Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Bingkisan dari Hisam


__ADS_3

Acara demi acara telah di laksanakan, dan kini sampai ke puncak acara yaitu perpisahan anak kelas dua belas. Di iringi oleh lagu yang di populerkan oleh Endang Soekamti.


Datang akan pergi...


Lewat akan berlalu..


Ada akan tiada...


Bertemu akan berpisah...


Awal akan berakhir..


Terbit akan tenggelam..


Pasang akan surut...


Bertemu akan berpisah...


Hey..


Sampai jumpa di lain hari..


Untuk kita bertemu lagi...


Ku relakan dirimu pergi..


Meskipun...


Ku tak siap untuk merindu...


Ku tak siap tanpa dirimu...


Ku harap terbaik untukmu...


Semuanya menangis ketika menyanyikan maupun mendengarkan lagu itu, di tambah lagi ketika lagu itu selesai mereka saling memeluk satu sama lain. Saling melepas, itu sangat berat ketika berada di posisi masa itu. Raniapun ikut terbawa perasaan, ya walaupun ia tidak bisa ikut gabung bersama mereka, setidaknya ia ada di sana menyaksikan. Air mata yang bercucuran di pipinya sengaja ia biarkan. Itu moment yang tidak akan pernah siapapun lupakan. Kalian tentunya juga pasti mengalami perpisahan di sekolah kan?


Setelah lagu-lagu tentang perpisahan di nyanyikan, kini mereka masuk ke sesi corat-coret dan menyemprotkan pilox untuk mengabadikan seragam mereka. Ya meskipun tidak semua sekolah seperti itu, mungkin. Tapi kebanyakan sih pada memakai tradisi corat-coret agar lebih afdol.


*****

__ADS_1


Acara telah selesai, waktu sudah menunjukan jam 4 sore. Bagas meminta Rania untuk pulang saja, karena takutnya di jalan macet dan akan sampai di rumah kemalaman. Raniapun mengiyakan saja. Dirinya sudah sangat lelah juga, di tambah tadi teman-temannya menarik dirinya untuk ikut gabung dalam sesi coret-coret.


Pada saat akan menaiki mobil, tiba-tiba seseorang meneriakan namanya. Dengan suara yang tedengar terenga-engah.


"Rania, tunggu!" panggil salah seorang yang suaranya di kenal oleh Rania.


Rania nyaris melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil, tapi ia urungkan untuk menoleh seseorang yang memanggil namanya.


Dari kejauhan, Hisam tampak jalan setengah berlari menghampirinya. Ketika sudah sampai di hadapan Rania, ia memberikan sesuatu dalam kantong plastik hitam yang belum di ketahui apa itu isinya.


"Ini, untukmu!" ucap Hisam sembari menyodorkan kantong plastik hitam kepada Rania.


"Apa itu?" Rania tidak langsung mengambil sesuatu itu dari tangan Hisam.


"Kamu bisa membukanya nanti, di saat kamu sedang sendiri!"


"Kamu.."


"Iya, aku tahu kamu sudah menikah. Dia suamimu" ucapan Hisam barusan membuat Rania berpikir, jangan-jangan tadi waktu Diva menarik tangan Hisam dia akan memberitahunya. Tapi, biarkan saja, lah. Memang semuanya sudah pada tahu dan harus tahu.


Rania langsung mengambil sesuatu di balik kantong plastik hitam itu ketika Bagas sudah memanggil namanya untuk segera naik ke dalam mobil.


"Sampai jumpa di lain hari, Rania!"


"Iya, Sam"


Kemudian Rania menanyakan keberadaan Diva untuk pamit, karena ia tidak menemukannya lagi. Hisam bilang Diva sedang rapat dengan para guru untuk membahas acara di malam hari nanti. Rania segera masuk ke dalam mobil, takutnya Bagas curiga dan berpikir macam-macam tentang dirinya. Mobilpun segera di kemudikan oleh pak sopir begitu Rania sudah naik. Kini Hisam berdiri mematung di sana, memandangi punggung mobil itu sampai hilang dari pandangannya.


*****


Di mobil, Bagas terus saja menanyakan apa yang ia terima dari temannya tadi. Bukannya apa-apa, kalau saja itu bukan di sekolah Rania, mungkin Bagas bisa melakukan hal yang sama kepada Hisam seperti yang di lakukannya kepada Reyhan waktu itu. Tapi itu segera kendalikan emosinya, agar ia tidak mudah terbakar api cemburu oleh hal yang masih dalam batas wajar.


"Coba ku lihat!" Bagas terkekeh ingin tahu apa yang Rania dapatkan dari Hisam. Mereka kini saling berebut sesuatu di kantong plastik hitam itu.


"Jangan! Sudah ku bilang ini dari Diva, dan aku akan membukanya nanti setelah sampai di rumah" jawab Rania terpaksa berbohong, karena kalau ia tidak mengatakan itu titipan dari Diva, mungkin Bagas akan terus merebut sesuatu itu.


"Baiklah, kalau begitu aku akan marah padamu"


"Lakukan saja jika kau bisa!" balas Rania membuat Bagas berpikir, iya juga ya, memangnya dia masih bisa marah pada istrinya. Lagian kalau beneran marah, untuk apa ia mengatakannya. Marah ya marah saja.

__ADS_1


Pak sopir yang diam-diam memperhatikan tuan dan nona-nya dari kaca spion, ikut tertawa dalam hatinya melihat kelakuannya itu. Ya dia hanya bisa tertawa dalam hati, karena kalau tawanya di keluarkan begitu saja, saat itu juga Bagas pasti akan memecatnya. Ia tidak mau itu terjadi.


*****


Langit sudah mengeluarkan warna jingganya, kemudian hitam, gelap, berarti malam hari telah tiba. Para tuan dan nona rumah sedang melaksanakan makan malam di sana. Di sebah meja besar, panjang, namun hanya di tempati oleh 4 orang saja. Mubajir sekali tempat itu, coba aja di sumbangkan sebagian mejanya, mungkin gak harus memadati ruangan juga. Eh, kan ruangan di sana luas, ya. Wajarlah, rumah tuan tajir. Yang hartanya gak akan pernah habis 7 turunan, 6 tanjakan, 5 belokan, 4 tikungan, 3, 2, 1, selesai. Hehe, gaje.


Wajah Arsilla yang biasanya tidak enak di pandang karena ia terus melayangkan tatapan kebencian pada adik iparnya, kini berubah drastis menjadi wajah bahagia, ceria, entah apa penyebabnya. Nanti kita cari tahu bareng-bareng, ya.


Nah gitu dong kakak ipar, cantiknya lebih kelihatan. Jangan terus memperlihatkan wajah yang terus di benci juga oleh para pemirsa. Kalau begitu kan, semuanya juga pasti akan setuju kau ini cantik. Walaupun jahat, sih.


Bagas menatap kakak dan istrinya bergantian, mereka berdua sedang senyum-senyum sendiri. Bagas di buat kebingungan.


Jangan-jangan kakak sudah berubah baik juga dengan Rania. Pikir Bagas.


Padahal mah boro-boro, senyum mereka gak ada kaitannya sama sekali dengan baikan. Arsilla senyum-senyum karena tidak tahu apa alasanya, sedangkan Rania senyum karena bahagia melihat ekspresi wajah kakak iparnya yang tidak biasanya.


Setelah selesai makan malam, Bagas mendapati pesan dari sekretaris Frans untuk meminta data penting. Bagas pamit kepada Rania untuk ke ruang kerjanya sebentar, Bagas juga berpesan untuk jangan tidur dulu kepada Rania. Tunggu dia kembali, pinta Bagas. Rania mengiyakan saja.


Dan mungkin ini kesempatan Rania untuk membuka sesuatu pemberian Hisam tadi. Ia duduk di tepi ranjang tempat tidur, perlahan mulai membuka isi di balik si kantong plastik hitam.


"Wow" ucap Rania takjub, begitu melihat isi dari kantong plastik hitam tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


Hallo, penasaran kan apa isi di balik kantong plastik hitam pemberian Hisam? Jangan sampai ketinggalan episode makannya, tambahkan ke favorit untuk terus mendapatkan notifikasi ketika update.


Kalau kalian suka cerita ini, bisa tinggalkan like, vote menggunakan poin ataupun koin😊

__ADS_1


__ADS_2