
Kebahagiaan yang di rasakan oleh keluarga Bagas dan Rania atas kehadiran Khanza, putrinya di dalam keluarga membuat hidupnya lebih berwarna. Hari-hari terasa lebih cepat di lalui dan di lewati tanpa ada masalah lain yang menimpa pada mereka. Sehingga, mereka tidak percaya kalau putrinya, Khanza, sudah besar dan sudah pintar berbicara. Khanza saat ini sudah berusia kurang lebih empat tahun, sehingga dia sudah sangat pintar sekali.
Saat ini mereka tengah berada di atas tempat tidur, entah kenapa malam ini Khanza meminta untuk tidur bersama papa mama-nya, yakni Bagas dan Rania. Tidak seperti hari-hari biasanya yang Khanza selalu tidur sendiri di kamar khusus miliknya.
"Mama.. Ayo ceritakan dongeng Cinderella yang kemarin! Khanza mau dengar lagi..." rengeknya, sambil mengguncang-guncangkan lengan Rania.
"Iya, sayang... Iya, mama ceritakan lagi, ya! Asal Khanza tidur, okay?!" Rania berusaha membuat putrinya ini senang, walau hanya sekedar mendongengkan sebuah cerita.
"Okay. Tapi papa mana, ma..?" Khanza mencari keberadaan Bagas yang memang saat ini tidak sedang bersama mereka.
"Papa di ruang kerjanya, sayang."
"Kalau begitu, Khanza mau tunggu papa dulu, baru Khanza mau tidur."
"Tapi ini sudah malam, nak. Khanza tidak usah tunggu papa dulu, ya! Papa mungkin masih lama, tidur ya!" Rania membelai lembut rambut sang putri, kemudian membenamkan ciuman di keningnya.
Tidak lama kemudian, Khanza pun tidur. Sedangkan Rania memilih untuk menunggu suaminya kembali ke kamar.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya Bagas kembali ke kamarnya. Rania menyambutnya dengan senyuman yang mengembang di bibir manisnya itu.
"Sayang, kau belum tidur?" Bagas menyapa istrinya setelah membuka pintu kamar tersebut.
"Aku tidak mungkin tidur sebelum kau kembali," balas Rania.
"Khanza kenapa tidur di sini? Kenapa kau tidak menidurkannya di kamarnya?" tanya Bagas ketika menyadari putrinya juga ada di sana.
"Tidak apa-apa, mungkin khanza merindukan tidur dengan kita!"
Bagas menghela napas panjang, kemudian menghembuskannya.
"Tidak terasa, baru saja kemarin rasanya putri kita lahir. Sekarang dia sudah besar," Bagas membelai rambut milik Khanza, lalu mencium keningnya kemudian.
"Iya," Rania menjawab dengan menatap wajah putrinya yang cantik mirip seperti dirinya.
Keheningan mulai menyelinap di antara mereka, jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tiba-tiba saja hawa dingin terasa oleh Bagas dan Rania, bahkan sampai menusuk ke bagian tulang milik mereka.
Bagas yang semula menatap wajah putrinya, kini mengalihkan pandangannya pada Rania. Begitupun dengan Rania, sampai kedua manik mata mereka kini tengah bertemu.
Kini, mata Bagas tertuju pada piyama berwarna merah merekah yang di kenakan oleh istrinya. Entah kenapa, melihat itu membuat pesona Rania semakin bertambah berjuta-juta kali lipat.
Bagas meneguk salinya dengan susah, ia kembali menatap putrinya untuk memastikan kalau putrinya sudah tidur pulas.
Setelah itu, Bagas menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan Rania. Bukan lagi wajah yang saat ini Bagas tatap, melainkan bagian dada Rania yang terbuka, yang menyuguhkan keindahan belahannya.
"Kau kenapa?" tanya Rania heran, sudah lama Bagas tidak pernah menatapnya seperti sekarang ini.
"Sayang, bagaimana kalau malam ini kita lakukan lagi. Sepertinya Khanza sudah pantas di beri adik!" bisikan Bagas membuat Rania sedikit terkejut, pasalnya dia masih sedikit trauma jika mengingat bagaimana rasanya melahirkan. Namun, permintaan suami haruslah dia penuhi, karena itu akan menjadi dosa juga kalau tidak di turuti.
"Lain kali saja, ya!" ucap Rania, lirih.
"Kenapa? Apa kau tidak mau melayani suamimu ini?" tanya Bagas sedikit kecewa dengan penolakan Rania.
"Em... Bukan begitu, tapi kan ada putri kita. Bagaimana kalau dia bangun pada saat kita melakukannya?" Rania memberikan alasan, yang mudah-mudahan akan membuat Bagas tidak akan jadi melakukannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, sayang. Aku akan melalukannya secara perlahan. Dengan itu, Khanza pasti tidak akan bangun. Okay?!" sekuat apapun Rania berusaha menolak, namun itu tidak akan bisa menghentikan gelora Bagas yang kian memuncak.
"Tapi..."
"Syutttt..." Bagas menempelkan jari telunjuknya di bibir Rania, tidak ada penolakan dan tidak ada penawaran. Rania harus melayani Bagas sampai ia benar-benar merasa terpuaskan.
Tidak ada pilihan lain, ataupun alasan lain. Rania memilih untuk pasrah saja seperti biasanya, dan mencoba untuk menerima serangan Bagas yang sudah dia berikan.
******* dan erangan kecil mulai terdengar di telinga Bagas, itu semakin membangkitkan gairah Bagas yang sudah lama tidak ia salurkan.
Ranjang tempat tidur mulai terguncang, sehingga membuat tubuh Khanza ikut tergoyangkan. Bagas mulai membuka piyama Rania secara perlahan, setelah itu ia membuka pakaian miliknya.
Bagas menarik selimut yang semula di pakai untuk menyelimuti tubuh putrinya. Aksi permantapan pun di mulai.
Beberapa menit kemudian, Khanza merasakan tubuhnya kedinginan. Ia berusaha untuk menahan dingin itu, namun suhu pendingin ruangan itu terasa sangat dingin sekali.
"Mama.. Dingin..." Khanza mulai merengek, namun matanya masih terpejam.
Mendengar putrinya bicara, Bagas segera menghentikan aksinya tersebut. Ia sedikit panik kalau putrinya benar-benar terbangun dan mendapati dirinya sedang dalam keadaan tanpa busana.
"Bagaimana ini? Aku sudah bilang kan kalau Khanza akan terbangun," Rania sangat panik, bahkan suaranya terdengar gemetar.
"Kau tenang saja, sayang! Khanza hanya mengigau, sepertinya dia butuh selimut karena kedinginan," Bagas berusaha menenangkan Rania dengan tidak mengubah posisinya saat ini.
"Mamaaaa..." Khanza kembali merengek, beberapa detik kemudian ia membuka matanya.
Rania membulatkan kedua bola matanya, ketika melihat papa dan mamanya sedang melakukan sesuatu yang tidak dia ketahui.
Tidak tahu harus memberikan jawaban apa pada putrinya, akhirnya Bagas memberikan jawaban yang paling masuk di akal saja.
"Sayang.. Khanza tidur lagi saja, ya! Papa sama main lagi main kuda-kudaan. Tidur lagi, ya!"
Jawaban Bagas bukannya membuat Khanza tidur lagi, justru dia malah bangun dan bersorak, "Asiiikkk... Main kuda-kudaan, aku boleh ikutan ya pa, ma..."
Seketika Rania dan Bagas saling menatap secara bersamaan, bukannya memberikan jawaban yang masuk di akal, justru mengundang kebodohan.
"Jangan sayang! Ini sudah malam, papa sama mama juga mau tidur lagi. Khanza tidur lagi, ya!" Bagas berusaha kerasa membujuk putrinya untuk tidur lagi.
"Ya udah, Khanza bobo lagi. Tapi besok papa sama mama ajak Khanza main kuda-kudaan, ya!" pinta Khanza segera di angguki oleh Bagas dan Rania.
"Iya, sayang," Bagas dan Rania bisa bernapas dengan lega, ketika Khanza kembali tidur.
"Tahan sebentar ya, sayang! Dua celup lagi keluar, kok," Bagas kembali melanjutkan aksinya, namun kali ini ia lebih berhati-hati agar Khanza tidak lagi terbangun.
***
Pagi harinya, Bagas, Rania serta Khanza sedang sarapan di meja makan. Tanpa menghubungi terlebih dahulu, Brahma dan Iren yang sudah menjadi pasangan suami istri sejak dua tahun lalu berkunjung ke rumah Bagas untuk menemui cucu kesayangannya.
"Assalamu'alaikum.." Brahma dan Iren memberi salam.
"Walaikum salam.."
"Papa kok gak bilang mau ke sini?" tanya Bagas setelah menyalami kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Memangnya gak boleh kalau papa sama mama kamu datang ke sini kalau gak bilang dulu?"
"Bukan begitu, pa. Aku bisa minta pelayan di sini untuk siapkan sarapan lebih banyak kalau papa hubungi aku dulu," ujar Bagas.
"Tidak usah, papa sama mama kamu sudah sarapan tadi."
"Iya, Bagas. Mama sama papa sudah sarapan tadi," sahut Iren.
Kemudian Bagas dan Rania melanjutkan sarapannya. Sementara Brahma dengan Iren duduk di sebelah Khanza, cucunya yang juga sedang sarapan di bantu oleh baby sitter.
"Bi, biar saya saja ya yang bantu Khanza sarapan!" pinta Iren pada baby sitter Khanza.
"Tapi bu..." baby sitter itu merasa tidak enak, karena ini adalah tugas dirinya.
"Tidak apa-apa, biar saya saja, ya!"
"Aku mau di supain oma.." ujar Khanza.
Bagas menganggukkan kepalanya, memberi kode pada baby sitter. Baby sitter pun dengan cepat pergi dari sana setelah Khanza di ambil alih oleh Iren.
Iren pun menyuapi Khanza dengan senang, karena dia hanya memiliki satu anak saja dan itu sudah dewasa. Iren memang sejak dulu menginginkan seorang putri, namun sayangnya dia tidak bisa hamil lagi setelah melahirkan Reyhan.
"Sayang... Oma boleh gak ajak kamu main nanti setelah sarapan?" tanyanya sambil membelai lembut rambut Khanza.
"Boleh oma, main sama opa juga ya!" pinta Khanza setelah menelan roti yang baru saja dia kunyah.
"Tentu saja cucu opa sayang..." jawab Brahma dengan senangnya.
"Tapi aku mau main kuda-kudaan oma... Opa..." Khanza merengek.
"Iya sayang, nanti Khanza naik ke punggung opa, iya kan?"
Dengan cepat Khanza menggelengkan kepalanya. "Bukan opa... Aku mau main kuda-kudaan kayak papa sama mama tadi malam," ujarnya polos.
Seketika Bagas dan Rania membulatkan matanya, menatap secara bersamaan. Tapi mereka harus tetap tenang, agar Brahma serta Iren mencurigai maksud yang sebenarnya.
"Kayak gimana, sayang..?" tanya Iren tidak mengerti.
"Papa duduk di perut mama, sambil goyang-goyang oma, opa... Kata papa itu main kuda-kudaan," jawaban polos Khanza barusan membuat Bagas serta Rania rasanya kehilangan oksigen.
Raut wajah Bagas dan Rania memerah, ia tidak tahu harus memberikan penjelasan seperti apa ketika Brahma menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan, kenapa mereka harus melakukan sesuatu seperti itu di depan Khanza?
Sedangkan Iren hanya bisa diam, masih tidak mengerti dengan apa yang di maksud Khanza.
"Bagas...." Brahma memanggil nama putranya dengan mulut yang sengaja tidak ia buka secara penuh, ia ingin kalau putranya akan mengerti dengan kode sebagai teguran atas apa yang telah di lakukan olehnya.
"Maaf, pa.." Bagas hanya bisa menunduk malu, apalagi Rania yang tidak berani menatap sang mertua sedikit pun.
***
Semoga suka dengan bonus chapter-nya. Jangan lupa untuk follow ig: @wind.rahma.
Nantikan kelanjutan novel baru saya yang judulnya TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN.
__ADS_1