
Bagas menepikan mobilnya di bahu jalan, ia segera mencari keberadaan Rania menggunakan alat pendeteksi lokasi yang pernah ia pasang di ponsel istrinya. Bagas memperbesar layar ponselnya ketika ia sudah menemukan lokasi tersebut.
Bagas mengerutkan dahi. "Ini kan daerah yang jauh dari tempat keramaian?"
Bagas memperbesar lagi layar ponselnya. "Gudang tua? Rania pergi ke gudang tua? Mau apa dia ke sana?" Bagas semakin di buat bingung.
Sebuah panggilan masuk dari Papa-nya kembali membuyarkan Bagas. Pria itu segera menempelkan benda pipih itu ke dekat telinganya.
"Halo, pa. Papa jadi ikut mencari Rania?" tanya Bagas memastikan.
"Iya. Jadi gimana, apa kamu sudah tahu Rania ada di mana?"
"Aku baru ingat kalau aku pernah memasang GPS di ponsel Rania, pa. Dan barusan aku cek Rania ada di dekat gedung tua, jalan XX. Itu daerah yang jauh dari keramaian, aku masih bingung kenapa dia pergi ke sana," jelas Bagas pada pak Brahma.
"Rania tidak mungkin pergi ke sana, mungkin ada seseorang yang membawanya ke sana. Kita harus segera ke sana, papa takut sesuatu buruk terjadi!"
"Iya, pa." Bagas setuju dengan saran papanya, kemudian ia mematikan sambungan.
"Siapapun orang yang berani menyentuh istriku, maka dia akan tahu akibatnya!" Bagas menggretakan giginya, wajahnya di penuhi dengan rasa khawatir dan emosi cukup tinggi.
Bagas kembali menempelkan benda pipih itu ke telinganya saat ia sudah mengklik nomer seseorang. "Halo, Frans. Aku butuh bantuanmu.."
***
"Kalau kau seorang pria, tunjukkan wajahmu sekarang juga!" pinta Rania, ia benar-benar penasaran siapa wajah di balik masker dan topi yang di kenakan oleh pria itu.
Pria itupun mengangguk setuju, kemudian satu persatu ia buka benda yang menutupi wajahnya tersebut. Sampai akhirnya Rania dapat melihat wajahnya dengan sangat jelas.
Rania menggelengkan kepalanya tidak percaya, ternyata pria itu adalah...
"Hisam?" Rania membulatkan kedua matanya ketika pria yang menyamar menjadi sopir taksi online, pria yang ingin mencelakinya itu adalah Hisam.
Mr. X itu adalah Hisam, teman sekolah SMA Rania yang dulu mencintainya.
Bibir Hisam menyeringai, ia menatap Rania dengan sorot mata penuh kebencian. Bagaimana mungkin Hisam bisa berbuat jahat seperti itu, bukannya dia pria yang sangar baik?
Hisam merentangkan tangannya, memperkenalkan dirinya. "Ternyata kamu masih kenal sama aku, Rania. Jangan takut, bukankah aku ini temanmu?" suara Hisam terdengar sangat misterius.
"Hisam, aku tidak percaya kamu melakukan ini semua. Bagaimana kamu bisa kenal dengan kakak ipar dan tante Hera?" Rania sama sekali tidak pernah memiliki pikiran buruk terhadap Hisam, terlebih saat ini, saat dia sudah menculik dan menjatuhkan tubuhnya dengan sangat keras tadi.
__ADS_1
"Kak, aku yang jelaskan atau kakak saja!" Hisam menoleh pada Arsilla.
"Kau saja!" ujar Arsilla, ia dan Hera sudah tidak sabar untuk segera menghabiskan Rania.
"Baiklah," Hisam melipat kedua tangannya di dada.
"Jadi begini, Rania. Kamu tahu, kan, kalau aku ini sangat mencintai kamu? Dan aku menunggu kamu sekian lama, tapi ketika kamu kembali muncul datang ke sekolah pada saat itu, ternyata kamu bersanding dengan pria lain. Aku pikir dia pacar kamu, tapi ternyata dia adalah suami kamu."
"Ya aku tahu, suami kamu itu usianya jauh dengan usia kamu, tapi kamu mau karena dia orang tajir, kan? Dasar matre!" Hisam melontarkan makian yang tidak sepantasnya ia katakan pada Rania, air mata Rania yang semula mulai menyurut, kini kembali menggulir kian menderas.
"Pada hari itu, aku sangat kecewa dan sakit hati sama kamu, Rania. Penantianku untuk menunggu kamu itu tidak sebentar, tapi semua sia-sia begitu saja. Mulai saat itu juga, aku berjanji pada diriku sendiri, kalau aku akan menghancurkanmu suatu hari nanti, dan ini saatnya. Saat yang paling tepat untuk melenyapkanmu." sambung pria itu, di akhiri oleh tawa yang terbahak.
Tubuh Rania terasa membeku, jantungnya seakan tidak lagi berkerja, apa yang sedang ia lihat dan dengar ini benar-benar nyata? Rania tercekat dalam kebisuan, menatap teman pria yang selama ini ia anggap baik, ternyata hatinya sangat busuk.
"Mulai hari itu, aku mengikutimu sampai ke rumah suami kamu. Dan ternyata suami kamu itu adalah adik dari mantan istri abangku. Itulah jawaban dari pertanyaan dari mana aku mengenal kak Arsilla. Aku adalah adik ipar kak Arsilla, sebelum akhirnya rumah tangga mereka selesai," lanjut Hisam lagi.
"Dan satu lagi, Rania. Aku mengenal tante Hera dengan tidak sengaja, lalu kami berteman. Saat aku tahu kalau tante Hera adalah tante dari kak Arsilla, dan memiliki tujuan yang sama yaitu menghancurkamu, semangatku semakin bertambah. Maka dari itu, awalnya kak Arsilla terkejut melihatku, dia pikir aku sama dengan abangku, yang pernah memoroti harta kak Arsilla saja. Setelah aku bujuk kak Arsilla kalau aku memiliki tujuan yang sama dengannya, dengan alasan aku sakit hati karena kamu, akhirnya kak Arsilla setuju. Dan kita membuat rencana ini dengan matang. Hahaha..." Hisam terbahak dengan sangat keras.
"Rania, si gadis kampungan. Mungkin kita waktu itu gagal untuk meracunimu yang kita taruh di dalam gelas susu milikmu, karena itu mungkin hari keberuntunganmu. Tapi setelah kita tahu kalau kamu hamil, itu memberi peluang besar bagi kita untuk membuatmu lebih menderita sebelum akhirnya kita melenyakanmu," Arsilla ikut menimpali.
"Hahaha..." ketiga penjahat itu tertawa, atas kemenangannya.
"Sam, sebelum kita mengakhiri hidup gadis itu, ada baiknya kamu nikmati terlebih dahulu tubuhnya. Lumayan, kan? Hahaha.." seru Hera, membuat Rania yang semula diam kini menjadi berontak. Kata-kata Hera sangat melukai hati Rania, bagaimana mungkin dia bisa mengatakan hal segila itu?
Rania menggeleng keras, ketika Hisam sudah berdiri di hadapannya. Ia berusaha mundur dari Hisam, namun apalah daya ia sudah terjebak di pojokan. "Jangan lakukan itu, Hisam! Aku mohon, jangan!"
Hisam berjongkok, ia menatap Rania dengan menjulurkan lidar yang mengitari area bibirnya. Rania terus menggelengkan kepala, dan meminta Hisam untuk menjauhkan tubuhnya darinya. Namun Hisam tetap nekad, ia membuka dua kancing atas baju yang Rania kenakan, menampakan belah*n indah milik gadis itu.
Rania tidak dapat lagi berkutik, setelah Hisam mencekram rahang Rania kuat-kuat, dan memintanya untuk tetap diam, kalau tidak akan lebih nekad lagi.
Hisam, mendekatkan wajahnya pada belah*n dada Rania, ia mendengus seperti orang yang sedang mencari sumber aroma kenikmatan. Namun, ketika ia menjulurkan lidahnya dan hanya menyisakan jarak beberapa mili saja dengan kulit dada gadis itu, Hisam berhenti dan segera mundur dari tubuh gadis itu.
Arsilla dan Hera yang sudah tidak sabar menyaksikan kehancuran Rania seketika marah pada Hisam ketika ia mengurungkan niatnya.
"Kenapa kau tidak jadi menikmati tubuh gadis itu, Hisam?" ujar Arsilla.
"Aku tidak tertarik lagi, dengan tubuh gadis bekas orang lain," jawab Hisam, kata-kata sangat menusuk hati Rania.
***
__ADS_1
Sementara di tempat kediaman bu Sari.
Nadira mengguncang-guncangkan tubuh ayahnya, pak Burhan. Setelah pak Brahma memberinya kabar kalau Rania menghilang di sebabkan oleh kemungkinan besar di bawa oleh orang lain.
"Ada apa sih?" pak Burhan bangun, namun matanya masih belum terbuka sempurna.
"Ayah, Rania di culik!" seketika mata pak Burhan terbuka, namun tiba-tiba saja ia tidak percaya dengan apa yang di katakan Nadira.
"Alah, ngaco kamu, Nad. Mana mungkin Rania di culik?" pak Burhan sama sekali tidak mempercayainya.
"Terserah ayah mau percaya atau tidak, yang penting sekarang ayah temani ibu di ruang tamu! Ibu histeris karena mencemaskan Rania, ayah!" Nadira membesarkan volume bicaranya, sengaja kalau ia sedang berhadapan dengan ayahnya.
"Iya, iya. Kamu duluan temani ibu, ayah pakai baju dulu!" titah Burhan, karena pada saat itu ia memang bertelanj*ng dada.
Pak Burhan mengambil bajunya di lemari, setelah selesai ia harus segera menemani bu Sari untuk membantu menenangkan kecemasannya. Baru saja ia melangkah dan sampai di ambang pintu, tiba-tiba ponselnya berdering dan memunculkan nomer yang tidak di kenal.
Pak Burhan mengambil ponselnya, awalnya ia tidak memperdulikan penelpon dengan nomer yang tidak ia kenal. Tapi setelah dering ponselnya mati, nomer itu kembali menghubunginya.
"Halo, siapa? Ada apa telpon malam-malam, ganggu orang tidur saja!" pak Burhan langsung saja mengomeli penelpon tersebut.
"Selamat malam, pak. Maaf mengganggu waktunya! Betul ini dengan keluarga Raditya Andhika?"
"Iya. Kenapa?" jawab pak Burhan ketus.
"Saya pihak dari rumah sakit ingin memberi tahu, kalau Raditya Andhika sedang di rawat di sini, dia mengalami kecelakaan motor tadi sore!"
"Apa?" pak Burhan membungkam mulutnya tidak percaya, ia sampai tidak sengaja menjatuhkan ponselnya. Barusan Nadira bilang kalau putrinya di culik, dan sekarang pihak rumah sakit memberinya kabar kalau putranya kecelakaan.
.
.
.
Coretan Author:
Hayo, siapa yang udah pada suudzon sama Radit? wkwk.
Kenapa jadi Hisam yang jadi Mr. X? Ya memang dari awal saya sudah buat alurnya seperti ini, agar kalian tidak bisa menebak. Hehe.
__ADS_1
Yang mau pada minta maaf, saya tunggu di kolom komentar. Nanti saya antar ke rumah sakit ketemu Raditya Andhika!
Follow ig: wind.rahma