Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Menyadari kesalahan


__ADS_3

Di rumah sakit tempat Radit di rawat.


Saat ini juga bu Sari sedang menyuapi putranya sambil terus menyemangati, walaupun pikirannya masih mengarah ke anak yang satunya lagi. Belum ada kabar lagi dari Bagas, tentang kondisi Rania. Kalau ia pergi ke sana, lalu siapa yang akan menjaga Radit di sini. Karena Nadira belum tentu mau, menghadapi Radit yang memiliki sifat keras kepala.


"Alhamdulillaah, kamu makan dengan lahap, Dit. Sekarang kamu harus minum obat, biar cepat sembuh!" ujar bu Sari, sambil menaruh mangkuk di nakas dan mengambil obat yang di siapkan oleh suster untuk Radit.


"Iya, bu. Terima kasih, ya!" Radit menatap sayup wajah ibunya, ternyata tidak ada orang lain lagi yang lebih perduli ketika dirinya sedang sakit selain seorang ibu dan keluarga.


"Sama-sama, nak. Ini sudah menjadi kewajiban ibu, selama kamu belum berumah tangga, semua masih tanggung jawab orang tua. Bahkan yang sudah berumah tangga sekalipun, seorang ibu pasti tidak akan pernah sedikitpun merubah kasih sayang terhadap anak-anaknya," bu Sari menatap putranya dengan prihatin, ada seulas senyum di bibir bu Sari ketika mendengar Radit memberi ucapan terima kasih untuknya.


Radit meraih tangan ibunya yang sedang sibuk mengambil obat dari tempatnya. Itu membuat bu Sari seketika tercekat dalam kebisuan. Keheningan menyelusup di antara mereka berdua.


Radit mengunci kontak mata dengan ibunya, sehingga bu Sari sudah tidak dapat mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Bu, mungkin apa yang saat ini aku alami ini adalah hukuman dari Tuhan. Karena aku sudah sering menyakiti perasaan ibu. Aku sering melukai ibu melalui ucapan dan sikap aku pada ibu. Aku minta maaf! Aku benar-benar menyesal," sesal Radit dari relung hatinya yang paling dalam.


Bu Sari tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Radit, rasanya ini adalah kali pertamanya Radit mengucapkan kata maaf kepadanya. Setelah beberapa kesalahan telah ia perbuat selama ini. Hati bu Sari bergetar mendengarnya, sampai setitik kristal menggulir di pipi wanita parubaya itu.


"Ibu selalu memaafkan setiap kesalahan yang kamu perbuat, nak. Tidak sepantasnya kamu bilang ini adalah hukuman dari Tuhan. Dan kalaupun benar, ini bukan hukuman, melainkan teguran. Teguran supaya kamu bisa menjadi orang yang lebih baik lagi," air mata bu Sari kini kian menderas. Ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata haru, karena akhirnya Radit menyadari kesalahannya, setidaknya bisa berubah setelah kejadian yang menimpanya.


"Iya, bu. Radit janji, kalau Radit akan berubah menjadi baik lagi. Ibu do'ain, ya!"


"Iya, sayang. Ibu akan selalu mendo'akan. Do'a ibu mengalir di nadimu, nak," suara bu Sari semakin parau, ikut hanyut dalam tangisan yang tidak kenapa tidak dapat ia hentikan.


"Aku sayang ibu," Radit tak kalah mengaharukan, ia mencoba untuk bangun dan memeluk tubuh sang ibu yang sama sekali tidak pernah mau ia sentuh sebelumnya.


Waktu terasa berhenti, detik jam pun tidak lagi terdengar. Hanya ada tangisan kebahagiaan, tangisan yang membuat orang yang menyaksikannya akan ikut terharu dan menitikan air mata. Semoga kamu benar-benar akan berubah Radit, agar tidak ada orang lain lagi yang larut dalam kebencian atas sifat dan sikap dirimu. Termasuk pembaca, hehehe.

__ADS_1


Bu Sari melepaskan pelukannya, ia memegang erat lengan atas yang kekar milik putranya. Menatap sayup wajah putranya seraya mengatakan,


"Ibu juga sayang kamu, nak," bu Sari mengalihkan rambut yang menutupi kening putranya, lalu membenamkan ciuman di sana.


Radit serasa hidup kembali, menjadi manusia yang benar-benar manusia.


Manusia akan di manusiakan jika ia bisa memanusiakan manusia lainnya. Itu pelajaran dari Radit untuk kalian semua. Semoga kalian juga bisa memanusiakan manusia.


Air mata di antara keduanya mulai menyurut. Bu Sari merasa lega, karena akhirnya Radit tidak akan lagi hidup dimana ia sering membentak, bersikap kasar, dan hal lain yang membuatnya sering mengelus dada.


Begitupun dengan Radit, ia merasa sangat lega. Karena pada akhirnya, ia mampu mengucapkan kata maaf yang tidak bisa semua orang lakukan terutama pada seorang ibu. Kata sederhana namun terasa sangat berat sekali jika di ucapkan untuk ibu. Apakah ada yang sama?


"Sekarang kamu minum obat dulu, ya! Biar cepat sembuh," bu Sari mengambil obat yang tadi mau ia berikan pada Radit.


"Iya, bu." Radit menagguk dan menerima obat itu bersama segelas air putih.


"Bu, Rania mana? Kok aku belum lihat di datang untuk menjengukku. Apa dia tidak mau menjengukku, ya, karena aku ini abang yang selalu saja menyusahkannya? aku sudah berbuat jahat kepadanya," Radit bertanya secara beruntun pada bu Sari, seketika ia menundukkan wajahnya.


Bu Sari menggeleng keras, membantah ucapan dan pikiran Radit dengan lembut. "Bukan seperti itu, Dit! Rania pasti akan datang ke sini kalau dirinya sudah membaik."


Radit mengerutkan dahi. Ia menatap kedua bola mata itu secara bergantian. "Membaik? Memangnya Rania kenapa, bu?"


Bu Sari menghela napas panjang, "Jadi begini..." lalu bu Sari menceritakan semua kejadian yang menimpa Rania yang ia ketahui. Mulai dari Rania yang menghilang, Rania di culik, sampai Rania masuk rumah sakit akibat pendarahan.


"Tapi Rania dan kandungannya baik-baim saja kan, bu?" Radit terlihat cemas, begitu mendengar cerita yang menimpa adiknya.

__ADS_1


"Ibu tidak tahu. Nak Bagas belum memberi lagi kondisi Rania. Mudah-mudahan Rania dan bayi yang ada di dalam kandungannya baik-baik saja."


"Jadi ibu belum ke sana untuk melihat keadaan Rania?"


Bu Sari menggeleng lemah. "Kalau ibu ke sana, lalu siapa yang akan jagain kamu?"


Radit menatap dalam ibunya. Ia memang merasa bahagia di jagain oleh sang ibu yang sangat perhatian. Namun bukan hanya dirinya saja, Rania-pun berhak mendapatkan hal yang sama. "Rania lebih membutuhkan ibu. Lebih baik ibu ke sana, ya! Aku tidak apa-apa, di sini kan masih ada suster yang bisa jagain aku bu."


"Tapi, nak..."


Belum selesai ibunya bicara, namun Radit segera memotongnya. "Bu. Percayalah! Aku baik-baik saja." Radit mencium punggung tangan ibunya.


Bu Sari mengangguk tersenyum, rupanya Tuhan benar-benar telah memberi hidayah pada Radit. Sampai Radit bisa berbicara seperti sekarang ini.


Pelajaran yang dapat kita ambil lagi dari bagian kali ini adalah bahwa setiap kejadian itu ada hikmahnya. Dan kejadian yang menimpa Radit, membuatnya sadar akan semua perbuatannya.


.


.


.


Coretan Author:


Jangan lupa komen di kolom komentar mengenai Radit, ya!

__ADS_1


Like, vote, tambahkan ke favorit.


Follow ig: @wind.rahma


__ADS_2