Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Pisau


__ADS_3

Air mata Rania kini menderas tak menyurut, ia menangis di pojokan ruangan itu. Mereka bertiga mengurung Rania dengan berdiri di hadapannya. Rasa sakit dan kekecewaan Rania terhadap Hisam kini mulai menggelapkan hati dan pikirannya. Napasnya mulai terasa berat, kian menyesak.


"Sebelum aku melenyapkan kamu, Rania. Aku akan memberimu hadiah," tuturnya dengan suara yang lembut, tapi begitu mematikan.


"Apa itu, Hisam?" Rania kembali menjauhkan dirinya ketika Hisam berusaha mendekatinya.


Hisam mengunci kontak matanya dengan Rania, sehingga Raniapun sama sekali tidak mengalihkan pandangannya. Pria itu kini terlihat mengambil sesuatu di saku belakang celananya. Sebuah benda yang di bungkus oleh kain berwarna hitam, kini sudah ada di tangannya.


Senyuman menyeringai di wajah pria itu, begitupun dengan Arsilla dan Hera yang kian menyaksikannya. "Ini hadiah untukmu, Rania," katanya sambil menjulurkan benda yang belum di ketahui namanya itu pada Rania.


"A-apa, i-itu, Hisam?"


Perlahan tangan Hisam membuka kain berwarna hitam yang membungkus benda itu. Kedua bola mata Rania di buat membulat sempurna, saat ia melihat sebilah pisau yang berukuran besar nan cukup panjang mengkilat-kilat karena menunjukan ketajamannya.


"Hisam, cepat katakan! Hadiah apa yang kamu maksud itu?" Rania semakin di buat ketakutan, tangannya yang di ikat mengeluarkan keringat dingin.


"Pisau ini?" Hisam masih menjulurkan benda itu kepada Rania. "Pisau ini untuk membuatmu menderita terlebih dahulu, sebelum akhirnya kamu benar-benar lenyap dari muka bumi." Senyuman penuh kegilaan menyeringai di wajah Hisam.


"Ide yang sangat bagus, Sam!" sahut Hera, ia melipat kedua tangannya di dada.


"Ternyata kamu bisa di andalkan juga, aku akan menyesal jika hari itu menolak ajakanmu untuk bergabung sama-sama menghabisi gadis kampung ini!" Arsilla pun ikut menimpali.


"Hisam, aku mohon, jauhkan sekarang juga pisau itu dari aku!"


"Sayangnya aku tidak akan pernah menjauhkan pisau ini darimu, Rania," Hisam terus saja terbahak seperti orang yang benar-benar sudah kehilangan akal.


"Lakukan itu berulang kali, Sam. Terus buat gadis itu semakin ketakutan, aku sangat terhibur dengan ini. Hahaha.." Hera juga ikut tertawa seperti orang yang sakit jiwa.


"Menyenangkan sekali, bukan?" Hisam menoleh pada kedua wanita di sampingnya.


"Tentu saja." ucap kedua wanita tersebut.


"Kemu dengar sendiri kan, Rania? Kalau mereka berdua sangat senang melihat kamu menderita, apalagi aku."


"Hisam, apa kamu benar-benar sudah tidak waras, hah? Sampai kamu melakukan hal di luar kendali kamu? Kamu bukan Hisam yang aku kenal!" Rania mencoba menyadarkan Hisam, namun semuanya sia-sia, karena pria itu sudah di kuasai oleh amarah.

__ADS_1


"Apa kamu bilang, Rania? Aku bukan orang orang yang kamu kenal? Hahaha, kamu salah, Rania. Kamu yang tidak pernah mengenal siapa aku? Dan aku akan melakukan hal semacam ini jika ada orang yang berani menyakiti hatiku!" Hisam membentak Rania, ia semakin mendekatkan sebilah pisau itu pada Rania.


Rania terisak, sepertinya ia harus mengulur waktu. Siapa tahu Bagas sedang mencari keberadaannya, ia berusaha optimis kalau Bagas pasti akan datang untuk menyelamatkannya. Ya, itu pasti akan terjadi.


"Aku tidak pernah merasa menyakiti kamu, Hisam! Aku juga tidak pernah tahu kalau kamu suka sama aku. Kamu baru bilang di acara perpisahan angkatan kita waktu itu, di saat aku sudah memiliki seorang suami. Jadi, salah aku di mana?"


Hisam tertegun, yang di katakan Rania ada benarnya juga. Ia memang tidak pernah bicara pada Rania tentang perasaannya, ia hanya memendam sendirian. Tapi pikiran itu segera di tepis kasar oleh dirinya, ia tidak boleh terpengaruh dengan apa yang di ucapkan Rania.


"Aku tidak perduli dengan ucapanmu, Rania. Karena yang aku inginkan saat ini adalah membuatmu menderita, menangis dan berteriak dalam ketakutan besar, setelah itu aku akan melenyapkanmu."


"Tunggu apalagi, Hisam! Jangan banyak bicara, cepat lenyapkan gadis ini! Apa perlu aku yang melenyapkan dia? Tanganku rasanya sudah untuk menancapkan benda tajam itu di perutnya, agar bayinya juga ikut lenyap dengan dia!" pekik Arsilla, ia menatap Hisam dengan sorot mata tajam. Bagaimana kalau sampai ada orang yang mengetahui keberadaannya sebelum Rania bisa di pastikan lenyap?


"It's okay, aku pasti akan melakukannya. Tapi aku butuh waktu sebentar lagi, aku senang melihatnya menderita ketakutan seperti ini." Hisam kembali mengalihkan pandangannya kepada Rania.


Hisam mulai mengikis jarak, sehingga jaraknya dengan Rania kini hanya tinggal beberapa senti saja.


"Hisam, tolong jangan berbuat hal buruk kepadaku." Rania memohon dengan bibir yang gemetar, beserta dengan air mata yang mengalir melewati dagunya.


"Rania, kenapa kamu terus saja menangis? Apa aku terlihat semenakutkan itu?" Rania membuang wajahnya ketika Hisam mengusap air matanya.


"Apa jadinya kalau benda tajam ini sampai menggores wajahmu? Pasti kamu tidak akan pernah lagi memiliki wajah cantik ini, dan kamu meringis kesakitan. Lalu kembali memohon padaku, atau kamu akan sujud agar aku tidak akan pernah melakukannya. Hahaha, ini akan sangat menyenangkan, Rania," Hisam benar-benar sudah tidak waras, hanya karena dia tergila-gila sama Rania, menjadikan dirinya gila beneran.


Mata Hisam yang memerah kini melotot tajam ke arah Rania, rahangnya mengeras tersulut emosi dan rasa dendam.


Rania berteriak saat pisau yang di pegang Hisam nyaris menyentuh bagian tubuhnya. Ketakutan Rania semakin menjadi-jadi.


***


Bagas menghentikan mobilnya di dekat gedung tua sesuai lokasi pada GPS yang ia pasang di ponsel Rania. Ia menatap ke luar kaca dan melihat ke sekitar, tempat itu sangat menyeramkan. Gelap, sepi, hanya ada mobil-mobi rusak nan usang yang di sudah di tumbuhi alang-alang.


Bagas kembali melihat titik lokasi keberadaan istrinya di ponsel, itu sudah semakin dekat. Rupanya Rania ada di sekitar sana. Ia segera membuka sabuk pengaman yang melilit tubuhnya, kemudian membuka dan menutup pintu mobil secara perlahan.


Bagas mengedarkan pandangannya, kemudian tiba-tiba saja matanya tertuju pada sebuah mobil berwarna hitam yang ikut berjajar dengan mobil-mobil usang itu. Bagas mengerutkan dahinya. "Apa jangan-jangan itu mobil yang membawa Rania ke sini?"


Tanpa pikir panjang, Bagas berjalan mengendap-endap menghampiri mobil tersebut. Dengan sesekali menatap layar ponselnya, untuk memastikan titik lokasi keberadaan Rania. Dan benar, semakin ia melangkah mendekati mobil tersebut, jaraknya pada titik lokasi itu semakin dekat saja.

__ADS_1


Bagas mengintip kaca mobil itu, kedua bola matanya licah mencari seseorang di dalam mobil. Namun ia tidak menemukan sosok manusia di dalam mobil. Hingga pada akhirnya, suara terikan seorang wanita membuatnya tercengung, dan ia berpikir kalau itu adalah Rania.


"Itu pasti Rania, dia pasti ada di dalam gudang tua ini. Aku harus segera menyelamatkannya," Bagas bergegas melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam gudang tua itu, tapi itu segera ia urungkan ketika ada sebuah mobil datang dan menghentikan mobilnya tepat di samping mobil miliknya.


Mobil itu tidak asing bagi Bagas, tentu saja. Karena itu adalah mobil milik papanya, Brahma. Brahma turun dari mobilnya, kemudian ia berlari ketika matanya menemukan sosok putranya sudah ada di sana.


"Mana Rania?" kedua manik mata Brahma menatap Bagas secara bergantian.


"Sepertinya Rania ada di dalam bersama dengan orang yang telah membawanya ke tempat ini, pa."


"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Kita masuk ke dalam gedung tua itu sekarang juga!"


Bagas mengangguk, kemudian mereka berdua bergegas masuk ke dalam gedung tua itu.


Tiba-tiba saja Bagas menghentikan langkahnya, ketika melihat ada tiga orang sedang berdiri menghadap je arah yang membelakanginya. Ia melihat sosok wanita di celah beridirnya ketiga orang itu.


"Rania.." ucapnya lirih.


Brahma yang sempat tertinggal, kini ikut menghentikan langkahnya di samping putranya. Ia ikut melihat apa yang sedang Bagas lihat saat ini.


"Arsilla.. Hera..."


Panggilan Brahma membuat ketiga orang yang sedang berdiri membelakanginya itu menoleh, Rania juga. Tiba-tiba saja wajah Arsilla terlihat panik, takut, pikirannya berhamburan kemana-mana. Orang yang memanggil namanya barusan adalah Brahma, papanya. Saat itu juga, yang ada di pikiran Arsilla adalah bukan Rania yang tamat riwayatnya, melainkan dirinya sendiri.


.


.


.


Coretan Author:


Semakin tegang, bukan? Tunggu episode selanjutnya, ya!


Follow ig: @wind.rahma

__ADS_1


__ADS_2