
Sore hari, Rania menggerutu di sepanjang jalan setelah ia pulang dari ahli gigi untuk memagar giginya. Sebenarnya ia bukan memenuhi permintaan suaminya, ia hanya ingin tahu apakah saldo yang ada di kartu kredit itu tidak akan habis setelah ia gunakan untuk memagar gigi di dokter termahal sekalipun.
Sial! Kenapa aku tidak pernah meminta nomer telpon sekretaris Frans. Aku benar-benar malu tadi, ketika akan memasukkan password kartu kredit yang katanya tanggal lahir tuan Bagas. Kenapa aku tidak menanyakannya tadi, tapi jika aku menanyakan pada sekertaris Frans, aku akan di bilang istri macam apa aku ini. Tanggal lahir suami sendiri tidak tahu. Untunglah bisa search di google. Tapi, kok bisa ya dia begitu terkenal sampai google-pun tahu identitasnya.
Tidak terasa, Rania sudah sampai di depan rumah. Ia masuk setelah pelayan di sana membukakan pintu untuknya. Rania melihat ke sekelilingnya, takutnya akan ada manusia itu lagi yang akan menyerangnya. Tidak ada tanda-tanda ia akan mendapat serangan lagi. Kemudian Rania menghela nafas panjang dan nenghembuskannya. Merasa lega karena dirinya tidak akan mendapat cacian dan makian.
Rania memutuskan untuk pergi ke dapur. Rasanya ia harus benar-benar berkenalan dengan para pelayan untuk mendapatkan teman di rumah ini. Rania mendapati bi asih, sang pelayan senior yang sedang memasak.
Waw, sepertinya masakan ini enak sekali.
Bi Asih menoleh setengah terkejut setelah menyadari Rania sudah berdiri di sampingnya.
"Eh, nona. Ada yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
"Tidak ada bi Asih." ucap Rania ramah.
"Bi, saya boleh tanya sesuatu?"
"Tentu saja, nona. Silahkan!"
"Bi Asih sudah bekerja berapa lama di rumah ini?" tanya Rania penuh penasaran.
"Sekitar 15 tahun nona." jawab bi Asih yang mendapat anggukkan dari Rania.
"Ya sudah bi, di lanjutkan saja! Semangat bi." Rania menyemangati bi Asih. Tujuannya agar bi Asih lebih betah dan sabar tinggal di rumah ini.
Rania juga sempat berfikir, bi Asih mungkin lebih membutuhkan pekerjaan ini. Sehingga ia tidak menghiraukan kekejaman majikannya.
__ADS_1
Rania melihat ke sekeliling dapur, di sana banyak sekali pelayan yang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Rania tersenyum.
Semoga aku bisa kuat seperti mereka. Ini bukan perihal betah atau tidak betah. Tapi kuat gak kuat, harus tetap tinggal di rumah ini. Rumah yang tidak layak di sebut rumah.
*****
Rania duduk di sofa kamar, ia menatap jam dinding sudah menjukkan pukul 19:45. Semenjak ia tinggal di rumah ini, ia belum pernah mendapati Bagas yang pulang malam. Tapi saat ini, Bagas belum pulang juga. Tidak memberi kabar juga.
Ah, sudahlah. Kenapa aku jadi memikirkannya. Aku tidak perduli dia mau pulang malam bahkan tidak pulang sekalipun.
Rania membaringkan tubuhnya di sofa tersebut. Mulai memejamkan mata. Tiba-tiba ia mendengar sesuatu sampai membuatnya membuka mata kembali. Ia mengelus perutnya. Ternyata suara itu berasal dari perutnya sendiri.
"Lapar sekali. Benar-benar ribet peraturan di rumah ini. Makan saja harus menunggu pemilik rumah datang. Harus tetap menunggu sampai tiba masanya mati kelaparan." Rania terus saja mengomel pada Bagas yang tak kunjung datang.
__ADS_1
Bersambung...