
"Lagi ngapain?" tanya Arsilla basa-basi, ia meraih apel yang ada di meja kemudian menggigitnya.
"Ini, aku lagi lihat-lihat gambar rumah. Semuanya bagus-bagus. Rencananya juga aku dan Bagas mau pindah rumah, ayah juga sudah beri kami ijin," jawab Rania dengan semangat untuk menceritakan.
"Apa? Pindah rumah?" Arsilla terlihat terkejut dan seolah tidak percaya.
"Iya. Memangnya kenapa, kak?" Rania menatap Arsilla penuh tanya.
"Ti-tidak. Ma-maksudku kenapa mendadak?" jawab Arsilla terbata-bata.
"Itu Rencana Bagas, kak. Aku sebagai istrinya ikut saja kemana pun dia membawaku pergi."
"Oh. Rumah barunya alamat mana?" tanya Arsilla penuh penasaran.
Rania menggeleng. "Belum tahu. Sepertinya belum dapat, deh. Soalnya Bagas belum memberitahuku juga," jawab Rania jujur.
"Kalau sudah dapat, jangan lupa untuk memberitahuku, ya!" pinta Arsilla penuh harap.
"Siap, kakak ipar!" balas Rania dengan gaya seperti menghormat.
"Boleh aku lihat juga gambar-gambar rumahnya? Siapa tahu bisa kasih saran mana yang bagus."
"Boleh." Rania duduk bergeser lebih mendekat dengan Arsilla untuk melihat gambar di majalah itu secara bersama-sama.
***
"Saya sudah menemukan rumah sesuai permintaan anda, tuan!" ujar sekretaris Frans pada Bagas, kini mereka tengah berada di sebuah kafe.
"Kau sudah menghubungi pemiliknya?" tanya Bagas sambil meraih gelas berisi kopi pesanannya.
Sekretaris Frans berdecak. "Itu dia, tuan. Saya sudah menghubunginya kemarin sore saat masih berada di depan rumah itu. Namun, saya malah bicara dengan wanita bayaran yang siap melayani seseorang dengan
puas." Wajahnya terlihat kesal jika membahas soal kemarin.
Bagas langsung menyemburkan kopi yang sedang ia seruput, dan tepat mengenai wajah sekretarisnya setelah mendengar perkataan sekretaris Frans.
"Maksud kau?" tanya Bagas nampak tidak mengerti.
Sekretaris Frans mematung, wajahnya berlumuran cairan kopi akibat semburan dari tuannya.
"Maafkan aku!" Bagas segera meminta tisu kepada salah satu pelayan di sana. Begitu pelayan kembali untuk menyerahkan tisu, ia menyembunyikan tawanya ketika melihat wajah sekretaris Frans.
"Berikan padanya!" titah Bagas pada pelayan itu.
__ADS_1
Sekretaris Frans segera menerima tisu tersebut dan dengan cepat membersihkan wajahnya menggunakan tisu itu sampai benar-benar bersih, kinclong, dan glowing. Pelayan itu sampai terpesona melihat ketampanan sekretaris Frans sebelum akhirnya ia di usir dari tempat berdirinya saat itu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Frans! Cepat katakan bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Bagas tidak sabar untuk mendengarkan.
"Kemarin saya menghubungi nomer yang tercantum di sana, namun sialnya saya salah mengetikan ujungt nomer itu yang seharusnya enam delapan menjadi enam sembilan. Begitu, tuan!" jelas sekretraris Frans.
"Dan kau nyasar ke wanita bayaran dan siap melayanimu? Haha, kenapa kau tidak terima saja penawarannya? Lumayan, tuh!" goda Bagas pada sekretarisnya.
"Sembarangan, untukmu saja, tuan!" pekik sekretaris Frans. Jangankan untuk melayani wanita itu, baru mendengar suaranya saja ia sudah bergidik jijik.
"Haha..santai, Frans! Jangan lupa simpan kontaknya, siapa tahu suatu saat nanti kau membutuhkan! Haha.." Bagas tekekeh melihat raut wajah sekretarisnya yang semakin kesal itu.
Sekretaris Frans memilih diam daripada mendengarkan ocehan tuannya yang terus saja menyindirnya. Ia juga mengerucutkan bibirnya karena tuannya ini terlihat sangat menyebalkan. Sesekali ia meneguk kopi pesanan yang sama dengan Bagas.
"Jadi gimana, Frans? Kau sudah menghubungi pemilik rumah itu?" tanya Bagas, kali ini serius.
"Belum."
"Kenapa? Takut wanita bayaran lagi yang angkat telponnya?" Bagas kembali tertawa, namun segera ia hentikan untuk membahas soal rumah barunya dengan serius.
"Kau saja yang menghunginya, tuan! Saya kirim kontaknya saja," ujar sekretaris Frans segera merogoh ponsel di sakunya. "Sudah, tuan!" katanya lagi setelah terlihat selesai mengirim kontak pemilik rumah yang akan Bagas beli, dan notifikasi pesan masuk langsung bergetar di ponsel milik Bagas.
"Huh..apa gunanya kau? Kalau menghubungi seseorang saja harus aku sendiri yang turun tangan!" gerutu Bagas, ia tidak mengecek ponselnya yang sudah mendapat notifikasi dari sekretarisnya.
Sekretaris Frans menggigit bibirnya kuat-kuat, untuk menahan sebuah senyuman yang entah apa sebabnya?
***
"Ada apa? Kenapa kau marah-marah?" tanya Rania berjalan mendekat suaminya yang masih berdiri di depan sofa.
"Frans, sialan tuh!" makinya, wajahnya terlihat lebih kesal daripada ekspresi wajah sekretarisnya tadi sore.
"Kenapa dia?" Rania mengajak suaminya untuk duduk di sofa, dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku suruh dia buat cari rumah. Dia sudah menemukan rumah sesuai permintaanku."
"Lalu? Kenapa kau malah marah-marah padanya?" Rania di buat bingung.
"Dia menelpon pemilik rumah itu, namun dia salah memasukan ujung nomernya. Lalu dia salah sambung dan yang ia telpon malah wanita bayaran yang bisa memuaskan birahi seorang pria."
"Lalu?"
"Dia sudah gila. Memberiku nomer yang sama dengan orang yang ia telpon. Dan barusan, aku mengalami hal yang sama dengan Frans. Di tawari pemuas birahi, sialan! Tidak tahu apa? Istriku lebih memuaskan daripada dia!" Bagas terus menggerutu, dan ia malah membandingkan istrinya dengan wanita bayaran itu.
__ADS_1
"Lah, kenapa jadi bawa-bawa aku?" protes Rania tidak terima.
"Salahkan saja, si Frans sekretaris somplak itu! Bisa-bisanya dia mengelabuhi tuannya sendiri!"
Mendengar itu, Rania jadi membayangkan wajah sekretaris Frans sedang ada di hadapannya.
"Jadi pengen tonjok muka Frans, deh! Gimana dong?" ujar Rania ngidam aneh lagi, dan sekretaris Frans yang akan jadi korban aksi ngidam selanjutnya.
"Kita akan melakukannya sama-sama, sayang! Kita tonjok tuh wajah Frans dengan sekuat tenaga. Menggunakan jurus andalan dari...siapa ya? Ah, siapa saja boleh deh. Yang penting jurus andalan saja," ujar Bagas dengan berlaga menjadi seorang petinju, berubah lagi menjadi seorang bruce lee. "Wacaw."
***
Pagi harinya, Rania ikut ke gedung Briliant Group bersama Bagas. Sengaja, tidak meminta sekretaris Frans yang biasa menjemputnya dengan sopir, untuk memberi kejutan yang akan menjadi kesan yang begitu berharga dalam hidup seorang sekretaris Frans.
"Selamat pagi, Frans!" sapa Bagas dan Rania yang sedang duduk di sofa langsung berdiri ketika sekretaris Frans masuk ke dalam ruang pribadi Bagas, setelah beberapa menit lalu di minta untuk datang ke sana.
"Selamat pagi, tuan, nona!" balas sekretaris Frans dengan wajah aneh, tidak biasanya tuannya ini menyapanya dengan kalimat seindah itu, di tambah lagi nonanya yang ikut serta.
"Kemarilah, Frans!" pinta Bagas sambil menjentikkan jarinya pada sekretaris Frans yang masih berdiri di ambang pintu. Ia segera menutup pintu ruangan itu dan berjalan mendekat pada tuan dan nonanya.
"Berdiri di hadapan istriku dengan jarak kira-kira setengah meter, Frans! Dan tutup kedua matamu!" titahnya, membuat sekretaris Frans semakin bingung saja.
"Tunggu, tuan! Ada apa?" tanya sekretaris Frans, sepertinya ada sesuatu yang tidak mengenakan ini.
"Sudah, lakukan saja! Istriku akan memberimu kejutan yang indah."
Sekretaris Frans melirik kedua tangan Rania yang di sembunyikan ke belakang, sepertinya ia benar-benar akan mendapat kejutan.
"Baik, tuan." sekretaris Frans menurut saja dengan perintah tuannya. Ia memang tidak pernah membantah.
Begitu sekretaris Frans sudah memejamkan kedua matanya. Rania menoleh pada suaminya, dan mendapat anggukan kode keras untuk segera memberikan kejutan itu. Rania segera mengelus kepalan tangannya, dan memberi sebuah mantra "hah" pada kepalan tangannya tersebut. Sebelum sekretaris Frans membuka matanya kembali, ia harus segera memberi kejutan itu, dan.
Buugghhh..
Sebuah tonjokan tepat mengenai sasaran. Si pelaku langsung tersenyum puas. Sedangkan si korban membuka matanya sempurna, dengan mulutnya yang menganga. Ini lebih buruk dari yang ia bayankan. Sebuah kejutkan yang begitu mengejutkan. Ia benar-benar terkejut, sepagi ini sudah sudah mendapat nasib buruk. Nasib oh nasib. Sabar, orang sabar rejekinya lebar. Itu bukan keinginan Rania, tapi si jabang bayi. Iya, si jabang bayi. Salahin aja terus yang di dalam perut.
Sementara Bagas adalah orang yang menjadi tersangka. Rupanya ia yang menjadi dalang dari sebuah penonjokan ini. Ia yang sudah membuat Rania ikut hanyut dalam kekesalannya. Ia harus di hukum dan di jerat pasal berlapis. Ah, entahlah.
.
.
.
__ADS_1
Coretan Author:
Nabung poin, ya! Biar bisa VOTE sebanyak-banyaknya. Jangan lupa follow akun instagram wind.rahma