Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Manja


__ADS_3

Rania dan Bagas kini saling menatap satu sama lain. Bagas yang pikirannya sudah menuju ke arah mantap-mantap mencoba akan memainkan aksinya. Ia tidak perduli dengan kondisinya yang sedang sakit, ia pastikan miliknya itu sehat dan kuat.


Bagas mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Rania, kini hanya tinggal beberapa mili ruang yang tersisa di antara wajah mereka. Rania pun rupanya terbawa suasanya, sehingga mereka sampai melupakan ibunya yang ada sedang ada di sana.


KREKKK...


Suara pintu kamar mandi di buka, membuat mereka yang sudah masuk ke dalam dunia permatanpan akhirnya tersadar. Rania segera menjauhkan wajahnya dari wajah Bagas.


Ya ampun, apa yang baru saja akan aku lakukan. Istigfar, astagfirullaahal'adzim. Mana mungkin aku akan melakukan sesuatu dengan dia. Ih, membayangkannya saja aku sudah jijik.


Hah, lagi-lagi aku mengalami kegagalan ketika akan mencicipi tubuh yang sudah membuatku merasa tergiur. Aku akan mencoba mencari waktu yang tepat ketika melakukannya.


Bu Sari kembali dari kamar mandi, ia melihat barang bawaanya yang hampir di lupakan. Kemudian bu Sari membawanya ke dekat Bagas.


"Maaf ya, nak Bagas. Ibu gak bisa bawain apa-apa. Nak Bagas kan tahu sendiri kondisi ibu di sana bagaimana"


"Gak perlu repot-repot, bu. Aku cuma minta ibu datang ke sini. Bukan minta untuk ibu bawakan apa-apa"


Bu Sari tersenyum, "Ibu cuma bisa bawakan singkong, pisang, dan pete" kata bu Sari yang berusaha membuka dusnya.


"Apa? Pete? Jangan di buka, bu! Jangan!" kemudian Bagas langsung bangun dari tempat tidurnya berlari ke kemar mandi. Kedengarannya ia sedang muntah-muntah.


"Nak Bagas kenapa?" tanya bu Sari yang tidak tahu apa-apa.


"Rania juga gak tahu, bu. Mungkin dia gak suka sama pete, aroma pete, bu" Rania mencoba menahan tawanya agar tidak pecah.


Hahah, sekarang aku tahu. Selain jarum suntik ternyata kelemahan dia selanjutnya adalah pete. Makanan dengan bau yang khas dan enak, tidak begitu banyak orang yang mengetahui rasanya yang nikmat.


******


Sementara di rumah bu Sari, pak Burhan suaminya mencari keberadaannya. Ia berteriak memanggil namanya, membuat Nadira yang sedang tidur langsung terbangun.


"Ada apa, ayah? Kenapa teriak-teriak?"


"Ibu kamu mana?"

__ADS_1


"Memangnya ibu tidak cerita juga sama ayah?"


"Cerita? Cerita apa?" tanya pak Burhan kebingungan.


"Ibu lagi ke rumah suami Rania, tadi fi jemput sama sopirnya"


"Apa?"


"Iya, aku pikir ayah tahu"


Pak Burhan mengepal kedua tangannya, rupanya ia marah karena istrinya tidak memberi tahu kalau dia akan pergi ke rumah menantu yang tajir melintir itu.


"Kamu tahu alamat rumahnya di mana?"


Nadira mengedikkan bahunya sebagai jawaban kalau dirinya tidak tahu.


"Heh, sialan!" geram pak Burhan sambil menendang kaki kr sembarang arah.


Bu Sari memang sengaja tidak memberitahu suaminya, alasannya selain dadakan dan ia sedang tidak ada di rumah tadi, bu Sari juga takut jika suaminya ikut yang ada semuanya jadi riweuh. Tahu sendiri kan pak Burhan itu pasti akan meminta-minta uang pada Rania, atau bahkan bisa saja minta langsung ke Bagas.


*****


Bu Sari terus saja meminta maaf pada sang menantu karena ketidak tahuannya. Bagas masih diam saja dan semenjak keluar dari kamar mandi ia kembali membaringkan tubuhnya.


"Tidak apa-apa, bu. Tapi aku minta satu hal sama ibu"


"Apa nak Bagas?"


Bagas menatap mata bu Sari lekat.


Semoga saja dia tidak meminta hal yang aneh-aneh. Rania mulai khawatir jika Bagas akan meminta hal yang tidak masuk akal.


"Aku minta untuk kali ini saja, ibu nginap di rumahku!"


Rania yang mendengarnya langsung bengong.

__ADS_1


Apa? Minta ibu untuk menginap di sini? Bagaimana jika ibu nanti bertemu lagi dengan kakak ipar. Aku mohon jangan, jangan biarkan ibu di hina lagi seperti tadi. Dadaku sakit, hatiku hancur melihatnya.


"Tapi, nak Bagas. Ibu.." Bagas memotong kalimat bu Sari, "sudah, ibu harus mau untuk malam ini saja!"


Bu Sari menatap Rania dengan tatapan bingung, apa ia harus menuruti permintaan menantunya? Tapi jika ia tolak, tidak enak juga. Bagaimanapun Bagas adalah orang yang telah menyelamatkan nyawanya, rupanya jika ia harus balas budi, itupun tidak akan seberapa dan tidak ada apa-apanya.


"Ya sudah kalau begitu" jawab bu Sari yang masih ragu untuk mengatakan iya.


Bagas malah bangun dari tidurnya dan langsung memeluk tubuh bu Sari. Tubuh sosok ibu yang amat ia rindukan selama hidupnya. Rania yang menyaksikannya merasa sangat terharu, seorang tuan tajir yang rumornya sangat baik tapi aslinya dingin, kejam, jahat, seketika dapat di luluhkan hatinya oleh sebuah kasih sayang yang tulus. Manusia yang awalnya Rania pikir bukan manusia, tidak punya hati dan perasaan, ternyata masih bisa menjatuhkan air matanya.


Bu Sari melepaskan pelukannya pelan, kemudian bu Sari menyentuh pipi Bagas, "ingat! Kamu harus jagain puteri kesayangan ibu sebagaimana ibu menjaganya!"


"Baik, bu"


Suasana seketika berubah menjadi mengaharukan bukan lagi mengerikan, tiba-tiba bu Sari ingat bahwa ia tidak memberi tahu suaminya ketika akan pergi ke sini. Bu Sari meminta Rania untuk menghubungi abangnya bahwa dirinya akan menginap.


"Biar aku yang atur semuanya, bu!" ucap Bagas.


Kemudian Bagas mengambil ponsel di sampingnya yang ia taruh di atas meja kecil. Bagas menelpon seseorang yang sudah dapat di pastikan bahwa dia mampu mengatasi semuanya.


Pintu di ketuk oleh seseorang, dan setelah di ijinkan untuk masuk, pelaku pengetuk pintupun masuk dengan membawa semangkuk bubur di nampan. Rania mengambil mangkuk bubur itu untuk makan siang Bagas yang akan minum obat, kemudian dang pelayan kembali ke asalnya.


"Aku minta ibu saja yang menyuapiku!" pinta Bagas pada Rania agar yang menyuapinya kali ini bu Sari.


"Gak usah, saya saja. Kau jangan bikin ibu repot ya, ibu juga jangan terlalu cape. Rania gak mau kalau ibu sakit lagi"


"Tidak apa-apa, Rania. Sini, biar ibu saja"


Bu Sari mengambil semangkuk bubur itu di tangan Rania, kemudian dengan sangat hati-hati bu Sari menyuapi Bagas. Sudah seperti layaknya ibu dan anak sendiri.


Seorang tuan tajir yang kejam, bisa manja juga dia. Awas aja ya, kalau kau terus ngerepotin ibu.


Bersambung...


#CUAP-CUAP_AUTHOR

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, tambahkan je favorit. Klik nama saya juga di bawah cover TUAN TAJIR dan klik ikuti😊


Bersiaplah untuk membaca crazy up, semoga tidak akan sampai kecapean bacanya😁


__ADS_2