Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Radit Sakit


__ADS_3

Suasana di tempat kediaman pak Burhan dan bu Sari. Nadira sudah nampak rapih, sepertinya ia akan pergi bekerja.


"Bu, bu. Nad berangkat dulu, ya!" Nadira mencari keberadaan ibunya, ia pergi ke dapur dan ibunya ada di sana sedang menuangkan air minum.


"Bu, Nad berangkat dulu," pamitnya meraih tangan sang ibu dan mencium punggung tangan tersebut.


"Iya, nak. Eh, hari kemarin ibu tidak melihat nak Frans datang untuk menjemputmu. Kemana dia? Tumben!" tanya bu Sari, biasanya sekretaris Frans datang setiap pagi-pagi sekali untuk menjemput Nadira dengan alasan yang sama, perintah yang tidak bisa di bantah.


"Oh, aku lupa cerita sama ibu. Sekretaris Frans sakit!" ujar Nadira memberitahu.


"Sakit? Sakit apa?" bu Sari nampak sedikit khawatir.


"Katanya dia demam biasa, bu. Mungkin kecapean!" ujar Nadira, berusaha menenangkan sang ibu.


"Oh, syukurlah! Kalau begitu sampaikan salam ibu untuk nak Frans semoga lekas membaik!" pesan bu Sari.


"Iya, bu. Nad berangkat, ya!" pamit Nadira, lagi.


"Naik apa? Kalau begitu tunggu abangmu sebentar, ya! Biar sama-sama berangkatnya!" bu Sari bersiap untuk pergi memanggilkan putra sulungnya, namun Nadira segera mencegahnya.


"Tidak usah, bu. Lagipula belum tentu juga bang Radit bagian shift pagi. Tadi Nad dengar abang merintih waktu lewat depan kamarnya, tidak tahu kenapa? Nad berangkat ya, bu! Assalamu'alaikum," ucap salam Nadira sebelum akhirnya pergi dari hadapan sang ibunda.


"Wa'alaikumussalam," balas sang ibu.


Bu Sari tertegun setelah mendengar kalau Radit sedang merintih di kamarnya seperti yang di katakan Nadira barusan, akhirnya memutuskan untuk melihat kondisi putra sulungnya itu. Bu Sari segera bergegas dari sana menuju kamar Radit.


"Dit," panggil bu Sari sambil mengetuk pintu kamarnya. "Dit, kamu sudah bangun?"


"Dit, kamu bukan bagian shift pagi, nak?" mengetuk pintu kamarnya lagi, namun tidak aja jawaban.


Bu Sari menempelkan telinganya di pintu kamar Radit. Dan benar, ada suara rintihan di balik pintu kamar tersebut.

__ADS_1


"Dit, kamu tidak apa-apa, nak? Dit?" bu Sari terus memanggil dan menanyakan kondisinya, namun Radit sama sekali tidak menjawabnya.


Bu Sari khawatir, ia takut kalau putra sulungnya beneran sakit. Kemudian ia membuka pintu kamar putra sulungnya pelan, ia menemukan sosok putra sulungnya sedang tidur meringkuk menghadap ke arah yang membelakanginya. Badannya di selimuti penuh oleh sarung kotak-kotak hitam biru, dan tampak ia sedang menggigil kedinginan.


"Ya Allah, kamu kenapa, nak?" bu Sari segera berjalan menghampiri dan duduk di tepi ranjang. "Nak, kamu sakit?"


Radit menoleh dan membuka sarung yang menutupi wajahnya, dan menampakkan wajah pucat. "Ibu bisa lihat sendiri, kan? Ya iyalah aku sakit, memangnya apalagi kalau bukan sakit?" jawabnya dengan nada bicara tinggi, masih sempatnya bentak seorang ibu dengan kondisi seperti itu.


"Ibu kan tidak tahu, nak. Ibu bawa kamu ke klinik, ya!" tawar bu Sari masih cemas, namun di tolak mentah-mentah begitu saja oleh Radit.


"Enak saja klinik. Rumah sakit, dong! Ibu saja sakit di bawa ke rumah sakit elit!" protesnya. Sakit aja masih sempat nawar, dasar!


"Tapi ibu kan tidak punya uang, nak!" keluh bu Sari.


"Ibu kan punya menantu tajir melintir, minta dong sama Rania! Apa gunanya punya menantu tajir kalau hidup masih saja susah?" hardiknya.


Bu Sari hanya bisa menggeleng pelan. Entah bagaimana lagi cara untuk melunakkan hati putra sulungnya ini. Benar-benar sama persis dengan watak Burhan, ayahnya. "Ibu susul ayah dulu, ya, di pasar. Untuk bawa kamu ke klinik. Kasihan nak, Rania. Kalau kita terus-terusan bergantung diri sama dia," ujar bu Sari, menasehati. Ia tidak mau merepotkan putri dan menantunya sama sekali.


"Iya, nak. Iya," angguk bu Sari dan segera keluar dari kamar Radit dengan perasaan yang sedih. Kenapa ia memiliki putra tidak pernah menghormatinya. Tapi bagaimana pun, Radit tetap putranya. Darah dagingnya yang tidak bisa ia benci, apalagi jika harus di bandingkan dengan putrinya.


***


Sementara di ruko, Rania masih menguatkan diri untuk beraktivitas seperti biasanya di ruko. Ia tidak mau jika hanya berdiam diri di rumah, apalagi menghabiskan waktu jalan-jalan, shopping, dan hal yang menghambur-hamburkan uang. Ia sama sekali tidak tertarik. Mencari uang sendiri rasanya menyenangkan. Selain membantu keuangan suami yang sebenarnya tidak perlu di bantu, ia juga tidak perlu repot-repot meminta uang untuk membeli keperluan sendiri, walaupun ia tidak pernah meminta karena Bagas sering memenuhi keperluannya.


Kedua bola mata Rania kini tertuju pada pria dan gadis yang berbincang-bincang dengan akrabnya. Ya, mereka adalah Reyhan dan Diva.


"Semakin hari semakin dekat saja mereka ini. Tapi, baguslah!" ujarnya, pelan. Rania nampak senang jika akhirnya Reyhan mau dekat dengan Diva, jadi ia tidak perlu susah payah lagi membantu Diva untuk mendekatkannya.


Ketika ia akan berjalan untuk menghampirinya, suara dering berasal dari ponsel miliknya membuat ia tidak jadi untuk melangkah pergi. Ia segera mengangkat telepon dari nomer yang tidak ia kenal.


"Nomer siapa, ini?" tanyanya pada diri sendiri sambil menatap layar ponselnya.

__ADS_1


"Angkat aja, deh. Siapa tahu penting," ujarnya lagi, lalu menggeser ikon berwarna hijau di layar ponsel tersebut, kemudian menempelkannya di dekat telinga.


"Hallo, siapa?" tanya Rania pada seseorang di telpon.


"Apa?" Rania terkejut setelah mendengar si penelpon bicara. "Ya sudah, aku kesana sekarang!" ucapnya lagi sebelum akhirnya ia menutup sambungannya.


Ia bergegas menaikki anak tangga untuk mengambil tasnya terlebih dahulu, setelah ia ia segera pergi dan menyetop angkutan umum untuk menemui si penelpon barusan.


Reyhan melihat sekilas Rania yang terlihat sedang terburu-buru, Diva juga ikut menoleh. Namun Diva tidak melihat apapun, ia menatap wajah Reyhan yang terlihat sedikit cemas.


"Ada apa? Kamu lihat apa?" tanya Diva menoleh lagi, ia tidak melihat apapun.


"It-itu, barusan aku melihat Rania pergi terburu-buru. Kira-kira ada apa, ya?" Reyhan bertanya-tanya, walaupun kini ia sudah dekat dengan Diva, tapi ia masih sangat perduli dengan Rania. Karena mau bagaimana pun, Rania adalah orang yang dulu lebih dekat dengannya. Walau hanya sebatas teman.


"Mungkin ada urusan keluarga!" jawab Diva menebak-nebak.


"Tapi kenapa sampai tidak bilang terlebih dahulu sama aku kalau dia mau pergi?" Reyhan masih menatap arah kepergian Rania, walaupun Rania sudah tidak ada lagi di sana.


"Mungkin juga dia sudah bilang pada pegawai lain," jawab Diva menebak-nebak lagi.


Reyhan mengangguk, sebenarnya ia tidak yakin kalau Rania sudah bilang pada pegawai lain. Karena kalau ada apa-apa, Rania pasti akan bilang kepada dirinya terlebih dahulu. Karena ia adalah orang kepercayaan Rania. Tapi mungkin yang di katakan Diva itu benar, kalau Rania sedang ada urusan keluarga yang mendadak. Sehingga ia tidak sempat untuk memberi tahu kemana dia akan pergi.


.


.


.


Coretan Author:


Follow ig: wind.rahma

__ADS_1


Nabung poin yang banyak, ya! Biar bisa vote seribu!


__ADS_2