
Keesokan harinya.
Rania sedang merapikan dasi juga jas hitam yang di kenakan suaminya. Bagas nampak sedang bahagia sekali, namun raut wajah Rania justru sebaliknya. Ia terlihat pucat dan tubuhnya seperti kehilangan selera apapun.
"Sayang, hari ini adalah hari peresmian ruko terbesar dan terpanjang proyek Briliant Group. Apa kau mau ikut?" tawar Bagas mengajak Rania, namun ia menggeleng lemah.
"Ya sudah, kau istirahat saja! Aku janji akan pulang cepat untuk menemanimu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, ya!"
"Iya," jawab Rania singkat.
"Aku pergi dulu," pamit Bagas bersiap untuk pergi, karena Rania sudah selesai merapikan pakaiannya. Ia juga tidak lupa mendaratkan sebuah ciuman di kening sebagai wujud kasih sayang terhadap sang istri sebelum akhirnya ia benar-benar pergi.
Rania merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia juga menyelimuti setengah badannya. Entah kenapa kepalanya terasa pusing sekali. Mungkin yang di katakan Dokter benar, itu hal yang biasa ketika awal kehamilan. Dan ia tidak boleh terlalu panik akan hal itu.
Seorang pelayan membawa nampan berisi satu gelas susu dan dua potong roti yang sudah di olesi coklat. Ia berjalan menaiki tangga menuju kamar tuannya. Kini ia sudah berada di depan pintu, namun ketika ia ketuk dan beberapa kali meminta ijin untuk masuk, ia tidak menjawab jawaban apapun.
"Permisi, nona!" ucap pelayan untuk yang kesekian kali.
Karena ia sudah di beri tugas oleh tuannya untuk mengantar susu setiap pagi ataupun malam, ia pun memberanikan diri untuk masuk. Ia khawatir terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Pelayan itupun masuk, berjalan secara perlahan. Di dalam, ia mendapati nonanya sedang terbaring di atas tempat tidur.
Pelayan tersebut menaruh susu dan roti di atas nakas kecil samping tempat tidur. Melihat wajah nonanya sangat pucat, ia jadi khawatir. Kemudian ia memberanikan diri untuk mencoba membangunkannya.
"Nona, nona," panggil pelayan dengan lirih, ia juga mengguncang bahu Rania pelan.
Perlahan Rania membuka kedua matanya, mengerjapkan berulang kali. Ia juga memijat pelipisnya yang terasa sedikit pusing. Rania bangun dan di bantu oleh pelayan.
"Saya bantu, nona!" sambil ikut membangunkannya, dan menumpukan bantal untuk sandarannya.
"Terima kasih, bi," ucap Rania berterima kasih.
"Nona baik-baik saja, kan?" tanya pelayan merasa cemas.
"Baik, cuma sedikit pusing saja," sahutnya sambil memijat pelipisnya lagi.
"Kalau begitu nona harus sarapan! Susunya jangan lupa di minum, nona!" ucap pelayan mengingatkan.
"Kalau bisa sekarang, nona! Takutnya keburu dingin."
"Iya, bi." Rania tersenyum karena pelayan itu begitu perhatian dan baik padanya.
__ADS_1
Rania meraih gelas berisi susu yang di bawakan pelayan tadi, "biar saya bantu, nona!" dengan sigap pelayan itu meraih gelasnya terlebih dahulu.
"Ini, nona." pelayan memberikannya.
Rania meminumnya sedikit, lalu di berikan lagi pada pelayan untuk di taruh ke tempatnya.
"Rotinya juga jangan lupa di makan, nona!" pelayan mengingatkan lagi.
"Iya, nanti di makan, bi. Terima kasih banyak, ya!"
"Kalau begitu saya tinggal ke dapur, nona. Kalau ada apa-apa langsung panggil saya saja, nona. Jangan sungkan, saya siap membantu jika nona membutuhkan saya!" tawar pelayan itu dengan senang hati.
"Iya, bi," sahut Rania seraya memberi seulas senyum, sebelum akhirnya pelayan itu keluar dari kamarnya.
***
Sementara di ruko hasil proyek Brilant Group, Bagas baru saja gunting pinta sebagai peresmian ruko terbesar sekaligus terpanjang di Indonesia. Namun ia merasa sedih juga, karena Rania tidak bisa menemaninya. Semua tamu dari kalangan petinggi silih bergantian mengucapkan selamat atas keberhasilan proyeknya.
"Tuan, akhirnya apa yang selama ini Briliant Group mimpikan dapat terwujud," ucap sekretaris Frans marasa takjub.
"Ini semua berkat kerja keras tim Briliant Group, Frans. Terutama kau!" puji Bagas.
"Iya, tuan. Terima kasih atas kepercayaannya!" sekretaris Frans merasa puas karena dirinya telah berhasil menjaga kepercayaan tuannya.
Rania kemana, ya? Aku pikir dia ada di sana karena dia tidak masuk. Ah, aku coba chat dia, deh. Pikir Reyhan dalam hati.
Reyhan mengeluarkan ponsel di saku celananya, lalu mengetikan sesuatu dengan lincah di layar ponsel. Namun pesan yang ia kirim hanya memunculkan centang satu, Rania sedang offline.
Rania kemana, ya? Apa dia sakit? Batin Reyhan. Kemudian ia kembali memasukan ponselnya ke dalam saku. Begitu ia membalikan badannya berniat akan masuk, sosok wanita berdiri persis di hadapannya. Itu membuat Reyhan sedikit terkejut.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Reyhan menatap Diva bingung.
"Harusnya aku yang tanya sama pak Reyhan, pak Reyhan ngapain berdiri di sini?" balik tanya Diva dengan senyum yang harap di balas.
"Bukan urusan kamu!" jawab Reyhan ketus, ia kembali masuk ke ruko melewati Diva begitu saja.
Huh..sabar, Div! Suatu saat pasti akan ada waktunya dia datang sendiri dan meminta cinta darimu. Kamu gak boleh agresif seperti itu! karena dalam cinta, cinta boleh, ngemis jangan! Semangat, Div. Gumam Diva menyemangi diri sendiri. Ia optimis kalau Reyhan pasti akan membalas cintanya. Tidak sekarang, tapi nanti.
Di rumah, tempat kediaman tuan tajir. Hera sedang berbicara dengan seseorang di telpon.
__ADS_1
"Kapan kita bisa ketemu lagi?" tanyanya pada seseorang di dalam telpon.
"Lusa kita ketemu di cafe biasa, jangan lupa ajak Arsilla juga!" jawab seseorang dari seberang sana, yang hanya menampakkan bibirnya saja.
"Baik," sahut Hera sebelum akhirnya mematikan sambungannya.
Hera bergegas pergi ke kamar Arsilla dengan tergesa, di wajahnya nampak ada kebahagiaan. Ia masuk begitu saja tanpa mendapat ijin dari pemilik kamar, sudah biasa. Ia tidak mendapati Arsilla yang biasa sedang duduk menatap cermin di meja riasnya. Hera segera berjalan keluar dan mencari Arsilla, sampai ia melihat Arsilla sedang duduk di meja makan.
"Silla, tante ada kabar bagus untuk kita!" ucap Hera tidak sabar untuk memberi tahunya.
"Kabar bagus apa, tante?" tanya Arsilla bingung.
"Lusa kita akan bertemu lagi dengan Mr. X. Dia juga meminta tante untuk mengajak kamu, tentu saja tante akan ajak kamu tanpa dia suruh!" wajah Hera begitu gembira. Namun tidak dengan Arsilla yang biasa saja.
"Oh" jawab Arsilla singkat.
"Oh? Cuma oh? Kamu kenapa, Silla?" tanya Hera cemas karena ia tidak biasanya seperti itu, biasanya Arsilla lebih bersemangat dari pada dirinya.
"Aku baik-baik saja, tante. Kalau tante mau ketemuan sama dia, tante sendiri saja. Aku tidak mau ikut!" ujar Arsilla membuat Hera menatapnya tidak percaya.
"Kenapa, Silla?"
"Tidak apa-apa, tante. Aku malas saja jika harus terus-terusan berbuat jahat. Aku tidak mau lagi terlibat dalam hal itu!" tolak Arsilla mantap.
"Hah? Ya kenapa, Silla? Bukankah kamu yang sendiri yang menginginkan ini? Kita akan menyingkirkan orang-orang yang berusaha mengambil alih harta tuan tajir, kan?"
Arsilla tetap diam, ia sama sekali tidak menanggapi ucapan tantenya. Hera menatap Arsilla tajam, ia mengguncang tubuh Arsilla pelan.
"Silla, kamu kenapa, sih? Kenapa kamu jadi seperti ini? Apa yang membuatmu menyerah seperti ini, Silla? Katakan!" Hera greget melihat Arsilla yang terus diam saja, entah apa yang membuat Arsilla jadi seperti sekarang ini. Begitu yang di pikirkan oleh Hera.
"Aku ke kamar dulu, tante!" pamit Arsilla tanpa menghiraukan tantenya yang masih ingin berbicara dengannya.
"SILLA, TANTE BELUM SELESAI BICARA. SILLAAA?!" teriak Hera sama sekali tidak mendapat respon. Hera memukul meja makan dengan keras, namun ia meringis kesakitan setelahnya.
.
.
.
__ADS_1
Coretan Author:
Jangan lupa untuk VOTE sebagai apresiasi dukungan buat author!