Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Perfect Honeymoon (Part 6)


__ADS_3

Sore hari, Bagas mengajak Rania untuk makan di salah satu Cafe Seafood bakar yang tempatnya terkenal sekaligus tempat makan terfavorit di Bali. Terkenal dengan pemandangan sunset sambil makan pada restaurant seafood bakar yang ada pada area sepanjang pinggir pantai. Dengan menu dan harga yang bervariasi.


Sambil menikmati indahnya pemandangan pantai, wisatawan yang berkunjung akan mendapatkan hiburan musik dan tari-tarian khas Bali. Itulah alasan cafe ini ramai pengunjung dan wajib di kunjungi.


Bagas dan Rania sudah duduk di deretan meja paling depan untuk menikmati sunset sore itu. Mereka juga sudah memesan menu makanan seafood di sana.


Saat pesanan sudah tiba dan di letakkan di meja, dengan cepat Rania langsung meraih piring berisi seafood pilihannya. Ia segera mencicipi makanan itu, memejamkan mata untuk menikmati rasa, dan sesekali mengecup jemarinya.


"Aku suka, ini enak. Apa aku boleh nambah satu piring lagi?" pinta Rania pada suami yang juga sedang menikmati.


"Kau suka atau lapar?" sambil mengunyah seafood pilihannya.


"Lapar, dan makanan ini begitu enak dan aku menyukainya!"


"Pelayan!" panggil Bagas sambil mengangkat tangannya, lalu datang salah satu pelayan yang berbeda dengan yang tadi mengantar pesanan ke meja.


"Ada yang bisa kami bantu?" tanyanya setelah berdiri di dekat meja persis di samping Bagas.


"Buatkan makanan yang sama untuk 2 porsi, dan 2 porsi lagi untuk di bungkus!"


"Baik" pelayan itu mengangguk dan pergi dari sana.


"Bungkus?" menghentikan makannya seketika, dan menatap suaminya apakah ia tidak salah bicara.


"Hem" dehamnya sebagai jawaban iya


"Untuk siapa?" merasa penasaran.


"Kau lah, siapa lagi?"


"Aku?" menunjuk dirinya sendiri


"Hem" dehamnya lagi tanpa menoleh istrinya yang sedang menatapnya dengan penuh ketidakpercayaan, hanya fokus pada makanan yang sedang ia makan.


"Kau gila! Memangnya perutku ini terbuat dari karet yang bisa mengembang dan menampung banyak makanan sebanyak itu?" protes Rania tidak terima.


Bagas sama sekali tidak menanggapi istrinya berbicara, ia tetap fokus pada makanan yang sedang ia nikmati.


"Hei, kenapa kau diam saja? Aku tidak mau kalau kau suruh untuk menghabiskan makanan sebanyak itu! Bisa-bisa aku muntah" membelalakan matanya ke sembarang arah, kesal dengan suaminya.

__ADS_1


"Aku tidak menyuruhmu untuk menghabiskan, kalau tidak kuat ya kau bisa buang saja, atau kau bisa memberikannya pada kucing yang kelaparan, itu lebih baik!"


"Aku tidak suka membuang makanan sembarang, aku begitu menghargai makanan. Karena aku tahu di luaran sana banyak sekali manusia yang kelaparan" tuturnya seketika membuat situasi berubah menjadi sedih.


"Kalau begitu kau harus bersyukur bisa memakan seafood 3 piring sekaligus, di tambah bonus 2 piring untuk di bungkus" ucap Bagas membuat kesal Rania kembali.


"Terserah..!" serunya dengan melemparkan kepalan tisu bekas mengelap sisa makanan di mulutnya.


"Permisi!" kedatangan pelayan membelah perdebatan pasangan suami istri.


Pelayan itu menaruh 2 piring dan 2 bungkus berisi pesanan makanan dan yang sama dengan menu yang di pilih Rania tadi di meja, kemudian pergi setelah menaruh pesananannya.


"Cepat habiskan, aku sudah selesai!" Bagas mengambil selembar tisu yang di sediakan di meja untuk membersihkan mulut dari sisa makanan yang menempel.


Sementara Rania meneguk liurnya sendiri, bagaimana caranya agar ia mampu menghabiskan makanan 2 piring berikutnya.


Gila! Kau pasti mengerjaiku! Gerutu Rania dalam hati.


*****


"Aaah.. Aku betul-betul kenyang" keluhnya sambil mengusap perutnya yang nampak buncit. Berjalan untuk menyusuri keindahan Pulau Dewata, dengan menenteng kantong plastik berisi seafood yang di minta Bagas untuk di bungkus.


"Mungkin kau hamil" tebaknya, membuat Rania menghentikan langkahnya.


"Tidak!" dengan cepat Rania menggelengkan kepalanya.


"Kenapa tidak?" Bagaspun ikut menghentikan langkahnya.


"Mana mungkin aku hamil secepat itu!" Rania terkekeh kalau dirinya tidak sedang hamil.


Bagas menengok ke kiri dan ke kanan, entah apa yang sedang ia cari. Setelah menemukan apa yang ia cari, ia berhenti menggerakan kepalanya.


"Kita istirahat di sana saja!" menunjuk ke bangku kosong bawah pohon dekat sana.


"Ayo!" ajaknya kemudian, Bagas berjongkok di depan berdirinya Rania. Sepertinya ia ingin Rania naik ke tubuhnya untuk ia gendong.


"Aku bisa jalan" Rania nyaris melangkahkan kakinya, tapi lengannya segera Bagas tarik dan mengalungkan di lehernya. Mengangkat tubuh Rania yang ternyata berat juga.


Rania mengacak-acak pangkal rambut Bagas selama di gendongnya.

__ADS_1


"Kenapa kau menggendongku?" terus mengacak-acak pangkal rambut Bagas.


"Aku tidak mau kau kelelahan, kalau ternyata kau beneran hamil!"


"Aku tidak hamil" Rania membantah ucapan Bagas yang terus mengiranya hamil.


Sampailah mereka di bangku bawah pohon, Bagas menurunkan Rania dan duduk di sana.


"Hah, ternyata kau berat juga" Bagas ikut duduk di sebelahnya, menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku dengan nafas yang terdengar terengah-engah.


"Suruh siapa menggendongku? Aku tidak meminta kau sama sekali"


"Lihatlah!" Bagas mengedikan dagunya ke arah perut Rania, "perutmu membesar, di dalamnya ada calon anakku, pantas saja beban tubuhnya terasa berat, mungkin kau benar-benar hamil" kali ini Bagas bicaranya di ikuti oleh tangan yang mengelus perut Rania. Sesekali ia menempelkan telinganya di sana, untuk mendengarkan suara sang buah hati.


Tapi yang terdengar malah suara,


Ddduutttt...


Bagas terpelonjat dan segera mengangkat kepalanya yang di tempelkan di perut Rania. Melihat raut wajah istrinya yang sudah berubah tersipu, dan aroma tidak sedap sudah bercampur dengan udara di sekitar mereka. Dengan cepat Rania menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


"Maafkan aku! Aku baru saja buang angin"


Bagas menutupi lubang hidungnya, menghimpit dengan menggunakan ibu jari dan telunjuknya. Benar-benar ada-ada saja kelakuan jorok istrinya, semakin hari semakin terbongkar kebiasaan buruknya.


Aaaa, aku benar-benar malu. Kau benar-benar ceroboh Rania, bisa-bisanya membuang gas racun hidung di depan Bagas. Tapi itu semua ulahmu sendiri, gara-gara kau memesankan seafood 3 piring untuk aku habiskan sekaligus di sana, perutku malah jadi mulas.


Hari sudah semakin gelap, Bagas mengajak Rania untuk kembali ke tempat di mana ia memakirkan mobilnya. Mengajaknya untuk kembali ke vila, tempat singgahnya selama di Bali. Sebenarnya Rania juga yang meminta Bagas untuk kembali ke villa, perutnya sudah tidak nyaman dan sepertinya kotoran hari kemarin di dalam perutnya sudah memaksa untuk keluar.


Kuliner hari ini sudah membuatnya begitu kenyang, dan sepertinya ia tidak sanggup lagi jika harus menghabiskan dua porsi makanan yang ia bawa. Tenang saja, biar giliran Bagas yang menghabiskannya. Biar tau rasa dia.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Kalau suka, jangan sungkan untuk tinggalkan like, vote sebanyak-banyaknya, ya!


__ADS_2