Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Menghadiri Acara


__ADS_3

Pagi harinya, Rania bangun lebih pagi dari sebelumnya. Ia harus mempersiapkan semuanya untuk menghadiri acara perpisahan di sekolah. Mulai dari pakaian yang akan ia kenakan, sampai riasan waja. Rania melakukannya agar ia bisa merasakan menjadi siswa dari penampilannya. Karena perpisahan identik dengan siswa perempuan yang di rias dan untuk laki-lakinya menggunakan jas. Tidak lupa bucket bunga ia siapkan juga, yang sempat ia beli kemarin siang sepulang dari ruko.


Setelah mandi dengan masih menggunakan handuknya, Rania berjalan mendekat ke tempat tidur, dimana suaminya masih tidur dengan nyenyak. Tadinya ia mau membangunkan Bagas agar bangun lebih awal dan segera mandi. Supaya ia tidak datang terlambat ke acara itu karena jarak yang cukup jauh dari tempat kediamannya. Tapi melihat kelopak matanya yang masih tertutup rapat, ia jadi tidak tega juga untuk membangunkannya.


Ia melirik jam dinding sudah menunjukan jam 5 pagi lebih 20 menit, tidak mau terlambat akhirnya ia membangunkan Bagas dengan cara menggoyang-goyangkan bahunya. Perlahan Bagaspun membuka matanya, menggeliatkan seluruh tubuhnya. Mendapati istrinya yang ada di hadapannya masih menggunakan handuk, tubuh Bagas sedikit terpental ke belakang.


"Hey, kau mau apa?" tanyanya sedikit panik, pikirannya mengarah kepada hal yang macam-macam.


"Mau apa, apa? Rupanya pikiranmu harus di sapu, biar gak ngeres! Kau kan bilang mau ikut ke acara perpisahan di sekolahku, makanya aku membangunkanmu agar kita tidak terlambat." jelas Rania membuat Bagas seketika diam, mengingat kalau hari ini ia akan ikut mengahadiri acara.


"Kau sudah buatkan air untukku mandi?" tanyanya setelah diam sekejap.


"Tentu saja" dengan cepat Rania menganggukan kepalanya.


Bagaspun langsung turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi dengan malasnya, sebenarnya ia masih mengantuk, sebelum itu ia juga menerima handuk yang di berikan istrinya, yang sempat ia bawa tadi.


"Jangan lama-lama, aku tidak mau terlambat!" teriak Rania ketika Bagas sudah ada di kamar mandi, Bagaspun menjawabnya "Ya". Itu saja.


*****


Bagas dan Rania tampak sudah rapi dan sudah siap untuk berangkat menghadiri acara. Rania terlihat cantik, lebih cantik berkali-kali lipat dari biasanya. Bahkan lebih cantik dari ketika ia di rias menjadi pengantin. Mungkin saat jadi pengantin, aura Rania tidak terpancar seluruhnya karena ia terpaksa menikah saat itu. Namun saat ini beda, aura bahagianya terpancar jelas di wajahnya, membuatnya tambah cantik lagi. Begitupun dengan Bagas, yang menurutnya tampan se-ASIA. Kali ini beri, lah, dia kesempatan untuk kita menyetujui pendapatnya. Bahkan kita bisa bilang Bagas tampan se-ASIA dan se-Eropa, biar dia senang. Kali ini saja.


Pak sopir nampak sudah stand bye di halaman rumah, membukakan pintu mobil ketika tuan dan nona rumahnya keluar dengan segera. Raniapun masuk dan di susul oleh Bagas.


"Pak, kita cepat sedikit, ya, jalannya!" pinta sekaligus perintah Rania setelah berada di dalam mobil. Pak sopirpun mengiyakan.


Bagas melirik wajah Rania sekilas, wajah yang panik. Panik jika datang ke acara akan terlambat. Ia hanya bisa berharap agar tidak terjebak macet nantinya, supaya istrinya tidak kecewa jika benar harus terlambat datang ke sana. Ia juga merasa bersalah, karena seandainya dia dulu tidak meminta Rania untuk menikahinya, mungkin saat ini hari Rania bersenang-senang sekaligus hari sedih bersama temannya. Tapi jika harus mengingat lagi ke sana. Bagas semakin di penuhi rasa bersalahnya.

__ADS_1


Benar saja, mobil yang di tumpangi mereka terjebak macet. Wajah Rania semakin panik, tanganya saling meremas jarinya. Bagas memikirkan sesuatu untuk berusaha menenangkan istrinya. Ia meraih tangan Rania dan menggenggamnya.


"Tenanglah! Acara di mulai jam 8, dan ini masih 7 lebih 15 menit. Kita masih punya waktu 45 menit untuk sampai di sana" Bagas berusaha menenangkan kepanikan Rania, setidaknya itu bisa mengurangi rasa panik Rania walau sedikit saja.


Lima belas menit berlalu, tapi mobil mereka masih tetap tidak berkutik walau se-senti. Rupanya terjadi sebuah kebakaran di suatu tempat, membuat beberapa mobil pemadam kebakaran terdengar melintas di depan sana, hanya suaranya saja yang bisa mereka dengar.


Akhirnya setelah beberapa menit kemudian, setelah tidak lagi terdengar suara mobil pemadam kebakaran itu, kendaraan kembali normal. Rania merasa lega, setidaknya masih ada waktu untuk dia segera sampai ke acara.


*****


Mobil berwarna silver yang di tumpangi Bagas, Rania, dan sopir tentunya, masuk ke gerbang utama sekolah. Telat sedetik saja mereka tidak akan bisa masuk karena begitu mobil mereka masuk, gerbang langsung di tutup agar tidak ada orang asing yang akan membuat keributan dan mengacaukan acara.


Rania dan Bagas turun setelah pak sopir membukakan pintu usai memakirkan mobilnya bersamaan dengan mobil yang lain. Beruntungnya, ada Diva, teman dekat Rania, yang melihat mereka kemudian dengan cepat menghampirinya.


"Rania.." panggilnya setelah jarak mereka dekat dan memastikan kalau yang ia lihat itu adalah teman dekatnya.


"Rania, aku merindukanmu" kata Diva masih dalam pelukan.


"Aku juga, Diva" Rania melepaskan pelukannya pelan, tanpa mereka sadari air mata mereka masing-masing sudah terkumpul di pelupuk mata.


Tiba-tiba saja Diva melirik ke pria yang ada di belakang Rania. Sudah tentu ia tahu siapa pria itu, karena dia juga hadir dalam pernikahan temannya itu. Hanya dia. Diva menunjuk pria, suami Rania itu menggunakan ekor matanya.


"Rania.." bisiknya.


"Iya" jawab Rania juga dengan suara pelan.


"Kamu ajak suami kamu, terus kalau yang kain tahu, gimana?" Diva khawatir, kalau ada orang lain yang tahu alasan sebenarnya Rania keluar dari sekolah.

__ADS_1


Rania tersenyum melihat kekhawatiran Diva terhadapnya.


"Sudah, biarkan saja! Lagian sampai kapan aku harus menyembunyikannya? Cepat atau lambat mereka juga pasti akan mengetahuinya" tutur Rania agar temannya itu tidak perlu khawatir akan dirinya.


Melihat istrinya yang sedang bercakapan dengan temannya itu dengan bisik-bisik, Bagas berdeham. Memberi kode agar mereka tidak membicarakannya, itupun kalau mereka sedang membicarakannya.


Rania tentu saja paham dengan dehaman Bagas yang memberinya sebuah kode. Akhirnya Diva mengajak mereka untuk masuk ke sebuah lapangan di mana acara di laksanakan. Dan beberapa menit lagi acara akan segera di mulai.


Ketika mereka bertiga berjalan menyusuri lorong sekolah, tiba-tiba suara seorang pria membuat Rania, Bagas, dan Diva menghentikan langkahnya.


"Rania.." panggil seorang pria setengah berteriak, membuat mereka bertiga menoleh.


Ketika mengetahui orang yang memanggil nama temannya tersebut, wajah Diva berubah lagi menjadi panik. Panik sepanik-paniknya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Hai, kalau kalian suka dengan cerita ini jangan lupa tinggalkan like. Vote menggunakan poin ataupun koin. Kalau kalian penasaran dengan pria yang memanggil nama Rania, membuat Diva berubah panik seketika, baca terus ya Next chapternya.


__ADS_2