
Pagi harinya, Rania bangun dari tidurnya. Ia panik ketika melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Itu artinya ia bangun terlambat, pasti ia akan mendapatkan kemarahan dari suaminya karena tidak menyiapkan air untuk mandi dan juga pakaian kerjanya.
Dengan tergesa, Rania bangun dan langsung melipat selimutnya. Ketika ia melirik ke atas tempat tidur, Bagas sudah tidak ada di sana. Bagas pasti sudah ada di kamar mandi. Tamat riwayatnya, pikir Rania.
Dengan jalan yang setengah berlari menuju kamar mandi, di sana ia mendapati suaminya yang keluar dari pintu, masih menggunakan piyama tidurnya.
Aku sudah tahu, pasti kau akan memarahiku karena belum menyiapkan air untukmu mandi.
Rania meremas jemarinya, ia sudah tahu pasti pria di hadapannya ini akan memarahinya.
"Tu-tuan, maafkan aku!"
Rania dilanda kepanikan penuh ketakutan, sedangkan Bagas malah tersenyum melihat raut wajah istrinya.
"Cepat mandi, aku sudah siapkan air hangat untukmu!"
Heh?! Bicara apa dia, kenapa dia tidak memarahiku? Malahan dia yang menyiapkan air untukku mandi.
"Nih, handukmu" Bagas melemparkan handuk yang sering di pakai Rania, dengan cepat Raniapun menangkapnya.
"Aku akan menyiapkan pakaian untukmu, jadi setelah selesai mandi jangan lupa siapkan air untukku!"
Sumpah, aku tidak percaya dengan apa yang di katakannya barusan. Apa pendengaranku sudah mulai rusak, atau ini memang benar-benar nyata?
Bagas langsung keluar dari kamar mandi menuju lemari besar khusus pakaian Rania. Dan benar, dia menyiapkan pakaian untuk istrinya. Sedangkan Rania masih berdiri di tempat, mengingat lagi perkataan Bagas yang menyuruhnya untuk segera mandi, tubuh Rania tersentak dan langsung saja masuk ke kamar mandi.
*****
Setelah selesai sarapan, Bagas menghubungi sekretaris Frans, karena ia sudah janji akan mengajak Rania ke suatu tempat, dan ia hari ini memutuskan untuk tidak ke kantor. Bagas juga meminta sopir untuk menyiapkan mobil lamborgini yang akan ia pakai bersama istrinya.
Ketika mobil sudah siap, Bagas langsung membukakan pintu untuk Rania, Raniapun masuk. Bagas menutup pintunya dan mengitari area mobil untuk ia masuk ke dalam. Setelah itu, ia mulai menghidupkan mesin dan melajukan mobil lamborgini yang harganya sangat fantastis.
__ADS_1
Tidak tahu mau di bawa kemana, Rania ikut saja. Ia juga kali ini tidak berpikir macam-macam, entah kenapa. Biasanya setiap apa yang di lakukan Bagas terhadapnya, ia selalu berpikir buruk tentangnya. Entah kenapa kali ini tidak. Justru Rania menikmati perjalanannya sampai mobil berhenti di sebuah tempat, dimana tempat itu sepi, asri, dan menenangkan bagi orang yang sedang mempunyai masalah.
"Kemarilah!" pinta Bagas ketika mereka sudah turun dari mobil.
Rania yang sedang mengedarkan pandangannya ke setiap keindahan alam yang sedang ada di depan matanya, berjalan mendekat dan berdiri di samping Bagas.
Di sana udara terasa segar, pemandangannya begitu memanjakan mata siapa saja yang melihatnya. Rania menghela nafas panjang, tidak ingin menyianyiakan udara segar di sana.
"Kau tahu, ini tempat apa?" tiba-tiba Bagas berbicara begitu.
Rania hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak tahu.
"Ini adalah tempat yang sering aku datangi, ketika aku merasa rindu terhadap ibuku. Di sinilah aku melepaskan semua kerinduan itu" jelas Bagas membuat Rania merasa terharu.
"Kau tahu kenapa aku membawamu ke sini?"
"Kenapa?"
"Aku ingin kau juga melepaskan semua beban pikiranmu, lepaskan semua penderitaan yang telah aku berikan padamu selama ini! Di tempat ini, di tempat yang sama kita berdiri, aku ingin kita, aku dan kamu, memulai semua kebahagiaan"
Bagas melirik istrinya, ternyata air mata itu sudah mengalir di pipinya. Bagas berdiri mengahadap Rania, ia bingung kenapa istrinya menangis, padahal yang harus ia rasakan adalah bahagia.
"Hey, kenapa kau menangis?"
"Saya tidak kenapa-kenapa, justru tangisan saya ini adalah tangisan kebahagiaan. Saya merasa sedikit lega karena kau benar-benar sudah berubah"
Bagas menangkat kedua sudut bibirnya, tangannya yang gemetar mulai ia beranikan untuk menghapus air mata Rania di pipinya. Ia menatap lekat mata istrinya.
"Jangan sedih lagi!"
Dengan cepat Rania mengangguk, "Iya"
__ADS_1
"Rania.." panggil Bagas dengan nada samar, tapi itu terdengar jelas di telinga Rania. Mata Rania yang semula menunduk ke bawah, kini mulai berani membalas tatapan Bagas.
"Hem.. Iya" sahut Rania masih sedikit malu untuk menatap wajah Bagas sedekat itu.
Tangan Bagas kini memegangi kedua pipi Rania, dan secara leluasa memandang wajahnya.
"Aku mencintaimu." kalimat yang pernah di katakannya beberapa waktu lalu, namun ini terasa berbeda. Terasa lebih tepat untuk di ungkapkan. Mungkin kemarin terlalu cepat, hari ini adalah waktu yang tepat, dan jika esok sudah terlambat.
Bibir Rania tak bergeming, ia menatap wajah Bagas penuh tanya. Apa Bagas benar-benar mengucapkan kalimat itu dari hatinya yang paling dalam? Tapi Rania rasa begitu. Seakan-akan kalimat itu benar-benar di ucapkan dari hatinya, mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya.
"Apa kau sungguh?" tanya Rania mencoba memastikan apakah Bagas benar-benar mengucapkan itu dan pendengarannya tidak salah.
Namun Rania sedikit kecewa karena tidak ada lagi kalimat yang keluar dari bibir Bagas. Tapi sedetik kemudian Bagas memeluk erat tubuh Rania, dan alam yang menjadi saksi antara mereka berdua. Itu sudah menjadi bukti kalau Bagas memang sudah mencintai Rania. Ini bukan akhir dari cerita Bagas dan Rania, melainkan ini adalah awal dari kisah mereka.
Bagas melepaskan pelukan itu perlahan, kedua tangannya memegang bahu Rania.
"Sekarang kita lepaskan semua kenangan buruk itu dengan teriak, terika sekeras mungkin!"
"Iya"
"1, 2, 3"
"AAAAAARRGGHHHHH...."
Bagas dan Rania berteriak dengan seluruh kekuatan suaranya, itu adalah hal yang di percayai banyak orang untuk melepaskan semua beban pikiran. Ketika kita sudah meneriakannya, dan mengeluarkan semua rasa sakit kita melalui teriakan itu, akan terasa sangat lega. Jika tidak percaya, maka cobalah!
Bersambung...
#CUAP-CUAP_AUTHOR
Baper belum nih? Hayo ngaku siapa aja yang baper, hehe. Terus baca kelanjuta episodenya ya, karena ini adalah awal dari kisah mereka, kisah Bagas dan Rania. Akan di buat sebaper mungkin, dan perasaan kalian akan di buat campur aduk seperti nano-nano. Ada manis, pahit, asam dan lain sebagainya.
__ADS_1
Like, vote, tambahkan ke favorit juga ya jika kalian memang suka cerita ini.
Terima kasih