
Sementara di tempat lain, sekretaris Frans dan Bagas sudah menaikki mobil yang segera di jalankan oleh sang sopir.
Sesekali sekretaris Frans melirik ke arah spion, untuk melihat aktivitas Bagas. Ia melihat Bagas sedang menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan mata terpejam. Sekretaris Frans kembali menatap ke depan.
Malam hari jalanan tidak macet, walaupun masih banyak kendaraan berlalu. Tidak lama kemudian, mobil sampai di gerbang utama dan berhenti tepat di depan rumah.
Sang sopir segera turun dan membukakan pintu untuk tuannya. Bagas masih dalam keadaan seperti tadi.
Sang sopir menepuk pundak Bagas pelan dengan penuh kehati-hatian, "Maaf tuan. Ini sudah sampai" sang sopir berusaha membangunkan Bagas.
Bagas mengerjapkan matanya berkali-kali setelah di bangunkan oleh sang sopir. Ia melihat ke sekitar, dan benar ia sudah sampai. Mobil sudah berhenti dan sopir sudah berdiri membukakan pintu.
Bagas langsung turun dari mobil, mendapati sekretaris Frans yang sudah turun juga. Ia langsung berjalan menuju pintu masuk utama yang di sambut oleh beberapa pelayan dengan tubuh sedikit di bungkukan sebagai hormat kepada tuannya. Sekretaris Frans berjalan di belakangnya, mengantar tuannya masuk ke dalam rumah.
Bagas berjalan memasuki rumah, sampai di ruang tamu ia membalikkan tubuhnya, sehingga berdiri berhadapan dengan sekretaris Frans.
"Selamat beristirahat tuan! Saya permisi!" sekretaris Frans sedikit menundukkan kepalanya sekilas.
"Pergilah."
Sekretaris Frans membalikkan tubuhnya dan keluar dari rumah itu. Kembali memasukki mobil yang tadi dan keluar dari gerbang utama.
*****
__ADS_1
Bagas membuka pintu kamarnya, mendapati gadis yang sedang bergeliat-geliut di atas tempat tidurnya. Tangan gadis itu tidak lepas menggenggam perutnya.
Apa yang sedang di lakukan gadis bodoh dengan tingkah gila-nya itu.
Bagas menutup pintu kembali secara perlahan. Dan melangkahkan kaki menuju tempat tidurnya.
Rania belum menyadari kalau Bagas sudah berdiri di samping tempat tidur. Ia masih sibuk dengan perut dan geliat-geliutnya. Kemudian ia membuka mata, matanya terbuka sempurna setelah melihat Bagas berdiri di sana.
Sejak kapan dia berdiri di sini. Kenapa tidak terdengar langkah kakinya. Dan pintu, aku tidak mendengar seseorang membukakan pintu. Ini pasti efek rasa lapar yang sudah melewati batas.
Rania segera turun dari tempat tidur dan berdiri di depan Bagas. Tubuhnya membeku, mulutnya tidak berani mengatakan apapun. Karena kata maaf mungkin tidak akan sebanding dengan yang ia lakukan barusan.
"Siapkan air! Aku mau mandi." ucap Bagas.
"Apa kau ini tidak dengar? Siapkan air untukku mandi!" bentak Bagas yang membuat tubuh Rania terpelonjat.
"Ba-baik tuan"
Dengan sigap Rania berjalan setengah berlari menuju kamar mandi. Rania mengisi air ke dalam bak mandi yang sering Bagas pakai.
Apa kata-katanya 'Aku bisa melakukannya sendiri' itu sudah tidak berlaku lagi dalam hidupnya. Sampai ia sudah berani menyuruhku yang harus melakukannya.
Setelah penuh, Rania kembali dan Bagas sudah memakai handuk kimono.
__ADS_1
"Sudah, tuan."
"Siapkan pakaian ganti untukku!" titah Bagas kemudian ia pergi ke kamar mandi.
Rania mengepalkan kedua tangan, dan menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras.
"Kenapa? Itu sudah menjadi tugasmu melayaniku sebagai suami."
Rania terkejut mendengar ucapan itu, ia membalikkan tubuhnya. Bagas ternyata mendengar hentakkan kakinya, dan tubuhnya setengah keluar dari pintu kamar mandi.
"Baik, suamiku." jawab Rania memberi senyuman sebagai pemanis.
Dia terus melihat ke arah Bagas dengan memastikan kalau Bagas sudah benar-benar masuk dan mulai mandi.
Ah, sial! Lagi-lagi aku mengatakan hal yang menjijikkan, membuat aku menjadi seseorang yang munafik. Sabar. Ini ujian.
Rania mengelus dada, menghela nafas panjang dan menghembuskannya. Ia harus benar-benar ekstra sabar menghadapi orang semacam Bagas. Syukurlah, dia tidak curiga dengan cara bicara Rania yang hanya sedikit membuka mulutnya.
Bersambung...
#CUAP-CUAP_AUTHOR
Hallo readers setia TUAN TAJIR. Aduh maaf ya baru bisa up lagi. Kemarin saya benar-benar super duper sibuk dengan acara. Terima kasih sudah setia menunggu kelanjutannya. Semoga bisa mengobati kerinduan kalian terhadap Rania dan Bagas.
__ADS_1