Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Misteri di Rumah Baru


__ADS_3

Pagi hari, di tempat kediaman baru Bagas dan Rania.


Setelah menyiapkan air hangat untuk istri tercintanya mandi, Bagas membaringkan tubuhnya kembali di atas tempat tidurnya. Sebetulnya ia masih merasa sangat ngantuk, tapi ia harus menggantikan tugas yang biasa Rania lakukan untuknya sementara istrinya sedang hamil.


"Begini, nih. Kalau mandi pakai air hangat, pasti akan merasa dingin sekali setelah selesai," ujar Rania sambil memeluk tubuhnya menggigil.


Rania mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar mandi untuk mencari handuk. Setelah ia cari-cari ternyata tidak ada juga. Ia lupa membawa handuk ke kamar mandinya.


"Ya ampun, sampai lupa bawa handuk, lagi," masih menahan dingin yang membuat tubuhnya terus menggigil.


Rania berjalan mendekat ke pintu, berusaha untuk memanggil suaminya untuk mengambilkan handuk untuknya.


Rania berteriak. "Sayaaaang, tolong dong! Ambilkan handuk untukku!" namun tidak ada respon sama sekali.


"Kemana dia?" gumamnya.


Lalu ia membuka sedikit saja pintu kamar mandinya, mengintip dimana keberadaan suaminya. Setelah menyipitkan kedua matanya untuk mencari sosok pria tampan miliknya, akhirnya matanya menemukan juga sosok pria tampan itu. Sedang terbaring di atas tempat tidur untuk melanjutkan mimpi yang sempat terputus.


"Huh, kebiasaan. Sudah pagi masih saja menyempatkan diri untuk kembali tidur," ia menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya.


Daripada harus membangunkan suaminya yang sedang tidur pulas, kasihan juga kalau di bangunkan. Mending Rania memilih untuk mengambil handuknya sendiri. Dengan gaya seperti seorang detektif, ia mengintip suasana kamar apakah aman atau tidak. Menengok ke sebelah kiri, kanan, depan, belakang, atas bawah. Jaga-jaga, takutnya ada makhluk lain di kamarnya selain Bagas.


Perlahan Rania membuka pintu kamar madinya sedikit lebar, hanya untuk muat dirinya saja. Kini, kedua tangannya sibuk menutupi bagian dada dan kem*luannya. Berjalan mengendap-endap seperti orang yang mau maling saja. Sedikit berlari, dan kembali mengendap-endap, berlari lagi, menengok ke arah pintu, takutnya ada pelayan yang tiba-tiba masuk dan mengejutkannya.


Sepertinya aman, akhirnya Rania bergegas menuju tempat ruang ganti pakaian, di sana ia menyimpan handuknya.


Rania bernapas lega ketika handuk sudah membungkus tubuhnya, akhirnya rasa dingin yang membuat dirinya menggigil ini pudar seketika. Handuk ajaib!


Sementara di tempat tidur, Bagas yang sedang tidur pulas terlihat gelisah. Entah kenapa? mungkin dia mengigau. Namun kegelisahan itu berlanjut sampai akhirnya ia bangun. Menggeliatkan tubuh adalah nikmat yang tidak dapat kita dustakan ketika bangun tidur. Benar apa betul?


Bagas menghembuskan napas kasar. "Sialan, lagi enak-enaknya tidur, ini perut harus mules segala!" gerutunya sambil memegangi perut.


Mau tidak mau, ia harus bangkit walaupun malas dari tempat tidurnya untuk menyetorkan isi perut ini ke kamar mandi. Ya memang, sih. Senyenyak apapun tidur kita, ketika mules datang dan tidak dapat lagi di tahan, kita akan terbangun. Ada yang sama, gak?


Perlahan ia melangkahkan kaki ke kamar mandi, matanya masih belum terbuka sempurna. Masih sipit-sipit gimana, gitu. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika kakinya menginjak sesuatu yang membuat matanya terbuka sempurna.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Bagas pada dirinya sendiri, melihat ke lantai yang injak itu.


Bagas membungkukkan tubunya, kaki yang menginjak sesuatu itu ia angkat. Dan telapak kakinya ia usap. Terasa basah. Apa yang baru saja ia injak itu?


"Basah," ujarnya setelah mengusap telapak kakinya itu.


"Air apa ini? Masa sih Rania ngompol di sini? Kan gak mungkin. Tapi bisa jadi, sih. Seperti kejadian di Bali pada waktu itu." Bagas mendekatkan telapak tangannya ke lubang hidungnya secara perlahan, takut kalau kali ini ia akan mengalami nasib buruk yang sama dengan kejadian waktu itu.


"Hambar. Tidak memiliki bau apapun!" ujarnya setelah mencium telapak tangannya.


"Lalu, air apa ini?" ia merasa heran, kenapa ada air berceceran di lantai kamarnya.


Bagas mendongak, memperhatikan atap kamarnya. Siapa tahu atap kamarnya bocor, tapi tidak ada bekas air juga di sana.


"Atapnya tidak bocor. Lalu air apa ini?" Bagas masih terlihat bertanya-tanya, air yang berceceran di lantai kamarnya ini membuatnya beasumsi sendiri. Apa rumah ini berhantu? Tapi, masa sih. Bagas bergidik, ia mengusap bulu kuduknya yang mulai berdiri. Tatapannya seperti orang yang sedang ketakutan.


Sebuah tangan menepuk pundaknya halus, itu membuat Bagas semakin takut saja dan membulatkan bola matanya.


Ya Tuhan, tolong aku!


"Aku ini bukan seorang penakut, justru aku adalah orang yang di takuti," guamamnya menguatkan diri.


Bagas memutar kepalnya, pelan. Jantungnya sudah dag dig dug der, ia tidak siap juga kalau harus melihat sosok makhluk goib langsung di hadapannya. Sampai akhirnya, sosok perempuan menggunakan baju putih dan rambut yang sedikit menutupinya membuat ia teriak sekencang-kencangnya. Dengan reflek ia langsung menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur. Nyungseb.


"Huaaaa, aku orang baik-baik. Aku mohon, pergilah! Jangan ganggu aku dan keluargaku. Pergi! Pergi!" teriak Bagas di penuhi rasa ketakutan. Ia juga melempar-lemparkan bantal, guling, ke sosok perempuan menyeramkan itu tanpa.


"Aduh, aduh, stoooop! Apa-apaan, sih!" seru sosok perempuan itu yang tak lain adalah Rania, sambil menepis beberapa bantal yang hampir mengenai perutnya.


Mendengar sosok perempuan itu dapat bicara, Bagas langsung mengangkat kepala yang ia benamkan di tempat tidurnya. Kayak kenal, pikirnya. Begitu menoleh, ia lebih terkejut lagi ketika sosok perempuan yang kini berdiri di hadapannya sedang mengalihkan rambut yang menutupi wajahnya itu adalah Rania, istrinya. Rania belum sempat menyisir rambutnya sehabis mandi, ia baru saja mau menanyakan di mana Bagas menaruh sisir itu. Namun ia menemukan Bagas sedang berdiri di tengah-tengah kamarnya, akhirnya ia penasaran dengan apa yang sedang di lakukan suaminya itu. Eh, malah di kira set*n. Biadab, kau!


"Maaf, sayang! Aku pikir kau-"


"Set*n?!" tampik Rania. Benar-benar sudah tidak waras Bagas ini, masa perempuan secantik ini dia anggap set*n. Dasar gelo!


"Bukan, sayang," kilah Bagas. Melihat wajah istrinya yang sudah cemberut, akhirnya ia mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan yang membahas set*n.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja, kan? Aku minta maaf!" Bagas meraba-raba tubuh Rania, terutama bagian perutnya.


"Tidak apa-apa! Lagipula kau ini kenapa? Ngapain berdiri di tengah-tengah kamar seperti itu?" tatapnya heran. Ada apa dengan suaminya ini.


"Barusan aku mau ke kamar mandi. Tapi, tiba-tiba kaki-ku menginjak sesuatu yang lembab. Aku kira kau ngompol lagi di sini!" jelasnya.


"Enak saja," pekik Rania.


"Iya kan takutnya kejadiannya sama persisi dengan waktu itu. Tapi ketika aku cium, tidak bau. Aku kira atapnya bocor. Tapi atapnya kering, bahkan semalam tidak hujan. Lalu, aku heran saja. Air apa yang barj saja aku injak ini? Kenapa ada air berceceran di lantai kamar kita?" Bagas menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba untuk memecahkan misteri air yang berceran di lantai kamarnya ini.


"Oh, itu. Itu ulahmu sendiri," tuduh Rania.


Bagas ternganga. "Hah? Ulahku? Maksudmu?" ia masih belum mengerti.


"Kau tidak memberiku handuk tadi. Aku teriak-teriak sampai suaraku habis, kau tetap saja tidur. Aku ambil sendiri saja handuknya di ruang ganti pakaian. Air sisa mandi di tubuhku terjatuh berceceran di lantai. Maaf!" Rania menjelaskan, memecahkan misteri air berceceran di lantai kamarnya.


"Oh, begitu. Aku pikir itu ulah set*n," tuduhnya.


"Hust, soudzon itu namanya," pekik Rania.


"Iya, maaf! Kalau begitu aku ke kamar mandi dulu, ya. Mau setor!" ujarnya sambil begegas pergi, mulesnya sudah tidak dapat ia tahan lagi.


"Setor?" gumam Rania bertanya pada dirinya sendiri.


.


.


.


Coretan Author:


Follow ig: wind.rahma.


Rekomendasikan juga ya cerita ini pada pembaca lain! VOTE yang banyak!

__ADS_1


__ADS_2