
Di rumah, Brahma yang masih tuan rumah utama walaupun hartanya sudah di serahkan kepada putranya itu, sama sekali tidak menggubris dengan adanya keributan di sana. Toh, dia sudah membayar banyak orang di rumah itu untuk menjaga baik-baik rumahnya. Kalaupun ada keributan yang begitu besar, dia tidak akan turun tangan. Kecuali yang teramat penting. Setelah sarapan pagi tadi, dia tidak terburu-buru untuk berangkat ke kantor. Karena setelah hartanya di berikan kepada putranya, ia juga menyerahkan seluruh saham perusahaan untuk di kelola putranya juga, Jadi, sekarang ia hanya memantau saja, takutnya ada kerugian yang akan menimpa perusahaan, yang belum bisa di tangani putranya. Perusahaan PT.Briliant Grup.
******
Sementara di angkot, Rania yang tidak punya tujuan itu seketika mengetuk atap mobil. Kode kepada sang sopir untuk memberhentikan kendaraan. Rania pun turun dan berdiri di depan pintu depan, mencari uang dalam tas slempangnya kemudian menyerahkan ongkos pada sang sopir. Sang sopirpun menjalankan kembali angkotnya.
Tiba-tiba Rania di kejutkan oleh Rayhan yang berdiri di sampingnya. Reyhan pun ikut turun ketika Rania sibuk akan membayar ongkos.
Rania memandangi wajah Reyhan.
Ya Tuhan, apa dia mengikutiku? Tidak, aku tidak boleh soudzon pada orang, siapa tahu tujuan dia memang berhenti di sini.
Reyhan memetikan jari tepat di depan wajah Rania untuk membuyarkan lamunannya, "Hey."
Rania terpelonjat, terkejut dan refleks mengatakan, "Iya tampan."
Tapi Rania segera membungkam mulutnya kuat-kat, "M-maksudku, iya ada apa?"
Rania semakin di buat salah tingkah oleh kehadiran Reyhan.
"Kamu yang kenapa Rania?"
"Aku tidak apa-apa. Kamu kenapa turun di sini juga, Rey?
__ADS_1
"Aku memang tinggal di sekitar sini. Kamu sendiri?"
Baru saja Rania akan menjawab pertanyaan Reyhan, tapi Reyhan sudah berbicara lagi.
"Jangan di jawab dulu, kita cari tempat yang enak buat ngobrol." usul Reyhan yang cepat di angguki Rania.
Kemudian mereka berdua berjalan ke arah tempat penjual minuman segar pinggir jalan. Kebetulan saat itu jam sudah menunjukkan pukul 11.00. Cuaca juga mendukung mereka untuk mengunjunginya.
Rania dan Reyhan duduk berhadapan di bangku panjang yang di sediakan penjual untuk pembeli. Rania menyimpan tas slempang itu di meja, sementara Reyhan mengangkat tangannya untuk memesan minuman segar kepada sang penjual.
"Mas, 2 ya." pesan Reyhan kepada sang penjual minuman segar yang segera di angguki cepat.
Sambil menunggu minuman di buat, Rania dan Reyhan mengisinya dengan mengobrol, agar lebih kenal.
Rania menghela nafas panjang, "Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa bisa turun di sini. Aku gak punya tujuan. Niat aku pergi itu cuma mau nenangin diri."
Gaya dan nada bicara Rania berbeda, seperti anak remaja pada umumnya. Tidak seperti saat berbicara dengan suaminya, pria kejam itu.
Reyhan menatap wajah Rania, bibirnya memang selalu tersenyum. Tapi sorot matanya memberi tahu pada Reyhan bahwa ia menyimpan masalah yang begitu besar. Apalagi tadi di angkot, Rania mengeluarkan semua unek-uneknya. Meyakinkan Reyhan bahwa gadis yang sedang ada di hadapannya itu butuh seseorang untuk di jadikan teman ngobrol.
"Kamu punya masalah apa Rania?"
Masalah? Kenapa dia menanyakan hal itu? Berarti dia tidak benar-benar tidur saat di angkot. Dia mendengar semua ucapanku.
__ADS_1
Rania bingung harus menjawab apa. Bisa-bisanya orang yang baru saja ia kenal mampu menebak perasaannya. Perasaan yang sedang kacau. Tapi untunglah, penjual minuman itu datang dan membawa nampan berisi pesanan. Kemudian menyodorkan 2 gelas minuman segar yang akan membasahi tenggorokan yang sudah kering. Bahkan untuk menjawab pertanyaan Reyhan saja sudah tidak mampu.
Rania menyedot minuman segar itu, pikirannya masih memikirkan jawaban apa yang akan berikan kepada Reyhan mengenai pertanyaannya tadi.
Ah, kenapa aku seperti gadis bodoh.
Rania tersenyum dan menundukkan kepalanya sekali kepada Reyhan. Kemudian ia melihat sebuah bangunan yang sepertinya itu di berhentikan sementara. Reyhan menoleh ke arah Rania yang sedang memandangi bangunan belum selesai itu. Dan ikut memandangi bangunan itu juga.
"Itu bangunan milik PT. Briliant Grup. Berhenti sementara sejak 2 bulan yang lalu. Entah kenapa alasannya. Rencananya mau bikin Ruko terbesar se-Indonesia."
Rania mengangguk-anggukan kepalanya saat mendengar penjelasan Reyhan mengenai bangunan itu. Pandangannya tidak terlepas dari bangunan milik PT. Briliant Grup. Rania tidak ngeh, bahwa PT. Briliant Grup itu nama perusahaan suaminya.
"Di sini juga banyak sekali ruko yang di sewakan, masih ada beberapa juga yang masih kosong." sambung Reyhan.
Rania melihat ke sekitar tempat itu. Benar. Di sana banyak sekali ruko tempat orang berjualan.
Ah, kalau begitu, aku minat menyewa ruko. Rencananya aku mau buka online shop. Siapa tahu rejeki aku ada di sana. Pikir Rania.
Rania mengambil ponselnya di tas slempang yang sedari tadi di biarkan tergeletak di meja. Kemudian menyodorkannya pada Reyhan.
"Aku minta nomer telpon kamu, siapa tahu aku minat untuk menyewa ruko di sini." pinta Rania.
Reyhan segera mengambil ponsel Rania dan menuliskan nomer telponnya dengan cepat, lalu ponsel di kembalikan kepada pemiliknya. Rania dan Reyhan kembali meminum minuman segar itu dan menatap bangunan yang terhenti sementara.
__ADS_1
Bersambung...