jorok, bau tau..." Rania memukuli tubuh Bagas sampai terjatuh ke atas tempat tidur dengan tangan yang terkepal. Sedangkan Bagas malah tertawa, bukannya sakit, melainkan geli.
Mereka saling membalas serangan, sedangkan Bagas hanya mencubiti Rania pelan sehingga itu memberikan efek geli pada tubuh Rania. Bergeliat-geliut di atas kasur saling tindih menindih. Sampai akhirnya mereka berhenti, Rania di posisi bawah yang di tumpangi oleh Bagas. Kini mereka saling bertatapan. Lama.
Sebuah energi di dalam tubuh Bagas meronta-ronta, nafsunya mulai bergejolak dan mengusai dirinya. Rania diam tak burkutik, tidak dapat melakukan apa-apa selain diam. Keheningan di kamar seolah-olah mendukung keadaan mereka saat ini. Dengan perlahan, Bagas mencoba menurunkan kepalanya sedikit demi sedikit. Matanya kini terpaku pada bibir berwarna pink kemerahan tanpa polesan lipstik. Dengan tubuh yang masih ia kontrol agar tidak terlalu agresif, akhirnya Bagas mulai mendaratkan bibirnya pada Rania yang sudah mulai memejamkan mata. Itu merupakan sebuah kode kalau Rania akan pasrah dengan keadaan.
Setelah itu yang ia rasakan Rania juga membalas serangannya. Pelan tapi pasti, menikmati sensasi yang selama ini ia cita-citakan. Akhirnya tercapai. Selamat menikmati hal yang mantap Rania, Bagas.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kalau suka cerita ini jangan lupa tinggalkan like ya. Vote poin ataupun koin. Tambahkan juga ke favorit agar mendapat notifikasi ketika up next chapter.
__ADS_1