
Di perjalanan, Rania memlerhatikan wajah suaminya yang terus saja memandanginya dengan senyum-senyum. Padahal dia sedang menyetir, tapi masih sempat untuk memandang wajah sang istri dengan terus menerus. Awas, nabrak!
"Kau ini kenapa, sih? Dari tadi aku lihat kau menatapku seperti itu?" Rania mulai sedikit risih, takutnya ada penampilannya yang salah.
"Tidak apa-apa, sayang! Memangnya tidak boleh, aku sebagai suami menatap istrinya sendiri?" Bagas menyubit pipi Rania dengan gemas.
"Bukannya tidak boleh, tapi tidak biasanya kau seperti itu. Aku takut ada yang salah saja dengan penampilanku, sehingga membuatmu senyum-senyum seperti itu!" Rania mengusap pipi yang baru saja Bagas cubit.
"Tidak, tidak ada yang salah dengan penampilanmu, sayang! Kau justru terlihat lebih cantik hari ini," pujinya.
"Ah kau bisa saja," Rania menunduk merasa sedikit malu. "Ngomong-ngomong penampilan, sepertinya kau mengganti jas yang kau kenakan tadi pagi, ya? Bukankah kau tadi memakai jas berwarna biru navy? Kenapa sekarang jadi warna abu-abu?" tanya Rania memastikan penglihatannya tadi pagi.
"Iya, tadi aku pulang dulu ke rumah. Lagipula tadi kan aku naik mobil yang khusus aku pakai untuk pergi ke kantor. Sedangkan ini, ini mobil sport untuk kita jalan-jalan," ujarnya. Namanya saja orang kaya, mobil saja ada acara khusus-khususan segala.
Rania baru menyadari mobil yang ini ia tumpangi. Benar, tadi pagi dia bukan naik mobil ini ketika Bagas mengantarkannya ke ruko.
"Lalu kita akan kemana?"
"Kita akan pergi ke taman XX, aku ingin sesekali duduk berdua denganmu menatap pemandangan indah," jelasnya.
"Taman XX?" tanya Rania merasa senang dan tidak percaya, itu adalah taman yang selama ini ingin ia datangi karena pemandangannya yang begitu indah dan tempatnya yang begitu luas.
"Ya, kenapa? Kau suka kan kalau kita pergi kesana?"
"Tentu saja. Sudah lama aku ingin pergi ke taman itu. Kalau begitu bagaimana kalau kita beli makanan terlebih dahulu, aku dan calon anak kita lapar sekali!" ujar Rania sambil mengusap perut yang masih kelihatan datar itu.
"Iya, sayang!" Bagas segera menancap gas dengan kecepatan lebih tinggi dari sebelumnya agar segera sampai ke tempat mereka akan membeli makan dan tentunya ke tempat tujuan.
Setelah membeli makanan yang bungkus oleh kotak makan dari restaurant, kini mereka sudah sampai di taman yang mereka tuju. Mereka duduk di bangku besi berwarna putih yang hanya di rekomendasikan muat untuk berdua saja. Pemandangannya begitu indah dengan bunga merah yang merekah, banyak berbagai macam bunga lainnya juga yang tidak dapat di sebutkan satu persatu namanya.
Rania di buat takjub oleh pemandangan indah di sekelilingnya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Bahkan mulutnya sampai terbuka, ia tidak berkata-kata tentang alam yang begitu indah Tuhan ciptakan.
Bagas merasa senang jika istrinya senang juga. Sepertinya ia harus sering mengajak istrinya jalan-jalan seperti ini. Semburat kebahagiaannya jelas terlihat dan terpancar di wajah istrinya, terutama di bagian mata dan bibirnya.
__ADS_1
Ketika Rania tengah tenggelam dalam lautan senang oleh pemandangan itu, Bagas mulai mendekatkan bibirnya ke arah bibir milik istrinya. Rasanya ia ingin sekali mencium bibir yang tak kalah indah dengan pemandangan taman tersebut. Tidak perduli dengan seberapa banyak orang di sekitarnya yang terus memperhatikan dirinya. Tidak perduli jika mereka kini mereka telah menjadi pusat perhatian semua pengunjung.
Rania menoleh ketika sebelah tangan Bagas sudah merangkul dirinya, kedua matanya sudah terpejam bersiap untuk mencium bibir manis miliknya. Namun, ketika ia menyadari dirinya tengah menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya. Ia segera menyadarkan Bagas untuk tidak melakukannya di depan umum.
"Aku lapar, berikan makanan itu untukku!" ujar Rania mengalihkan perhatian Bagas agar tidak jadi mencium bibirnya.
Bagas segera membuka matanya. Dan benar, banyak sekali pengunjung di sana yang bersiap untuk menonton aksinya jika benar di lakukan. Bagas menatap mereka secara bergantian sampai akhirnya mereka membubarkan barisan sendiri, kembali melakukan aktivitasnya.
"Aku suapin, ya!" tawar Bagas sambil membuka kotak makan tersebut. Ia menyendok makanan itu dan meminta Rania untuk membuka mulutnya. "Aaa.. Pinter!" ujarnya setelah makanan itu masuk ke dalam mulut istrinya.
"Enak?" tanya Bagas memperhatikan istrinya yang sedang mengunyah.
"Hem," jawab Rania, lalu membuka mulutnya kembali setelah makanan itu berhasil ia telan. Bagas pun menyuapinya kembali.
Suapan demi suapan akhirnya makanan itu berhasil Rania santap sampai bersih, tidak ada sedikit pun yang tersisa.
"Kau mau berfoto untuk mengabadikannya? Atau aku akan menyuruh salah satu pengunjung di sini untuk mengambil gambar kita berdua?" tawar Bagas sambil merogoh ponsel di saku jasnya.
"Ya sudah, kalau begitu kita jalan untuk melihat pemandangan sebelah sana." Bagas menunjuk ke arah sebelah kanan yang sepertinya di sana terdapat pemandangan yang lebih menarik.
"Iya." Rania segera berdiri dan melangkahkan kaki dengan semangatnya. Sementara Bagas sedang mengetikan pesan untuk di kirim kepada seseorang.
Bagas:
Kau sudah selesai melakukan tugas yang aku perintahkan?√√
Frans:
Sebentar lagi selesai, tuan!
"Sayang, kenapa kau masih di sana? Ayo!" teriak Rania yang sudah terlebih dahulu pergi.
__ADS_1
Dengan cepat Bagas kembali memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya. "Iya, sayang." Dan Bagas pun berlari untuk mengejar langkah istrinya yang tertinggal cukup jauh.
***
Bagas dan Rania kini sudah dalam perjalanan pulang, setelah ia merasa lelah berjalan mengelilingi taman untuk menikmati pemandangan yang langka ia temui, dan pergi sebentar ke mall untuk berbelanja.
"Kita mampir ke rumah papa sebentar, ya! Papa pasti senang jika kita datang ke rumah!" ajak Bagas.
Rania mengerutkan kening. "Memangnya jam segini Papa sudah ada di rumah?" setahu Rania, pak Brahma biasanya belum pulang jam segini. Masih sore.
"Sudah, aku sempat hubungi pelayan di rumah tadi. Sengaja, tidak menghubungi papa langusng, biar surprise."
"Oh, ya sudah. Aku tidak masalah!" ujar Rania tidak merasa keberatan kalau harus mampir ke rumah ayah mertuanya terlebih dulu, justru ia merasa senang-senang saja.
Perjalanan untuk sampai ke rumah Brahma hanya membutuhkan tiga puluh menit lagi dari keberadaan mereka saat ini. Kebetulan jalanan juga tidak terlalu di padati kendaraaan lain, sehingga membuat mobil yang di kemudikannya lebih cepat sampai ke tujuan.
Sesampai di tempat kediaman Brahma, Bagas dan Rania di sambut penuh hangat. Terutama pelayan yang merindukan kehadiran sosok Rania yang selalu bersikap baik kepada mereka. Rania-pun tidak kalah hangatnya untuk membalas sambutan dan sapaan dari mereka.
"Selamat datang putra Brahma bersama menantu kesayangan," sambut Brahma sambil merentangkan tangan yang siap untuk merangkul tubuh mereka berdua.
Bagas dan Rania pun jatuh dalam pelukan Brahma. Brahma memeluk keduanya dengan erat, menumpahkan kerinduan yang selama ini ia pendam dan tidak bisa di jelaskan. Semenjak kepergian anak dan menantunya ini, rumah terasa sangat sepi. Padahal ia hanya kehingan dua penghuni rumahnya saja. Tapi entah kenapa ia merasakan hal seperti itu.
Brahma mengecup pangkal rambut putra dan menantunya. Sampai ia tidak sadar, setitik kristal putih sudah menggenangi pelupuk matanya.
.
.
.
Coretan Author:
Follow ig: wind.rahma
__ADS_1
Vote sebanyak-banyaknya, ya!