
Bagas meminta pak sopir untuk berhenti di sebuah kafe, pak sopir pun langsung menurut dengan tuannya. Begitu mobil berhenti, Bagas langsung turun tanpa menunggu pintu di buka oleh pak sopir dengan menarik lengan Rania. Setelah turun, Bagas meminta Rania untuk menggandeng tangannya buat jaga-jaga kalau ada orang mengenalinya ia masih seperti orang dengan rumor yang beredar.
Mau tidak mau Rania pun menurut saja, kemudian masuk dan duduk di salah satu meja yang masih kosong. Kebetulan di sana agak ramai pengunjung. Bagas memanggil pelayan di sana dan memesan minuman juga makanan.
Rania masih mengkhawatirkan Reyhan, ia takut kalau sekretaris Frans akan nekad melakukan sesuatu di luar dugaannya. Apalagi Bagas terlihat marah sekali tadi. Tangan Rania saling meremas jarinya, keringat dingin mulai membasahi tubuh dan telapak tangannya.
"Apa yang akan kau lakukan dengan Reyhan, tuan?" Rania memberanikan diri untuk bertanya.
Bagas hanya tersenyum remeh, tidak menjawab pertanyaan Rania sepatah katapun.
"Jawab saya, tuan! Apa yang akan kau lakukan terhadap dia?"
"Bukan urusanmu!"
"Ya jelas itu urusan saya!"
"Kau itu istriku, dan aku suamimu. Jangan pernah perdulikan orang lain selain diriku, mengerti?!"
Mata Rania mulai berkaca-kaca, ia tidak lagi paham dengan sifat dan sikap Bagas hari ini.
"Sejak kapan kau mengakui saya ini istrimu? Bukankah kau yang bilang kalau saya jangan pernah bermimpi untuk menjadi istrimu yang sesungguhnya. Bukannya kau tidak pernah perduli dengan kehidupan saya? Lalu kenapa dengan dirimu sekarang? Kau semena-mena mengatur dan ikut campur dengan urusan saya. Ini urusan saya, bukan urusan kau. Urus saja hidupmu sendiri!"
Bagas teridam, benar juga yang di katakan Rania. Kenapa sekarang dia jadi berubah, apa karena dia sudah mulai mencintai istrinya. Sampai ia melakukan hal yang selama ini tidak pernah ia lakukan.
"Kenapa kau begitu mengkhawatirkannya? Apa kau ingin mengkhianatiku?"
Sekarang Rania yang di buat tidak bisa berkata apapun, kenapa dia sangat mengkhawatirkan Reyhan. Tapi bagaimanapun, mau Reyhan atau siapapun, Rania tidak suka jika Bagas melakukan sesuatu terhadap orang. Karena Rania sudah begitu banyak di buat menderita olehnya. Rania hanya tidak mau ada orang lain selain dirinya yang juga di buat sama menderita oleh Bagas.
"Saya tidak mengkhianati siapapun di sini. Lagian, saya di sini tidak mencintai Reyhan ataupun anda tuan tajir. Sama sekali, tidak!"
__ADS_1
"Hey gadis bodoh, jangan kurang ajar ya kamu! Oke aku akui, aku begitu merindukan sosok ibu dan ibumu mampu memberikan hal yang aku rindukan selama ini. Jika ibumu tidak memintaku untuk menjagamu, sudah ku habisi juga kau!"
Aku gak nyangka, seorang manusia kejam tetaplah manusia kejam. Aku pikir dia benar-benar sudah berubah menjadi lebih baik, ternyata tidak. Dia tetap pada pendiriannya yang selalu membuat orang lain menderita.
Tiba-tiba saja ponsel Rania bunyi, ada pesan masuk. Rania membuka pesan yang ternyata itu dari Reyhan. Reyhan mengirim foto wajahnya yang memar. Kini kekhawatiran Rania terbukti, kalau Bagas menyuruh sekretaris Frans untuk menghabisi Reyhan.
Ya ampun, Rey.
"Dasar pengecut!" ucap Rania sambil beranjak dari kursinya dan berlalu, pergi meninggalkan Bagas sendiri di sana.
Bagas memukul ke sembarang arah untuk meluapkan emosinya. Seorang pelayan yang mengantar pesanannya langsung ia berikan uang sebagai bayarannya. Tanpa di sentuh sedikitpun, pesanan itu di tinggal begitu saja di meja.
Rania terus menghubungi Reyhan, tapi nomer Reyhan tidak dapat di hubungi. Rania semakin khawatir dengan keadaan Reyhan.
Bagaimana kalau Rey sampai... Astagfirullaah, tidak. Itu semua tidak akan terjadi. Semoga Tuhan selalu melindungimu Rey, di manapun kau berada.
******
Sampai di rumah, Rania masuk ke kamar. Di sana sudah ada Bagas yang sepertinya sedang menunggu kedatangannya. Rania langsung menghampiri Bagas, berdiri berhadapan dan,
PLAKKK..
Rania menampar Bagas untuk meluapkan rasa marah, kesal, marah semarah-marahnya. Kali ini Bagas bukan hanya membuat dirinya yang menderita, tapi orang lain juga.
Bagas yang mendapat tamparan sama sekali tidak bereaksi apapun. Tidak bicara dan tidak membalasnya. Apalagi marah. Membuat Rania semakin bingung sebenarnya apa yang ada di pikiran Bagas.
Rania duduk di sofa, Bagas mengikutinya dan mencoba duduk di samping Rania. Rania masih marah dan kecewa atas apa yang di lakukan Bagas. Dengan tangan gemetar, Bags mencoba menyentuh tangan Rania.
"Gadis bodoh, aku minta maaf"
__ADS_1
Rania yang mendengarnya merasa tidak percaya, seorang manusia kejam yang selalu membuat orang menderita mengucapkan kata maaf. Rania melirik Bagas sekilas. Merasa tidak ada respon dari perminta maafannya, Bagas menarik tangannya kembali.
Bagas menarik nafas panjang, mencoba mengumpulkan mental dan membuang ego serta mengontrol emosi yang menguasai dirinya.
"Aku tahu aku salah telah melakukan ini semua. Tapi aku melakukan ini semua ada alasannya"
Ya iyalah kau memang salah, tidak perlu mengatakannya semua orang sudah tahu kau salah. Terserah, lalu apa alasanmu, hah?
Rania masih diam, tidak menggubris kata-kata Bagas yang baginya itu hanya drama. Dan sepertinya bicara Bagas tidak akan berhenti di situ, makanya dia mencoba untuk diam dan mendengarkan.
"Jujur, aku cemburu dengan laki-laki itu"
Jika Rania saat itu sedang memakan atau minum sesuatu, mungkin dia langsung keselek ketika mendengar pengakuan Bagas.
Apa? Cemburu? Cemburu untuk apa? Bukannya kau tidak pernah menyukaiku.
"Sebenarnya, akhir-akhir ini aku merasa kalau aku nyaman dan merasa di perhatikan layaknya manusia"
Apa lagi ini, kenapa dia terus saja membuat perasaanku jadi gak karuan seperti ini. Dia selalu membuat aku marah, kesal, tapi dia juga kadang bikin aku terharu. Kadang bikin ketawa, dan sekarang dia...
"Rania, aku mencintaimu. Sayang"
Degggg...
Jantung Rania seperti berhenti, darah yang mengalir di tubuhnya juga seakan membeku. Tubuh seakan terasa panas dingin, rasanya gerah dan pendingin ruangan di sana tidak mampu mengusir keringat yang terus mengalir. Rania melirik ke arah Bagas yang sedang menatapnya. Tidak tahu ia harus mengatakan apa, bahkan ia merasa seperti kehabisan kata-kata.
Kupingku terasa di tusuk, pipiku yang berasa di tampar oleh kata-katanya barusan. Apa selama ini dia memang benar-benar berubah, terus apa tadi yang dia bilang waktu di kafe. Gak tahu ah, aku jadi pusing mana sikap dia yang sebenarnya.
Bersambung...
__ADS_1
#CUAP-CUAP_AUTHOR
Jadi gimana? Udah baper belom di part ini? Kalau belum baca next nya aja deh ya.