Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Rania belum di temukan


__ADS_3

Baru saja Nadira akan memejamkan mata, tiba-tiba saja ia ingin buang air kecil. Ia bangun lagi untuk pergi ke kamar mandi, namun langkahnya seketika tiba-tiba berhenti ketika ia melihat ibunya ada di dapur berdiri di dekat meja makan dan terlihat melamun. Nadira mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar mandi, menurutnya ia harus menghampiri ibunya terlebih dahulu.


"Bu.." panggil Nadira lirih, seraya menepuk bahu ibunya pelan dari belakang. Namun apa yang terjadi, bu Sari seolah sangat terkejut sehingga gelas yang sedang ia pegang itu sampai jatuh dan pecah.


Nadira membungkam mulutnya, kenapa ibunya bisa bereaksi seperti itu. "Maaf, bu! Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengejutkan ibu."


"Iya, Nad. Mungkin ibu yang melamun tadi," bu Sari mengambil pecahan gelas di lantai.


"Sudah, bu. Biar Nad saja yang bersihkan!" Nadira ikut mengambil pecahan gelas tersebut.


"Biar ibu saja, Nad. Awww..." jari telunjuk bu Sari tergores pecahan gelas tersebut, sehingga mengeluarkan darah.


"Ibu, Nad sudah bilang biarkan Nad saja yang bersihkan. Ibu jadi luka, kan? Tunggu sebentar, ya! Nad ambilkan obat merah," Nadira bergegas melangkahkan kaki mengambil obat merah, tidak lama kemudian ia kembali.


"Bu, sebenarnya ibu itu melamunkan apa, sih?" sambil mengobati ibunya, Nadira penasaran dengan apa yang di sedang di pikirkan ibunya.


"Ibu cemas, Nad. Karena..."


"Bu, ayah kan sudah bilang, mungkin bang Radit nginap di rumah temannya. Mungkin besok pagi juga pulang, kan besok bang Radit masuk kerja. Bang Radit itu kan laki-laki, pasti dia bisa jaga dirinya sendiri," Nadira memotong kalimat ibunya yang belum selesai.


"Iya, Nad, ibu tahu. Tapi yang lebih ibu cemasakan itu Rania," jelas bu Sari dengan raut wajah yang sama sekali tidak memudarkan kecemasannya sejak tadi.


Nadira mengerutkan kening. "Rania? Memanganya kenapa dengan Rania, bu?" Nadira sudah selesai membungkus jari ibunya yang luka menggunakan perban, dan sepertinya obrolannya akan berlanjut, Nadira mengajak ibunya untuk duduk di kursi meja makan.


"Nak Bagas telpon ibu, katanya Rania belum sampai. Tapi ibu bilang, mungkin Rania terjebak macet. Dan ibu minta nak Bagas untuk mengabaru ibu kembali kalau Rania sudah sampai, tapi ini sudah jam sembilan nak Bagas belum mengabari ibu juga, Nad. Ibu takut kalau Rania kenapa-kenapa!" rasa kekhawatiran bu Sari terhadap putrinya semakin menjadi, tidak ada yang bisa ia lakukan lagi selain mendo'akan. Ia meremas jemarinya yang sudah di penuhi keringat.


"Kalau begitu ibu coba telpon Bagas, siapa tahu Rania sudah sampai dan Bagas lupa untuk mengabari ibu!" Nadira memberi saran, bu Sari pun mengikuti saran dari Nadira. Siapa tahu yang di katakan Nadira itu benar.


"Benar, juga. Kalau begitu ibu akan telpon nak Bagas," bu Sari mengambil ponselnya di kamar, ia mendapati pak Burhan sudah tertidur pulas. Kalau ia membangunkan suaminya, sama saja ia membangunkan singa yang sedang tidur. Lebih baik biarkan saja pak Burhan tidur.


Bu Sari kembali ke meja makan, mencoba menghubungi menantunya.

__ADS_1


Sementara di rumah Bagas, ia juga kelihatan lebih cemas lagi. Sepuluh menit, lima belas menit, setengah jam, dua jam, ia menunggu namun Rania belum datang juga. Ia menghungi nomer Rania sampai ratusan kali, tapi tetap tidak di angkat.


Akhirnya Bagas menghubungi sekretaris Frans untuk meminta bantuan kalau sampai terjadi apa-apa dengan Rania.


"Hallo, Frans. Kau dimana?" tanya Bagas ketika sambungan terhubung.


"Saya di rumah tuan, ada apa?"


"Kau masih mempunyai seseorang yang selalu mengikuti istriku kemanapun, kan?"


"Iya, tuan. Aku masih pakai seseorang untuk mengikuti nona secara sembunyi-sembunyi!"


Bagas merasa sedikit lebih lega, mungkin orang suruhan sekretaris Frans ini bisa tahu di mana keberadaan Rania.


"Kalau begitu aku minta kau cepat hubungi dia, dan tanyakan di mana posisinya sekarang?! Istriku belum pulang, dan juga tidak bisa di kabari,"


"Baik, tuan. Kalau begitu saya akan coba hubungi dia dulu."


Dua menit kemudian, sekretaris Frans menghubungi Bagas balik. Bagas dengan cepat mengangkat telponnya. Ia sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang akan sekretarisnya ini sampaikan.


"Bagaimana, Frans? Kau sudah menelpon orang suruhanmu, kan? Dimana dia? Dimana istriku?" tanya Bagas berbondong-bondong.


"Sudah, tuan. Tapi, maaf! Orang itu tadi memang mengikuti nona naik taksi online, tapi di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba saja dia kebelet dan berhenti sebentar. Ini pertama kalinya dia kehilangan jejak nona, karena taksi online itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi," jelas sekretaris Frans jujur, walaupun ia tahu kalau Bagas pasti akan sangat marah padanya.


"Sial! Tidak ada gunanya juga dia. Mulai besok kau tidak usah meminta bantuannya lagi, sia-sia membayar orang yang tidak becus bekerja!" Bagas mematikan langsung sambungannya dengan sekretaris Frans, ia merasa kesal. Orang pesuruh sekretaris Frans tidak bisa di andalkan, ia jadi tidak mendapat info apapun.


Bagas memutuskan untuk mencari istrinya sendiri, tidak ada pilihan lain. Ia berjalan dengan tergesa-gesa untuk masuk ke dalam mobilnya yang masih terparkir di halaman rumahnya. Ia segera memacu mobil miliknya dengan kecepatan tinggi untuk mencari Rania yang belum di ketahui keberadaannya. Berulang kali Bagas menghubungi nomer Rania tapi tetap saja Rania tidak menjawab telponnya.


Sebuah pesan masuk ia terima saat ponselnya baru saja membunyikan nada dering singkat. Bagas mengambil ponsel miliknya yang terselip di saku celana yang ia kenakan. Pesan dari bu Sari. Mertunya itu mengirimkan pesan berupa banyak pertanyaan, tapi ia tidak tahu harus membalas pesan itu dengan mengatakan apa? Pasti bu Sari akan sangat cemas kalau putrinya ini belum pulang juga sampai sekarang.


Sebuah panggilan masuk dari Papa-nya membuyarkan Bagas. Pria itu segera menempelkan benda pipih itu ke dekat telinganya.

__ADS_1


"Halo, Pa. Ada apa?"


"Bagas, apa benar Rania menghilang dan belum pulang juga sampai sekarang?" seketika kedua bola mata Bagas membeliak, dari mana papanya tahu kalau Rania belum pulang.


"Papa tahu dari mana?"


"Tidak penting Papa tahu dari mana, kenapa kamu ceroboh sekali membiarkan istri kamu jalan sendirian? Padahal papa sudah peringatkan sama kamu, jaga dia!" kedengarannya pak Brahma begitu kecewa.


"Iya, pa. Maaf! Tapi ini bukan saatnya yang tepat untuk membahas soal itu, sekarang yang paling penting adalah menemukan Rania."


"Okay, papa akan ikut mencari Rania juga," Brahma menutup telponnya.


Begitu cemasnya pak Brahma ketika mendengar Rania belum sampai rumah juga dari bu Sari. Rania bukan ia anggap seperti menantu, tapi seperti anak kandungnya sendiri. Pak Brahma segera siap-siap untuk ikut mencari keberadaan Rania.


Bagas memukul setir mobil dengan sangat keras, ia merasa kalau ia sangat bersalah. Membiarkan Rania bepergian sendiri, dan harusnya ia jemput tadi walaupun Rania tidak mau. Ini semua kesalahannya, mengapa dia bisa sebodoh itu.


Bagas terus berpikir keras, kemana lagi ia harus mencari Rania? Bagaimana lagi cara untuk mengetahui posisi Rania saat ini? Tiba-tiba saja Tuhan memberinya daya ingatan yang sangat bagus.


Seketika Bagas tersenyum, ketika ia ingat kalau ia pernah menaruh sesuatu di balik silikon ponsel istrinya pada saat Rania sedang tidur. Sepertinya benda itu akan membantu dirinya untuk menemukan keberadaan Rania.


.


.


.


Coretan Author:


Ternyata ini bukan mimpi, ya. Do'akan semoga Rania cepat ketemu dalam keadaan baik-baik saja.


Like, vote, komen, tambahkan ke favorit!

__ADS_1


Follow ig: wind.rahma


__ADS_2