Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Gaun Pink


__ADS_3

Sore hari di tempat kediaman tuan tajir.


Rania baru saja pulang dari ruko, tubuhnya terlihat lelah akibat hari ini ia kebanjiran orderan hingga 5x lipat dari hari-hari biasanya. Tapi untunglah pekerjanya juga dapat menanganinya dengan cepat, sehingga mereka tidak harus pulang sampai malam. Di tambah dirinya dan Reyhan juga ikut turun tangan untuk mengemas barang orderan para coustamer.


Kini ia sudah masuk ke dalam rumah, rumah yang pertama kali ia lihat itu adalah istana sungguhan. Padahal itu adalah tempat yang paling mengerikan, dan kini telah berubah menjadi rumah yang benar-benar rumah. Kaki lelahnya mulai menaiki anak tangga, satu persatu ia naiki agar sampai ke atas sana. Rasanya tubuhnya ingin segera ia jatuhkan ke atas tempat tidur, yang akan membuat lelahnya sedikit berkurang.


Pada saat ia membuka pegangan pintu kamar, dan mendorongnya ke dalam untuk membukanya, tiba-tiba sosok pria muncul dengan mengejutkannya.


"HAAA..." teriak sosok di balik pintu berusaha mengejutkan seseorang yang akan masuk ke dalam kamar. Tangannya ia serupakan dengan sosok kucing garong yang akan menerkam. Seolah itu sudah menjadi bagian dari rencananya untuk mengejutkan.


Tentu saja Rania terkejut, tubuhnya nyaris terjatuh ke belakang jika ia tidak mengontrolnya. Sebuah tendangan dengan reflek mendarat di bagian ******** Bagas. Akhirnya niat Bagas untuk menjahili istrinya tidak berhasil seratus persen. Karena dia sendiri yang kena batunya.


"Awww.." Bagas meringis kesakitan, kedua tangannya menutupi bagian si Jon yang baru saja di tendang istrinya, rasa ngilu yang di rasakan Bagas sampai ke ubun-ubun. Sakit yang tiada banding untuk para kaum laki-laki.


Dengan cepat Rania menanyakan kondisi Bagas, yang tidak sengaja ia tendang barusan.


"Kau baik-baik saja?"


"Sakit" Bagas meringis menahan sakit.


"Lagian kau juga, selalu senang menjahiliku. Kau juga, kan, yang kena? Rasain" maki Rania, kemudian membantunya masuk ke dalam dan mendudukan Bagas di tepi ranjang.


"Masih sakit?" tanya Rania lagi.


"Tegang" jawab Bagas spontan.


"Maksudnya?" Rania berlaga polos, padahal ya memang polos, tidak tahu menahu yang di maksud oleh Bagas.


"Butuh masukan!" jawab Bagas lagi.


"Mau aku kompres, supaya sakitnya berkurang?" tawarnya.


"Gak usah!" tolak Bagas.


"Kenapa?"


"Geli aja di pegang-pegang"


"Huhhh.." Rania mendorong kepala Bagas, "dasar otak mesum!" makinya lagi.


"Lagian kau tidak peka, selama ini aku menunggu jatah darimu" Bagas mulai berbicara mengarah ke hal permantapan.


"Ih.. Apaan sih!" beda halnya dengan Rania yang tidak mau membahas soal begituan, mungkin Rania malu jika membahas perihal begitu. Mending langsung di praktekin saja.


"Kenapa kau pulang lebih awal dariku?" Rania mengalihkan pembicaraan.


Rasa sakit Bagas mulai berkurang, sehingga ia melepaskan kedua tangannya dari si Jon.

__ADS_1


"Biar aku bisa menyambutmu pulang"


"Menyambut dengan cara mengejutkanku? Eh lebih tepatnya menjahiliku terus kau yang kena?"


Bagas malah tersenyum, istrinya memang pandai berbicara.


"Sekarang kau mandi! Aku ingin mengajakmu jalan-jalan" suruhnya.


"Kemana? Aku tidak mau!"


"Kau ingin membantahku?"


"Bukan. Aku lelah, ingin istirahat saja. Kau sendiri yang pergi, bila perlu kau minta sekretarismu itu untuk menemani!" ujar Rania kemudian membaringkan tubuhnya.


"Lalu apa gunanya istri, jika tidak patuh terhadap suami?"


"Aku lelah dan aku ingin istirahat saja. Memangnya kau mau membawaku kemana?"


"Kau tidak perlu tahu! Kau harus ikut, dan cepat mandi! Aku tunggu di ruang tamu bawah" ucap Bagas mengakhiri pembicaraanya, kemudian ia bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar.


Melihat Bagas beneran pergi, Rania bangkit dan duduk. Sebetulnya ia begitu lelah dengan hari ini. Ingin rasanya ia tidur saja bahkan tidak perlu mandi sekalipun. Tapi keinginan Bagas adalah sekaligus perintah, yang tidak bisa ia bantah. Mau tidak mau ia harus mengikuti keinginannya.


*****


"Mau kemana?" tanya Rania ke sekian kalinya di dalam mobil, mereka sedang berada di perjalanan yang entah kemana tujuannya. Bagas masih tidak menjawab dan fokus mengemudikan mobil mewahnya.


"Kau yang tuli! Sudah ku bilang, kau tidak perlu tahu, ikut saja!" jawabnya tanpa melirik istrinya.


Kemudian Rania memilih diam, melipat kedua tangannya di depan dada. Percuma ia terus bertanya jika tidak mendapat jawaban juga. Terserah, kemana Bagas akan membawanya. Ikut saja, karena itu kemauannya yang tidak bisa di bantah.


Tubuh lelahnya menundang rasa kantuk yang tidak dapat di tahan lagi. Berulang kali menguap, dan ia harus segera tidur. Akhirnya, Rania memejamkan kedua matanya. Beberapa menit kemudian ia sudah terlelap dan mulai masuk ke dunia mimpi.


*****


Rania bebrapa kali mengerjapkan matanya, ketika sebuah tangan mengguncang-guncangkan tubuh membangunkannya. Ketika ia membuka mata, melihat ke sekeliling, sepertinya ia sedang berada di sebuah basement. Lebih tepatnya besement mall. Bagas membawanya ke mall.


"Mau turun atau ku tinggal?"


"Kau yang bilang aku harus ikut, berarti kalau kau turun aku juga ikut turun" suara Rania masih sedikit serak akibat baru bangun tidur. Tidur yang tidak seberapa lamanya, namun membuat rasa lelahnya berkurang.


"Ya sudah, ayo turun!" Bagas melepas sabuk pengaman, Rania juga.


Mereka berjalan sejajar, Bagas mengembangkan tangan kirinya, dengan cepat Rania sambar dan menggandengnya. Mereka masuk ke lift untuk naik ke lantai 7, karena saat ini mereka masih di lantai satu.


Lift terus naik sampai mereka tiba di lantai 7, kemudian keluar. Lantai 7 adalah tempat baju-baju brandid, yang pembeli dari kalangan atasan. Tidak sembarang orang mampu membeli baju di sana.


Rania mengedarkan pandangannya, pandangan yang tidak biasa di matanya. Banyak sekali baju-baju bagus, beda dengan baju yang sering ia temui di online shop nya.

__ADS_1


"Sekarang kau pilih baju yang paling bagus, lebih tepatnya yang paling mahal!" suruh Bagas pada Rania yang masih sibuk melihat kesana-kemari.


"Aku tidak suka kau terus sombong seperti itu!" jawab Rania tanpa menoleh.


"Aku bukan sombong. Memang mau aku pakai apa uang sebanyak itu jika aku membeli barang-barang KW, abal-abal dan semacamnya?"


"Terserah!" jawab Rania pasrah.


Bagas mengajaknya melihat-lihat ke sebelah kanan, di sana banyak sekali gaun. Mulai dari gaun yang kurang bahan, maksudnya sexy. Sampai gaun yang kelebihan bahan, panjang bagian belakangnya sampai 5 meteran. Serius ada.


"Kau mau pilih yang mana?"


"Aku tidak tahu!" Rania memang tidak pernah belanja ke mall apalagi membeli gaun.


"Mulai sekarang kau harus tahu! Kau harus sering-sering shopping, percantik dan rawat dirimu! Tenang saja, aku akan selalu mentransfer uang ke kartu kreditmu sampai kau tidak tahu lagi harus kau gunakan untuk apa lagi untuk menghabiskannya"


"Kau tetap saja sombong. Sifat sombongmu mengalir di nadimu!" ucap Rania membuat Bagas nyaris tertawa, tapi ia tidak mungkin melakukannya di keramain. Nanti jika ada orang yang melihatnya dan pasti mengenalinya akan bilang apa, jika seorang tuan tajir paling tampan se-ASIA, katanya, tertawa terbahak di mall. Itu akan merusak wibawanya.


"Aku suka yang ini!" Rania menunjuk ke gaun berwarna pink.


"Ambilah! Bila perlu ambil semua!"


"Tapi aku takut bajunya terlalu sempit, takut juga kegedean" keluhnya


Bagas menggelengkan kepala, "Hey gadis bodoh! Maksudku istriku sayang yang cantik, kau bisa mencobanya!"


"Benarkah?"


"Iya. Makanya sekali-sekalin main ke mall, jangan main ke warung sebelah aja!" ejeknya yang di tujukan pada istrinya dengan maksud bercanda.


"Ish... Ya sudah, aku coba dulu!" katanya dengan membawa gaun itu, Bagas tidak lupa menunjukan tempat untuk mencoba pakaian.


Setelah beberapa menit menunggu sang istri mencoba gaun, akhirnya Rania keluar juga. Tiba-tiba saja di dalam mall seperti ada angin yang menerbangkan rambut-rambut Rania. Pesona kecantikan Rania seketika terpancar, durasi berjalan ikut melambat. Seperti adegan dalam sebuah film saja.


Bagas yang melihatnya di buat melongo, ia sangat takjub melihat kecantikan istrinya menggunakan gaun yang di pakainnya tersebut. Rasa cinta Bagas terhadap Rania bertambah menjadi 2x lipat dari sebelumnya. Ia sangat terkesima dengan kecantikan istrinya. Beberapa orang di sana juga, terutama laki-laki, menjatuhkan apa yang sedang mereka pegang, mengalirkan air liur dari dalam mulut yang terbuka lebar, yang sedang berjalan tiba-tiba tersandung padahal tidak ada benda yang menghalanginya. Dan macam-macam lagi.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Kalau suka, langsung like ya! Vote pakai poin/koin. Tambahkan juga ke favorit!


__ADS_2