
Siang ini, sekretaris Frans mengajak makan siang Nadira di tempat biasa yang tidak jauh dari gedung Briliant Group. Mereka sedang menyantap masing-masing makanan yang sedah ia pesan beberapa menit yang lalu.
"Mau nambah lagi? Biar aku pesankan satu piring nasi lagi?" tawar sekretaris Frans ketika Nadira menyendok suapan terakhirnya.
"Tidak usah, sekretaris Frans!" tolak Nadira dengan sopan.
"Sudah, tidak perlu sungkan! Kalau kau masih lapar aku akan pesankan lagi untukmu," ujar sekretaris Frans. Nadira mencegah sekretaris Frans yang nyaris mengangkat tangannya untuk memesan makanan lagi.
"Tidak usah, sekertaris Frans! Saya benar-benar sudah kenyang," ucap Nadira segera menurunkan sebelah tangan sekeretaris Frans. Sekreatris Frans menatap buah tangan Nadira yang masih memegangi tangannya itu.
"Hem.." sekretaris Frans tersenyum tipis, dan Nadira mulai menyadarinya. Segera ia tarik kembali tangan yang yang menyentuh sekretaris Frans tersebut.
"Ma-maaf, saya tidak bermaksud.."
"Tidak apa-apa!" potong sekretaris Frans, "lagipula aku akan meminta pelayan untuk membuatkan aku minuman. Lihatlah, minumanku sudah habis!" ujar sekrratris Frans seraya mengangkat gelas kosong di hadapannya.
"Oh," jawab Nadira tersipu.
Aku pikir dia akan memaksaku untuk nambah makan lagi. Ternyata tidak, hehe. Padahal jujur saja, sih. Aku masih lapar. Porsi makan di restaurant memang sedikit, beda banget sama yang di warteg. Makan puas, harga pas.
Sebuah benda bergetar dari balik saku jas hitam yang di kenakan oleh sekretaris Frans. Ia segera mengambil benda itu dari sana. Sebuah notifikasi pesan masuk, dan tertera nama tuan di sana. Sudah bisa di pastikan kalau itu pesan dari Bagas, tuannya.
Sekretaris Frans dengan segera membuka pesan yang isinya:
Bagaimana, apa kau sudah menemukan rumah sesuai permintaanku?
Setelah membaca itu, sekretaris Frans segera memainkan jarinya dan mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.
Belum, tuan. Saya akan coba carikan lagi sesuai dengan permintaan tuan.
Dua ceklis berubah menjadi biru, itu artinya Bagas sudah membaca balasan pesan dari sekretaris Frans. Namun di sana Bagas langsung offline, rupanya ia tidak akan membalas pesan dari sekretaris Frans. Ia kembali memasukan ponselnya ke dalam saku seperti semula.
"Kalau begitu, kau harus segera kembali ke Briliant Group! Aku masih ada urusan lain," ujar sekreatris Frans.
"Baik." Nadira mengangguk paham. Ia segera mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja sejak tadi, dan beranjak berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Eh, mau kemana?" tanya sekretaris Frans mencegah Nadira yang nyaris pergi.
Eh, bukannya kau yang bilang sendiri aku harus kembali ke Briliant Group, kenapa masih nanya. Dasar!
"Saya kan harus kembali," jawabnya seraya menatap sekreatris Frans bingung.
"Iya, tapi aku antar dulu sebelum akhirnya aku pergi untuk urusan lain. Main pergi begitu saja dan aku mau di tinggal. Tidak sopan itu namanya!" pekik sekreatris Frans. Nadira kembali duduk.
Oh, mau antar. Ngomong dong dari tadi. Tapi biasa aja kali, gak usah marah-marah. Kan aku jadi mau ketawa. Eh, maksudnya mau nangis. Lebay kali, ah.
"Iya, maaf!"
"Lain kali, jangan di ulang!" ujarnya. Nadira mengangguk saja.
"Mbak, minta bill-nya!" Sekretaris Frans mengangkat tangan untuk memanggil pelayan yang tidak jauh dari sana.
"Baik, pak. Tunggu sebentar!" jawab pelayan itu.
Tidak lama kemudian, pelayan itu kembali dengan memberikan bill penagihan. Sekretaris Frans segera merogoh sakunya dan membayar tagihan. Setelah itu ia pergi dari sana. Seorang pelayan membawakan segelas minuman di nampan, dan berjalan mendekati meja yang tadi di duduki oleh sekretaris Frans dan Nadira. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang untuk mencari seseorang.
***
Sekretaris Frans terus mencari rumah untuk tuannya. Harus sesuai permintaan tuannya, yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Yang tepenting harus berada di tengah-tengah jarak antara rumah papa dan mertuanya.
Ia menepikan mobilnya di komplek perumahan ketika melihat sebuah kertas putih di gerbang depan rumah bertuliskan:
Rumah ini di jual
Minat, hubungi nomor di bawah ini:
082xxx
Sekretaris Frans segera turun dari mobil dan berdiri di depan kertas itu. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi nomer yang tertera di sana. Ia menempelkan ponselnya di dekat telinga
"Hallo, apakah saya sedang berbicara dengan orang pemilik rumah dengan nomor telpon yang anda cantumkan?" tanya sekretaris Frans ketika sambungan sudah menyambung dengan orang yang ia telpon.
__ADS_1
"Iya hallo, om. Tenang saja, om! Orderan masih sepi, kok. Jadi mau booking aku di hotel mana, ya? Di jamin om bakalan puas dan ketagihan. Saya siap melayani om dengan kelincahan saya!" jawab seorang gadis dari seberang sana.
"Anda siapa, ya?" sekretaris Frans kebingungan.
"Harusnya saya yang tanya! Nama om siapa, ya? Biar aku catat dan atur waktunya om. Mahal dikit gak apa-apa om, tidak usah khawatir! Aku akan pastikan om bakalan puas, deh. Masalah ukuran, aku maksimal om. Dan masalah durasi gak perlu di tanya lagi! Jadi gimana, om?" jawab gadis di balik telpon itu. Sekreatris Frans bergidik sendiri. Ia melihat layar ponselnya. Tenyata nomor telpon yang ia catat salah nomor ujungnya. Harusnya enam delapan, ini enam sembilan.
Sekretaris Frans segera berlari kecil untuk sampai di mobil, ia juga tak lupa untuk kembali memasukan lagi ponselnya ke dalam saku. Ia bergidik sendiri ketika mengingat ucapan gadis yang bicara dengannya di telpon. Sebelum akhirnya di pergi dari sana.
Di kediaman tuan tajir.
Arsilla berjalan sambil bersiul kecil, ia melihat Rania tengah duduk di sofa tengah rumah istana itu, sambil membaca majalah. Di temani oleh segelas es jeruk di meja yang sudah ia minum separuh. Dan buah-buahan juga ikut menemaninya di sana.
Ia segeta menghampiri dan ikut duduk di sebelahnya.
"Hei, adik ipar!" sapa Arsilla meraya menjatuhkan tubuhnya ke sofa sedikit kasar, sehingga membuat tubuh Rania ikut terguncang.
"Eh, kakak ipar," balas Rania sambil menoleh dan memberi seulas senyuman.
"Lagi ngapain?" tanya Arsilla basa-basi, ia meraih apel yang ada di meja kemudian menggigitnya.
"Ini, aku lagi lihat-lihat gambar rumah. Semuanya bagus-bagus. Rencananya juga aku dan Bagas mau pindah rumah, ayah juga sudah beri kami ijin," jawab Rania dengan semangat untuk menceritakan.
"Apa? Pindah rumah?" Arsilla terlihat terkejut dan seolah tidak percaya.
"Iya. Memangnya kenapa, kak?" Rania menatap Arsilla penuh tanya.
.
.
.
Coretan Author:
Sampai jumpa di bab selanjutnya. Jangan lupa komen, like, tambahkan ke favorit. Nabung poin ya biar bisa ngasih VOTE yang banyak!
__ADS_1