
Langit sudah berubah warna menjadi hitam, gelap. Jam dinding yang terus berdetak memecah keheningan malam di kediaman sang tuan tajir. Sebagian pelayan rupanya telah usai mengerjakan tugasnya hari ini. Karena hanya ada beberapa pelayan yang masih keluyuran di rumah itu.
Sementara di kamar tuan tajir, Rania keluar dari kamar mandi yang baru saja mencuci muka untuk menghilangkan rasa kantuknya agar bisa menghubungi Reyhan bagaimana keadaan di toko. Namun, setelah mencuci muka pun rasa kantuk itu terus menguasai diri. Mata yang sudah memerah dan tubuh lemas yang harus segera di istirahkan.
Seperti biasa, Rania membaringkan tubuhnya di atas karpet permadani di bawah depan tempat tidur. Kini, Bagas yang sudah ada di tempat tidurnya yang tengah asik memainkan ponsel mengalihkan pandangannya pada istrinya. Ia tidak tega juga membiarkan istrinya terus menerus tidur di bawah. Selain kedinginan, pasti istrinya merasa tidak nyaman harus tidur di atas karpet permadani itu. Ya mungkin di rumahnya dulu dia tidur di kasur, walapun bukan kasur busa setidaknya bukan di karpet.
Akhirnya Bagas turun dari tempat tidur, berjalan mendekat ke arah istrinya tidur. Rania yang masih berusaha untuk membuka matanya agar tidak tidur, sontak kaget melihat sosok suaminya yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.
Bagas mengulurkan tangannya, "bangunlah, dan tidur bersamaku!"
Eh! Kenapa tiba-tiba dia memintaku untuk bersamanya? Oh iya aku tahu dia sudah mencintaiku, tapi bukannya dia bilang kalau dia tidak mau tidur bersamaku?!
Bukannya menerima uluran tangan Bagas, Rania malah memandangi buah tangan itu.
"Hey!" Bagas menepuk tangannya ke arah Rania, membuat Rania tersentak dari lamunannya.
"Jangan buat aku mengulangi sebuah kalimat! Ayo!" Bagas kembali mengulurkan tangannya.
Tanpa berpikir lagi, akhirnya Rania menerima uluran tangan Bagas dan bangun. Dengan cepat, Bagas menarik tangan Rania dan malah menggedongnya.
"Aaarghhh.." teriak Rania yang terkejut tiba-tiba saja Bagas malah menggedongnya. Sementara Bagas malah tersenyum lebar, merasa menang atas dirinya.
"Kenapa? Kaget di gendong pria tampan se-ASIA?" tanyanya penuh kepedean.
"Idih.. Saya takut kau apa-apakan saya!" timpal Rania
"Gak usah takut, pelan-pelan!"
Tangan usil Rania meronta-ronta, akhirnya ia menyelentik ujung hidung bangir Bagas, membuatnya meringis kesakitan. Sakitnya lebih mirip tersengat listrik.
Bagas membaringkan tubuh Rania di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati. Bukan apa-apa, takut lecet aja sebelum di sentuh lalu di mainkan. Ia juga membaringkan tubuhnya di samping istrinya.
Rania sudah tidak kuat lagi menahan rasa kantuk yang terus melanda. Akhirnya ia memutuskan memejamkan matanya, menyerah dengan rasa kantuk yang seakan menyuruh dirinya untuk tidur saja.
Beberapa menit kemudian, sepertinya Rania sudah terlelap. Bagas memperhatikan kedua mata Rania yang terpejam, ia mengalihkan beberapa sulur anak rambut yang terulur menutupi wajah cantiknya. Kini Bagas bisa leluasa memandangi wajah istrinya.
"Aku mencintaimu, sayang." Sebuah dorongan keras untuk Bagas mengucapkan lagi kalimat itu saat keheningan cukup lama menyelinap di dalam pikirannya. Bagas meninggalkan sebuah ciuman di kening istrinya. Tidak membutuhkan jawaban atau alasan apapun. Ia merasa beruntung telah memilih Rania sebagai istrinya, baginya itu sudah lebih dari cukup. Sebuah perasaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya mengendap di dalam hatinya. Wanita yang awalnya paling ia benci karena materi yang tidak sebanding dengannya, yang ia berikan penderitaan bertubi-tubi, telah berhasil memberinya sebuah perhatian yang selama ini ia rindukan.
__ADS_1
Setelah merasa puas memandangi wajah istrinya, akhirnya Bagas juga memilih untuk tidur yang kali ini tidur bersama sang istri. Sebelum Bagas benar-benar tidur, ia mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.
*****
Pagi hari, pagi-pagi sekali, beberapa mobil pengangkut berhenti dan mengantri di halaman rumah bu Sari dan pak Burhan. Merekapun sempat kaget darimana asal datangnya mobil itu, dan kenapa berhenti di halaman depan rumah mereka.
Seseorang turun dari mobil menggunakan jas hitam rapi, menghampiri pemilik rumah yang ia datangi. Bu Sari, pak Brahma, Nadira dan tentunya masih ada Radit di sana, semua terlihat kebingungan. Sekretaris
"Maaf, tuan Frans! Ada apa ini?" tanya Nadira ketika Frans sudah dekat menghampiri mereka.
"Panggil saja saya, Frans!" pintanya, "saya hanya di beri perintah oleh tuan Bagas untuk mengantarkan semua ini kepada anda!"
"Bagas, menantuku?" tanya pak Burhan cepat, ia juga menyingkirkan tubuh bu Sari dan Nadira yang berhadapan dengan sekretaris Frans.
"Iya. Jadi, apa kami di beri izin untuk menurunkan semua barang-barang ini dan memasukannya ke dalam?!"
"Ya, ya. Tentu saja, silahkan!" jawab pak Burhan dengan semangat.
"Baiklah" kemudian sekretaris Frans memberi tahu para sopir yang membawa barang-barang berupa kursi, kasur, kulkas, mesin cuci, AC, dan barang berharga lainnya agar segera menurunkannya kepada partner kerjanya.
Pak Burhan berdecak, "ck..ck.. Gak salah kita menikahkan putri kita pada tuan tajir itu"
"Ya, kamu memang gak salah pilih, Dit"
Pak Burhan dan Radit tertawa terbahak, merasa gembira karena keinginannya untuk menjadi orang kaya lama-lama tercapai juga. Sedangkan bu Sari dan Nadira merasa miris melihat mereka. Karena tega seorang ayah dan kakak menjual adiknya sendiri. Tapi untungnya, Bagas orangnya baik. Begitu pikir bu Sari yang tidak pernah tahu penderitaan Rania sebelumnya.
Karena saking semangatnya, pak Burhan ikut membantu mereka, Radit juga. Sambil mengangkat kursi bersama Radit, tidak lupa mereka memamerkannya pada tetangga yang kebetulan pada keluar rumah akibat banyak mobil yang terparkir di sana.
"Nih, untungnya punya anak yang nikah sama orang tajir melintir, kenapa cipratnya juga. Haha.." pamer pak Burhan dengan sombongnya.
"Ya elah, baru gitu doang udah sombong. Awas, hati-hati tar kalau sampai anaknya cerai di ambil lagi tuh barang baru tahu rasa!" sahut salah satu tetangga.
"Bilang aja kalau iri!"
"Idih.. Ngapain ngiri, kita kan udah cuma kursi doang mah ya ibu-ibu" jawabnya lagi dengan menanyakan kepada tetangga lain agar menyetujui pendapatnya.
"Jelas beda, punya kalian barangnya ecek-ecek, nah kalo ini puluhan juta"
__ADS_1
Kalau harus di tulis semuanya pasti gak akan kelar, terus aja mereka berdebat. Tapi untungnya bu Sari segera menengahi antara suami dan tetangganya.
"Sudah pak, gak baik!" bu Sari berusaha menghentikan.
"Tuh bu, makanya punya laki mulutnya harus di jaga, biar gak asal ngomong aja!"
"Iya, bu. Maafkan kami ya!"
"Huh, dasar, norak!" maki tetangga itu dan masih banyak lagi perdebatan dan makian mereka.
*****
Setelah selesai memasukan barang yang langsung di tata dan di pasang, sekretaris Frans pamit untuk kembali. Bu Sari sangat berterima kasih kepada Frans terutama untuk menantunya.
Sekretaris Frans kembali ke gedung Briliant Group dan masuk ke ruangan pribadi Bagas. Bagas sudah tidak sabar dengan informasi yang akan di berikan oleh sekretaris Frans mengenai barang yang ia berikan kepada sang mertua.
"Bagaimana, Frans? Apa mereka senang?" Bagas yang semula duduk di kursi kerjanya langsung bangkit dan pindah duduk di sofa.
"Tenta saja, tuan. Mereka sangat senang" jelas sekretaris Frans.
"Baguslah" Bagas ikut senang juga, ia menyandarkan tububnya di sandaran sofa. Tapi beberapa detik kemudian ia mengingat sesuatu.
"Frans" panggil Bagas.
"Iya, tuan"
"Kakak istriku yang katanya mau bekerja juga di sini, bagaimana? Apa dia sudah menginjakan kaki di sini?"
Sekretaris Frans juga mengingat-ingat, "saya rasa belum, tuan."
Bagas mengangguk-anggukan kepalanya, "Kalau begitu besok kau bisa suruh sopir menjemputnya untuk datang ke sini, kau urus semuanya! Gali sampai mana kemampuannya! Karena besok aku akan menemani istriku datang ke sebuah acara!"
"Baik, tuan" sekretaris Frans mengangguk mengerti.
Karena tidak ada lagi yang akan di beri tahu ataupun perintah yang di berikan tuannya, Frans izin pamit untuk mengurus lagi proyek ruko terbesar di Indonesia yang sempat terhenti itu.
Bersambung...
__ADS_1
#CUAP-CUAP_AUTHOR
Kalau kalian suka jangan lupa like, vote menggunakan poin atau koin ya!