Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Penculik Rania adalah?


__ADS_3

Mobil yang membawa Rania berhenti di sebuah tempat yang tidak ada rumah selain satu bangunan yang sepertinya itu adalah gudang tua. Tidak ada bangunan-bangunan yang menjulang di sana, hanya ada mobil-mobil tua yabg sudah rusak dan usang di tumbuhi alang-alang. Lampu jalanan yang redup nyaris tak menampakkan cahaya.


Bruggg..


Pria yang menculik Rania itu menjatuhkan tubuh Rania ke lantai pojok ruangan yang gelap, di tempat yang jauh dari keramaian. Sehingga membuat tubuh gadis itu terhenyak dan juga berpengaruh besar pada kandungannya, membuat Rania meringis kesakitan.


Pria itu membuka penutup kepala Rania, sehingga saat ini Rania dapat melihat siapa orang yang telah berbuat jahat padanya. Rania sangat terkejut ketika melihat pria yang sedang berdiri di hadapannya itu.


"Kau ini, sopir taksi online tadi kan?"


Kalau saja lengan Rania tidak di ikat, mungkin saat ini ia sudah membungkam mulutnya yang menganga karena tidak percaya, ia tahu betul sopir taksi online yang mengenakan topi hitam dan memakai masker.


"Iya, memangnya kenapa? Kamu kaget?" sopir taksi online tersebut tersenyum khas seperti penjahat yang ada film-film, ternyata Rania masih mengenali dirinya.


Rania berusaha berdiri, namun rasa sakit di bagian perutnya membuat ia ambruk kembali.


"Sudahlah, tidak usah memaksakan diri, kamu itu perempuan lemah!" maki seseorang yang berdiri di samping pria itu, dia seorang wanita. Tapi siapa?


Suara mereka tidak asing di telingaku? Batin Rania.


"Sekarang katakan, siapa kalian ini? Jangan jadi pengecut, yang bisanya sembunyi di balik masker yang kalian pakai!" hardik Rania, membangkitkan kembali emosi kedua penculik Rania.


Brakkkk..


Pria itu menggebrak meja yang ada di sana dengan keras, membuat jantung Rania mulai berdebar dengan tidak beraturan. Sebenarnya Rania sangat ketakutan, tapi untuk menghadapi penjahat seperti mereka, Rania berusaha untuk tetap tenang. Namun ia tidak bisa mengumpatkan rintihan akibat sakit di bagian perutnya itu.


"Jangan banyak bicara, itu hanya akan menghabiskan tenagamu! Lebih baik kalau kau masih sanggup bicara, berdo'alah! Semoga Tuhan memberimu kesempatan untuk hidup kedua kalinya! Hahaha..." Pria itu kembali tertawa seperti orang yang sudah kehilangan akal, di ikuti oleh wanita yang setia berdiri di sampingnya.


Rania di buat semakin ketakutan, kali ini ia tidak dapat menahan air mata yang terus yang sudah menggenang di pelupuk matanya.

__ADS_1


Pria itu berjalan mendekat ke hadapan Rania, kemudian ia berjongkok untuk mengimbangi Rania yang masih tergeletak di lantai. Ia menarik dagu Rania dengan kasar, mendekatkan pada wajahnya yang menatap Rania dengan sorot mata tajam. Rania segera menundukkan wajahnya, dan memundurkan sedikit wajahnya dari wajah pri jahat itu.


"Wajah ini sangat cantik," pria itu mengusap wajah Rania tanpa seizin pemiliknya, itu membuat Rania segera membuang wajahnya. Ia tidak sudi di sentuh oleh pria selain suaminya. Rasanya Rania ingin sekali menghajar pria yang sudah kurang aja padanya. Sayangnya, ia sudah tidak lagi memiliki kekuatan lagi, bahkan untuk menahan rasa sakit di bagian perutnya juga sudah tidak sanggup.


"Jangan takut! Aku tidak akan berbuat yang macam-macam!" ujar pria itu, bibirnya menyeringai. Rasanya sangat senang membuat gadis di hadapannya ini nampak ketakutan.


"Cepat katakan! Apa maumu? Sebenarnya apa tujuan kalian ini? Jawab!" seru Rania, suaranya terdengar semakin parau.


Pria itu menarik tangannya dari pipi Rania, ia mengunci kontak matanya dengan gadis di hadapannya.


"Kalau kamu ingin tahu siapa aku, baiklah! Aku akan coba memperlihatkan wajahku sama kamu" pria itu kembali berdiri dan selangkah lebih mundur untuk kembali ke tempat berdirinya tadi.


Ketika pria itu perlahan membuka topi bawaan sweaternya, Rania menyipitkan kedua matanya merasa tidak sabar dengan wajah pria yang sudah tega menculik dirinya, bahkan menyakiti dirinya. Seketika terhenti ketika salah satu wanita lain tiba-tiba masuk ke dalam gudang tua tersebut seraya mengatakan:


"Apa Rania sudah berhasil di habisi?" suara wanita tersebut membuat semua pasang mata tertuju padanya.


"Kakak ipar...?" Rania berusaha menyadarkan dirinya, apakah yang ia lihat ini benar-benar nyata, apakah yang ia dengar barusan itu sungguhan?


Arsilla melihat pada pria dan wanita yang berdiri di sampingnya, kemudian ia meraba wajahnya yang lupa mengenakan masker atau kaca mata hitam supaya tidak ada orang yang sanggup mengenali dirinya terutama Rania.


"Iya, memangnya kenapa? Kau terkejut gadis kampungan?!" kalimat yang di lontarkan Arsilla kembali membuat hati Rania sakit, bagai di sayat kemudian di taburi garam. Perih.


Rania menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak menyangka kalau Arsilla yang sedang berdiri di hadapannya.


"Jadi selama ini kakak ipar pura-pura baik? Selama ini kakak ipar belum berubah?" air mata Rania mulai menderas, ia masih tidak habis pikir.


Senyuman menyeringai di wajah Arsilla. "Aku memang tidak pernah berubah, gadis kampungan! Ya, kau benar. Aku berpura-pura baik, agar papa tidak bisa membuat hidup aku menderita dengan kemiskinan seperti dirimu. Puas?" Arsilla memelototi Rania, jika saja ia membuka matanya lebih lebar lagi, tidak menutup kemungkinan matanya akan copot dan jatuh ke lantai.


Air mata Rania kini mengalir lebih deras dan tak menyurut, ia sama sekali tidak habis pikir kalau kakak iparnya berbuat senekad ini untuk mencelakainya. Bagaimana kalau ayah mertuanya tahu, pak Brahma pasti akan marah besar.

__ADS_1


Pandangan Rania teralih pada wanita satu lagi yang sedari tadi berdiri di sana. Namun ia tidak dapat mengenali siapa wanita itu, karena dia menggunakan masker dan kacamata hitam, juga menggunakan topi untuk menutup rapat-rapat wajahnya. Setelah ia tahu Arsilla berbuat nekad pada dirinya, Rania jadi curiga kalau wanita yang satunya lagi itu adalah Hera. Ya, itu sama sekali tidak menutup kemungkinan untuk Hera ikut mencelakai dirinya.


"Lebih baik lepaskan masker yang kau pakai itu, aku sudah tahu kau siapa?" Rania menatap Hera dengan sorot mata tajam, seketika mata wanita itu terkejut. Bagaimana mungkin Rania dapat mengenalinya dengan baik? Sampai penyamarannya terbongkar. Semua gara-gara Arsilla.


Wanita itu membuka seluruh benda yang menutupi wajahnya, kemudian ia melemparkannya ke arah Rania. Dan benar, begitu ia buka semua benda yang menutupi wajahnya, ia menampakkan wajahnya sebagai Hera.


"Sebenarnya, apa sih yang membuat kalian benci sama aku? Sampai-sampai kalian tidak hanya mencelakai aku, tapi juga calon anak ku, anak Bagas, dan calon keponakan kakak ipar sendiri!" Rania menatap kakak ipar dan tantenya secara bergantian, benar-benar manusia biadab mereka.


"Kenapa, kamu takut? Kamu kaget kalau kita bisa senekad ini? Kita berdua bersekongkol untuk mengelabuhi Brahma dengan cara Arsilla pura-pura baik, dan kita berhasil. Lalu, dia yang kamu kira sopir taksi online ini adalah seseorang yang juga benci sama kamu, Rania!" ujar Hera dengan nada tinggi.


Rania menatap pada pria yang menyamar jadi taksi online-nya. Kok bisa kebetulan dia menjadi taksi online, lalu siapa dia sebenarnya. Mengapa Hera mengatakan kalau dia adalah pria yang juga membencinya. Kalian masih ingat Mr. X? Pria itu adalah Mr. X.


"Kalau kau seorang pria, tunjukkan wajahmu sekarang juga!" pinta Rania, ia benar-benar penasaran siapa wajah di balik masker dan topi yang di kenakan oleh pria itu.


Pria itupun mengangguk setuju, kemudian satu persatu ia buka benda yang menutupi wajahnya tersebut. Sampai akhirnya Rania dapat melihat wajahnya dengan sangat jelas.


Rania menggelengkan kepalanya tidak percaya, ternyata pria itu adalah...


.


.


.


Coretan Author:


Like, vote, komen, tambahkan ke favorit.


Follow ig: wind.rahma

__ADS_1


__ADS_2