Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Menjenguk Rania


__ADS_3

"Aku bilang geser, ini perintah yang tidak bisa kau bantah!" lagi-lagi sekretaris Frans menggunakan kata-kata andalannya.


"Tidak mau, anda yang harus geser, sekretaris gesrek!" Nadira memelototi sekretaris Frans


"Apa kau bilang? Kau mengataiku gesrek? Mulai berani ya kau ini, sekarang juga, GESER!" sekretaris Frans menyeretkan tubuh Nadira lebih keras lagi, sehingga Nadira nyaris terjatuh jika sekretaris Frans tidak segera menarik tubuhnya.


Kini kedua pasang mata mereka saling menatap dan seakan di kunci kotak matanya. Lagi-lagi sekretaris Frans harus merasakan jantung yang berdegup kencang dan perasaannya yang tidak karuan. Ia menatap bibir lembab Nadira, mengingatkannya pada waktu itu. Seketika bola matanya membulat sempurna, ketika ia baru sadar kalau dada bidangnya kini tengah menempel pada bagian dada yang menonjol milik gadis itu. Sekretarais Frans menelan salivanya dengan susah. Lagi lagi dan lagi, ia di buat gugup, gelisah, panik, dan perasaannya campur aduk, apalagi si Jon miliknya yang ikut-ikutan bangun. Bahaya.


"Permisi," suara seseorang yang tiba-tiba muncul mengejutkan mereka berdua, sekretaris Frans sontak melepaskan tangan yang menopang tubuh Nadira agar tidak jatuh tadi, dan kini akhirnya Nadira terjatuh ke lantai.


"Aww.. Kenapa anda melepaskan saya?" gerutu Nadira, sambil mengusap bagian tubuhnya yang terasa sakit.


"A-aku minta maaf!" sekretaris Frans segera membantu Nadira untuk bangun, dan membantunya kembali duduk.


"Permisi," seseorang yang mengejutkan sekretaris Frans dan Nadira mengulang kalimatnya.


"Iya ada apa?" Nadira bertanya sambil menatap wajah gadis tersebut, rupanya ia pernah melihat wajah gadis itu. Tapi di mana? Kapan?


"Kamu teman Rania, kan?" Nadira berusaha mengingat-ingat lagi. Gadis itu mengangguk.


"Iya, kak Nad. Ini aku Diva," ujarnya seraya memberi seulas senyum.


"Oh, iya. Kak Nad lupa. Memangnya kamu gak kerja? Masih di ruko tempat Rania, kan?"


"Iya kak, masih. Kebetulan lagi istirahat jam makan siang, terus aku dengar Rania sedang di rawat di rumah sakit ini. Jadi, aku menyempatkan datang ke sini untuk menjenguknya," jawab Diva masih dalam keadaan berdiri.


"Iya, iya. Eh, ayo duduk dulu di sini! Di dalam masih ada ibu dan ayah kakak, sama suami Rania juga," Nadira mempersilahkannya duduk di sampingnya.


"Iya, kak," Diva mengangguk, lalu duduk di kursi yang Nadira barusan tepuk di sebelahnya.


"Kak Nad, sebenarnya Rania itu kenapa sih, kok bisa tiba-tiba pendarahan dan masuk ke rumah sakit?" tanya Diva penasaran, karena sebelumnya Rania baik-baik saja ketika kemarin pulang dari ruko.


"Oh, it-"


"Bukan urusan anda. Jangan tanya-tanya nona Rania kenapa? Yang terpenting sekarang nona Rania baik-baik saja," sekretaris Frans memotong ucapan Nadira yang ingin menjelaskan pada Diva.


Nadira dan Diva menoleh pada sekretaris Frans, kenapa dia bicara seperti itu pada Diva. Pikir Nadira.


Sepertinya sekretaris Frans sudah di wanti-wanti oleh Bagas, kalau ada yang menanyakan soal Rania, tidak boleh memberi tahu yang sebenarnya. Karena itu melibatkan kakak sekaligus tantenya, jika banyak orang yang tahu mengenai hal itu, maka nama baik Bagas juga akan kebawa-bawa. Dan di gosipkan oleh banyak Netizen. Batin Nadira.


Diva menyikut pelan lengan Nadira, kemudian membisikkan sesuatu pada telinganya. "Kak Nad, kenapa sih itu orang? Kok galak banget?"


Nadira nyaris tertawa jika tidak segera ia tahan. Memang benar, siapapun orang yang belum mengenal sekretaris Frans pasti akan mengiranya galak, karena sifat dinginnya dan wajah yang tidak pernah mengeluarkan ekspresi.


"Shtt.. Pelan-pelan! Kalau sampai dia dengar kita membicarakannya, kita bisa di buang ke laut setelah di masukkan ke dalam kantong besar," Nadira juga ikut bicara dengan bisik-bisik pada Diva.

__ADS_1


"Hah benarkah, kak Nad?"


"Iya." ingin rasanya Nadira tertawa dalam hatinya, berjingkrak-jingkrak mentertawakan sekretaris gesrek ini sepertinya akan lebih menyenangkan.


Pintu kamar ruang Rania terbuka, dan muncul bu Sari, pak Burhan dan Bagas di baliknya.


"Terima kasih bu, ayah, sudah datang untuk Rania," ucap Bagas pada kedua mertuanya.


"Iya, nak Bagas. Sekarang ibu dan ayah mau kembali ke rumah sakit tempat Radit di rawat," pamit keduanya.


"Bang Radit? Memangnya abangnya Rania kenapa?" tiba-tiba Diva bertanya ketika mendengar salah satu anak dari pak Burhan dan bu Sari juga sedang ada di rumah sakit.


Pak Burhan, bu Sari, dan Bagas seketika menoleh. Mereka baru menyadari ada Diva juga di sana.


"Diva? Kamu kapan ke sini?" bu Sari mengulurkan tangannya, Diva pun menyalaminya.


"Barusan, bu. Diva dengar dari suami Rania tadi waktu Diva menelpon ke nomer Rania. Terus Diva langsung ke sini buat nengokin Rania," Diva menjelaskan.


"Memangnya kau ini tidak masuk kerja?" Bagas ikut bertanya.


"Kebetulan sekarang waktu jam istirahat makan siang, jarak dari ruko ke sini tidak terlalu jauh juga."


"Oh. Kalau begitu ibu mau pamit, harus kembali ke rumah sakit tempat abangnya Rania di rawat. Kemarin abangnya Rania mengalami kecelakaan motor, dan sekarang harus di rawat," ujar bu Sari.


"Astagfirullaahal 'adziim, turut prihatin ya bu. Atas apa yang menimpa abangnya Rania," tutur Diva.


"Nad, kamu juga ikut kembali ke rumah sakit abangmu, ya!" pinta pak Burhan.


"Iya, ayah," jawab Nadira, nurut.


"Kalau begitu, biar Frans saja yang antar. Frans, kau antarkan mereka!" titah Bagas.


"Baik, tuan." jawab sekretaris Frans dengan sigap.


"Ibu dan ayah pamit dulu, ya. Nak Bagas,"


"Iya, bu. Hati-hati di jalan!" Bagas mencium punggung tangan kedua mertuanya.


Kini pak Burhan, bu Sari, Nadira dan sekretaris Frans sudah pergi. Hanya Diva dan Bagas yang tersisa di sana.


"Sebaiknya kau kembali ke ruko, Rania saat ini belum bisa di jenguk oleh siapapun selain keluarga," usir Bagas masih dengan nada bicara sopan.


"Tapi, tuan. Izinkan aku untuk melihat Rania sebentar saja!" pinta Diva sambil memohon.


"Maaf, tidak bisa! Rania sedang tidur, dia sedang istirahat," Bagas kembali masuk ke ruang kamar itu dan menutup pintunya rapat-rapat. Tapi sebelum itu Diva berpesan:

__ADS_1


"Sampaikan salam saya pada Rania, semoga Rania cepat sembuh."


***


Diva melirik jam tangan yang melingkar di lengannya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang lebih sepuluh menit. Berarti jam istirahat makan siang akan segera berakhir dalam waktu lima menit lagi, sedangkan angkot yang sedang ia naikki saat ini masih terjebak macet. Ia benar-benar panik, bagaimana kalau dia terlambat kembali ke ruko. Pasti beberapa pegawai Rania yang tidak begitu menyukainya akan kembali memakinya dengan kata-kata sederhana namun sangat mematikan.


Lima belas menit kemudian, Diva akhirnya sampai di ruko. Dan benar, ia terlambat sepuluh menit dan pegawai di sana sudah meliriknya dengan tatapan sinisnya. Diva hanya bisa menundukan wajah, untuk menghindari mereka.


"Kamu dari mana? Kenapa terlambat?" pertanyaan dari seorang pria yang menegurnya membuat Diva seketika mendongakkan kepalanya.


"A-aku dari.."


"Kalau lagi jam kerja jangan keluyuran dong, Va!" seru salah satu pegawai.


"Iya, masih jam kerja sudah seenaknya keluyuran kemana-mana!" pegawai yang lain ikut menimpali.


"Sudah, cukup! Kalian semua dengarkan dulu penjelasannya!" Reyhan, si pria yang baru saja menegur Diva menampik semua makian pegawai yang di lontarkan pada Diva.


"Baik, pak Reyhan!"


"Sekarang jelaskan, kenapa kamu bisa terlambat kembali ke ruko, Va?" Reyhan mengulang pertanyaannya.


"Sebenarnya aku dari rumah sakit, jenguk Rania. Dia pendarahan?"


"Apa?" Reyhan membulatkan matanya sempurna, ia sangat terkejut mendengar hal itu.


"Bu Rania pendarahan?" tanya para pegawai serentak.


Diva mengangguk lemah. "Tadi pagi aku telpon dia, terus suaminya yang angkat telponnya. Dia bilang kalau Rania tidak bisa di ganggu, dia masih dalam masa pemulihan akibat pendarahan. Barusan aku coba jenguk ke sana, tapi aku di larang masuk. Karena Rania sedang istirahat, tidak boleh di ganggu," Diva menjelaskan mengapa ia bisa terlambat kembali ke ruko.


"Tapi Rania baik-baik saja, kan? Kandungannya baik-baik saja, kan? Va, kenapa kamu tidak memberi tahu aku kalau kamu mau pergi ke rumah sakit menjenguk Rania, kalau begitu aku kan bisa ikut bareng kamu tadi?!" Reyhan terlihat begitu mengkhawatirkan Rania.


Diva melirik bahunya di pegang erat oleh Reyhan, kemudian ia segera menepisnya dengan sedikit kasar. Reyhan langsung paham, kalau apa yang baru saja ia lakukan itu pasti akan membuat Diva semakin tidak bisa melupakannya. Ia harus bisa jaga jarak dengan Diva.


"Maaf!" ucap Reyhan, lirih.


"Iya, aku tahu aku salah. Aku tidak memberi tahu kalian terlebih dahulu. Aku takut kalian sangat cemas, seperti sekarang ini. Terutama kamu, Reyhan," Diva langsung melarika diri dari hadapan Reyhan, ia tidak mau berlama-lama dekat dengan Reyhan. Ia tidak mau usahanya untuk melupakan Reyhan akan sia-sia.


.


.


.


Coretan Author:

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, kome, dan vote yang banyak, ya!


Follow ig: @wind.rahma


__ADS_2