
Di tempat kediaman rumah Iren, ia sudah mempersiapkan menu makan malam itu di outdoor dekat kolam renang, dengan banyak lilin dan hiasan lainnya. Ia sengaja mempersiapkan itu semua untuk menyambut kedatangan tamu yang ia anggap spesial, yaitu Devi. Setelah selesai menghias outdoor yang di bantu oleh para pelayan di rumahnya, Iren duduk untuk menunggu kedatangan Reyhan bersama dengan orang yang ia undang untuk makan malam.
Sepuluh menit kemudian, akhirnya yang di tunggu datang juga. Tapi ia hanya melihat ada Reyhan saja.
"Rey, Devi mana?" tanya Iren, ia akan kecewa kalau putranya tidak berhasil membujuk Devi untuk makan malam di rumahnya.
Belum sempat Reyhan menjawab pertanyaan mamanya, seorang gadis yang berpenampilan elegan muncul dari belakang Reyhan. Iren sampai di buat terkesima melihat penampilan Devi.
"Hallo, cantik," sapa Iren, ketika Devi menyalaminya.
Devi tersenyum, "hallo, tante. Bagaimana kabar tante?"
"Seperti yang kamu lihat saat ini, lebih baik."
"Syukurlah, tante!"
"Ayo duduk!" Iren mempersilahkan Devi dan Reyhan untuk duduk di meja yang sudah tersedia di sana.
"Tante pikir kamu tidak akan datang. Tapi akhirnya kamu datang juga, tante sangat senang." Iren tak henti-hentinya menunjukan ekpresi kebahagiaannya.
"Iya, tante. Terima kasih banyak sudah mengundang aku ke sini!"
"Harusnya tante yang terima kasih sama kamu, cantik!"
"Sama-sama, tante."
Iren melihat putranya yang sedari tadi hanya diam, tidak ikut untuk berbicara. Akhirnya Iren memulai saja makan malamnya.
"Kalau begitu kita mulai saja makan malamnya, sudah malam juga. Ayo, di makan!"
Ketika mereka makan, tidak ada lagi yang membuka suara, baik itu Iren, Devi, ataupun Reyhan. Iren mau makan malam ini berkesan bahagia karena untuk pertama kalinya, tapi ia melihat kalau ada kecanggungan antara putranya dengan gadis di hadapannya. Rupanya ia yang harus kembali membuka percakapan, karena kalau ia harus menunggu salah satu dari mereka, mungkin sampai selesai pun tidak akan ada yang berani bicara.
"Dev?" ucap Iren lirih.
"Iya, tante?" Devi menghentikan aktivitasnya seketika.
"Jadi, Diva itu adik kamu?" pertanyaan Iren membuat Reyhan yang semula menunduk menjadi ikut menoleh seketika.
Devi menganggukan kepalanya. "Iya, tante. Memangnya kenapa?"
"Tidak, tidak apa-apa! Adik kamu itu pacarnya Rey, ya?"
"Uhuk..uhuk.." lagi-legi Reyhan tersedak, kenapa mamanya bisa membahas soal itu.
"Minum, Rey! Kamu ini selalu saja tersedak ketika makan," Iren segera memberikan satu gelas air putih yang baru saja di tuangkan oleh Devi.
Setelah merasa sedikit membaik, akhirnya Reyhan memustuskan untuk menghentikan makannya saja. Karena rasanya sudah tidak ada lagi selera untuk dia melanjutkan makan.
"Benar, ya? Kalau adik kamu itu pacar Rey?" Iren mengulang pertanyaannya ketika Devi belum sempat menjawabnya.
__ADS_1
"Tante bisa tanyakan langsung saja pada Reyhan!" Devi tidak mau ikut campur masalah itu, karena itu menyangkut perasaan Reyhan dan adiknya sendiri.
"Rey, benarkah?" Iren memberi sorot mata serius pada Reyhan, membuat putranya itu bingung harus menjawab apa.
"Diva bukan pacar aku, ma. Tapi aku sudah sangat dekat dengan dia," Reyhan menegaskan, ya memang bukan pacarnya, karena Diva tidak menerima ungkapan perasaannya pada saat di penjara menjenguk Devi.
Iren mengernyitkan dahinya. "Oh, tapi dia tahu kalau kamu mengajak Devi datang kesini?"
"Hem, dia tahu, ma."
"Terus, dia marah gak? Kan kamu bilang, dia sudah sangat dekat dengan kamu, Rey," rasa penasaran Iren semakin menjadi, sementara Devi memilih untuk diam saja.
"Aku tidak tahu," ujar Reyhan, ia kembali meneguk air minum yang ada di hadapannya.
"Tadinya mama ingin menjodohkan kamu dengan Devi, Rey!" ujar Iren penuh harap.
"Hah?" Reyhan dan Devi terkejut secara bersamaan. Setelah Diva, mamanya juga ikut menjodohkannya dengan Devi.
"Mama tahu, kalau cinta itu tidak dapat di paksakan. Tapi cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Seiring berjalannya waktu, selama kalian bisa dekat terus, itu semua akan terjadi. Mama harap kamu mau, Rey!"
"Tapi, ma,"
"Rey.." Iren meraih buah tangan putranya, ia mentap sayup manik mata putranya. "Papa kamu telah merenggut semuanya dari Devi, mama harap kamu bisa menggantikan tanggung jawab papa kamu, ya?!" pinta Iren dengan penuh harap, dengan sedikit memohon juga.
Reyhan menghela napas panjang, lalu menghembuskannya. Alasan mamanya sama persis dengan alasan Diva. Memang alasan itu sedikit masuk akal juga, mungkin Reyhan harus ikut mengorbankan perasaannya demi Devi yang juga banyak berkorban atas semua kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Reyhan akhirnya mengangguk, sebagai tanda kalau ia menyetujui permintaan mamanya. Karena untuk mengatakan 'iya' saja rasanya ia tak sanggup.
"Alhamdulillaah, kalau kamu setuju," Iren kelihatan sangat bahagia, namun ia belum nanya pada Devi, apakah dia akan setuju juga?
Iren meraih buah tangan Devi, dan menggenggamkannya di tangan putranya. "Dev, tante harap kamu juga mau, ya?!"
Devi tidak berani menatap Iren ataupun Reyhan, sebelah tangannya mengeluarkan keringat dingin di bawah meja. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada mama Reyhan, karena ia sama sekali tidak mengenal Reyhan sebelumnya. Dan itu pasti akan sangat menyakitkan bagi Diva, adiknya. Ah, entahlah! Sepertinya kehidupan Devi lebih rumit dari sebelumnya.
Sama seperti Reyhan, Devi pun bahkan tidak sanggup untuk mengangguk sebagai tanda kalau ia menyetujui permintaan Iren ataupun menggeleng sebagai penolakan. Ia benar-benar berada di titik maju kena mundur kena. Sampai akhirnya ia mendapat kekuatan yang entah dari mana asalnya untuk sekali saja menganggukan kepalanya. Itu membuat Iren lebih bahagia lagi. Setelah beberapa menit ia menunggu keputusan Devi, akhirnya Devi dan Reyhan mau memenuhi permintaannya.
***
Pagi harinya di ruko.
Para pegawai saling berbisik membicarakan sikap Reyhan dan Diva yang tidak seperti biasanya. Biasanya mereka selalu berdekatan, bahkan mereka mengobrol dan selingi dengan canda dan tawa. Namun kali ini mereka seperti sedang saling menghindar, tidak ada sapaan atau hal yang lain yang biasanya di lakukan.
Para pegawai yang sok tahu, yang selalu mengira-ngira dan yang selalu kepo itu memperbicangkan Reyhan dan Devi.
"Mungkin pak Reyhan itu beneran suka dengan bu Rania, kemudian pak Reyhan terpaksa pura-pura suka sama si Diva ketika harapannya pupus karena bu Rania hamil. Terus pak Reyhan tidak bisa memaksakan hatinya untuk si Diva gara-gara belum move on," bisik pegawai satu pada pegawai lainnya.
"Iya, lagian si Diva aja tuh yang kegatelan, terus aja pepet pak Reyhan yang udah tahu gak mau sama dia,"
"Mungkin juga pak Reyhan itu sudah tahu sifat aslinya si Diva, yang mungkin aja si Diva itu tidak baik," pegawai lain ikut menimpali dengan nada bicara tanpa mengeluarkan suara yang keras.
"Bisa jadi, sih. Mungkin juga..."
__ADS_1
"Selamat pagi..!" sapaan dari seseorang membuat pegawai yang terus sibuk membicarakan Reyhan dan Diva seketika membubarkan gerombolannya.
"Pagi.. Bu Raniaaaa," semua pegawai itu menghambur menghampiri big boss-nya. Mereka kelihatan sangat senang sekali dengan kedatangan Rania, apalagi di samping Rania berdiri ada Bagas, yang membuat mereka terlihat lebih menyenangkan.
"Eh ada tuan Bagas juga. Selamat pagi tuan Bagas yang tampan se-Asia!" ucap mereka serentak.
"Pagi!" balas Bagas, ia benar-benar tidak percaga kalau pegawai istrinya ternyata tahu juga kalau dirinya tampan se-Asia. Hahaha.
"Nah, kalau lihat pasangan ini rasanya adem banget," bisik pegawai itu kepada pegawai lainnya juga.
"Iya bener, setuju banget!"
Rania jadi penasaran, apa sih yang membuat pegawainya bisik-bisik. "Hei, kalian lagi ngomongin apa? Pakai bisik-bisik segala."
Pegawainya malah pada saling sikut, meminta salah satu dari mereka untuk mengatakan yang sebenarnya.
"I-itu, bu" salah satu pegawainya menunjuk pada Reyhan dan Diva yang sedang ada di pojok belakang ruangan itu.
Bagas dan Rania menolah ke arah yang di tunjuk pegawainya, Rania belum melihat ada yang aneh. Tapi setelah ia perhatikan dengan baik, ternyata itu alasan yang membuat pegawainya bisik-bisik ketika ia baru datang dan pegawainya belum menyadari kebaradaannya.
"Reyhan," panggil Bagas.
Reyhan menoleh ke asal suara yang baru saja memanggil namanya. Ia terkejut ketika ada Rania dan suaminya di sana. Ia bergegas melangkahkan kaki memenuhi panggilan suami dari Rania.
"Saya?" Reyhan menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kau catat nomer telponmu! Siapa tahu ada hal penting yang bisa aku bicarakan masalah ruko," Bagas menyodorkan ponselnya kepada Reyhan.
"Baik," Reyhan mengambil ponsel Bagas kemudian mencatat nomer telponnya. Kemudian mengembalikannya setelah ia selesai mencatat nomer itu di ponsel Bagas.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya, sayang! Muach.." Bagas mengecup kening sang istri di hadapan mereka semua, sampai membuat Reyhan memalingkan wajahnya tidak ingin melihat pemandangan indah bagi pegawainya.
"Iya, hati-hati!" Rania melambaikan tangannya ketika Bagas sudah beranjak dari sana.
"Huaa.. benar-benar pasangan yang membuat hati adem ayem melihat keromantisannya," pegawai Rania kembali bisik-bisik.
"Bener banget, aku mau pria seperti tuan Bagas. Ya Tuhan, sisakan untukku satu, ya!" sahut pegawai yang lain.
"Iya, aku juga mau.."
.
.
.
Coretan Author:
Hayo yang mau juga dapat pria seperti tuan tajir, segera list dari sekarang. Hehehe.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, vote, dan komen, ya! Tambahkan ke favorit juga!
Follow ig: wind.rahma