
Di tempat kediaman tuan tajir.
Biasanya Bagas dan Rania turun dari tangga dan duduk di meja makan paling akhir, kali ini mereka duduk di sana paling awal. Bahkan sebelum hidangan siap di hidangkan mereka sudah stay di sana.
Para pelayan mulai menghidangkan sajian makan malam, Brahma, Arsilla dan Hera-pun ikut gabung di meja makan. Brahma yang melihat mereka berdua sudah ada di sana menatapnya dengan bingung.
"Tumben paling awal?" tanya Brahma sambil menarik kursi dan duduk.
"Sekalian mau bilang ke papah, kakak, dan tante Hera juga" jawab Bagas dengan wajah terlihat gembira.
"Katakan!"
"Besok Bagas dan Rania akan pergi ke Bali, usia pernikahan kita sudah sekian bulan tapi belum pernah kami bulan madu" ucapan Bagas di respon baik oleh Brahma, namun Arsilla yang mendengarnya seketika tersedak karena ia sedang minum.
"Kamu baik-baik saja?" tanya sang ayah pada putrinya.
"Sepertinya aku sudah tidak memiliki selera makan, pah. Perutku mendadak mual, aku harus istrihat" Arsilla berdiri dan beranjak meninggalkan meja makan, mungkin akan kembali ke kamarnya.
"Saya juga, mas. Entah kenapa saya mengantuk sekali" sahut Hera di akhiri dengan menguap yang di buat-buat. Hera pergi menyusul Arsilla. Panggilan mas, adalah panggilan Hera untuk Brahma sebagai kakak iparnya.
Rania menggeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat tingkah tante Hera dan kakak iparnya. Rania sudah tahu, mereka pasti tidak suka mendengar rencana bulan madunya.
Selain tidak suka, mungkin kakak ipar iri juga. Karena dia tidak memiliki suami yang bisa mengajaknya bulan madu. Ha ha, aku sarankan kakak ipar segera menikah lagi, dan semoga dapat jodoh sesuai keinginannya. Jahat begitu aku do'ain yang baik saja. Kalau untuk tante Hera, aku tidak tahu dia bersuami atau tidak, yang aku tahu tante Hera masih muda, cantik, tapi sayang dia jahat.
******
"Tidak usah terlalu banyak bawa pakaian, sekali pakai langsung buang, beli lagi juga tidak apa-apa!" ucap Bagas pada Rania yang sedang menata pakaian dan barang bawaan ke dalam koper.
"Simpan saja sombongmu, aku tidak butuh itu!"
"Aku bercanda, sayang! Kalau kau anggap serius juga tidak apa-apa, perkataanku ada benarnya juga"
"Terserah!" Rania sama sekali tidak menoleh suaminya, ia tetap fokus menata pakaian ke dalam koper.
"Atau kau tidak usah membawa pakaian juga tidak apa-apa. Aku akan tetap menyukaimu walaupun tanpa memakai pakaian sekalipun"
"Berhenti bicara dan kemas pakaianmu juga!" Rania menghentikan aktivitasnya dan menatap suaminya yang sedari tadi terus mengganggunya.
Bukan apa-apa, ini adalah pertama kalinya Rania akan pergi jauh, jadi ia harus benar-benar fokus dengan barang bawaannya. Takutnya ada barang yang ketinggalan, yang wajib ia bawa.
__ADS_1
"Kan ada kamu yang bisa membantuku mengemas barang bawaanku, jadi aku tidak perlu repot harus mengemas sendiri. Itu bagian dari tugas istri"
Rania kesal dengan Bagas, sedari tadi dia terus saja mengganggunya, dan sekarang memintanya untuk mengemas barang miliknya.
"Baiklah suamiku" jawab Rania dengan manis, kemudian mengambil koper yang akan di jadikan tempat barang bawaan Bagas.
Selang beberapa detik Rania langsung melempar koper itu ke pangkuan Bagas yang sedang duduk manis di tepi ranjang. Dengan refleknya Bagas melompat ke belakang menggunakan gaya katak, dan berakhir dengan tragis. Bagas terjatuh ke lantai, punggungnya yang menyentuh lantai membuatnya meringis kesakitan. Rania bisa gila juga, ya, ternyata.
Rania yang menyaksikannya merasa bersalah juga, tapi itu akibat dari perbuatan Bagas sendiri yang membuat Rania jadi kesal. Tadinya Rania mau mengucapkan kata maaf, tapi yang keluar malah tawa yang menggema seisi ruangan.
"Ha ha ha.. Rasain!"
"Kalau begini caranya, nanti aku tidak jadi naikin kamu" kata Bagas yang menahan rasa sakit akibat punggung yang terbentur ke lantai.
*****
Pagi harinya, pagi sekali, Bagas dan Rania sudah berada di perjalanan menuju bandara. Di antar oleh sopir, dan sekretaris Frans juga. Bagas sudah tidak sabar untuk segera sampai di Bali dan kalau bisa, kalau tidak cape, ia berniat untuk langsung saja menjamah istrinya. Kalau perlu siara langsung, biar ini menjadi berita paling hot sejagat maya. Bahkan video kakek legendaris akan kalah hot-nya dengan adegannya.
"Semoga harimu menyenangkan tuan, nona!" tutur sekretaris Frans ketika mereka sudah sampai di bandara.
"Terima kasih, Frans. Semoga rencanamu mendekati kakak iparku dengan cara menjual namaku segera berhasil" ucap dan sindir Bagas.
"Kau pasti akan mengerti, Frans!" Bagas menepuk pundak sekretaris Frans, kemudian berlalu dari sana setelah memberi perintah sopir untuk membawakan barang bawaannya.
Wajah sekretaris Frans seketika berubah panik, tegang. Rupanya tuannya ini telah mengetahui aksinya yang berusaha mendekati Nadira, dengan cara menjemput setiap hari, dan mengatakan kalau itu perintah dari tuannya.
Sekretaris Frans mengerjapkan matanya, setelah beberapa detik keheningan menyelinap dalam pikirannya, kemudian pergi menyusul tuan nonanya.
"Kau bilang, kau punya pesawat pribadi. Lalu kenapa kita tidak pergi naik pesawat pribadimu saja?" pertanyaan Rania membuat Bagas tersenyum.
Rania dan Bagas berjalan masuk ke bandara. Pak sopir dan sekretaris Frans berjalan di belakangnya.
"Jangankan pesawat pribadi, bendara pribadi sekalipun aku punya. Hari ini, detik ini, sekarang kau sedang menginjakan kakimu di bandara pribadi milikku"
"Ha ha ha. Aku memang percaya kau tajir, tapi aku tidak percaya kalau bandara ini juga bisa kau miliki" Rania tidak percaya dengan ucapan suaminya, baginya itu hanya sebuah lelucon yang pantas ia tertawakan.
"Kau tidak percaya?" Bagas menghentikan langkahnya dan menatap istrinya yang sedang mentertawakan ucapannya itu.
"Tidak!" Rania menggelengkan kepala dengan penuh kepercayaan diri.
__ADS_1
"Aku akan buktikan padamu!"
"Silahkan!"
Kemudian Bagas memanggil security yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Security itupun menghampiri setelah merasa dirinya yang di panggil.
"Katakan padanya siapa pemilik bandara ini?"
"Tuan Bagas Ardinata Kusuma" jawab security itu dengan tubuh yang berdiri tegap.
"Kau bisa dengar?"
"Oh" Rania masih tidak percaya, ternyata benar yang di katakan suaminya itu.
Aku kira dia bohong, aku kira dia bercanda. Tapi ini memang kenyataannya. Dia benar-benar tajir melintir, pantas saja kakak ipar takut kalau rumah tangga adiknya akan mengalami nasib yang sama sepertinya.
Bagas merasa puas, karena ia mampu membuktikan pada istrinya. Ya memang seharusnya dalam rumah tangga, di dalam sebuah hubungan itu harus di dasari dengan kepercayaan.
Ketika Rania dan Bagas nyaris melangkahkan kaki dari sana, tiba-tiba saja seseorang berteriak, memanggil nama Bagas.
"Bagas..." Seseorang itu melambaikan tangannya.
Panggilan dari seseorang itu membuat wajah Bagas berubah menjadi tatapan tidak suka.
.
.
.
.
.
.
Sudah lihat visual Bagas di akun youtube saya? Tampan kan?
Kalau sudah lihat, sekarang bisa lihat juga visual Rania, jangan lupa subscribe, ya! Nanti saya update lagi foto keromantisan mereka berdua😍😘
__ADS_1