
Rania keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Setelah sampai di ruang tamu, dengan cepat pelayan yang bertugas menjaga pintu langsung membukakan pintu untuk nonanya yang akan keluar. Rania menyapa pelayan itu dengan senyuman, sang pelayan tentunya memberi senyuman balik dan membungkukan tubuhnya sekilas.
Rania pergi ke ruangan tempat sopir beristirahat di sana, kebetulan ada 2 orang supir lagi di sana. Jumlahnya ada 4 orang supir, karena 2 orangnya lagi sedang bertugas mengantar sekretaris Frans dan Brahma tentunya.
"Permisi, pak!" ucap Rania sopan, tidak lupa Rania juga memberi senyum ramah pada mereka.
Dua orang sopir yang ada di sana seketika terkejut dengan kedatangan nona rumah yang tiba-tiba. Karena biasanya nona rumahnya kalau mau bepergianpun tidak pernah mau memakainya sebagai sopir. Nonanya lebih memilih naik angkutan umum di bandingin di sopiri oleh mereka.
"Iya, nona" jawab mereka langsung memberi sikap hormat kepada nona rumah.
"Saya minta tolong salah satu dari pak sopir untuk menjemput ibu saya. Bisa, pak?"
"Dengan senang hati saya pasti akan melakukan tugas dari nona. Karena itu sudah menjadi kewajiban saya dalam melakukan pekerjaan. Jangan sungkan untuk meminta saya mengantar ataupun menjemput nona sekalipun" jawab salah seorang sopir.
"Terima kasih pak. Kalau begitu bapak sekarang bisa langsung jemput ibu saya di alamat XXX"
"Baik, nona"
"Saya permisi ya, pak"
"Iya"
Rania kembali memasuki rumah, tentunya sang pelayan penjaga pintu kembali melakukan tugasnya untuk membukakan pintu. Rania kembali menaiki anak tangga untuk sampai ke kamarnya.
Baru saja Rania menutup pintu kamar, ia mendapat perintah lagi dari Bagas.
"Katakan pada pelayan untuk masak yang dan paling enak! Kita akan kedatangan tamu istimewa hari ini" perintah Bagas dari balik selimut. Rupanya ia tidak tidur dan tahu Rania sudah kembali ke kamar.
"Baik, tuan" mau tidak mau Rania harus keluar lagi dari kamarnya dan menuruni anak tangga.
Huh, coba aja kamarnya di bawah saja. Mungkin gak harus cape-cape bolak-balik naik turun tangga. Emangnya lagi program diet apa, harus olahraga naik turun tangga. Yang ada nih betis lama-lama bakal kayak timbel nasi.
Rania sampai di dapur, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan bi Asih. Setelah di cari-cari dari sekian banyaknya pelayan, mata Rania tetap saja tidak menemukan sosok bi Asih. Karena hanya bi Asih saja satu-satunya pelayan yang sudah cukup di kenal oleh Rania.
__ADS_1
Bi Asih kemana, ya? Apa dia sedang mengerjakan pekerjaan lain? Ya sudah lah, aku sampaikan pada pelayan yang itu saja.
Mata Rania tertuju pada 2 orang pelayan yang sedang jongkok dan sibuk menata bahan masakan di lemari es besar. Kemudian ia menghampirinya.
"Permisi, bi"
Dua pelayan itu menoleh dan langsung berdiri dari jongkoknya, ia langsung menundukan kepalanya.
"Iya, nona. Ada yang bisa saya bantu?" jawab salah satu dari mereka.
"Saya hanya ingin menyampaikan pesan tuan, hari ini kita akan kedatangan tamu paling istimewa. Tuan minta hari ini kalian masak yang banyak dan paling enak!"
"Siap, nona. Kami akan melakukan tugas sesuai permintaan"
"Terima kasih"
"Iya, nona"
Rania memejamkan matanya, ia masih gelisah. Rania masih takut dengan nanti kedatangan ibunya yang akan di perlakukan buruk oleh tuan rumah di sini.
Eh, tapi tunggu sebentar deh. Tadi tuan bilang hari ini rumah akan kedatangan tamu istimewa. Apa mungkin itu ibu ya? Siapa lagi? Tapi masa iya dia menganggap bahwa ibu tamu istimewanya. Ah, sudahlah. Semoga saja tamu yang menurut dia istimewa itu benar-benar ibu. Bukan orang lain lagi.
******
Suara mobil terparkir di halaman rumah bu Sari. Bu Sari yang mendengarnya segera keluar dari rumah dengan membawa beberapa dus sebagai barang bawaannya.
Nadira yang melihat ibunya sudah rapih di tambah ada beberapa barang yang sudah di packing merasa kebingungan. Kemana ibunya akan pergi. Sebelumnya bu Sari belum cerita pada anak keduanya itu tentang dirinya yang di minta untuk datang ke tempat kediaman menantunya.
Ibu mau kemana ya? Kok kayaknya ibu mau pergi jauh. Terus itu mobil siapa yang parkir di sini. Aku langsung tanya ibu aja deh.
"Bu, ibu mau kemana?" tanya Nadira masih melihat penampilan bu Sari dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Oh, iya. Ibu belum sempat bilang ya sama kamu Nad? Tadi Rania telpon, katanya ibu harus datang ke sana" jelas bu Sari.
__ADS_1
"Untuk apa? Kok mendadak, apa Rania baik-baik aja bu?" tanya Nadira berbondong-bondong.
"Rania kayaknya baik-baik aja dari suaranya, tapi ibu k sana atas permintaan nak Bagas"
"Bagas?" tanya Nadira semakin di buat bingung.
"Iya, Nad. Kalau begitu ibu berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum" pamit bu Sari pada Nadira.
"Iya, bu. Waalaikum salam" jawab Nadira yang sebenarnya masih kebingungan dengan kepergian ibunya yang begitu mendadak.
Pak sopir yang bertugas menjemput bu Sari segera memasukkan barang bawaan ke dalam bagasi. Setelah itu ia membukakan pintu mobil untuk bu Sari.
"Terima kasih, pak" ucap bu Sari ketika pak sopir membukakan pintu untuknya.
Pak sopir hanya mengangguk dan sedikit membungkukkan tubuhnya sebegai hormat. Kemudian pak sopir masuk dan mengemudikan mobilnya. Mobilpun keluar dari area halaman rumah, melewati segerombolan ibu-ibu rempong si biang gosip yang sudah pasti akan kembali menggosipkan tentang keluarga bu Sari.
Semoga ibu baik-baik aja di sana. Batin Nadira.
Sepanjang jalan, tidak ada pembicaraan antara bu Sari dan pak sopir. Bu Sari hanya duduk bersandar ke sandaran kursi sambil melihat ke luar jalan melalui kaca mobil, jalan yang begitu ramai oleh kendaraan.
Sebelumnya bu Sari tidak pernah menaiki mobil semewah ini, bahkan ketika menghadiri acara pernikahan anaknya sendiri yaitu Rania. Ia dan keluarganya datang naik angkutan umum. Apalagi melalui jalan kota seperti sekarang ini, rasanya ini adalah untuk yang pertama kalinya.
Bu Sari tersenyum kagum, kagum dengan sang pencipta yang begitu indah dengan segala ciptaannya. Lalu, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan.
Bersambung...
#CUAP-CUAP_AUTHOR
Maaf ya readers setia TUAN TAJIR. Hari kemarin saya tidak bisa up, saya lagi sakit. Jadi saya tidak sempat bikin naskah, ini juga saya sempatkan bikin naskah untuk mengobati kerinduan kalian terhadap Rania dan Bagas. Saya takut kalian kecewa kalau saya lama tidak up, nanti kalau saya sudah sembuh total, saya up lagi seperti biasa dan di tambahin lebih banyak.
Like, vote, komen, dan tambahkan ke favorit ya bagi yang belum.
Terima kasih.
__ADS_1