Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Penyebab Rania tidak sadarkan diri


__ADS_3

Ternyata Bagas tidak jadi untuk menginap di luar kota karena pertemuan dengan klien hanya sebentar. Ia senang sekali tidak jadi meninggalkan istrinya di rumah dan membiarkannya tidur sendirian malam ini.


Bagas berjalan menuju kamar pada saat dirinya baru saja tiba di rumah. Kamar itu nampak sepi saat ia memasukinya, tidak seperti biasa ia pulang langsung di sambut oleh istri tercinta.


"Di mana Rania? Apa jangan-jangan dia sedang bersembunyi dan akan mengejutkan aku? Eh, tapi dia kan tidak tahu bahwa aku tidak jadi menginap" gumamnya.


Bagas membuka jas hitam yang ia kenakan, lalu ia lemparkan ke atas sofa. Ia juga melonggarkan dasi yang terpasang di kerah kemejanya. Bagas mencoba mencari gadis itu ke kamar mandi, ke lantai bawah, hingga menanyakan pada seluruh pelayan keberadaan istrinya. Namun semuanya menggeleng tidak tahu dan gadis itu sama sekali tidak memberi pesan apapun.


"Ke mana dia?"


"Rania..."


"Sayang.." Bagas memanggil nama istrinya berulang kali. Ia kembali ke kamarnya, mencoba memeriksa kolong ranjang tempat tidur siapa tahu ada di sana sedang sembunyi. Namun, ia tidak juga menemukannya.


Bagas kembali mengambil jas hitam yang tergeletak di sofa dan mengambil ponsel di dalam sakunya. Begitu ia tatap layar ponsel yang sudah di nyalakan, ia melihat panggilan tidak terjawab sebanyak dua belas kali dari nomor yang tidak di kenal.


Bagas menatapnya bingung, siapa orang yang sudah menelponnya berulang kali sebanyak itu? Karena penasaran, ia mencoba untuk memanggil balik nomor itu. Baru saja ia akan menekan nomor itu, tiba-tiba pesan masuk dan tertera dari nomor yang sama. Bagas segera membuka pesan itu yang isinya:


Rania masuk rumah sakit XX.


-Reyhan


Deggg..


Tiba-tiba raut wajah Bagas berubah panik, ingin rasanya ia menanyakan alasan Rania bisa masuk rumah sakit. Namun untuk segera pergi ke sana, ia jauh lebih baik. Dengan langkah terburu-buru Bagas menuruni anak tangga sampai ia hampir terpeleset. Ia berjalan berpapasan dengan Hera, tantenya.


"Bagas, kamu pulang?" tanyanya sambil mengikuti Bagas di belakang, karena ia tidak mau menghentikan langkahnya juga.


"Iya, tante" jawab Bagas singkat.


"Kamu kenapa, sih? Kok kayak panik kayak gitu, mau kemana?" melihat Bagas memijat remote mobil lamborgini-nya, sepertinya dia akan pergi.


"Rumah sakit" jawabnya singkat lagi, tanpa memandang wajah tantenya. Ia terlihat terburu-buru sekali dan panik terus melanda dirinya.

__ADS_1


"Siapa yang sakit?" Hera penasaran, ia berteriak karena Bagas hampir masuk ke mobilnya.


"Rania" jawabnya sebelum kemudian ia masuk dan melajukan mobil dengan cepat keluar dari gerbang utama.


"Rania?" tanya Hera pada dirinya sendiri.


"Dia masuk ke rumah sakit? Haha, baguslah. Berarti Arsilla berhasil" Hera tertawa puas.


"Aku harus cepat-cepat kasih tahu Arsilla kabar gembira ini, dia pasti akan senang juga, haha" Hera tertawa atas kemenangan, karena berhasil melakukan sesuatu.


***


Bagas tiba di rumah sakit XX, ia berjalan dengan langkah semakin cepat. Ia melihat beberapa orang yang tidak asing sedang duduk di deretan kursi besi yang ada di depan salah satu ruangan yang ada di dalam rumah sakit tempat Reyhan membawanya tadi. Di sana ada bu Sari, pak Burhan, Nadira, Reyhan dan Diva.


"Rania bagaimana keadaannya? Dia kenapa bisa masuk rumah sakit?" tanya Bagas pada siapapun yang mau menjawabnya, ia begitu mencemaskan istrinya.


Reyhan bangun dari duduknya, ia mengusap bahu Bagas untuk menenagkannya.


"Anda tenang dulu! Dokter sedang memeriksa Rania di dalam, sebentar lagi dia pasti keluar" ujar Reyhan membuatnya sedikit lega, karena sudah ada dokter yang menanganinya.


Setelah lima menit lamanya, dokter keluar dari dalam ruangan. Bagas segera menghampirinya dan menanyakan keadaan istrinya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Apa dia baik-baik saja? Apa penyebab yang membuat dia tidak sadarkan diri?" tanya Bagas berbondong-bondong dengan tidak sabar menunggu dokter itu memberi jawaban.


"Kenapa anda diam saja, Dok? Cepat katakan mengapa istri saya bisa seperti itu?" Rasa ketidak sabaran Bagas membuatnya ingin menghajar Dokternya. Bar-bar sekali.


"Harap tenang, tuan!" tutur Dokter dengan mengangkat kedua tangannya, ia terlihat menahan rasa kesalnya pada Bagas yang terus bertanya tanpa memberinya celah untuk bicara. "Istri anda baik-baik saja" lanjut bicaranya.


Bagas merasa sedikit lega setelah mendengar jawabannya. "Lalu mengapa dia sampai tidak sadarkan diri, Dok?"


"Karena tekanan darah nona Rania terlalu rendah, sehingga menyebabkan dirinya sering merasa pusing. Ini terjadi karena nona Rania memasuki hormon awal kehamilan. Jadi, tuan jangan terlalu mengkhawatirkannya!"


Tiba-tiba kedua mata Bagas membeliak. Ia hampir memelotoi Dokter itu karena tidak percaya. Begitupun dengan yang lain ketika mendengar penjelasan Dokter barusan, semua pasang mata terpaku padanya.

__ADS_1


Suara Bagas seolah hilang tertelan dirinya sendiri. Ia mencoba kembali mencerna baik-baik perkataan Dokter barusan. Bagas mengerutkan keningnya. "Awal kehamilan?" Bagas mengulang kalimat itu untuk memastikan pada Dokter kalau ia tidak salah dengar.


"Iya, tuan. Ini adalah awal kehamilan istri anda. Hampir seluruh wanita akan merasakan seperti itu ketika awal kehamilannya. Darah rendah membuatnya akan sering merasakan pusing, mual hingga muntah"


"Jadi maksud Dokter istri saya hamil?" tanya Bagas dan Dokter mengangguk membemarkannya.


"Dokter tidak salah memeriksa kan?" Bagas terlihat serius, ia takut kalau dirinya yang terlalu berharap akan kehamilan Rania.


"Tidak, tuan. Saya memeriksanya dengan benar, dan nona Rania saat ini sedang hamil dan memasuki minggu kedua. Saya pikir anda tahu tentang kehamilan istri anda"


Bagas menggeleng singkat. "Saya benar-benar tidak tahu, Dok. Saya memang berharap istri saya hamil, dan sekarang Tuhan memberikan harapan itu dengan nyata"


"Kalau begitu selamat, ya! Anda akan menjadi seorang ayah dari anak anda kelak. Pesan saya, jangan membuatnya marah dan kesal. Kalau perlu turutin semua kemauan istri anda, kalau tidak..." Dokter itu menyelipkan senyuman ketika menggantungkan kalimatnya.


"Kalau tidak apa, Dok?" tanya Bagas penasaran.


"Kalau tidak, anda akan melihat bayi anda ngeces sepanjang harinya. Hihi" Dokter itu tertawa kecil, Bagas melihat ke sekeliling juga ikut tertawa, termasuk bu Sari yang tadinya khawatir berlebihan.


Mendengar kata 'Ayah', sudut bibir Bagas terangkat. Ia tidak bisa membayangkan indahnya memiliki keluarga yang sempurna dengan hadirnya si buah hati. Matanya mulai berkaca-kaca karena terlalu bahagia.


"Terima kasih, Dok. Apa saya boleh masuk?" Bagas sudah tidak sabar untum melihat keadaan Rania.


"Tentu saja, tapi saya sarankan maksimal dua orang dan masuk secara bergantian! " pesan Dokter sebelum akhirnya ia pergi untuk memeriksa pasien berikutnya.


.


.


.


.


Coretan Author:

__ADS_1


Bahagia rasanya saya sudah menulis sampai part akhirnya Rania hamil. Huh, aku jadi tidak sabar untuk terus melanjutkan ceritanya. Semoga suka, ya!


__ADS_2