Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
20 Weeks


__ADS_3

Hari ini adalah hari usia kehamilan Rania genap dua puluh minggu atau lima bulan. Dan mereka kembali merayakannya. Rania terlihat sangat cantik sekali, dengan bando bunga yang terpasang di kepalanya.


Jika perayaan usia kehamilannya ke sepuluh minggu kemarin hanya di hadiri oleh pak Brahma dan Arsilla, juga Reyhan dan Diva yang datang terlambat, maka kali ini tidak boleh sampai terjadi seperti demikian lagi. Semuanya yang di undang harus datang tanpa terkecuali. Tidaka ada alasan untuk siapapun yang berani menolaknya, terutama pihak kedua keluarga.


Kedua keluarga, yakni keluarga Bagas yang hanya bisa di hadiri oleh pak Brahma saja, dan keluarga pak Burhan sudah berkumpul di ruang tamu rumah Bagas, kecuali Radit. Sampai saat ini dia belum datang juga, entah kemana dulu, dia?


Acara seharusnya sudah di mulai, namun acara tidak boleh di mulai sebelum semua orang berkumpul.


Sepuluh menit kemudian, akhirnya Radit datang juga. Tapi yang membuat semua orang terkejut adalah ketika melihat Radit tidak datang sendiri, ada seorang tuan putri cantik di sampingnya. Dia tak lain adalah Diva, gadis yang saat ini Radit gandeng tangannya. Ternyata seorang Radit yang di awalnya tidak di sukai oleh banyak orang, yang sifatnya jahat, keras, kejam, bisa luluh juga di hadapan gadis yang dia cintai.


"Hai.." sapa Diva pada semuanya, sambil menundukkan wajahnya masih malu-malu.


"Maaf ya, kita terlambat!" ujar Radit, ia memberikan senyuman kepada semua orang di sana.


"Ehem.. Sepertinya ibu dan ayah akan segera mendapat menantu baru, dua sekaligus," sindir Bagas, sambil berdeham segala.


"Dua? Siapa saja?" tanya Nadira merasa tersindir.


"Lah itu, kakak ipar juga kan sudah mempunyai gandengan. Wah, ternyata kau tidak di anggap Frans, kasihan sekali kau. Cup..cup..cup..," Bagas menepuk-nepuk pipi sekretarisnya yang kebetulan berdiri di sampingnya.


Sekretaris Frans hanya menundukkan kepala, sambil sesekali melirik wajah Nadira yang tega tidak menganggap kehadirannya selama ini. Haha, terlalu berharap kau ini Frans! Sementara semuanya ikut tertawa melihat Bagas mengejek sekretarisnya, sekedar bercanda.


"Jadi kapan nih bang Radit akan segera meresmikan Diva jadi istri?" seru Rania, kini ia ikut masuk dalam percakapan.


"Tidak mau terburu-buru, abang mau menikmati waktu berdua dulu. Karena kalau langsung nikah, nanti pas malam pertama gak bisa kontrol, gimana? Kan bisa langsung punya anak, dan gak bisa lagi menikmati waktu berdua," jawaban Radit membuat semua orang tertawa dan menggema di seisi ruangan.


"Ih.. Kok gitu bang, Diva jadi malu," bisik Diva sambil menyubit pinggang Radit, pria itu meringis bukan karena kesakitan namun geli.


"Frans, kau dengar kan barusan? Bang Radit belum mau menikah, dia mau menikmati waktu berdua dulu. Terus gimana dong dengan usia kau yang semakin tua, kau tidak bisa menikahi kakak ipar kalau bang Radit belum menikah juga," lagi-lagi Bagas menyindir sekretarisnya, entah kenapa dia sekarang jadi banyak bicara, tidak seperti biasanya. Jangan bilang ini bawaan orok, karena yang hamil itu Rania, bukan Bagas. Hehe.


"Ya kalau begitu jangan salahkan saya kalau saya khilaf sehingga kita bisa segera di nikahkan," ujar sekretaris Frans bicara tanpa ia sadari, satu detik kemudian ia segera membungkam mulutnya. Menoleh semua orang yang ada di sana menatapnya tajam.


"Ma-maaf, saya hanya bercanda barusan," sekretaris Frans menelungkupkan kedua tangannya, membungkukan sedikit tubuhnya, ia menunjukkan deretan giginya berusaha untuk tetap tersenyum, meyakinkan kalau dirinya sedang bercanda.


"Nak Frans!" panggil pak Burhan sambil menatapnya tajam.


"I-iya, ayah calon mertua. Ma-maksud saya, pak Burhan?"

__ADS_1


"Hem.." pak Burhan menunjukan kepalan tangan kanannya pada sekretaris Frans, lalu menjokannya pada telapak tangan kirinya, membuat tubuh sekretaris tersentak dan ia merasa sangat ketakutan.


Semua orang yang ada di sana tertawa puas melihat tingkah sekretaris Frans, suara gelak tawa kembali memenuhi seisi ruangan. Bahkan ada yang sampai mengeluarkan air mata karena tidak kuat menahan tawa yang berlebihan.


Ketika suasana ruang tamu rumah Bagas padat di penuhi gelak tawa, tiba-tiba sepasang pria dan wanita datang memudarkan tawa mereka. Seorang pria yang tidak asing bagi Rania, namun wanita yang ada di sampingnya belum pernah Rania lihat sebelumnya. Siapa mereka? Ya siapa lagi kalau bukan Reyhan dan Devi.


"Rey, ayo masuk!" Rania mempersilahkan Reyhan dan wanita yang ia bawa untuk segera bergabung dengannya.


"Iya, Rania," Reyhan menggengam buah tangan milik Devi dan membawanya bergabung dengan orang-orang yang sudah ada di sana.


"Kamu teman Rania yang pernah bawa Rania ke rumah sakit waktu itu, kan?" tanya bu Sari sambil mengingat-ingat.


"Iya, saya Reyhan," Reyhan menyalami bu Sari dan pak Burhan, di susul oleh Devi yang ikut menyalaminya.


Rania melihat wanita yang berdiri di samping Reyhan, sekarang ia sudah bisa menebak kalau dia pasti kakaknya Diva. Dari wajahnya yang sama persis, dan juga ia ingat tentang cerita Diva waktu itu. Kalau Diva merelakan Reyhan untuk kakaknya.


"Hai, kakaknya Diva, ya?" sapa Rania, ketika mereka berjabat tangan.


"Iya, kamu temannya Diva?" Devi balik tanya.


Devi hanya tersenyum, dia tidak bisa menjawab iya atau bukan. Karena ia rasa Reyhan-lah yang berhak menjawab pertanyaan tersebut.


"Pacar kamu, Rey?" tanya Rania pada Reyhan.


Sama halnya seperti Devi, Reyhanpun tidak menjawab pertanyaan Rania barusan. Ia hanya menanggapinya dengan tersenyum.


"Selamat ya, Rania. Sekarang kehamilan kamu sudah menginjak usia ke dua puluh minggu. Semoga kamu dan calon buah hati selalu sehat, aku tidak sabar ingin melihat bayi itu lahir. Pasti kalau perempuan akan cantik seperti kamu, kalau laki-laki pasti akan tampan seperti papanya," Reyhan menjabat tangan Rania cukup lama, sehingga ia mendapat teguran dari Bagas melalui dehaman.


Reyhan paham, ia segera melepaskan jabatan tangannya dengan Rania. Sementara Devi menatap Rania dan Reyhan secara bergantian, senyuman yang Reyhan berikan pada Rania sangat beda dengan senyuman yang selama ini ia dapatkan. Kali ini Reyhan terlihat sangat tulus, senyuman itu terlihat begitu murni dari hati. Seketika Devi berpikir, sepertinya Reyhan dan Rania ini bukan hanya sekedar teman. Tetapi teman dekat, atau bisa jadi lebih.


Sebenarnya Reyhan ini siapanya teman Diva, ya? Kenapa mereka kelihatan sangat akrab sekali? Apa Rania ini adalah gadis yang pernah Diva ceritakan, kalau Diva cemburu buta pada temannya yang sudah menikah namun terlihat cukup dekat dengan Reyhan, pria yang di cintainya dulu. Pikir Devi dalam hati kecilnya.


Bagas melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, sepertinya dia harus segera memulai acara ini. Semua orang sudah berkumpul di sana, tidak ada lagi yang harus mereka tunggu.


"Kalau begitu, sekarang kita mulai saja acaranya. Hari juga sudah semakin siang," kata Bagas, semua orang-pun terdiam.


Acara-pun di mulai. Mulai dari ucapan selamat datang kepada seluruh tamu undangan yang telah hadir, sampai do'a yang di panjatkan pada Tuhan untuk kebaikan kandungan Rania, beserta seluruh keluarga, dan orang yang ada di sana.

__ADS_1


Kini sudah sampai di penghujung acara, yaitu bagian pengambilan gambar Rania. Sama halnya seperti acara sepuluh mingguan, Bagas kembali mengambil gambar mereka untuk di abadikan dan di jadikan sebagai sejarah.


Kamera sudah stand bye di sana, di antara mereka yang hadir ikut membantu pengambilan gambar Bagas dan Rania yang kini sudah siap untuk segera di ambil gambarnya.


Pertama, Bagas berdiri di belakang Rania, sebelah tangan kirinya memegang papan ketas yang bertuliskan 20 weeks. Mereka saling bertatapan, gambar pun di ambil.


Sekarang, Bagas memeluk Rania dan membentuk sebuah gambar love di perut menonjol Rania. Gambar pun kembali di ambil.



Video bisa di tonton di akun instagram @wind.rahma


Setelah itu, Rania yang memegangi papan kertas bertuliskan 20 weeks, dan Bagas menekuk kedua lututnya untuk menyeimbangkan posisinya dengan perut Rania, saat ini ia mengambil gaya dengan mencium perut Rania. Itu bukan sekedar ciuman, tapi melambangkan cinta dan kasih sayangnya terhadap calon buah hati yang ada di dalam kandungan Rania. Gambar pun di ambil.



Gambar terakhir yang di ambil adalah, saat ini Bagas duduk di sebuah kursi kecil. Untuk menyeimbangkan tinggi badannya dengan Rania. Kini mereka sudah berhadapan, dan sudah tidak ada lagi jarak di antara kedua wajah mereka. Ujung hidung mancung keduanya-pun saling bertemu. Kedua manik mata mereka menunjukkan sebuah kebahagiaan besar, kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.




Keromatisan pasangan Bagas dan Rania saat ini, bisa membuat pasangan lain termasuk yang ada di sana iri juga kalau melihatnya. Mereka benar-benar sweet, pasangan somplak yang manis di sepanjang sejarah.


Semoga Bagas, Rania, kalian selalu Bahagia. Semoga Badai tidak datang untuk menghancurkan kebahagiaan kalian. Bahagia selalu kalian.


.


.


.


Coretan Author:


Yuk langsung cek videonya di akun instagram saya. Pasti penasaran, kan?


Follow ig: @wind.rahma

__ADS_1


__ADS_2