
Darrr derrr dorrr...
Hari ini adalah hari ulang tahun saya yang ke-19. Makannya special hari ini saya crazy up untuk 5 episode. Semoga suka ya up hari ini. Di jamin bikin greget.
Oh iya, ada niat ngasih kado/hadiah gak nih berupa koin, hehe ngarep. Langsung aja ya klik ikon tip di bawah setelah baca cerita, berapapun deh ngasih ya pasti di terima dengan senang hati. Ya pastinya senang lah.
Happy Reading.
_ _ _ _
Malam hari pun tiba, ini adalah waktunya penghuni istana megah untuk makan malam. Seperti Biasa, Arsilla dan Pak Brahma sudah ada lebih awal di sana. Mereka harus menunggu Bagas dan Rania untuk segera turun dari tangga. Walaupun Bagas sedang sakit, Bagas selalu ikut makan bersama dengan mereka untuk menghargai selagi dirinya bukan mengalami sakit parah.
Yang di tunggu-tunggu ternyata datang juga, kali ini mereka tidak hanya datang berdua sebagai suami istri, ada bu Sari juga. Pak Brahma yang tidak mengetahui merasa terkejut dengan sosok yang datang bersama anak dan menantunya.
Pak Brahma langsung berdiri ketika bu Sari akan menyalaminya sebagai besan. Sedangkan Arsilla masih terus melayangkan tatapan penuh kebencian kepada Rania di tambah ibunya.
"Selamat datang di rumah kami" sambut pak Brahma pada Bu sari.
"Iya, terima kasih"
"Ngomong-ngomong, kapan datang kemari?"
"Tadi pagi, pah. Bagas yang minta ibu Sari untuk datang ke sini. Bagas sadar, Bagas butuh sosok ibu yang bisa memberi perhatian ketika Bagas sakit" Bagas menjawab pertanyaan ayahnya pada bu Sari.
Pak Brahma yang nendengarnya seketika merasa bersalah, karena selama ini ia hanya mementingkan pekerjaan, pekerjaan dan pekerjaan. Ia tidak pernah ada waktu luang untuk ngobrol dengan Bagas. Apalagi memberinya perhatian. Mereka hanya bertemu saat jam makan saja. Tidak lebih dari itu.
Maafin papah Bagas. Papah benar-benar salah, dari kamu kecil sampai kamu besar dan berumah tangga, papah tidak pernah meluangkan waktu untuk bisa dekat dengan kamu. Tapi papah harap kamu tahu, semua papah lakukan demi kamu. Demi menghidupi kamu dan kakak kamu.
Tidak mau terlihat sedih, pak Brahma langsung mengontrol baik-baik dirinya, agar tidak ada setetes air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Pak Brahma langsung saja memlersilahkan mereka untuk duduk dan segera melaksanakan makan malam.
Bu Sari menundukkan kepalanya ketika ia harus duduk berhadapan dengan Arsilla. Bu Sari takut kehadiran dirinya akan membuat Arsilla semakin benci dan merasa tidak nyaman. Sedangkan Arsilla membelakakan matanya agar ia tidak dapat menatap wajah orang-orang yang ia benci.
Semoga kakak ipar tidak memancing keributan lagi. Jangan sampai makan malam ini tidak jadi karena kakak ipar yang tidak menyukai kehadiran ibu. Semoga saja.
Makan malam pun berlangsung seperti biasanya, tidak ada pembicaraan di sana. Bahkan suara sendok yang beradu dengan piring pun sangat di larang di sana.
Arsilla selesai terlebih dahulu, ia memang sepertinya sudah tidak memiliki selera makan semenjak makan belum di mulai. Tapi karena perutnya yang tidak dapat di bohongi, terpaksa ia harus ikut makan malam bersama dengan dua orang yang ia anggap gembel dan kampungan.
Arsilla pergi setelah mengambil selembar tissue untuk mengelap sisa makanan di bibirnya. Di ikuti oleh Brahma yang tidak lama setelah Arsilla pergi ia pun ikut pergi juga. Kini tersisa tiga orang lagi di sana. Bagas pun sudah mengambil selmbar tissue lalu mengelap sisa makanan di mulutnya. Ia benar-benar menunggu istri dan ibu mertuanya sampai selesai makan.
*****
Setelah mereka melaksanakan makan malam, Bagas dan Rania kembali ke kamar. Sebelum itu, Bagas meminta salah satu pelayan untuk mengantar bu Sari ke kamar yang ada di sebelah kamarnya. Rania duduk di sofa, memutar video drakor kesukaannya menggunakan ear phone. Begitu pun dengan Bagas yang asik memainkan ponsel di tempat tidurnya.
Tiba-tiba pintu di ketuk oleh seseorang, tidak mungkin Bagas yang harus membukanya. Selain dia yang sedang sakit, di sana juga ada Rania yang bisa perintah. Bagas beberapa kali memanggil Rania, tetap saja dia asik dengan ponselnya. Kemudian Bagas melempar bantal tepat mengenai wajah Rania.
__ADS_1
"Aduhhhh.." Rania meringis kesakitan. Kemudian ia membuka kedua ear phone yang terpasang di telinganya.
"Ada apa?" sunggut Rania. Ia merasa Bagas sudah mengganggu adegan baper yang di sedang tonton.
Bagas mengedikkan dagunya ke arah pintu, pintu masih di ketuk oleh seseorang. Dari sana Rania paham harus melakukan apa. Dengan langkah yang malas Rania berjalan ke arah pintu dan membukakannya. Ternyata seseorang pelaku pengetuk pintu adalah sekretaris Frans, dengan membawa sebuah paper bag di tangannya.
"Maaf, nona, mengganggu waktunya. Saya datang ke sini untuk mengantarkan sesuatu pesanan tuan. Sekalian melihat keadaan tuan"
"Masuklah!" Rania membuka pintu lebar-lebar memberi ruang untuk sekeretaris Frans masuk.
Sekretaris Frans masuk dan berdiri di samping tuannya, tidak lupa ia memberikan hormat dengan tubuh yang ia bungkukan sekilas.
"Ini pesanan tuan!" sekretaris Frans menyerahkan paper bag yang ia bawa.
"Bagaimana kondisimu, tuan?"
"Sudah mulai membaik. Mulai besok saya akan kembali ke kantor"
"Syukurlah" ucap sekretaris Frans merasa lega. Akhirnya tuannya ini sudah sehat kembali
"Kau sudah mengatur semuanya kan?"
"Sesuai dengan yang tuan minta"
"Kalau begitu saya permisi, tuan. Selamat beristirahat" pamit sekretaris Frans.
"Pergilah!"
Sekretaris Frans keluar dari kamar, Rania yang masih berdiri di dekat pintu sejak tadi kembali menutup pintunya. Ketika Rania akan memasang lagi ear phone-nya setelah duduk di sofa, Bagas menyuruhnya untuk mendekat.
"Kemarilah!" Bagas menjentikan jarinya.
Ada-ada aja yang mengganggu, asal kau tahu! Aku ini lagi nonton drakor adegan baper yang aku nantikan sejak kemarin.
Rania mendekat dan berdiri di samping Bagas. Bagas menyerahkan paper bag yang tadi sekretaris Frans berikan.
"Apa ini?" tanya Rania seraya menerima paper bag dari tangan Bagas.
"Berikan pada ibu, sekarang!"
Rania mengintip isi paper bag.
"Gak usah kepo jadi orang, cepat berikan pada ibu!"
"Iya, iya"
__ADS_1
Rania pergi ke kamar ibunya setelah menghentakan kakinya dengan keras. Rania langsung saja masuk, di sana ibunya memiringkan tubuh posisi tidurnya. Rania menyentuh pundak ibunya.
"Bu" panggil Rania lirih.
Bu Sari langsung menoleh, terlihat air mata yang mengalir di pipinya. Rania langsung cemas melihat sang ibu rupanya sedang menangis.
"Ibu kenapa?"
"Ibu baik-baik saja Rania!" bu Sari bangun dan duduk berhadapan dengan puterinya.
"Tapi kenapa ibu nangis?"
"Ibu gak nangis, Rania. Tadi ibu cuma kelilipan" bu Sari mengerjapkan matanya.
Ya ampun ibu, segitunya ibu gak mau bikin Rania sedih. Sampai ibu harus berbohong dengan hal yang tidak masuk akal.
"Bu" Rania menyentuk pundak ibunya, "Kejadian tadi anggap aja angin lalu, gak usah di masukin ke hati!"
"Nih, untuk ibu" Rania memberikan paper bag-nya.
"Apa ini, Rania?"
"Buat ibu dari tu-, suami Rania" ucap Rania yang hampir saja lagi-lagi keceplosan mengatakan kata tuan untuk suaminya di depan ibunya.
Bu Sari menerima dan langsung membukanya. Ternyata di dalamnya adalah stelan baju tidur untuk ganti bu Sari malam ini.
"Wah, bagus banget. Ini pasti mahal. Bilangin ke nak Bagas, gak usah repot-repot beliin ibu baju segala, mending uangnya di tabung aja!"
"Biarin aja, bu. Lagian Bank mana-mana sudah tidak mampu menampung uang tabungannya, hehe"
Bu Sari ikut tersenyum.
"Kalau begitu mendingan uangnya buat ibadah haji. Kan lebih berkah"
Rania terdiam, ia sangat kagum dan bangga memiliki ibu penasihat.
"Nanti ibu bilangin ke dia, bu. Kalau begitu ibu istirahat ya! Selamat malam, selamat tidur" Rania mengecup kening ibunya.
"Iya, Rania sayang."
Rania keluar dari kamar, bu Sari yang melihat Rania merasa bangga. Karena puterinya masih bisa tersenyum walaupun ia bisa tahu di balik senyumnya itu ada luka yang begitu dalam. Ikatan batin antara ibu dan anak itu memang sangat kuat, melebihi apapun.
Semoga kebahagiaan yang sebenarnya segera datang di kehidupanmu, Rania sayang. Kebahagiaan yang mampu membuat kamu lupa atas luka yang di derita. Aamiin. Do'a ibu mengalir di nadimu. Rania, puteriku sayang.
Bersambung...
__ADS_1