Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Kecupan


__ADS_3

Setelah memuntahkan semua martabak yang telah di telan oleh Rania, ia kembali duduk di sofa. Bagas yang melihat istrinya muntah-muntah akibat memakan makanan yang di bawakannya langsung saja meminta maaf.


"Maafkan aku! Aku tidak bermaksud membuatmu seperti itu. Aku pikir kan kau menyukainya seperti orang lain yang rela mengantri sepanjang 10 meter untuk mendapatkannya"


Rania melirik Bagas sekilas, ia sebenarnya masih kesal kenapa Bagas tidak memberi tahunya dari awal. Enak sih enak, tapi enek juga kalau tahu itu di buat dari telur angsa. Bukan apa-apa, ya gak tahu aja kenapa rasanya jadi enek.


Karena tidak ada jawaban atas permintamaafannya, akhirnya Bagas meraih tangan Rania dan menggenggamnya.


"Kau dengarkan aku bicara kan? Aku bilang maafkan aku!"


Rania masih saja kesal dengan apa yang di lakukan Bagas. Ia memutuskan untuk diam saja sementara.


"Hey, sayang!" Bagas mencoba merayu.


Lagi-lagi Rania harus mendengar kata-kata itu dari mulut Bagas, sebuah kata yang menusuk pendengarannya hingga menancap di hatinya. Sebuah kata yang membuat jantungnya berdetak kencang, di tambah lagi tiba-tiba Bagas mendekap tubuh Rania. Membuat Rania tidak dapat berkutik, tubuhnya merasa beku, nafasnya seketika tidak beraturan.


Eh ya ampun, apa yang dia lakukan? Kenapa aku tidak dapat menolak pelukannya ini, kenapa tiba-tiba saja tubuhku membeku?


Bagas mendekatkan bibirnya ke telinga Rania dan membisikan kata,


"Maafkan aku, sayang! Sebagai penebusnya aku akan membawamu besok ke sebuah tempat yang akan membuatmu terkesan"


Belum sempat Rania membalas pelukan Bagas, tapi Bagas sudah melepaskan pelukannya. Tapi kedua tanganya belum ia lepaskan dari bahu Rania. Bagas menatap mata indah Rania, tapi Rania tidak dapat melakukan yang sama dengan Bagas. Rania menundukan wajahnya, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan dirinya, dengan Bagas.


"Percayalah!.." ucapnya, tapi seperti menggantungkan kalimatnya.


"Ayah dan kakak sudah menunggu kita untuk makan malam, mereka bisa mati kelaparan kalau kita tidak segera turun juga"


"Lagian gak usah baper sampai segitunya, ini itu belum ada apa-apanya. Aku akan membuatmu lebih gila dari pada aku. Aku ingin menjadikan kita itu pasangan terfavorit. Minimal se-ASIA tenggara" sambungnya lagi.


Huh dasar, emang pada dasarnya kau itu gila tuan. Lagian siapa yang baper, biasa aja kok.


*****


Benar saja, ketika mereka berdua turun dari tangga, ayah dan kakak nya sudah menunggu di sana di meja makan. Tanpa menunggu apa-apa lagi karena hidangan sudah siap dan sebentar lagi dingin, mereka langsung melaksakan makan malam.


Setelah selesai makan, ayah dan kakak ipar Rania yang sudah kembali ke kamarnya, Rania dan Bagas pun kembali ke kamar. Kini giliran para pelayan di sana yang bertugas membereskan piring dan sisa makanan.

__ADS_1


"Dari awal pernikahan, saya tidak pernah melihat tuan dan bersikap layaknya pasangan suami istri" kata pelayan yang sedang menata piring kotor.


"Iya, kenapa ya? Malahan semenjak ada nona di sini, sering terjadi keributan di rumah ini" ujar pelayan yang lain.


"Hus, pelan-pelan, gak boleh ngomong begitu! Ya memang kita gak pernah tuan dan nona bersikap layaknya suami dan istri seperti pada umumnya, tapi kita kan gak tahu ketika mereka ada di atas ranjang"


"Hahaha" mereka tertawa geli mendengar perkataan konyol pelayan barusan.


"Ada apa ini?" tanya bi Asih yang baru saja datang dari dapur, "kok terlihat senang kayak gitu?"


Para pelayan yang tadi membicarakan tuan nonanya saling menatap satu sama lain,


"Tidak ada apa-apa, kita cuma aneh aja sama tuan dan nona. Kenapa, ya, mereka itu gak pernah terlihat mesra gitu?"


Bi Asih menghela nafas panjang, "kalian ini ada-ada saja. Ya memangnya kalau mereka mau mesra-mesraan harus di depan pelayannya?"


Kemudian pelayan-pelayan itu mengangguk-anggukan kepalanya


"Iya juga, ya. Ah kamu sih ada-ada aja" jawab pelayan itu kepada pelayan yang tadi memulai pembicaraan.


"Kamu juga!"


Akhirnya mereka saling tuduh, bi Asih segera memberhentikannya.


"Hey, sudah-sudah! kalian ini kayak anak kecil saja. Sekarang kembali ke dapur dan bersihkan semuanya. Lain kali gak usah bahas kayak gitu lagi, kalau sampai terdengar oleh tuan, memang kalian mau di pecat?"


"Tidak!"


"Saya gak mau!"


"Makanya kita kerjakan saja tugas masing-masing. Tidak perlu macam-macam ini itu, apalagi membicarakan tuan rumah!"


"Baiklah"


Akhirnya mereka menurut dengan perkataan bi Asih. Bi Asih memang pelayan senior di sana, yang paling bertahan lama karena tidak pernah berbuat macam-macam.


*****

__ADS_1


Di kamar, Rania membaringkan tubuhnya di sofa dan kembali menonton drakor yang sempat tertunda tadi, kini ia memakai earphone agar tidak ada lagi yang dapat mengganggunya. Bagaspun membaringkan tubuhnya dan asik memainkan ponselnya.


Beberapa menit kemudian, Bagas meletakkan ponselnya di atas meja kecil samping tempat tidur. Sebelum memejamkan mata, Bagas melirik ke sofa untuk melihat istrinya. Ia langsung bangkit dari tidurnya ketika melihat istrinya sudah tidur lelap.


Bagas mengambil selimut miliknya, lalu berjalan mendekat sofa, ia menatap wajah istrinya.


"Cantik" gumam Bagas.


Melihat ponselnya yang masih menyala, Bagas langsung saja mengambilnya dan menatap layar ponsel. Sedetik kemudian Bagas tersenyum,


"Dasar perempuan, udah punya suami tampan se-ASIA aja masih suka dengan pria korea!"


Bagas menarik earphone yang masih terpasang di telinga Rania, kemudian mematikan ponselnya. Bagas memandangi sekujur tubuh Rania, dan ia menyelimutinya.


Bagas sedikit membungkukan tubuhnya ke arah wajah Rania, inilah saatnya waktu yang ia tunggu-tunggu untuk mencipipi bagian dari tubuh Rania. Dan akhirnya,


"Mmuachh"


Itulah yang terdengar barusan selain detik jam dalam keheningan malam di ruangan itu. Merasa keinginannya telah tercapai, Bagas kembali ke tempat tidurnya. Sebelum itu ia juga mengucapkan,


"Selamat tidur, sayang. Semoga mimpi aku!"


Bagas kembali membaringkan tubuhnya, lalu memejamkan matanya.


Beberapa detik kemudian, sebelah mata Rania terbuka, seperti sengaja sedang mengintip sesuatu atau bisa jadi seseorang. Karena merasa aman, Rania bangun dan duduk. Melihat Bagas yang sepertinya sudah sudah tidur. Kemudian Rania tersenyum.


Ternyata dia benar-benar sudah berubah, sudah bukan lagi pria dengan sifat yang mengerikan. Yang selalu membuatku menderita, menangis setiap hari. Semoga saja kau berubah untuk selamanya, bukan hanya untuk sesaat. Apalagi hanya untuk menerbangkan aku lalu di jatuhkan.


Rania mengusap keningnya yang tadi di sentuh oleh sesuatu yang lembab. Ia mencium tangan yang baru saja menyentu keningnya, dan


Hoekkk...


"Bau jigong!"


Bersambung...


#CUAP-CUAP_AUTHOR

__ADS_1


Maaf ya saya telat up. Semoga tetap suka.


Like, vote, tambahkan ke favorit untuk yang belum menambahkan ke rak buku, agar selalu dapat notifikasi ketika up.


__ADS_2