
Kebahagiaan yang tidak bisa mereka pungkiri, kini tengah mereka rasakan berdua. Bagas mengajak Rania untuk duduk di tepi ranjang tempat tidurnya. Kini mereka tengah duduk berhadapan. Menatap kedua manik mata Rania dengan lekat.
"Happy 1 month, sayang!" ucap Bagas, ia mengelus perut istrinya, dan membenamkan kepala di perut tersebut.
"Iya, terima kasih! Aku bahkan tidak tahu kata apa yang lebih dari sekedar terima kasih yang aku ucapkan ini." ujar Rania masih tenggelam dalam kebahagiaan dan haru birunya.
Bagas mengangkat kepalanya, kemudian ia memegang kedua lengan atas Rania. Kembali menatap istrinya dengan lekat, dan menandang wajah cantik di hadapannya dengan leluasa.
Setelah itu ia memeluk pinggang istrinya, dan menggenggam kedua buah tangan Rania. Ia menyelipkan rambut indah milik istrinya ke telinga sebelah kanan, lalu ia mengecup pipinya dengan durasi yang cukup lama.
Rania dapat merasakan ciuman dari Bagas begitu lembut. Ia memejamkan kedua matanya untuk merasakan hal itu. Tuhan benar-benar memberikan kebahagiaan yang bertubi-tubi untuknya hari ini. Terima kasih, ya Allah.
"Sayang, kau tunggu di sini sebentar, ya!" Bagas berdiri dari duduknya.
"Kau mau kemana?" tanya Rania namun Bagas sudah berlalu dan keluar dari kamarnya.
Bagas mencari keberadaan sekretarisnya, ia hampir melupakan hal itu karena terlalu bahagia. Dan setelah ia cari-cari, ternyata sekretaris Frans tengah berada di meja makan. Sepertinya ia baru saja selesai makan, terlihat dari piring kosong bekas makan di hadapannya. Bagas bergegas melangkahkan kaki untuk menghampirinya.
"Frans!" panggil Bagas ketika ia sudah beridiri di sampingnya.
Sekretaris Frans langsung berdiri ketika tuannya sudah keluar dari kamarnya.
"Kau?" Bagas menunjuk pada piring kosong bekas makan tersebut.
"Iya, tuan. Maaf kalau saya lancang, pelayang anda membuatkan saya mie goreng instan. Saya belum sempat makan siang tadi," jawab sekretaris Frans jujur.
"Tidak masalah! Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih untukmu, semuanya berjalan dengan yang aku harapkan!" ucap Bagas merasa puas.
"Sama-sama, tuan. Itu sudah bagian dari tugas saya untuk menyempurnakan keinginan anda."
"Kau sudah membeli kamera yang aku butuhkan juga?"
__ADS_1
"Sudah. Tunggu sebentar, tuan!" sekretaris Frans meninggalkan Bagas sendiri di sana, tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa kamera baru di tangannya.
"Ini, tuan." Sekretaris Frans memberikan kamera tersebut dan langsung di ambil oleh Bagas.
"Kalau begitu kau pulang saja, Frans! Sekali lagi terima kasih! Aku duluan untuk kembali ke kamar!" ujar Bagas, kemudian ia segera kembali ke kamar, tak ingin membiarkan istrinya berlama-lama menunggu.
Bagas kembali ke kamarnya, dan ia mendapati Rania sedang berdiri di depan jendela menatap ke arah luar. Ini bisa menjadi moment yang bagus untuk ia mengambil gambar. Bagas mengangkat kamera tersebut ke depan wajahnya, dengan mata yang di tutup sebelah untuk fokus pada satu titik.
Begitu 'Ckrek' ia mengambil gambar tersebut, kebetulan Rania menoleh. Sehingga membuat hasil fotonya itu sangat bagus. Rania baru sadar kalau Bagas ternyata sedang memotret dirinya. Ia segera menghampiri suaminya itu.
"Sejak kapan kau mengambil gambarku?"
"Barusan," jawab Bagas sambil melihat hasilnya.
"Coba aku lihat, kalau jelek aku akan menghapusnya." Rania merebut kamera dari tangan Bagas, dan ketia ia lihat ternyata hasilnya lumayan Bagus.
"Lagi lagi kau menatapku seperti itu," Rania menghembuskan napas panjang dan memutar bola matanya.
"Memangnya tidak boleh? Aku ini kan suamimu, dan kau adalah istriku, milikku. Aku bebas melakukan apapun terhadap dirimu!" Bagas menyubit kedua pipi Rania dan mengoyang-goyangkannya.
"Iii... kau membuatku gemas saja!" ujar Bagas, Rania meringis kesakitan.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" pintanya dengan bicara yang sedikit kesulitan, ia juga memukuli dada bidang suaminya agar dia mau melepaskan cubitan tersebut.
Tidak terasa, malam sudah semakin larut. Seketika Bagas terbangun, ia menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Ia memandangu wajah istrinya, sepertinya Rania kelelahan. Bagas mengalihkan anak sulur rambut yang menutupi wajah Rania. Sepertinya ia harus segera meminta istrinya ini untuk berhenti bekerja total. Ia tidak mau kalau kekhawatirannya akan terjadi. Ia tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa dengan kandungan istrinya itu.
Tiba-tiba, Bagas seperti teringat sesuatu. Ia merogoh saku celananya, dan ada benda hitam kecil berbentuk bulat di tangannya. Ia mengambil ponsel Rania di atas nakas, lalu menempelkan benda hitam kecil bulat tersebut di balik silikon ponsel istrinya. Setelah itu, Bagas kembali tidur, dengan memeluk tubuh istrinya.
***
__ADS_1
Pagi harinya, Bagas baru saja terbangun. Namun tangannya meraba-raba sesuatu di sampingnya. Kemudian membuka matanya ketika mendapatkan apa yang sedang ia cari. Bagas mengangkat tubuhnya dan terkejut, ketika Rania sudah tidak ada di atas tempat tidur. Kemana dia?
"Sayang, kau di mana?" panggil Bagas sambil mencari keberadaan sang istri, mencari ke kamar mandi dan tempat mengganti pakaian. Namun tetap saja ia tidak menemukannya.
"Sayang, sayang."
Akhirnya Bagas keluar dari kamarnya, ia pergi ke meja makan. Siapa tahu istrinya ada di sana akibat kelaparan, karena semalam mereka tidak sempat untuk makan sebelum tidur.
Setelah sampai di meja makan, ternyata benar, Rania ada di sana. Namun bukan sedang makan, tapi ia sedang menghidangkan makanan untuk sarapan pagi ini.
"Sayang, kau masak sendiri?" tanya Bagas ketika melihat sudah banyak sekali makanan di meja.
Rania menoleh dengan wajah yang sudah siap memberi seulas senyuman untuk menyapa Bagas di pagi hari.
"Selamat pagi, suamiku. Kau sudah bangun ternyata. Iya, aku masak, aku membuatmu senang juga. Setelah kau sudah memberikan aku kebahagiaan yang tidak bisa aku duga sebelumnya," ujar Rania.
"Sayang, kau tidak perlu repot-repot untuk melakukan semua ini! Kebahagiaanmu kemarin, adalah kebahahiaanku juga," ujar Bagas memegang kedua lengan atas Rania. Ia tidak mau kalau Rania sampai repot-repot demi menyenangkannya.
"Jadi kau tidak akan memakan masakanku?" Rania mengerucutkan bibirnya.
"Bukan begitu, sayang! Aku sangat menghargai apa yang kau lakukan untukku! Tapi, lain kali kau tidak perlu repot-repot seperti ini, ya! Aku tidak mau kau sampai kelelahan. Aku juga mau kau berhenti bekerja saja! Kau mau dengarkan aku, kan?"
Rania menatap kedua bola mata Bagas secara bergantian, sebelumnya Bagas memang sudah melarang dirinya untuk bekerja. Namun jika ia tidak bekerja, hidupnya pasti akan menbosankan jika sekedar diam diri di rumah. Karena kalau untuk menghabiskan waktu dengan belanja atau hal yang menghambur-hamburkan uang ia tidak mau. Tapi mau bagaimana lagi, jika ia tidak menuruti apa yang di katakan suami, maka itu akan dosa baginya. Rania merasa dilema. Antara ia harus berhenti bekerja atau menghabiskan waktunya di rumah yang akan membosankan.
.
.
.
Coretan Author:
Follow ig: wind.rahma
__ADS_1
Semoga selalu terhibur, ya! Jangan lupa untuk like dan vote!