
Bagas baru saja selesai mandi wajib pagi harinya, ia sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Namun ketika ia melihat istrinya masih tidur terlentang di atas tempat tidur, ia menghentikan aktivitasnya. Dan segera menaruh handuk yang ia gunakan ke tempatnya.
Bagas menghampiri istrinya, menatap lekat wajah lelahnya akibat semalam. Ia mengalihkan beberapa sulur anak rambut yang menghalangi wajahnya.
"Sayang, bangun!" Bagas menepok-nepokan telapak tangannya pelan di pipi Rania.
"Hem" Rania mengerjapkan matanya beberapa kali, mendapati suaminya yang sedang tersenyum.
"Kau masih merasa sakit?" tanya Bagas sambil membantu Rania duduk menyandarkan tubuhnya.
"Tidak!" Rania menggeleng, "aku hanya lelah saja" ucapnya kemudian.
"Kalau begitu, lebih baik kau mandi dulu, ya! Agar rasa lelahmu sedikit berkurang. Nanti aku akan meminta pelayan di sini untuk mengganti sprei juga"
Kemudian Rania menggangguk, ia segera turun dari tempat tidur di bantu oleh Bagas. Sebenarnya Rania masih merasakan sakit di pangkal pahanya, tapi ia tidak akan memberitahu Bagas. Agar Bagas tidak mengkhawatirkannya. Mungkin ini hanya sakit yang bersifat sementara, dan akan pulih dengan sendirinya.
Ketika Rania berhasil turun dari tempat tidur untuk berdiri, setetes darah terjatuh dari bagian kewanitaannya. Melihat itu, Rania jadi ingat tentang kejadian semalam. Bagas bergegas mengambil selembar tisu untuk membersihkannya, dan kembali membantu Rania berjalan menuju kamar mandi.
"Masih baik aku tidak memakai obat kuat untuk menyerangnya, jika benar aku memakainya, mungkin dia akan merasakan lebih lelah dari ini. " gumam Bagas dalam hati dengan menatap pintu depan kamar mandi.
Suara air sudah terdengar dari dalam, Rania pasti sudah mulai mandi. Ini saatnya Bagas meminta pelayan untuk menggantikan sprei.
*****
Bagas mengajak Rania untuk jalan ke pesisir pantai yang kebetulan tidak jauh dari Villa. Banyak pengunjung lokal juga di sana, tapi Bagas memilih bergabung dengan beberapa para bule di sana. Karena jika memilih bergabung dengan pengunjung lokal, bisa jadi mereka akan mengenali Bagas, yang akan meminta foto bareng, siapa tahu. Jaga-jaga saja.
Bagas melepas kaca mata hitam yang ia kenakan, menaruhnya di atas kepala. Panas matahari begitu terik walau belum terlalu siang, mungkin karena di pantai.
"Pemandangan yang begitu indah" ucap Bagas takjub melihat kuasa Tuhan.
"Iya" jawab Rania setuju.
__ADS_1
"Tapi masih lebih indah pemandangan yang aku lihat di tubuhmu semalam" ucapnya sambil menoleh.
Wajah Rania berubah memerah, ia menunduk karena tersipu malu. Semalam memang tubuhnya benar-benar polos tanpa busana, ia pikir Bagas hanya fokus pada satu titik puncak gairahnya. Ternyata ia juga menyempatkan diri untuk mengingat jelas bagian tubuhnya.
Bagas menerik lengan Rania, membawanya turun ke air laut yang kebetulan sedang surut. Di sana mereka bermain-main air dengan saling menyiprati air ke tubuh mereka dengan kedua tangannya. Rania dan Bagas tampak senang, terlihat dari ekspresi wajah mereka yang saling memancarkan aura kebahagiaan.
Masing-masing baju mereka mulai basah, kemudian Bagas membawanya ke air yang lebih dalam, kira-kira 120 meter kedalamannya. Mereka berenang bersama di sana, saling bercanda dengan menarik kaki sang istri yang kemudian tubuhpun di tarik hingga terjadi pelukan di dalam air.
Mereka terlalu asik dan terbawa suasana, hingga ia tidak menyadari kalau siang hari waktunya laut pasang. Bagas menampakan dirinya ke permukaan, mencari keberadaan sang istri yang tidak lagi terlihat di dalam air.
Bagas melihat ke pesisir pantai, sudah banyak orang yang berteriak histeris dan terlihat panik. Tangannya menunjuk ke tengah pantai, Bagas melihat ke arah yang mereka tunjuk itu. Tampak seorang wanita sedang meminta tolong dengan suara terputus-putus, tangannya melambai, dan kepala yang berusaha ia munculkan ke permukaan. Ia terbawa oleh gulungan ombak yang semakin membesar.
Bagas memperhatikan baik-baik wajah wanita itu, ketika suara minta tolong itu terdengar dengan jelas. Ia baru tersadar kalau wanita tersebut ternyata istrinya.
"Rania.." teriak Bagas
Wajah Bagas seketika berubah panik, ketika melihat tim penyelamat datang dan turun untuk menyelamatkan istrinya. Dengan cepat, Bagas berenang menuju gulungan ombak itu untuk menyelamatkan Rania. Ia tidak memperdulikan orang-orang sekitar yang juga meneriakinya untuk segera naik ke pesisir. Karena keadaan sudah cukup berbahaya, panas terikpun seketika berubah menjadi awan hitam yang siap menurunkan air hujan kapanpun ia mau.
"Tidak! Dia istriku, aku harus menyelamatkannya. Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada istriku" tolak Bagas dengan memaksakan diri berenang ke arah gulungan ombak.
"Anda harus dengarkan saya! Percayakan semuanya pada tim, kalau anda memaksakan diri untuk berenang ke sana, itu hanya akan menambah tugas kami jika terjadi sesuatu pada anda. Mohon jangan persulit tugas kami!"
Setelah tim penyelamat berusaha keras melarang Bagas untuk berenang ke gulungan ombak besar itu, akhirnya Bagas mau mendengarkannya juga. Ia kembali ke pesisir pantai dan hanya menunggu yang bisa lakukan di sana.
Perasaan Bagas tidak karuan, ia di kuasai oleh kepanikan yang terus melanda. Bagaimana ia bisa tenang, sedangkan istrinya di sana sedang bertaruh nyawa, yang tidak di ketahui keselamatanya. Sedangakan yang bisa ia lakukan saat itu berdiam diri, menunggu, tidak dapat melakukan apa-apa.
Bagas nekad untuk kembali menyeburkan diri ke air, tapi beberapa pengunjung di sana terus menahannya agar tidak memperburuk keadaan.
Setengah jam kemudian, tim penyelamat berhasil membawa Rania dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dengan cepat Bagas menghampiri tim penyelamat yang berusaha membawanya ke sebuah tempat bersantai dan membaringkannya di sana.
"Sayang, aku mohon bukalah matamu! Buka matamu sayang!" dengan wajah panik Bagas menepok-nepok pipi Rania lumayan keras.
__ADS_1
Wajah Rania pucat, tubuhnya sudah dingin kerena terlalu lama berada di dalam air. Pihak tim penyelamat menelpon ambulance setelah ia berhasil menyelamatkan korban masih dalam keadaan bernafas.
Bagas percaya kalau istrinya pasti akan baik-baik saja. Akhirnya Bagas memutuskan untuk memberi nafas buatan untuk Rania. Dan...Rania sadar dengan menyemburkan air dari dalam mulutnya beberapa kali.
"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Bagas dengan kedua tangan yang memegangi kedua pipi Rania.
Rania mengangguk, itu artinya ia merasa dirinya baik-baik saja. Namun tubuhnya menggigil kedinginan. Bagas mendekap tubuh istrinya, memberi sebuah kehangatan.
"Aku mencemaskanmu! Aku takut kau kenapa-napa" bisik Bagas di telinga Rania.
"Terima kasih sudah memperdulikan aku. Aku mencintaimu suamiku"
Ucapan Rania terdengar begitu jelas oleh pengunjung di sana yang mengerumuninya. Mereka terharu melihat pasangan yang sedang ada di hadapannya, itu membuat iri kaum jomblo. Ada awak media juga di sana yang meliput berita, apalagi yang sedang mereka liput adalah tuan tajir yang terkenal ketajirannya juga ketampanannya.
.
.
.
.
.
.
Kalau suka jangan lupa tinggalkan like, vote menggunakan poin ataupun koin. Tambahkan ke favorit juga.
Visual Bagas, visual Rania yang belum lihat dan penasaran silahkan langsung check ke akun youtube saya Windy Rahmawati. Bisa cari juga menggunakan kata visualnya.
Untuk visual foto mereka berdua maaf saya belum bisa update, masih dalam tahap pembuatan videonya.
__ADS_1